[I]Logical (Dalam Masa Rework)

[I]Logical (Dalam Masa Rework)
Lagu terakhir.3


__ADS_3

Kami segera menuju ke tempat yang ada di telepon pintar orang tadi, Klara mengendarai mobil dengan sangat cepat, lebih cepat dari sebelumnya, Alice benar-benar tak bisa lagi menahan diri, ia seperti sudah hampir pingsan.


Aku melihat ke langit hari mulai gelap, perkiraan cuaca memang mengatakan kalau hari ini akan ada badai.


Kami sampai di daerah bukit dengan hutan yang lebat, ini adalah hutan yang rencananya akan di buka lahannya. Karena itu tempat ini sekarang sedang di tutup. Kami berhenti, ada sesuatu yang menarik perhatian kami.


Aku memperhatikan benda itu dengan teliti, di bagian atasnya terdapat semacam logo.


"Taxi, bukankah itu taksi?,." ucap Klara, dan yang dikatakan Klara benar, itu memang sebuah taksi.


Klara segera turun dan mendekati taksi yang ada di balik semak itu, tak berapa lama ia kembali dan masuk ke mobil.


"Sopirnya ada di dalam, ia tak sadarkan diri," ucap Klara.


"Seperti di gerbang kota itu ya...," ucapku.


Klara menyalakan mesinnya, kami kembali menuju lokasi yang kami tuju.


Di depan kami ada semacam barikade yaitu pagar-pagar dari besi yang tak terlalu tebal.


Klara masih melaju dengan kecepatan yang tetap tinggi.


"Apa dia berencana menabrakkan mobilnya."


Aku menutup mataku.


Brukkkk.


Suara benturan yang keras, aku juga merasakan guncangan yang cukup kuat. Aku membuka mataku.


Cklek.


Suara pintu di buka, Klara keluar dari mobil, aku dan Alice juga ikut keluar.


"Waahh, ternyata pagar itu tak serapuh seperti dugaanku, tapi setidaknya kita masih bisa menembusnya," ucap Klara.


"Kalau pagar itu lebih keras kita akan dalam keadaan yang buruk." Alice mengatakan itu sambil menahan mual.


"Maaf nona, aku tidak bisa menahan diri untuk melakukannya."


Sementara Alice dan Klara bicara aku melihat sekitar, meski terhalang beberapa pohon aku bisa melihat menara di balik pepohonan itu.


"Ayo kita ke sana," ucap Klara.


"Bagaimana dengan Alice, ia sepertinya sudah tidak kuat."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, meskipun aku ikut aku hanya akan jadi pengganggu" ucap Alice.


Aku dan Klara segera mendekati tempat itu, di dekat menara itu ada semacam sebuah shelter.


"Banyak pemburu yang datang ke sini saat musim pemburu, di hutan ini banyak ditemukan binatang buruan, aku yakin untuk itulah di buat bangunan itu," ucap Klara menunjuk bangunan itu.


"Tapi hutan ini akan di jadikan sebagai lahan untuk menambah bangunan dan lahan tahun depan kan?"


"Setahuku begitu, lagipula lebih dari lima puluh persen pulau ini masih berupa hutan."


Kami terus bergerak mendekati tempat itu.


"Klara apa kau membawa senjata?," tanyaku.


"Tidak, bukankah kau membawa Glock-19 yang diberikan kepadamu?"


"Sayangnya aku meninggalkannya."


"Kita tak punya pilihan, mau tidak mau kita hanya bisa nekat."


Kami sampai di dekat shelter, kami memeriksa sekitar. Setelah di rasa aman kami memutuskan untuk masuk, begitu kami sampai di pintu depan kami mendengar suara teriakan.


"Aaaaaaaa"


Untungnya jendela ini tidak di pasangi teralis, dan ukurannya tak terlalu kecil sehingga melewatinya tidaklah terlalu sulit.


Aku mengikuti Klara, di dalam benar-benar gelap. Sangat sulit untuk melihat.


Aku merasakan suatu cairan mengalir dan mendekat ke kaki, cairan itu terkena cahaya. Cairan itu berwarna merah dan agak kental, tak diragukan lagi bahwa itu merupakan darah. Di seberang kami meskipun gelap aku bisa melihat seseorang berdiri, di tangannya ia memegang sesuatu, benda itu mengkilap.


"Kalian, kalian datang di saat yang tepat," ucap orang itu, suaranya tak terlalu asing.


"Untuk menjadi saksi balas dendam yang kau lakukan?" ucap Klara.


Aku hanya diam di belakang, aku menyembunyikan tanganku yang memegang pecahan kaca tadi di belakang punggungku.


"Itu salah satunya, tapi aku benar-benar ingin bilang terimakasih karena aku bisa menyelesaikan lagu terakhirku," ucap orang itu. tak diragukan lagi kalau ia adalah Caroline.


"Terakhir, apa maksudmu."


"Saat kubilang terkahir ya artinya adalah terakhir, aku akan mengakhiri hidupku segera."


"Maaf saja, tapi kau tak akan bisa, aku akan menghentikannya, kau masih harus bertanggungjawab karena kau banyak orang yang tidak bersalah kehilangan nyawa."


"Hahahaha," Caroline tertawa dengan keras. "Begitu ya, jadi kalian ingin mengganggu."

__ADS_1


"Sebenarnya aku ingin memberikan ini pada gadis bermata merah di sebelahmu," Caroline memperlihatkan sebuah flashdisk . "Mungkin ini hanya ku rekam dengan alat seadanya, tapi ini adalah karya terakhirku dan aku ingin hanya dia yang mendengarkannya."


Hah, apa maksudny, kenapa harus aku?.


"Tapi kalau kalian ingin menghentikan ku, maka aku tak punya pilihan, aku akan membawa kalian kepada kematian bersamaku."


Makhluk melayang sebelumnya muncul atau lebih tepatnya keluar dari tubuh Caroline, aku bisa melihat cahaya yang kusebut 'penghubung' mendekat. Aku memfokuskan pengelihatanku pada cahaya itu, garis-garis aneh itu muncul.


Cahaya itu langsung mengenai kepala Klara. Setelah Klara tak bisa lagi menggerakkan tubuhnya Caroline segera berlari dengan posisi untuk menusuk ke arahku. Cahaya penghubung itu juga berusaha mengenaiku, tapi aku segera menyayatnya dengan pecahan kaca yang kuambil.


Sama seperti sebelumnya, aku menyerang bagian yang paling merah. Aku menyerangnya sedalam mungkin, dan retakan yang keluar karena dampak serangan itu menyebar sampai mengenai makhluk melayang.


Aku bisa melihat wajah Caroline kesakitan, tapi ia tetap bergerak maju. Tak ada pilihan lain, jika dia lebih dekat dari ini Caroline akan menyerang ku, dan kemungkinan besar akan menjadi luka yang fatal.


Aku fokus menatap Caroline dan garis-garis itu keluar. Aku melemparkan pecahan kaca yang kupegang ke tangan Caroline, aku benar-benar bergantung pada keberuntungan. Pecahan kaca itu berhasil mengenai salah satu garis merah menyala, seketika dari luka itu keluar retakan dan menyebar. Retakan yang di hasilkan tak terlalu panjang dan dalam, tapi setidaknya itu cukup.


Caroline melepaskan pisaunya, makhluk melayang itu juga hilang, Caroline sudah tak bisa menahan rasa sakitnya. Caroline terjatuh dan kehilangan kesadaran, sama seperti saat kami di apartemennya, saat aku menghancurkan makhluk itu.


"Sepertinya kau mengenai pembuluh nadinya" ucap Klara, makhluk itu sudah hilang jadi Klara bisa bergerak kembali.


"Kalau begitu tutup pendarahannya lalu kita bawa ke mobil," balasku.


Klara merobek sedikit bagian pakaiannya, lalu melilitkannya untuk menutup pendarahan.


"Tubuhku tiba-tiba tak bisa bergerak, tapi entah bagaimana kau masih bisa, bahkan kau juga bisa melumpuhkannya, dan luka yang kau sebabkan benar-benar aneh," ucap Klara sambil melakukan pertolongan pertama.


"Aku juga tak tahu, tapi setidaknya perutku tak tertusuk pisau."


Klara tertawa kecil, "Yah mungkin jika itu sampai terjadi aku juga sudah bisa dipastikan akan berakhir juga."


"Ya..."


Aku mencium bau menyengat, sepertinya bau dari buah. Aku juga mendengar suara angin yang berhembus dengan kencang.


"Badai akan segera datang, ayo kita segera membawanya, aku sudah selesai melakukan pertolongan pertama." Klara berdiri menahan tubuh Caroline, "Bantu aku membawanya!"


"Baiklah."


"Brak." Sesuatu menghantam dinding luar bangunan, kami mengalihkan perhatian karena kaget.


Tiba-tiba Caroline bangkit dan segera mendorong Klara, Klara terdorong hingga ke dinding. Caroline mengambil pisau yang terjatuh lalu ia langsung lari keluar bangunan, aku segera mengejarnya. Lagi-lagi aku ceroboh, makhluk itu di hilangkan dengan sengaja oleh Caroline, karena itu Caroline tak kehilangan kesadarannya.


"Sial, aku benar-benar ceroboh," ucapku memaki diriku sendiri.


Caroline masuk ke hutan jauh lebih dalam, ia terus berlari. Aku mengejarnya sekuatku.

__ADS_1


__ADS_2