[I]Logical (Dalam Masa Rework)

[I]Logical (Dalam Masa Rework)
Lagu terakhir.5


__ADS_3

Aku memandangi jurang yang dalam, tempat yang dipilih Caroline untuk mengakhiri hidupnya. Karena terhalang oleh pepohonan yang sangat lebat, aku tak bisa melihat bagian dasar jurang.


Aku mendengar suara langkah kaki, aku berbalik untuk melihatnya, itu adalah Klara.


“Lucy!” teriak Klara sambil berjalan mendekat.


Klara melihat sekitar, “Hey bagaimana dengan Caroline?” tanya Klara.


Aku menunjuk ke jurang yang ada di depanku, Klara paham apa yang aku maksudkan.


“... Begitu ya, kurasa kita gagal,” dari nada bicaranya aku yakin Klara kecewa. Tapi aku rasa ia juga melupakan kalau tujuan kita memang bukan menangkapnya hidup-hidup.


“Dari awal tujuan kita bukanlah menangkapnya hidup-hidup, kita hanya mencegahnya untuk tidak merugikan orang lain dengan kekuatan yang ia dapat dunia fantasi gelap itu.”


“Aku tahu apa yang kau maksud, tapi apa kau tidak menyesal telah gagal menghentikannya bunuh diri?” tanya Klara.


Aku menjawab dengan santai, “Dari awal itulah yang ia inginkan, aku tidak akan menyesal karena hal seperti itu. Gagal menyelamatkan orang yang berusaha untuk bertahan hidup, dan gagal menyelamatkan orang yang ingin mengakhiri hidupnya dengan sengaja bagiku berbeda.”


“Ya Kurasa kau ada benarnya juga,” ucapnya menggaruk kepalanya.


“Aku akan meminta markas untuk mengambil jasadnya.” Klara mengeluarkan ponsel pintar miliknya lalu menghubungi markas, percakapan mereka berlangsung beberapa menit.


Setelah selesai menghubungi markas Klara mengajak untuk kembali ke mobil. Di tengah perjalanan aku coba membuka percakapan.


“Klara, kenapa kau butuh waktu lama untuk bisa menyusul?” tanyaku padanya.


“Kau tahu aku sedang mengenakan seragam ini, cukup sulit untuk berlari apalagi dengan medan seperti ini,” Jawab Klara. Memikirkan ia memakai seragam maid untuk saat seperti ini membuatku ingin berteriak padanya.


“LAGIPULA UNTUK APA KAU MENGGUNAKAN SERAGAM ITU PADAHAL SUDAH TAHU KITA MUNGKIN AKAN MENGALAMI KEJADIAN SEPERTI INI.” Tapi aku putuskan untuk tidak melakukan hal itu.


Kami sampai di dekat menara, di samping dinding bangunan aku melihat sebuah buah mangga.


“kurasa itulah yang membuat bunyi sebelumnya,” ucap Klara.


Aku mengangguk, kami memeriksa bangunan itu lagi. Tubuh orang yang di bunuh Caroline sebelumnya sudah sangat kaku.


Kami melanjutkan perjalanan untuk kembali ke mobil. Kami sudah sangat dekat dengan mobil.


Tiba-tiba Alice membuka pintu mobil lalu berlari ke Klara, ia memeluk Klara erat-erat. Badannya gemetar seperti habis terjadi sesuatu yang buruk, aku bahkan mendengar suara tangis.


“Tenanglah nona, kami berdua tidak terluka,” Klara coba menenangkan, Alice menggeleng. “Apa ini karena petir tadi?” Alice tetap menggeleng.


Klara membuka mobil, Alice pada awalnya bersikeras tidak ingin masuk. Pada akhirnya dengan dipaksa Klara akhirnya Alice dengan terpaksa masuk, Klara memberikan Alice botol berisi air, ia meminumnya.


Beberapa menit kemudian akhirnya Alice tenang.


Akhirnya Alice menjelaskan apa yang terjadi.


“Tadi ada seorang wanita dengan rambut yang sangat panjang, ia berdiri sekitar 10 meter dari mobil. Aku tak tahu dari mana ia datang, tapi ia hanya berdiri dan tersenyum dengan sangat mengerikan. Tiba-tiba ada yang mengetuk jendela mobil, aku menengoknya. Ada beberapa orang dengan mengenakan jas hitam, lalu mereka bertambah banyak dan mengelilingi seluruh mobil. Wanita yang tadi ada di depan mobil, ia terlihat seperti manusia normal tapi entah kenapa rasanya ia adalah orang yang sangat mengerikan. Saat aku memperhatikan wajahnya ia tersenyum makin lebar, dan ada hal mengerikan lainnya.” Alice memegang tangan Klara dengan erat. Lalu melanjutkan penjelasannya


“saat ia tersenyum dengan lebih lebar, tiba-tiba orang-orang berjas hitam itu berubah jadi berbagai macam monster yang memngerikan. Mereka menggoyang mobil ini, itu membuatku benar-benar terkejut. Wanita itu tertawa, ia tertawa sangat keras. Setiap kali aku mengingat tawa itu rasa takutnya menusuk sampai ke tulang. Saat ia tertawa rasanya benar-benar menakutkan, pada akhirnya aku meringkuk di kursi mobil. Saat aku mulai benar-benar putus asa suara itu terhenti, aku melihat ke luar dan ternyata kalian sudah kembali. Aku segera berlari karena ketakutan.”


“Kalau begitu lebih baik kita segera kembali, kejadian hari ini sudah sangat melelahkan, kita tak ingin ada kejadian mengerikan seperti itu terjadi lagi.” Lalu Klara menyalakan mesin mobil.


“Tunggu, bagaimana dengan Caroline?” Alice bertanya.


“Dia melakukan yang diinginkan olehnya, menghabiskan nafas terakhirnya sambil terjatuh di jurang yang dalam” jawabku.

__ADS_1


Alice diam mendengarkan jawabanku.


Klara pun menjalankan mobilnya, hari semakin gelap. Kami sampai di rumah saat hari sudah gelap, begitu masuk ke rumah Alice minta di temani Klara. Ia ketakutan mandi sendirian.


“Sebentar, Alice boleh kupakai laptop yang ada di kamar untuk ini?” ucapku memperlihatkan Flashdisk yang diberikan oleh Caroline sebelumnya.


“Gunakan saja, setiap kamar memang kubuat setidaknya memiliki satu,” jawabnya, lalu ia pergi.


Dasar orang kaya, aku menghargai kebaikannya tapi cara dia mengatakannya agak mengganggu.


Aku masuk ke kamar, aku segera mandi. Tubuhku benar-benar basah karena habis berlarian di saat hujan.


Rasanya tubuhku hampir mati rasa, aku benar-benar kelelahan. Belum lagi dengan adanya cerita dari Alice, jika ada yang seperti itu maka satu-satunya yang muncul di pikiranku adalah wanita itu.


Selesai mandi aku mengganti baju, aku mengambil flashdisk yang tadi kuletekkan di atas kasur. Di sampingnya terdapat ponsel pintar pemberian Olivia.


Aku segera mengambil flashdisk itu, aku memasangnya di Laptop yang di maksud. Di ujung kamar pada sebuah meja, laptop yang digunakan pun bukanlah merek dan tipe yang murahan.


Di flashdisk itu hanya ada satu file, file berjudul “My Dream.MP3”. Aku coba mengecek laci meja ini, dan ya di dalamnya terdapat sebuah Headphone di tambah dua buah Mouse.


Aku langsung menyambungkannya, aku pun memutar file itu.


Sebuah lagu, yang emosional, aku bisa merasakan maksud dari lagu ini. Sebuah lagu yang benar-benar membawakan perasaan dari si pembuat. Seolah-olah orang itu sendiri yang sedang berbicara.


Aku mendengarkannya beberapa kali, sebelum mencabutnya aku melakukan sesuatu. Setelah itu aku mencabut flashdisk itu dan membawanya ke gudang. Di gudang aku mencari sebuah alat, akhirnya aku menemukan apa yang kucari.


Aku mengambil palu, kemudian memukulkannya ke flashdisk beberapa kali hingga flashdisk itu hancur.


Klara dan Alice datang menghampiri, “suara apa itu?” tanya Klara.


Ia mendekat dan melihat lebih jelas, “Kau menghancurkan flashdisk itu?”.


“Ada laporan mereka telah sampai ke tempat yang diperkirakan, dan mereka berhasil menemukan jasadnya. Tapi terdapat kendala untuk evakuasi Jasadnya, dengan ketinggian jurang mereka akan butuh waktu. Tapi ketua mereka mengatakan kemungkinan ini baru akan selesai tengah malam itupun jika tak ada kendala, dan jika sudah di temukan akan segera di lakukan pemakaman di dekat makam orang tuanya,” jawab Klara.


“Hanya beberapa orang yang akan di izinkan datang, meskipun proses pemakaman nanti akan di rekam lalu baru setelah itu di siarkan. Intinya pemerintah meminta pemakaman yang tertutup,” Alice menambahkan.


“Jadi ini sudah sampai ke pemerintah, kalau begitu laporanmu tentang pengamatan terhadap mutasi yang ada di tubuhku juga sudah ada di data pemerintah?” tanyaku.


“Ya begitulah, tapi tenang saja aku sudah meyakinkan kalau tidak ada yang berbahaya, jadi mereka tidak akan menurunkan mata-mata untuk mengawasimu,” Alice menjelaskan.


Sebenarnya bukan itu yang aku khawatirkan, aku khawatir jika mereka melakukan penyelidikan mengenai dokumen palsu itu.


“Ya sudah kalau begitu, aku akan langsung kembali ke kamar, selamat malam.”


“Baiklah, selamat malam,” jawab mereka berdua.


Aku kembali ke kamar, aku langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur.


“Kasur orang kaya memang sangat empuk.” Aku membenamkan kepalaku dengan bantal yang benar-benar nyaman.


Aku kelelahan dan tempat tidur yang begitu nyaman membuatku tertidur dengan sangat cepat.


Pagi hari tiba, aku bangun lalu membersihkan tempat tidur. Aku pergi membersihkan diri, lalu bersiap untuk berangkat sekolah.


Aku berjalan melewati ruang tamu untuk ke pintu depan.


“Ternyata kau bangun cukup pagi.” Aku berputar, itu adalah Klara.

__ADS_1


“Oh, selamat pagi, kau terlihat sangat kelelahan.”


“Mereka berhasil mengevakuasi jasadnya, aku pergi ke sana untuk mengecek. Aku juga sekalian membantu untuk persiapan pemakaman,” jelas Klara.


Itu menjelaskan kenapa ia seperti sedang kelelahan.


“Sebaiknya kau beristirahat,” ucapku.


“Duduklah, aku memasak air sebelumnya, apa kau mau kopi.”


Aku mendekat, “Kurasa kopi bukanlah ide yang buruk.” Tak begitu lama Klara selesai membuatkan kopi.


“Kau bilang pengumuman kematian Carolline akan di publikasikan setelah pemakannya selesai bukan?”


“Iya, padahal aku sangat ingin mendengarkan bagaimana lagu terakhirnya,” ucap Klara dengan nada kecewa.


“Tunggu saja, mungkin akan ada keajaiban yang terjadi,” ucapku sambil tersenyum.


Klara tertawa kecil, “Kau mengatakan itu padahal kau sendiri yang menghancurkannya.”


Aku membalasnya dengan mengangkat kedua bahu, aku melihat jam yang ada di ruang tamu. Jam kayu klasik yang terlihat sangat mewah.


“Oh aku harus berangkat sekarang, bis sekolah tidak masuk ke kompleks ini. Aku tidak boleh ketinggalan bis, terima kasih kopinya” ucapku lalu langsung berdiri. Aku bergegas memakai sepatu dan berlari ke halte terdekat.


Setelah menunggu beberapa saat bis yang menuju ke halte yang tidak jauh dari sekolahku tiba.


Aku langsung menaikinya, di dalam bis aku mengeluarkan ponsel pintar itu.


Aku membuka folder file yang ada. Sebelumnya aku sudah memotong file yang ada di flashdisk ke ponsel ku.


Aku membuat akun baru, lalu mengupload lagu milik Caroline ke internet.


Ku tambahkan judul dan nama penyanyinya, setelah itu aku mengirimkannya ke grup penggemar Caroline.


7:04 aku sampai di gerbang sekolah. Jam pelajaran di mulai sekitar jam 8 pagi.


Aku masuk ke kelas membuka ponsel milikku, tak begitu lama sudah ada banyak komentar masuk.


“Apa ini, apa kau menggunakan namanya untuk memperkenal diri.”


“Suara khas ini memang sudah tidak salah lagi ini adalah suara dari Caroline”


Beragam komentar muncul, dari yang menjelek-jelekkan, hingga yang berdebat apakah ini benar-benar suara milik Caroline.


Lalu tiba-tiba seseorang memberikan komentar, “Saya adalah mantan manajernya, saya bisa melakukan konfirmasi bahwa ini memang proyek Caroline. Saya sendiri juga tidak menyangka ini akan jadi proyek lagu terakhir miliknya.”


Setelah komentar itu tiba-tiba banyak yang menanyakan apa maksudnya, “terakhir”.


Mengesampingkan hal itu aku coba mengecek pemilik akun Itu, di akunnya. Banyak sekali foto dan videonya bersamanya, sekarang aku ingat. Di meja Caroline juga ada foto Caroline menangis bersama pemilik akun ini sambil memegang sebuah penghargaan.


Aku segera menghubungi orang ini secara pribadi, aku mengirimkan bela sungkawa dan Password akun yang kugunakan untuk mengupload file ini. Aku juga mengirimkan file MP.3 nya, aku juga menambahkan kalau akun dan file ini sekarang saya serahkan seluruhnya kepadanya.


Tak begitu lama ia menjawab dengan berterima kasih, dan meminta untuk bertemu secara langsung.


Aku menjawab dengan tidak, setelah itu aku langsung log-out dari akun ini.


Jam pelajaran pertama berbunyi, aku mengikuti pelajaran seperti biasanya. Tapi kelas masih gaduh dengan maksud dari “Lagu terakhir”. Mengingat ada banyak penggemar Caroline di kelas ini.

__ADS_1


Lalu pada jam istirahat setelah prosesi pemakaman Caroline tersebar, seluruh siswa akhirnya heboh dengan berita itu.


__ADS_2