[I]Logical (Dalam Masa Rework)

[I]Logical (Dalam Masa Rework)
Lab.3


__ADS_3

Kami berada di ruangan Prof. Husein. Mayor Sam mulai bicara.


"Lucy, sebenarnya kami tak ingin membuatmu ada dalam bahaya dengan dimensi khayalan itu lagi, jadi aku akan mengatakannya padamu."


"...." aku tak menjawab apa-apa, hanya diam saja.


"Mayor, kurasa Professor lebih pas untuk menjelaskannya."


"Apa yang sebenarnya ingin kalian katakan?"


"Bukankah kau sebelumnya bertanya soal pesan dari Kopral William."


Aku mengangguk, "Ini akan berhubungan dengan anaknya," ucap Alice.


Olivia menunjukkan telepon pintarnya, itu adalah website berita khusus pulau ini. Berita yang khusus meliput pulau ini, Olivia memutar sebuah video.


"Kasus bunuh diri di gedung tak terpakai kembali bertambah, sampai saat ini sudah ada 11 korban. 3 di antaranya adalah pelajar dari Pacific Dream Institue, 2 dari tingkat Sekolah menengah dan 1 dari tingkat sekolah menengah atas.


Berikut adalah beberapa nama korban yang terindikasi hingga saat ini."


Video menunjukkan slide nama, salah satunya menarik perhatianku. Di nomor 9 Hana Rose William.


"Kau melihatnya kan, di nomor sembilan, maaf tapi kita gagal menyampaikan pesan terakhir Kopral William," ucap Olivia


"Kita sudah berusaha menyampaikan pesan ini, tapi anaknya mati karena bunuh diri, kalau begitu ini sudah tidak penting."


Olivia tertawa kecil, "Apa sih yang kupikirkan sampai kau akan merasa menyesal mengenai hal ini."


Aku tak begitu paham apa maksud Olivia, "Oh ya, memangnya apa hubungannya dengan yang ingin kalian katakan sebelumnya?" tanyaku.


Alice mengambil beberapa dokumen, di bagian atasnya ada pertanda kepolisian.


"Atas nama kemiliteran, Mayor Sam meminta beberapa salinan mengenai penyelidikan bunuh diri masal di gedung tak terpakai." Alice menjelaskan bagaimana dokumen-dokumen itu.


"Ya, itulah alasanku menyuruhmu turun, satu-satunya gedung kosong di pulau ini, gedung tertinggi yaitu dibangun di pulau ini, Gedung Centurion," ucap Olivia.


Alice membuka salah satu dokumen itu, sampai di sebuah halaman. "Dari seluruh korban tidak ada indikasi kalau mereka mengalami masalah hidup yang berat, tidak ada yang berubah dengan perilaku dan tindakan mereka, pokoknya tidak ada yang aneh," Alice membuka komputernya, aku memperhatikannya. "Kami mendeteksi ada gelombang yang mirip dengan makhluk dimensi khayalan." Alice menunjukkan lokasinya dengan kursor.


Ia menunjukkan sebuah titik merah, di seberang gedung itu ada sebuah gedung yang tak jauh. Kedua gedung hanya terhalang oleh jalan dan saling menghadap.


Gedung Centurion memang berdekatan dengan gedung lainnya, itulah mengapa rencana perobohan Gedung Centurion belum pernah dilakukan. Aku masuk melalui depan gedung setelah melewati beberapa gang kecil, dan disana memang daerah yang ramai.


Mayor Sam mendekat.


"Itulah yang ingin kukatakan, meskipun langka, tapi monster yang sekuat di Zona 13 juga bisa ada di dunia nyata saat ini."


Profesor Husein juga mendekat, "Sudah kuduga menyebutnya Zona 13 adalah hal yang keren."


Aku menatap profesor Husein dengan bingung.


"Aku adalah orang yang memberikan nama klasifikasi kejadian yang berhubungan dengan dimensi khayalan, contohnya Zona 13 Mega dan Zina 13 Galaksi," ucapnya dengan nada bangga.


Aku mengangkat tangan, "Boleh aku berkomentar soal penamaan itu?"


"Ya tentu saja," ucapnya dengan bangga.

__ADS_1


"Penamaan itu terlalu lebay."


"Hah!, apa maksudnya!"


"Ya kau menamainya sesukamu, dan itu terdengar aneh," ucapku


"Aku setuju dengannya, kau memang memberikan nama yang aneh," ucap Alice.


Profesor Husein berjalan keluar dengan kesal.


"Apa tidak apa membiarkannya begitu?" tanyaku.


"Dia memang seperti itu, abaikan saja." Alice melambaikan tangannya.


Aku mengangguk.


"Memang dia aneh jika dibandingkan dengan Profesor Hopper, tapi dia adalah orang yang hebat." Setelah mengucapkan itu Mayor Sam keluar dari ruangan.


Aku kembali memperhatikan komputer tadi, "Titik kecil merah di dekat Gedung Centurion itu apa?"


"Kami sudah mencoba menyelidikinya, tapi tak menemukan apa-apa," ucap Olivia.


"Masih banyak yang tidak kita ketahui mengenai dimensi itu, dan fakta kau menghilang secara perlahan dan kembali lebih lambat dari kepulangan pasukan kami itu juga menambahkan misteri, dan yang lebih parah lagi adalah apa yang terjadi padamu." Jelas Alice.


"Ya sebenarnya kami berusaha sebisa mungkin menutupinya dari warga sipil sebisa mungkin, karena kau sudah tahu jadi kami ingin kau menutup mulut, dan lebih berhati-hati karena kau pasti sudah tahu seberapa berbahaya makhluk itu," ucap Olivia.


Aku paham apa maksud mereka, tapi ada satu hal yang ingin kutanyakan.


"Kami?"


"Kami adalah Anomaly Incident Researcher, kami di bentuk pemerintah 3 tahun sebelum banyaknya penduduk berdatangan kesini. Kami di tugaskan untuk meneliti hal-hal yang abnormal, seperti UFO,USO dan sekarang adalah dunia fantasi yang penuh misteri dan bahaya ini." Alice menjelaskan.


Aku mengangguk.


"Apa-apaan itu, kau seperti memberikan harapan palsu."


"Tergantung situasi, jika aku bisa akan dibantu."


Olivia memandangi sambil tersenyum. "Aku tak sangka kalian bisa akrab secepat ini." ucap Olivia.


"Tidak kami bukannya akrab," ucap Alice, "Hanya saja aku tertarik dengan apa yang terjadi di tubuhnya, kehilangan sample seperti dia bukanlah hal yang baik," lanjut Alice.


"Apa kau baru saja mengatakan 'Sample'?." tanyaku.


"Abaikan saja, itu tidak penting." Ucapnya.


"Tok tok tok"


Seseorang masuk, "Permisi, saya disini diminta untuk mengantarkan Lucy kembali."


"Baiklah sampai lain waktu, kami percaya padamu, jangan membuatku mengambil keputusan yang salah," ucap Olivia.


Olivia melambai.


Aku keluar mengikuti orang itu, ia membawaku ke sebuah mobil. Aku segera masuk, tak lama kemudian mobilnya segera bergerak.

__ADS_1


Perjalanan ke kota dari sini sekitar 20-30 menit dengan kecepatan santai. Melalui pemandangan yang sebelumnya, perjalanan yang benar-benar sunyi tanpa satu pun kata.


Kami akhirnya sampai di tempat mereka menjemput, di blok daerah sekitaran Gedung Centurion. Aku turun, dari mobil itu. Aku melihat sekitar, di sebelah kiriku berjarak 100 meter adalah gedung kosong yang menjadi tempat hilangnya nyawa orang-orang.


Di sekitarnya terbilang memang ramai, terlihat banyak orang yang berlalu lalang. Mereka tidak menghawatirkan yang ada di samping mereka, di tanah meskipun samar sebenarnya masih bisa terlihat bercak merah.


Mobil itu masih di sini, orang tadi menurunkan kaca mobil.


"Mayor Sam tak bisa memberikannya secara pribadi karena ia sibuk, tapi ini ada sesuatu yang ingin ia berikan." Ia memberikan sesuatu, itu di bungkus dalam bungkusan kertas makanan.


"Gunakan ini dengan hati-hati, jangan mengeluarkannya di tempat ramai," tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut ia menaikkan kaca mobil itu lalu menjalankan mobilnya.


Bingkisan ini terasa cukup berat, aku mengguncangkan bungkusan ini. Terdengar sesuatu yang cukup besar.


Aku masih tak punya ide apa benda yang ada di dalamnya, aku penasaran dan ingin membukanya. Tapi orang tadi menyuruhku untuk tidak membukanya di tempat ramai, aku memutuskan untuk pergi kebelakang gedung yang berdempetan, aku masuk di sela gedung-gedung ini.


Celah ini tidaklah besar, tapi masih bisa di lewati satu orang karena itu aku menyebutnya gang kecil, meskipun sebenarnya tak bisa dikatakan begitu.


Aku sampai di bagian belakang gedung. Aku memeriksa sekitar untuk memastikan tidak ada orang. Gedung-gedung ini sangat rapat, bahkan gedung yang saling berbelakang-belakangan hanya berjarak beberapa meter.


Aku membuka bungkus itu, aku cukup terkejut dengan apa yang kutemukan.


"Sebuah pistol...."


Aku mengeluarkan pistol itu, aku memerhatikan seluruhnya. Tidak salah lagi ini adalah pistol asli.


Apa ini, apa maksudnya mereka memberikan ini. Apakah mereka ingin menjebakku, aku melihat lebih dalam ke bungkus itu. Disana terdapat sebuah surat.


Aku mengeluarkan surat itu, seperti biasanya aku hanya mengambil bagian yang penting.


Jadi inti dari surat ini hanyalah, ...Tolong berhati-hatilah menggunakannya, dan jangan sampai menarik perhatian karena benda ini....


Ia juga memberikan sebuah buku panduan di dalamnya.


Saat aku memandangi pistol ini perhatianku teralihkan, oleh pergerakan di sebelah kanan.


Ternyata itu hanyalah seekor kucing liar, kucing hitam itu berlari dengan cepat.


Tapi perhatianku teralihkan oleh pita kuning yang ada di tanah, aku memasukan pistol ini ke bungkus tadi. Aku berjalan mendekati tempat itu, yang kulihat memang benar-benar bekas dari garis polisi.


Apakah ini juga termasuk salah satu kasus bunuh diri?.


Tapi ini memang ada di samping gedung terbengkalai.


Aku memusatkan pandanganku ke atas gedung ini, namun tidak terjadi apa-apa.


Aku memutuskan untuk pergi dari tempat ini, mungkin aku akan Saat aku berjalan keluar aku baru ingat kalau aku meninggalkan tasku di ruangan pemeriksaan Alice. Aku pun mengingat semua masalah yang ada, aku masih membutuhkan tempat tinggal dan lainnya.


Sambil pusing memikirkannya aku keluar, aku saat ini tak memegang uang kecuali di dompetku yang kumasukkan kedalam tas.


Aku sampai di pinggir jalan, tempat aku turun tadi. Di seberangnya ada sebuah kafe, perutku jadi berbunyi karena belum makan.


Seseorang tiba-tiba masuk ke dalam gudang kosong itu, meskipun sekilas aku yakin sekali.


Aku coba mengikuti orang itu, saat ini sudah orang-orang tidak sebanyak pagi tadi. Aku segera masuk menyusul orang itu.

__ADS_1


Apa yang dilakukannya di gedung tempat orang menghabisi nyawanya sendiri, apakah dia akan mengikuti yang lainnya.


Semoga saja perkiraanku salah.


__ADS_2