[I]Logical (Dalam Masa Rework)

[I]Logical (Dalam Masa Rework)
Aturan celah ini.2


__ADS_3

Kami berjalan 1 jam lebih, akhirnya kami keluar dari hutan ini. saat sampai di luar aku melihat ke kiri, akhirnya aku paham maksud Olivia.


Sebelumnya kami menyisir jalan di bukit, dan jalur yang dilalui menurun di bagian luar hutan ini. Di jalur itu masih terlihat jejak kendaraan, ada dua kendaraan yang melewati tempat ini.


Olivia menunjuk ke jejak mobil itu, "Aku turun dari sana dan segera berlari untuk menolongmu, aku datang tanpa perlu bantuan dan perlengkapan seadanya." ucapnya dengan nada sombong.


"Aku tahu kau bermaksud bertingkat seperti pahlawan," dari wajahnya Olivia terlihat bangga, "Tapi bukankah itu ceroboh, apa kau benar-benar seorang profesional?" ucapku mencoba menyinggung.


"Kalau kau tidak suka kembali saja kesana!"


Sepertinya dia kesal, ya memang aku agak kelewatan. "Maaf, aku hanya bercanda." Mendengar hal itu Olivia berpaling melihatku, lalu tertawa kecil.


"Tidak apa-apa, aku juga hanya bercanda."


Tssstt...


Suara radio komunikasi milik Olivia berbunyi, dia menjawabnya. Aku melihat-lihat sekitar, jarak dari tempat ini ke desa masih cukup jauh. Aku berbalik melihat ke belakang, "Ini akan mengerikan jika tiba-tiba akar-akar tadi muncul".


"Mereka tidak bisa menjemput kita."


"Siapa," tanyaku.


"Joseph dan Professor Hopper, mereka sudah dari tadi ada di lokasi kendaraan yang kita cari, kembali ke sini itu sangat berisiko. Sepertinya kita tidak punya pilihan lain, kita harus berjalan sejauh 4 kilometer lagi "


Aku menatap Olivia, "Hey, kita baru saja berlari, dan berjalan cukup jauh untuk keluar dari hutan ini, dan sekarang kita harus berjalan lagi?". Protesku.


Olivia hanya mengangkat bahunya, "Ya begitulah."


Aku naik ke atas batu besar yang ada di dekatku, aku bersila di atasnya.


"Tidak mau, berjalan lebih lama lagi kakiku akan lepas."


"Hey Lucy, jangan bersikap seperti anak-anak."


Aku tak menghiraukannya, aku butuh istirahat dari perjalanan penuh keanehan ini. "Bukannya aku bersikap seperti anak kecil, hanya saja aku sudah tidak sanggup."


"Kalau kau masih bisa mengoceh artinya kau masih punya tenaga."


"..."


"Kalau kau tidak mau akan kutinggal kau di sini."


Tanpa berkata apa-apa lagi Olivia berjalan tanpa memalingkan wajahnya, dengan terpaksa akhirnya aku turun dan mengikutinya. Aku berjalan sambil menggerutu.


Berjalan tanpa henti benar-benar melelahkan, aku lebih suka tiduran di kamarku. Ya bagaimanapun itu memanglah bukan sebuah perbandingan yang tidak sesuai. Hah..., kesialan macam apa yang sebenarnya menimpaku.


Di arah depan samar-sama terlihat seperti bentuk deretan rumah. Aku melihat-lihat sekitar, pandanganku tertuju pada pepohonan yang agak aneh di kiri kami.


"Ada apa?. Kenapa kau tiba-tiba diam." ucap Olivia


"Olivia lihatlah pepohonan di kiri itu!"


Olivia melihat ke arah yang ku tunjuk, "Pohon ini memang cukup aneh, jaraknya dari hutan cukup jauh, dan jenisnya sepertinya juga berbeda."

__ADS_1


"Ya, warna kulit pohon itu memang berbeda, tapi yang kumaksud adalah yang ada di balik pepohonan itu, bukankah itu terlihat seperti atap?"


Olivia memperhatikannya lagi, "Kau benar, itu memang seperti sebuah atap," Olivia memeriksa senjatanya, "Senjataku hanya tersisa pistol SIG SAUER P320-M17 ini, bagaimana menurutmu apa kita coba periksa-"


Aku mengangkat tangan kananku ke atas, "Kau tidak perlu menyebutkan jenisnya, katakan saja bahwa itu pistol, lagipula meskipun kau bilang detailnya aku tetap tidak mengerti."


"Kau benar-benar suka membuat orang kesal ya, apa pun itu bagaimana menurutmu?"


"Terserah kau saja, aku hanya ingin mengingatkan aku tidak berguna jika tiba-tiba ada pertarungan."


"Oh ya, bicara soal bertarung kau memegangi pisau itu dari tadi," ucap Olivia menunjuk tanganku yang memegang pisau yang ia lemparkan, mungkin lebih tepatnya pisau yang ia berikan padaku.


"Aku melemparkan sarungnya, dan aku tidak bisa menggantungkannya, jadi aku hanya membawanya begini."


"Jadi begitu, ya karena kau punya senjata gunakanlah jika perlu. Ayo kita memeriksanya!"


Aku menatap Olivia lalu bertanya.


"Bukannya setiap prajurit di lengkapi dengan pisau semacam ini?. Tapi aku baru sadar kau tidak membawanya."


"Karena aku suka yang anti mainstream."


Orang ini benar-benar sesuatu.


Kami memutuskan pergi ke tempat itu. Kami masuk di antara pepohonan yang besar, dan seperti yang terlihat. Itu memang atap dari sebuah bangunan, bangunan itu adalah sebuah rumah kecil.


Kami masuk ke dalam rumah yang kami temukan, dengan mengikuti perintah Oliva kami masuk ke dalam.


Olivia masuk sambil mengarahkan pistolnya di depan, ia merapat ke dinding.


Aku masuk mengikuti perintah Oliva. Tempat ini memang rumah yang kecil, di sini hanya ada satu ruangan. Meskipun kecil tapi rumah ini terbilang cukup lengkap, di sini terdapat kasur, sebuah meja beserta kursi dan... sebuah perapian?.


Aku mendekati perapian itu, "Olivia bukankah ini cukup aneh." Olivia mendekat, "Bukankah di rumah ini tidak ada cerobong, asap?" lanjutku


Olivia mengangguk, ia paham apa yang ku maksud. Sebuah perapian tanpa adanya cerobong asap memang sangat aneh, pemilik rumah macam apa yang ingin rumahnya penuh asap.


Olivia memeriksa perapian itu, ia melihat ke atas. "Yap, memang tidak ada lubang sebagai jalan keluar asap." Olivia mencoba meraba bagian dinding perapian itu, "Hah, sepertinya ada sesuatu." ucap Olivia.


Olivia berdiri, "Coba kau sentuh di bagian dalam perapian itu." Aku melakukan yang di katakan Olivia, aku mencoba meraba di sekitar tempat Olivia merasakan sesuatu. Memang ada sesuatu, di bagian dalam perapian itu, bukan di kiri atau kanannya. Memang terdapat sesuatu, rasanya seperti benda padat dengan bentuk yang menonjol.


Aku menekan benda itu, dan tiba-tiba terdengar suara yang cukup keras, seperti benda besar di pindahkan.


"Lucy di bawah kasur itu," Olivia menunjuk kasur itu.


Aku mendekat, di bawah kasur itu memang terdapat sebuah lubang yang tidak ada sebelumnya. "Ayo bantu aku memindahkan kasur ini!" Aku membantu Olivia memindahkan kasur yang di maksud.


Dengan tenaga Olivia yang besar ini tidak terlalu sulit. Di balik kasur itu terdapat semacam lubang, di sana terdapat tangga menuju ke bawah. Aku menatap Olivia, wajahnya seperti berseri-seri. "Aku merasa kita sedang mencari harta karun," ucap Olivia bersemangat.


"Dalam kebanyakan film berburu harta karun banyak karakter yang mati, semoga saja tidak ada yang terjadi dengan kita," ucapku datar.


"Lucy, memangnya kau tak bisa membaca suasana."


Aku menatap Olivia dengan wajah bingung, "Apa maksudnya?"

__ADS_1


"Begini saja, tolong jangan mengatakan hal yang mengerikan. Ayo kita segera turun!"


Tanpa mengatakan hal lain Olivia segera menuruni tangga itu. Aku mengikutinya di belakang. Olivia menuruni tangga ini dengan hati-hati, seperti saat memasuki rumah ini.


Kami melangkah secara perlahan, menuruni tangga ini setapak demi setapak. Kami akhirnya sampai di anak tangga terakhir, yang kami temukan adalah sebuah pintu dengan lambang hewan berkaki empat, aku tak bisa memastikan apakah bentuknya. Kami membuka pintu itu lalu kami menemukan ruangan yang aneh. Dari pintu aku bisa melihat di pojok terdapat sebuah meja, di bagian atasnya ada setumpuk buku.


Di lantai terdapat sebuah simbol, aku lupa apa mereka menyebutnya. Seperti simbol bintang terbalik, atau Pentagram?.


Olivia memeriksa simbol Pentagram itu, "Ini terbuat dari darah." Mendengar itu aku sedikit terkejut.


"Kau tahu darah apa itu?" tanyaku. Olivia hanya menggelengkan kepalanya, ia juga tak mengetahuinya. Hak yang ku khawatirkan adalah jika itu adalah darah manusia, jika memang begitu maka ini sebuah masalah besar.


"Olivia apa menurutmu ini semacam praktek ilmu hitam?"


"Kemungkinan begitu."


Kami memutuskan memeriksa seluruh ruangan ini, tidak ada hal aneh lain, seperti tombol arau apapun itu.


Saat kami sedang memeriksa sekitar kami mendengar suara langkah kaki. Tidak ini bukan jejak kaki manusia, ini langkah kaki makhluk berkaki empat. "Gawat apa ini si manusia serigala?". Olivia juga menyadari suara langkah itu, ia segera menyiapkan pistolnya. Kami mendekat ke pintu ruangan ini yang terbuka.


Dari tangga terlihat bayangan membesar, yang berarti ada sesuatu mendekat. Kami memeriksa apakah itu, aku mencoba mengintipnya.


Itu bukanlah Manusia Serigala, itu adalah salah satu serigala berkepala dua.


Tiba-tiba serigala itu bergerak secara cepat untuk menyerang, Olivia segera melepaskan beberapa temba. Tembakan itu tepat mengenai kedua kepala serigala aneh itu, tubuh serigala itu bergulir perlahan menuruni tangga.


"Aku merasa bersimpati dengan serigala ini dia salah lawan dengan menyerang orang yang punya akurasi tinggi." kataku datar sambil memandangi serigala berkepala dua itu.


"Kau memberikan kasih sayangmu pada hal yang aneh Lucy."


"Ya apapun itu tidak ada gunanya kita di sini, ayo segera keluar pergi." ucapku.


"Ya kau memang benar, tapi kau terdengar seperti sedang mengubah pembicaraan."


"...hah?."


"Sudahlah lupakan saja, tidak penting."


"Ya kalau kau bilang begitu." Aku masih memandangi tubuh serigala berkepala dua itu, tiba-tiba hal aneh terjadi lagi.


Aku bisa melihat garis-garis aneh di tubuh serigala itu, hal ini benar-benar membuatku penasaran. Hal semacam ini juga ada pada saat kami berhadapan dengan pohon bergerak sebelumnya.


"Olivia apa kau melihat garis-garis aneh di serigala ini?"


"Tidak, candaan macam apa yang kau bicarakan," Olivia berjalan menaiki anak tangga, "Hey apa kau ingin tinggal di sini?" Ucap Olivia.


Aku mengalihkan pandanganku ke Olivia, "Ya ya baiklah." Setelah itu aku memandangi tubuh serigala itu lagi, garis-garis aneh itu menghilang. Aku menyerah untuk memahami garis-garis aneh itu, tidak ada petunjuk. Padahal aku yakin sekali aku tak berkhayal, namun Olivia tak bisa melihatnya. Fakta itu membuatnya sangat bertentangan dengan pernyataan kalau yang kulihat ini nyata.


"Booom!" Suara ledakan terdengar dari jauh.


Mendengar hal itu Olivia segera berlari keluar dari tempat ini, karena hal itu aku juga segera keluar.


Dari jauh terdengar suara tembakan yang tak henti-hentinya.

__ADS_1


"Lucy ayo!” Olivia segera berlari ke tempat itu.


Tanpa pikir panjang aku segera mengikutinya, sambil berlari aku hanya memikirkan hal yang buruk ada di sana. Monster manusia serigala itu.


__ADS_2