[I]Logical (Dalam Masa Rework)

[I]Logical (Dalam Masa Rework)
Manusia serigala.2


__ADS_3

3 jam berlalu semenjak kejadian Kopal William. Dan semenjak itu aku hanya berbaring di dalam tendaku, bahkan sampai-sampai aku di cap sebagai pemalas oleh Olivia padahal dia tak tahu soal diriku. Lagi pula tidak ada yang bisa kulakukan, aku tak mengetahui apa pun soal mereka, apa tujuan dan motif mereka sampai masuk ke tempat aneh ini.


Aku mengamati para personil, mereka berasal dari berbagai negara, dan juga mereka tampaknya mereka memiliki dana yang cukup.


Aku mengatakannya sesuai dengan pengamatan dan yang dikatakan Olivia.


Menurut perkataan Olivia mereka sebenarnya membawa beberapa mobil lapis baja, dan semacam kendaraan tempur cepat.


Kuingat-ingat lagi sepertinya Olivia menyebutnya Ground Mobility Vehicle (GMV).


Aku lupa namanya dan aku penasaran, sayangnya saat ini Olivia sedang mengadakan rapat dengan Mayor dan Letnan lainnya. Aku membuka tasku dan mengambil sebuah buku, ini adalah buku yang kupinjam dari perpustakaan, aku bersyukur pelindung hujan tasku cukup berguna sehingga barang-barang milikku tak basah. Aku membuka buku ini lalu membuka halaman yang sudah kuberikan penanda .Buku ini tidak terlalu tebal, dan sejujurnya ini hannyalah novel murahan yang kurang laku lalu di kumpulkan untuk memenuhi perpustakaan sekolah.


Aku sudah membacanya sampai hampir di bagian akhir. Aku memutuskan untuk menyelesaikannya, tak terasa hampir 20 menit berlalu dan aku menyelesaikan buku ini. Tepat setelah aku menutup buku yang kubaca Olivia akhirnya kembali, ia masuk tetapi dari ekspresinya ia terlihat agak kesal. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan padanya jadi aku diam saja, lagi pula dia selesai mengadakan rapat, aku rasa lebih baik aku tak menanyakan apa-apa karena itu mungkin saja bersifat rahasia.


Aku memasukkan buku yang kubaca ke dalam tas, Olivia memperhatikan itu. “Buku apa itu?” Olivia bertanya.


“Hanya buku murahan yang dikumpulkan oleh perpustakaan”


“Buku tentang apa?” Olivia kembali bertanya.


“Sebuah buku misteri, mengisahkan tentang sekelompok remaja jalan-jalan lalu salah satu dari mereka meninggal mengenaskan dan akhirnya si tokoh utama berhasil menangkap pelaku.” ucapku, aku benar-benar tidak berminat untuk membahas buku ini, namun Olivia terus menanyaiku.


“Sepertinya cukup menarik, 1 sampai 10 kau beri berapa untuk buku itu”.


Aku menegaskan pada Olivia kalau aku tak menyukai buku ini, “Satu hal Olivia, aku tidak tertarik dengan buku ini. Dan aku akan memberikan penilaian 6/10.”


“Serius?, Kukira kau akan menyukai buku seperti itu”.


“Ya begini, aku bukan seorang kutu buku, tapi aku akan coba memberikan penilaian. Buku ini lebih condong ke kisah cinta daripada dibilang misteri, dan juga misteri yang ada kurang bagus, di buku ini mengatakan korban di bunuh dengan cara di mutilasi dan alasan si pelaku adalah dendam karena cinta.”


Aku belum menyelesaikan perkataanku, tapi Olivia menyela, “Lalu menurutmu bagaimana cerita misteri yang bagus?”.

__ADS_1


“Tolong jangan asal-asalan menyela. Aku akan menyelesaikan ucapanku sebelumnya. Cerita yang ada seperti di buku itu sudah terlalu sering di pakai, dan pelaku sudah bisa terlihat sebelum tokoh utama menyelesaikan misterinya dan itu benar-benar membuat kesan misteriusnya hilang.”


Olivia mengangguk, menandakan dia paham maksudku.


Aku lanjut menjelaskan "Menurutku cerita misteri yang bagus itu bukan separah apa pelaku membuat kematian korban tapi lebih ke trik dan alasan pelaku, dan juga pelaku benar-benar disembunyikan sehingga penyelesaian cerita benar-benar mengejutkan pembaca, contohnya ternyata si tokoh utama adalah pelaku yang menyamar dan pura-pura menyelidiki.”


“Ya aku paham maksudmu, kalau ceritanya seperti itu memang akan benar-benar mengejutkan pembaca,” Olivia mengangguk.


Aku tak sengaja melihat wajahnya, tapi ia tak lagi kesal seperti tadi.


Tiba-tiba seorang tentara masuk memanggil Olivia. “Letnan Olivia, salah satu mobil lapis baja kembali.” Olivia langsung berdiri dan keluar dari tenda. Aku mengikuti di belakang.


Saat aku keluar di depan ada sebuah mobil lapis baja dengan senjata di bagian atasnya berhenti, pengemudi dan semua penumpang segera keluar. Ada 4 personil termasuk pengemudi keluar dari mobil itu, mereka semua terluka parah kecuali si pengemudi.


Para medis segera bertindak, 2 orang yang terluka parah dan si pengemudi segera dibawa ke tenda medis. Sedangkan salah satunya terluka sangat parah, profesor Hopper meminta izin untuk memakai tenda kami pada Olivia.


"Yang satu ini harus segera mendapatkan operasi, lukanya terluka sangat lebar. Izinkan aku menggunakan tendamu letnan!”. Olivia mengizinkan itu, dia juga segera membantu menandu personil yang terluka parah itu.


Aku tak di izinkan masuk, bahkan Olivia di minta keluar setelah meletakkan korban terluka. Dia keluar dengan ekspresi marah, dia mendekat ke arahku.


Lalu ia segera pergi ke tenda yang ia gunakan untuk rapat.


Tak ada yang bisa kulakukan di tempat ini, aku tak bisa pergi terlalu jauh karena bisa saja aku dalam bahaya. Aku memutuskan menuju ke tempat yang dimaksud Olivia, ketika aku sampai ada sebuah mobil berlapis baja yang tebal.


Aku melihat sekeliling tidak ada orang lain. Aku memutuskan untuk mengelilingi kendaraan ini untuk mencari jalan masuk. Aku menemukan semacam pintu, aku mencoba membukanya tapi tidak berhasil terbuka. Aku mencobanya beberapa kali tapi hasilnya sama saja, aku rasa kendaraan ini di kunci.


Aku menyerah untuk masuk, aku berinisiatif melihat sekitar. Aku menemukan setidaknya ada jejak 8 kendaraan yang bergerak baru-baru ini, dengan di sini ada kendaraan ini jadi mereka punya 9 kendaraan tempur.


Tak lama kemudian mataku tertuju ke sisi sebuah tenda, aku melihatnya dengan lebih teliti di sana ada semacam ban kendaraan. Aku mendekat untuk melihatnya lebih jelas. Itu sebuah kendaraan dengan atap terbuka tapi di lengkapi dengan senjata berat, dengan itu aku dapat memastikan kalau itu adalah kendaraan tempur.


Aku masuk dengan mudah, aku duduk di kursi belakang. Aku menemukan sebuah terpal tebal, kemungkinan ini adalah terpal kanvas. Aku mungkin bilang begitu tapi aku sebenarnya tidak benar-benar yakin.

__ADS_1


Aku membuka terpal itu lalu membungkus tubuhku, ya aku tahu ini aneh tapi sejujurnya ini terasa nyaman. Aku berbaring sambil tubuhku terbungkus terpal kanvas, ini membuatku teringat masa lalu, aku sering tidur dengan membungkus diriku dengan selimut. Itu adalah empat atau lima tahun yang lalu, saat aku masih bersama orang yang membuat sekelilingku memanggil Lucy Lucinda.


Aku sebenarnya tak punya nama keluarga, itu hannyalah julukan. Di tempatku dulu, sebelum aku berumur tiga belas tahun aku tak bisa bilang diriku tinggal di tempat yang cukup layak. Tapi setidaknya karena tempat itu aku berhasil bertahan hidup.


Setelah dipindahkan aku hidup di sana sejak umurku delapan tahun. Dan saat ini aku sudah berumur tujuh belas tahun, tahun kedua di sekolah menengah atas.


Semakin aku mengingat masa laluku, rasanya tubuhku terisap ke lubang yang dalam. Saat aku memikirkan hal itu aku menutup mataku, aku merasa tubuhku benar-benar di tarik oleh sesuatu. Aku mulai merasakan sakit di sekujur tubuhku, rasanya dadaku sesak.


Tubuhku terasa lemah, pandanganku mulai kabur.


Aku mencoba melawan sekuat-kuatnya, tapi aku kalah dan akhirnya aku kehilangan kesadaran untuk ke sekian kalinya.


Beberapa saat kemudian kesadaranku mulai pulih, aku masih ada dalam terpal kanvas, tapi aku merasa rasanya ada yang menginjak badanku. Aku merasa kalau aku sedang bergerak dengan kecepatan cukup tinggi, aku mencoba mendengarkan dengan jelas dan aku memang mendengar suara mesin.


Aku mencoba mendengarkan dengan lebih teliti, aku bisa mendengar sebuah percakapan.


“Profesor apa kau yakin ikut, sebenarnya kau tidak memiliki urusan penting dengan hal ini”.


“Ya memang, tapi karena kau bilang mereka mungkin masih selamat akan bagus jika luka mereka langsung di berikan penanganan darurat”.


“Letnan, Profesor, terima kasih atas bantuan kalian”.


“Tidak perlu bilang begitu, kita masih ada di kompi yang sama, dan aku ingin memukul wajah Letnan sialan itu.”


Itulah yang bisa kudengar, dan suara itu tidak asing bagiku. Kami melaju dengan cepat, dan kendaraan ini rasanya terguncang dengan kuat, kemungkinan karena melewati tanah yang lebih tinggi.


Aku membuka terpal itu dan ada seorang pria duduk di kursi, aku rasa aku terjatuh dan berada di antara bangku depan dan belakang. Orang yang duduk di bangku belakang terkejut melihatku.


“Bagaimana kau ada di sini?” tanyanya keheranan.


Salah satu orang yang duduk di depan menoleh, “Lucy?!”. Ya benar sekali, pantas saja suaranya tidak terlalu asing. Itu adalah Olivia.

__ADS_1


Aku mengangkat tangan, “Ee..." Hai."



__ADS_2