![[I]Logical (Dalam Masa Rework)](https://asset.asean.biz.id/-i-logical--dalam-masa-rework-.webp)
Part 2
Aku terbangun dari tidur, tubuhku terasa sudah jauh lebih baik. Aku melihat sekitar, sepertinya aku ada di sebuah tenda. Aku mencoba berdiri, aku menggunakan pakaian yang berbeda. Aku mengenakan kaos hitam dan celana kain hitam, aku melihat ke tanganku ada sebuah gelang berwarna putih. Gelang itu tampaknya berfungsi sebagai pengantar sinyal, pada siapa?.
Terdengar suara langkah kaki, suara langkah kaki itu makin jelas. Angin malam yang dingin masuk dari pintu tenda yang dibuka, dari tubuhnya itu adalah seorang wanita. Ia adalah Letnan Olivia, tapi dari wajah dan bentuk fisiknya, aku rasa umur kami tidak jauh berbeda.
“Kau sudah bangun?” tanya orang itu berjalan mendekat
“Ya,” aku menjawab singkat
Aku melihat lihat sekeliling, lalu bertanya pada orang itu.
“Berapa lama sejak aku tak sadarkan diri?"
“Sekitar sembilan jam”.
“Saat ini jam berapa?” aku lanjut bertanya.
“Iya”
Setelah itu di antara kami berdua tak ada yang berbicara, suasananya terasa canggung. Aku memang jarang bicara pada orang lain, sepertinya ini adalah Salah satu efek buruk dari tak punya teman. Aku bukan orang yang penyendiri, hanya saja jika ada orang yang bersamamu dan mengkhawatirkanmu rasanya sedikit tidak nyaman. Yah walaupun ada penyebab lainnya aku tidak tahu punya teman.
Aku melihat ke orang itu dan dia juga melakukannya, mata kami bertemu. Akhirnya Letnan Olivia berbicara, meskipun tidak natural ia mencoba memulai pembicaraan, ia mengambil barang yang ada di belakangnya.
“Apakah tas ini milikmu?” tanyanya sambil memegangi sebuah tas. “Kami menemukan ini tidak jauh dari tempat kami menemukanmu,” lanjutnya.
Aku meraih tas itu dan memeriksanya, tas ini mirip dengan punyaku. Aku membuka isinya, tas ini bukan hanya mirip tapi ini memang punyaku.
“Tas ini milikku, terima kasih telah membawanya,” ucapku. Orang itu membalasnya dengan nada grogi,“Oh ya terima kasih”.
Aku merasa responsnya aneh, aku bertanya untuk memastikan. “Bukankah seharusnya kau bilang sama-sama atau terima kasih kembali?” .Aku ingat kalau cara dia bicara agak kaku, aku rasa sebenarnya dia juga tak terbiasa bicara dengan orang lain.
“Ah ya itu maksudku, sama-sama,” jawabnya, dari suaranya dia terdengar malu karena kesalahannya.
Situasinya jadi makin canggung, aku membuka tasku dan mengecek isinya. Semakin lama situasinya makin canggung aku berinisiatif untuk bicara dengan orang itu.
Tiba suara tembakan beruntun dari luar tenda terdengar. Kami segera pergi melihat keadaan di luar, sesaat setelah keluar tenda aku melihat sekelompok serigala menyerang.
Aku tak yakin apakah harus menyebutnya serigala atau bukan, tubuh mereka memang terlihat seperti serigala, tapi memiliki 2 kepala. Serigala-serigala itu menyerang ke arah kamp, tembakan ke badan serigala tidak berpengaruh.
Di sebelahku Letnan Olivia mengambil senapan semi otomatis miliknya, ia membidik dengan baik, tembakan pertamanya mengenai salah satu kepala serigala yang menyerang. Serigala itu berhenti sejenak, kurang dari 2 detik kepala serigala tadi kembali pulih. Serigala itu terlihat marah dan maju dengan cepat, jauh lebih cepat dari sebelumnya. Berlari dengan cepat menyerang ke sini, serigala itu meninggalkan serigala lain di belakang.
Saat berada sekitar 3 meter dari barisan pertahanan serigala itu melompat, serigala itu menggunakan kecepatan dan kekuatannya. Serigala itu melompat ke arah Letnan Olivia yang barusan menembaknya, serigala itu menyerang seakan-akan menerkam mangsanya.
Tapi sebelum serigala itu berhasil mencapai targetnya Mayor Sam menghadang serigala itu, ia menghentikan serigala itu dengan tangannya. Alhasil tangan Mayor Sam yang di gigit serigala itu, ia mengambil pisau di pinggangnya lalu menembak kepala serigala itu, pada saat yang sama Letnan Olivia menembak kepala serigala yang lain. Serigala itu terdiam tak bergerak, tubuhnya perlahan mulai kaku.
“Tembak di kedua kepala serigala-serigala itu pada saat bersamaan!” teriaknya.
__ADS_1
Menuruti perintah Mayor Sam, tentara lainnya melakukan perintah itu. 2 dari beberapa serigala lainnya berhasil di tembak dan mati seketika. Tak lama kemudian suara lolongan serigala terdengar dari dalam hutan yang berjarak sekitar 800 meter dari kami. Kemungkinan itu adalah serigala Alfa.
Serigala lainnya berhenti dan mundur lalu masuk ke dalam area hutan, mereka menghilang di antara pepohonan serta bayangan dari pohon-pohon di hutan itu. Setelah beberapa saat serigala-serigala itu tampaknya tidak akan menyerang lagi, Mayor Sam memerintahkan bawahannya untuk menurunkan senjata.
Gigitan serigala tadi melukai tangan Mayor itu cukup parah, darah bercucuran dari tangannya. Dia segera mendapatkan perawatan medis, aku pergi dari sana karena tidak ada gunanya juga aku di sana, lagi pula aku tak tahu menahu soal merawat luka.
Aku melihat sekitar, ada beberapa tenda yang dipasang, dari jumlah personil sepertinya ada sekitar satu kompi. Aku kembali ke dalam tenda, sesampainya di tenda aku mengambil tasku. Aku membukanya dan mengambil ponsel pintar milikku, aku pikir ini rusak jadi aku mencoba menyalakannya. Ponsel itu memang rusak seperti dugaanku, mungkin karena terkena hujan dalam waktu yang lama.
Tak ada yang bisa kulakukan, aku memutuskan untuk berbaring di velbed tempat aku terbangun sebelumnya.
Aku mencoba tidur, selama sekitar 15 menit aku menutup mataku tapi aku tak bisa tidur. Apa yang sebenarnya kupikirkan, aku baru saja bangun mana mungkin aku bisa tidur semudah itu.
Beberapa saat kemudian ada langkah kaki mendekat, suara itu berhenti tepat di sebelahku.
“Syukurlah kau tidak kabur,” ucap orang itu.
“Letnan Olivia?”.
“Oh ya satu hal, aku diminta untuk mengawasimu, jadi tidak perlu formal. Panggil saja aku Olivia,” ucapnya.
Aku berdiri dan secara tak sengaja langsung ada di depan Olivia, rupanya ia berjalan mendekat. Karena hal itu dia terkejut. Responsnya yang tak terduga membuatku juga ikut kaget, aku melompat ke belakang dan tak sengaja menabrak tasku. Aku kehilangan keseimbangan tapi Olivia menarikku, sayangnya dia malah menginjak sesuatu yang membuatnya tergelincir dan alhasil kami berdua terjatuh.
Aku membentur tanah cukup keras, untungnya aku tidak mengalami cedera. Aku duduk lalu membantu Olivia, dia duduk berseberangan denganku. “Apa kau baik-baik saja?” tanyaku. Olivia mengangguk, kemudian ia mengambil barang yang membuatnya terjatuh, barang itu tidak lain adalah ponsel pintar milikku.
Ia mengambilnya dan memperlihatkannya padaku, “Apa ini milikmu?” tanyanya padaku. Aku mengangguk sebagai respons, dari wajahnya Olivia terlihat panik.
“Ah, sebenarnya aku tidak terlalu memakainya, jadi tidak perlu terlalu merasa bersalah.”
“Tetap saja aku akan menggantinya.”
“Ya baiklah.” Sejujurnya aku merasa agak bersalah.
Telepon itu sebenarnya kemungkinan rusak karena sebelumnya terkena air hujan. Tapi ya, aku bukan orang yang akan melewatkan kesempatan.
“Apa aku boleh masuk?”. Suara itu berasal dari luar tenda itu adalah suara yang berat, ya selain Olivia memang tidak ada personil wanita, jadi bisa dipastikan itu adalah seorang laki-laki.
Olivia berdiri dan menyambut orang itu, orang itu adalah Mayor Sam. Tangannya sudah di perban dan pendarahannya sudah dihentikan. Aku berdiri dan berjalan mendekat, Mayor Sam melihat ke arahku.
“Untunglah kau tidak kabur,” ucap Mayor Sam.
“Untuk apa aku kabur?” tanyaku.
“Aku pikir kau panik dan segera berlari tanpa tujuan.”
Aku tak yakin kalau aku paham apa maksud dari ucapan Mayor itu, aku melihat Olivia dengan ekspresi keheranan meminta penjelasan, dan dia paham maksudku melihatnya dengan ekspresi seperti itu.
“Setelah seseorang mengancammu dengan pisau, kemudian saat bangun terjadi tembak menembak, ditambah lagi serigala yang aneh aku rasa kebanyakan orang akan panik dan berlari tanpa tujuan sampai dirinya merasa aman atau sampai dia sudah tak sanggup berlari.”
__ADS_1
“Karena panik manusia memang bisa menjadi kebingungan, tidak aneh jika manusia memilih untuk berlari sejauh mungkin karena menurutnya itu adalah hal yang paling aman.”
Pandanganku tertuju pada Olivia, “Begitukah maksudnya?” tanyaku padanya.
Olivia mengangguk, “Kurang lebih seperti itu.”
“Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu,” ucap Mayor Sam, “Aku ingin menanyakan hal ini, apa warna matamu?”
“Hitam, memangnya kenapa?” dia telah menanyakan ini sebelumnya jadi itu membuatku penasaran.
Mayor Sam mengambil sebuah piring dan meletakkan air di dalamnya, “Coba kau lihat matamu.”
Aku menurut dan melihat ke pantulan diriku di air itu, saat melihat pantulanku di air aku terkejut. “Apa ini benar-benar diriku?” tanyaku, aku menyadari aku seperti orang bodoh menanyakan hal itu. Tapi ini benar-benar aneh, mataku tiba-tiba menjadi berwarna merah darah. Mayor Sam dan Olivia hanya diam.
“Bagaimana ini bisa terjadi, seingatku aku tak mengenakan lensa kontak”.
“Lucy, apa kau tahu tempat apa ini?” tanya Mayor Sam.
Kalau dipikirkan aku sama sekali tak tahu tempat apa ini, lagi pula tempat ini memang aneh, sangat-sangat aneh. Aku memandangi Mayor Sam dan Olivia secara bergantian lalu menggelengkan kepalaku.
“Baiklah kalau begitu, Letnan jelaskan padanya situasi saat ini!”
“Siap pak!”
“Aku akan pergi memeriksa seluruh personil,” ucap Mayor Sam, lalu ia pergi meninggalkan kami.
Saat ini hanya ada aku dan Olivia di tenda ini, dia menjelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang aku dengarkan adalah sesuatu yang tidak masuk akal, jika aku tak melihatnya sendiri mungkin aku tidak akan percaya.
Menurut penjelasan dari Olivia aku menyimpulkan beberapa hal. Pertama tempat ini bernama Zona 13, Zona 13 adalah bagian dari “Dangerous Fantasy World” atau disingkat DFW.
DFW merupakan semacam celah antara dunia nyata dan dunia yang dipenuhi oleh karangan, imajinasi dan emosi manusia, tapi DFW hanya mengambil fantasi mengerikan yang bisa mengundang ketakutan.
DFW di bagi menjadi beberapa bagian, Olivia mengatakan pertama ada yang namanya “Fantasy Activitie”, FA 1,yaitu sebuah kondisi saat seseorang merasakan hubungan antara DFA melalui penciuman dan pendengaran.
Selanjutnya adalah FA 2, pada titik ini seseorang bisa melihat sosok menyeramkan yang berasal dari pikiran mereka, atau dari imajinasi seseorang yang mempengaruhi tempat itu.
Setelah itu ada FA 3, di sini makhluk yang tercipta dari imajinasi bisa bergerak dan menyerang orang yang mengimajinasikan makhluk itu, tapi di Kategori 3 serangan itu tidak benar-benar terjadi, itu hannyalah semacam halusinasi.
Itu adalah ketiga FA, ketiga Fantasy Activitie terbilang cukup aman dan biasanya orang-orang menyebutnya sebagai kejadian paranormal.
Tapi jika sial, ketika berada di tempat yang salah, maka secara tidak sengaja seseorang bisa memasuki Zona 4. Beberapa negara menganggap angka 4 adalah angka sial dan untuk kali ini sepertinya itu benar.
Di Zona 4 tidak jauh berbeda dengan FA3, yaitu makhluk imajinasi itu terlihat, tercium, terdengar bahkan dapat menyerang. Tapi seperti yang kukatakan angka 4 adalah angka sial maksudku adalah orang yang masuk ke dalam Zona 4 akan di serang oleh makhluk imajinasi itu serangannya nyata, tak seperti di FA3 makhluk di zona 4 lukanya benar-benar terjadi pada tubuh Korban.
Di tempat kami berada, Zona 13 lebih parah dari Zona 4. Zona 13 disebut juga sebagai zona terkutuk, di sini sama dengan zona 4, seluruh makhluk-makhluk yang di imajinasikan manusia di Zona 13 memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari di zona 4.
Zona 13 sendiri adalah dunia yang di ciptakan makhluk imajinasi itu, dan saat ini kami ada di salah satu dunia itu. Kami bisa keluar dari tempat ini jika bisa menemukan portal penghubung dengan dunia nyata.
__ADS_1
Tapi sayangnya mereka tak menemukan portal itu sama sekali, itulah alasan mereka akhirnya menetap dan membangun tenda di tempat ini. Masing-masing tenda di isi oleh 3-5 personil, tapi karena Olivia adalah satu satunya wanita dia menggunakan tenda ini sendiri. Dan karena itulah Olivia ditugaskan mengawasiku.