![[I]Logical (Dalam Masa Rework)](https://asset.asean.biz.id/-i-logical--dalam-masa-rework-.webp)
Dari posisi awal kami jarak menuju desa itu sekitar 4 KM. Kami melanjutkan berlari dari rumah yang kami temukan, jika di perkirakan dari jarak awal saat ini kami berjarak ±1 KM.
Aku berlari bersama Olivia, namun aku kalah dalam hal stamina dan energi. Aku tertinggal cukup jauh darinya, meski begitu aku terus mengikuti. Setelah berlari sekitar setengah kilometer aku sudah tidak sanggup, namun Olivia terus berlari. Aku tahu kalau dia sangat khawatir dengan prajurit lainnya, aku memutuskan berhenti berlari.
Aku berjalan dengan langkah cepat. Dari jarak beberapa ratus meter aku bisa melihat Olivia menghilang di antara rumah rumah dengan desain kuno.
Aku akhirnya sampai di desa itu, aku tak langsung masuk mengikuti tempat di mana aku melihat Oliva menghilang. Aku memutuskan masuk melewati gerbang desa, aku tahu ini keputusan aneh, tapi aku penasaran dengan desa ini.
Desa ini, manusia serigala, pemujaan setan. Entah kenapa rasanya ada sebuah hubungan, lagi pula suara tembakan tadi sudah berhenti, meskipun mereka masih bertarung aku tak akan berguna. Jadi tidak ada alasan untukku buru-buru ke sana.
Aku sampai di bagian depan desa, ada sebuah papan penanda. Rheinland, "Kalau aku tidak salah bukannya itu sebuah wilayah di daerah Jerman, tapi kalau memang kenapa ini sebuah desa?"
Aku mencoba memikirkannya, menurut penjelasan Olivia dunia ini, atau lebih tepatnya celah dunia ini terbentuk berdasarkan imajinasi. Kalau memang begitu imajinasi yang membentuknya semacam hukum mutlak, mungkin hampir sama dengan hukum bahwa gravitasi menarik objek ke arah inti bumi, atau hukum mutlak lainnya.
"Ya ampun orang macam apa yang membuat imajinasi seperti ini, apakah karena dia kekurangan referensi?".
Aku berjalan sambil melihat sekitar, kepalaku masih memikirkan tentang hal-hal yang ku katakan tadi. Rasanya mereka seperti benang merah yang saling terhubung.
Aku memperhatikan rumah-rumah yang ada, desainnya seperti pada abad pertengahan, tapi rumah-rumah ini tidak terurus.
Aku memandangi sekitar. Ada sebuah kupu-kupu terbang di dekatku, aku memindahkan pisau yang ku genggam ke tangan kananku yang masih di perban. Aku mengangkat tangan kiriku, dan kupu-kupu itu hinggap.
Aku memfokuskan pandanganku ke kupu-kupu itu, garis-garis itu muncul lagi. Aku memastikannya, garis-garis itu memang nyata. Aku melihat pisau yang ada di tanganku, aku fokus menatap pisau itu. Tidak ada garis-garis yang keluar.
Aku menyimpulkan kalau garis aneh itu hanya muncul pada makhluk hidup. Lalu apa fungsinya, apa fungsi garis itu?.
Rasa penasaranku sudah tak tertahankan, aku segera mengangkat pisau yang ada di tangan kiriku. Aku segera menebas kupu-kupu itu, aku membelahnya secara vertikal. Kupu-kupu itu terbelah dua, tidak ada hal spesial seperti saat aku menebas akar pohon hidup sebelumnya.
Binatang malang ini, mati karena ulahku tanpa ada hasil yang nyata. Aku berdiam diri, aku memikirkan apa garis-garis itu sebenarnya.
Saat sedang berpikir aku melihat ke kiri, ke arah kami datang, dari sana terlihat debu yang berterbangan. Aku memperhatikannya dengan lebih teliti, itu adalah kendaraan yang besar. Tidak hanya satu, setidaknya dari yang bisa ku lihat ada lebih dari tiga buah. Aku tak bisa memastikannya, yang bisa ku pastikan hanyalah mereka bergerak dalam kecepatan tinggi.
"Groowaaaaa...!"
Tiba-tiba terdengar suara auman yang sangat keras, bersamaan dengan auman itu terdengar suara tembakan.
Aku bergerak menuju ke sana, aku berusaha mendekat perlahan. Aku berusaha tidak menunjukkan keberadaanku.
Aku masuk kesebuah rumah untuk mendekat dan melihat suara tembakan itu, aku memasuki rumah terdekat yang ada di kananku. Aku masuk lalu mendekat ke jendela, untungnya di jendela itu memiliki sebuah lubang.
Aku mendekatkan mataku ke lubang itu, yang pertama kulihat adalah serigala besar yang berdiri dengan dua kaki. Aku cukup kaget karena hal itu.
__ADS_1
Sedikit kebelakang terdapat tumpukan bata yang merupakan reruntuhan dari bangunan di seberang. Di dekat sana juga terdapat bekas gosong.
Tembakan beruntun terus menghujani monster itu, tapi tembakan mereka seperti tidak berpengaruh. Manusia serigala itu, berjalan pelan.
Hah?. Apa apaan monster itu, bukannya dia ingin menghabisi semua orang. Apa dia mencoba melakukan intimidasi?.
Apakah monster itu memilik kecerdasan setingkat manusia?. Apa karena wujud sejati makhluk ini adalah manusia, jadi karena itu dia memiliki kecerdasan setingkat manusia.
Sebuah ledakan terdengar, getaran dari ledakan itu membuat rumah ini terguncang.
Krek.
Dabomm...
Tepat di sebelahku, atap rumah ini runtuh. Itu hampir saja mengenaiku. Mengesampingkan hal itu aku sekali lagi mengamati mahkluk yang tak bisa terluka oleh tembakan itu.
Makhluk itu seperti tertahan karena ledakan itu, aku memfokuskan pandanganku ke manusia serigala itu.
Tidak ada?. Garis-garis yang sebelumnya tidak muncul.
Aku mengarahkan pandanganku ke atas makhluk itu, tidak ada garis seperti itu. Aku mencoba mencarinya dengan lebih teliti, aku fokus memandangi makhluk itu.
Lehernya.
Garis rapi dan sekecil itu hanya bisa di buat oleh sayatan benda tajam.
Mungkinkah garis kecil di lehernya adalah kelemahannya, kalau memang begitu artinya tembakan bukannya tidak mempan, tapi tidak bisa mengenai kelemahannya secara pas dengan garis yang kulihat.
Sejak aku mencoba memahami kelemahan makhluk ini, dia tidak bergerak sedikitpun.
Makhluk ini benar-benar mencoba melakukan intimidasi.
Aku melihat ke bagian tanah, terdapat benda yang mengkilap.
Itu adalah proyektil peluru, peluru itu mengenai serigala itu, tapi tidak bisa menembusnya. Apakah karena ini zaman abad pertengahan, karena pada masa itu belum ada senjata seperti ini, jadi itu menyebabkan peluru tidak berguna karena belum ada pada masa itu. Tapi kenapa roket itu bisa membuat manusia serigala ini terhambat walau hanya sebentar.
Aku masih mengamati makhluk itu dari balik jendela berlubang. Tembakan terhenti, sepertinya para tentara sedang mengisi ulang peluru.
Aku memutuskan untuk pergi dari tempat ini, aku melangkah mundur. Aku terjatuh karena tersandung oleh kayu yang ada di belakangku, aku lupa kalau sebelumnya atap rumah ini jatuh karena ledakan.
Dubrakk...!
__ADS_1
Dinding yang ada di depanku roboh.
Hal itu menyebabkan debu berterbangan, aku menutup mataku karena debu. Beberapa saat kemudian debu itu mulai menghilang, aku perlahan membuka mataku. Setelah debu itu menghilang tubuh manusia serigala terlihat, terlihat dengan sangat jelas. Manusia serigala itu berdiri menghadapku, aku melihat wajahnya.
Jadi dia mendengar suaraku terjatuh dan menerobos dinding rumah ini
"Hai..., kau tersenyum sepertinya kau sedang senang," ucapku dengan gugup.
Mulut manusia serigala itu semakin jelas seperti seseorang yang tersenyum.
"Jujur saja, ekspresi itu membuatmu lebih seram."
"Grooowwwaaaarrr...!" Suara keras dari auman mahkluk itu.
Aku menutup telingaku
Sepertinya aku membuatnya marah.
Aku segera berdiri, lalu berlari sekencang-kencangnya.
Apa aku membuatnya tersinggung
Lagi pula apa yang kulakukan. Untuk apa aku mencoba bicara dengan makhluk itu, aku tidak sedang berada dalam cerita komedi.
Aku fokus berlari, aku berusaha berlari menuju para tentara yang menembaki manusia serigala itu.
Aku hanya harus berlari lurus ke depan dan berbelok di persimpangan yang ada di ujung jalan.
Aku berlari secepatnya, aku hampir sampai ke persimpangan itu.
Aku berlari secepat yang kubisa, tapi sesuatu menabrakku dari belakang. Aku terjatuh tepat di persimpangan. Serigala itu semakin mendekat mencoba memangsaku, tapi sebelum serigala itu berhasil manusia serigala itu memukulnya hingga terpental ke rumah setengah rusak.
Di tengah persimpangan ini ada sebuah tiang, di atasnya terdapat semacam sebuah roda. Roda aneh itu rasanya aku pernah melihatnya, Breaking Whell , itu merupakan alat eksekusi di abad pertengahan.
Aku ada di bawahnya, di sebelahku terdapat sebuah pedang yang tergeletak di tanah.
Sihir hitam, manusia serigala, eksekusi, sekarang aku ingat. Dalam sejarah tercatat seseorang yang di eksekusi dengan cara yang sama, dan karena alasan yang sama, Peter Stump.
Ia adalah orang yang di eksekusi karena menjadi manusia serigala, dan melakukan praktek ilmu hitam. Korbannya adalah perempuan dan anak-anak.
Ceritanya terkenal dan terus di ingat, bahkan sampai sekarang. Refrensinya bisa di temukan di buku karya, William Peter Blatty di bukunya yang berjudul The Excorcist.
__ADS_1
Gampangnya adalah, "Aku ada di situasi yang sangat buruk."