[I]Logical (Dalam Masa Rework)

[I]Logical (Dalam Masa Rework)
Lagu terakhir.


__ADS_3

Aku membuka mataku, aku ada di ruangan yang sepertinya aku pernah berada di sana. Aku mengangkat kepalaku, aku melihat sekitar.


"Oh ini adalah ruangannya Alice."


"Kau sudah bangun," Alice mendekat, mereka baru saja masuk, Klara masih menutup pintu. Alice menggunakan Jas putih layaknya Ilmuwan, Klara tetap menggunakan seragam pelayan wanita, ia membawa sebuah IPad


"Lagi-lagi aku kehilangan kesadaran ya."


"Ya begitulah," jawab Alice.


"Sepertinya kemampuan itu memang sangat menguras tenagaku, sungguh sangat merepotkan," gumamku dalam hati.


"Kurasa kau harus lebih banyak mengolah tubuh, kau mudah sekali kehabisan tenaga kalau melakukan aktivitas seperti kemarin."


"Ya, yang dikatakan Klara memang benar," Alice membenarkan ucapan Klara. "Ya setidaknya tidak ada masalah pada tubuhmu, kalau begitu kami akan pergi ke gerbang yang di temukan sore kamerin," lanjut Alice.


" 'Gerbang'?"


"Ya, saat pertemuanmu dengan Olivia aku yakin kau sempat melihat, meskipun kau menghilang saat akan pulang, tapi kau di temukan setelah berlalu satu hari." Alice menjelaskan. "Kau yakin kau tidak ingat sama sekali apa yang terjadi?." Alice bertanya dengan tatapan penuh penasaran.


Aku menggeleng. Aku tak ingin memberitahukan informasi apa pun, karena sebenernya aku bahkan tak sanggup mengingat apa dan bagaimana "Dia" bisa membawaku ke tempat itu. Tapi aku penasaran dengan apa yang sebenarnya mereka cari di sana?.


"Kalau boleh tahu, apa tujuan kalian ke sana?" tanyaku.


"Kami sedang mencari material baru yang bisa menggantikan sumber daya alam yang semakin menipis, dan sejujurnya kami sedang mencari lahan agar manusia bisa melanjutkan kehidupan." Alice menarik nafas panjang, "Kau pernah dengar dalam kisaran beberapa dekade ke depan mungkin bumi sudah tidak bisa di gunakan."


Aku memang pernah mendengarnya, kehabisan sumber daya dan terlalu banyak penduduk. Tapi bukankah celah itu adalah fantasi dari manusia, bagaimana mereka bisa membuatnya menjadi nyata?.


"Apakah membuat khayal manusia bisa menjadi nyata itu memungkinkan untuk dilakukan, memangnya sejauh ini ada hasil nyata?"


"Itu informasi yang terlalu jauh, aku tak bisa memberitahumu, tapi kami menggunakan sebuah cara simple dan ini itu memungkinkan. Informasi terakhir yang bisa kukatakan, ya kami berhasil namun sayangnya ini baru sebuah rumah yang tua."


Pernyataan dari Alice membuatku cukup terkejut. Aku ingin tahu bagaimana, tapi mereka masih menahan informasi. Tapi itu belum cukup menjawab rasa penasaranku, tapi aku juga akan memberikan sebuah informasi.


"Alice, ada sesuatu yang ingin kutanyakan, mungkin ini bisa membantu karena ini berhubungan dengan dunia khayalan itu."


"Apa itu?" tanya Alice, aku bisa melihat kalau ia tertarik.


"Apakah sesuatu yang tergambar di alam bawah sadar bisa tiba-tiba muncul?"


"Maksudnya?"


"Aku punya semacam phobia, dan itu muncul tepat di depanku waktu aku ada di dunia itu."


"Aku belum pernah mendengar yang seperti itu, Klara cepat catat!" Klara segera mengaktifkan Ipad miliknya lalu mencatatnya, "Apa ada yang lainnya?. Apa sebenarnya 'hal' yang sangat kau takutkan itu?" Alice bertanya dengan penuh semangat.


"Ia benar-benar terwujud, dan terus mengejarku, ia benar-benar mengincarku."


"Karena kau bilang 'ia' artinya itu adalah sesosok manusia kan?"


Alice terus bertanya dengan penuh semangat, aku merasa tidak sanggup untuk menjawabnya.


"Nona, sebaiknya cukup sampai di sini, jangan memberikan Lucy tekanan," Klara menghentikan Alice.


"Oke baiklah." Alice berhenti bertanya. "Maaf mengingatkanmu dengan hal yang kau benci," ucapnya.


"Ya tidak apa-apa."


Klara memerhatikan IPad yang ia pegang, "Mereka akan segera berangkat, seluruh persiapan telah di siapkan." Ucap Klara setelah melihat IPadnya.


"Oh, mungkin kau tak ingin melewatkan kesempatan ini," Alice berkata dengan nada bersemangat, ia segera keluar.


Klara mengulurkan tangannya, "Kau bisa berdiri?. Maaf nona memang seperti itu kalau sedang bersemangat."


"Terimakasih," aku memegang tangannya, Klara membantuku berdiri. "Bagaimanapun pintarnya Alice dia tetap masih berusia sengat muda, lebih muda dariku, aku bisa mengerti hal itu."


Klara tak mengatakan apa-apa, ia hanya tersenyum ke arahku.

__ADS_1


Aku bisa berdiri sepenuhnya, dan aku juga bisa berjalan dengan normal. Aku mengikuti Klara, jalan di tempat ini sangat membingungkan, jika tak terbiasa sudah bisa dipastikan bahwa orang itu akan tersesat. Di depan Alice berjalan dengan langkah yang cepat.


Meskipun masih canggung aku mencoba membuka percakapan.


"Oh ya klara, kukira kau hanya mengurus rumah, tapi kau juga membantu Alice sampai sini."


"Kenapa kau pikir begitu?"


"Kau selalu mengenakan seragam pelayan,"


"Meskipun aku menggunakan seragam ini sebenarnya aku adalah asisten sekaligus bodyguard nona Alice."


"Serius, lalu kenapa kau suka menggunakan seragam pelayan?"


Klara tak menjawab, "Biar kutebak kau sebenarnya adalah salah-satu orang yang di sebut cosplayer kan?" ucapku asal-asalan.


Wajah Klara berubah jadi merah, "Hah, serius?", ya aku tidak menduganya tapi sepertinya aku tidak salah.


"Kita sudah sampai," ucap Klara sambil masih malu-malu. Kami ada di depan sebuah gerbang yang besar.


Alice menatap Klara dengan aneh, "Ada apa, kau tidak biasanya bersikap seperti ini, apa yang kalian bicarakan?"


"Tidak ada yang penting." Dari cara bicaranya Klara masih malu-malu.


"Hey, Lucy apa yang terjadi?" tanya Alice, ia keheranan dengan tingkah Klara.


"Emm itu...." Klara menatap tajam. "Ehe-he, tidak ada apa-apa."


Alice semakin kebingungan, ia mencoba mencari jawaban, tapi pada akhirnya ia menyerah. "Maaf tapi kau tidak bisa masuk lebih jauh, jadi kita akan menunggu di sini,"


"Menunggu siapa?" tanyaku.


"Tentu saja aku," seseorang dari belakang memukul punggungku. "Kau kaget?" ucapnya.


"Ya terserahlah..." jawabku.


Alice dan Klara tertawa kecil.


"Apa maksudnya itu!"


"Cobalah pahami sendiri."


"...."


"Sudahlah itu tak penting," Olivia menyodorkan sebuah bingkisan. "Tandaaa, sesuai janjiku aku akan mengganti ponsel pintar milikmu."


Ia menyerahkan sebuah bingkisan padaku, aku membukanya.


"Padahal kubilang tidak perlu, aku tak terlalu membutuhkannya, lagi pula tak ada yang ingin kuhubungi."


"Kan ada kami, lagi pula itu tidak hanya untuk menelpon, pasti ada kegunaan lainnya."


"Yaa, kau mungkin benar. Terimakasih"


Sebenarnya aku merasa tidak enak karena hal ini, handphoneku rusak karena air. Tapi yaa.. aku tak bisa menolak ini.


"Alice, sebelum aku pergi bagaimana kabar dari Caroline?."


"Dia ada di ruang perawatan, tubuhnya benar-benar lemas," jawab Alice.


"Apakah itu karena Lucy.?" Olivia kembali bertanya.


"Ya benar, dia memang sepertinya menikamkan pisau, tapi dia menyerangnya di tempat kosong, padahal tidak ada apa-apa di sana."


"Apa kalian tak melihatnya?. Ada makhluk yang melayang di sana," ucapku. Tapi Klara dan Olivia menggelengkan kepalanya.


Kalau memang mereka tak bisa melihatnya, maka satu-satunya penjelasan adalah aku bisa melihatnya karena mataku.

__ADS_1


"Oh mungkin karena kau bertatapan langsung dengan matanya." Olivia asal-asalan melontarkan kata-kata itu.


"Ya sebenarnya memang tak terlalu aneh kalau itu penyebabnya." Klara mendukung pernyataan Olivia, Alice berpikir sebentar dan meskipun masih tak sepenuhnya tapi ia cukup menerima hal itu.


Seorang laki-laki datang, "Letnan, seluruh perlengkapan sudah siap."


"Kerja bagus, kembalilah berkumpul dengan yang lain!" perintah Olivia. Orang itu memberikan hormat lalu segera masuk ke gerbang yang hanya terbuka sedikit, bahkan untuk masuk orang itu perlu memiringkan tubuhnya.


"Sepertinya sudah hampir saatnya, oh sebelum aku berangkat bagaimana kabar si Caroline?."


"Kami menahannya di ruangan yang di jaga oleh 3 orang penjaga, seharusnya ia tak apa-apa di sana," Klara menjawab.


"Sebenarnya aku cukup khawatir mengenai keamanannya, tapi sepertinya ia tak terlalu berbahaya jadi aku tak akan mengatakan apa-apa tentang hal itu," ucap Alice.


Aku hampir saja lupa tentang orang itu, tapi bagaimana mereka bisa membawanya kemari?.


"Bagaimana kalian bisa membawanya? Bukankah keributan yang terjadi pasti akan menarik banyak orang?" tanyaku.


"Kami memanggil mobil ambulance, dan bilang kalau ia terkonfirmasi punya gangguan jiwa dan menyerang orang di sekitarnya," jawab Olivia.


"Jadi kalian memberikan pernyataan palsu," aku menatap mereka dan bicara dengan nada datar.


Olivia menengok jam tangan miliknya, "Astaga ini sudah waktunya."


"Gerbang itu tak bisa terbuka selamanya, kurasa ini saatnya anda pergi." Klara bicara dengan nada yang anggun.


"Doakan aku kembali hidup-hidup," Olivia nyelutuk.


"Jangan bicara seperti itu, usahakan yang terbaik agar bisa kembali dengan selamat," ucap Alice.


"Kau mengkhawatirkan ku yaa." Olivia bercanda, ia menatap ke arahku. "Lucy tinggal denganmu kan?" tanyanya. "Untuk saat ini," jawab Alice.


Olivia menatapku dengan lebih tajam, "Ya kalau begitu Klara sepertinya pekerjaanmu akan jadi dua kali lebih sulit, tapi kumohon jaga orang ini agar tak melakukan hal yang tidak wajar."


"Tentu saja," Klara menjawab.


Sejujurnya itu cukup menggangguku, "Kalian tolong hentikan hal itu, aku tak akan melakukan sesuatu asal-asalan, aku bukan orang yang langsung maju menghadapi monster serigala secara langsung."


Olivia paham apa maksudku, aku menyinggungnya yang berlari untuk sesegera mungkin sampai tanpa memikirkan kekuatan dari manusia serigala yang kami lawan waktu itu.


"Ya baiklah aku akan lebih hati-hati, kalau begitu sampai jumpa."


Olivia segera masuk ke gerbang tadi, ia melambaikan tangannya. Aku tak di perbolehkan melihat apa yang ada di balik gerbang ini, tapi aku bisa mendengar adanya suara mesin.


Suara itu adalah mesin yang bergerak, dan tak begitu lama suaranya hiang, benar-benar hilang seperti pindah ke tempat yang sangat jauh.


"Wah sepertinya mereka sudah pergi," ucap Alice. "Ini sudah hampir jam 10 pagi, kantin tidak akan menyediakan sarapan setelah lewat jam 10," lanjutnya.


Benar juga, aku belum menanyakan berapa lama aku tak sadarkan diri, tapi kalau ini memang sudah pagi artinya aku tertidur lebih dari 12 jam.


Seolah tau apa yang kukatakan, Klara berkata.


"Ya, Lucy kau tertidur hampir 14 jam." Lalu tersenyum padaku, "ayo cepat kita ke kantin, kau harus mengisi tenaga tubuhmu."


Tanpa basa-basi lagi kami segera pergi te tujuan yang di maksud.


Di tengah jalan IPad Klara berbunyi, itu adalah telepon, Klara mengangkat teleponnya.


"Ini darurat..." aku tak bisa mendengar suara itu dengan jelas. Alice juga jadi penasaran, Klara menyalakan pengeras suara di telepon.


"Ini benar-benar gawat, tersangka Caroline berhasil melarikan diri!" ucap orang yang ada di balik telepon.


Hah apa, bagaimana bisa. Bukankah kekuatannya sudah kuhancurkan?. Astaga aku melupakan hal yang sangat penting.


Jika makhluk itu adalah salah satu makhluk seperti Manusia serigala, artinya itu berasal dari pikiran manusia. Selama manusia itu masih bisa mengkhayalkan hal itu, maka makhluk itu masih bisa muncul kembali setelah hancur.


Kami segera beralih tujuan, Klara dan Alice segera berlari untuk mencapai lokasi yang di tuju. Aku berlari mengikuti mereka dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2