![[I]Logical (Dalam Masa Rework)](https://asset.asean.biz.id/-i-logical--dalam-masa-rework-.webp)
Part 1
Matahari sudah menampakkan diri, dari ketinggiannya aku memperkirakan saat ini sekitar jam 8 pagi. Aku masuk ke tenda, aku tidak menemukan Olivia, mungkin saja dia sedang melapor.
Aku mengambil telepon pintarku, tapi tidak menyala. “Oh ya ini rusak,” aku meletakkan telepon pintar itu. Aku melihat sekeliling tenda. Aku melihat-lihat dan menemukan seragamku serta jaketku. Aku mengambilnya, jaketku kotor dengan tanah, seragamku belum terlalu kering dan ada sedikit noda tanah.
Aku mengganti pakaianku, meskipun belum kering dan beberapa bagian ada noda tanah, tapi itu lebih baik daripada baju penuh lumpur dengan noda darah. Aku mengganti pakaian dengan seragamku, tapi aku tidak menggunakan jaketku karena benar-benar kotor oleh tanah.
Beberapa menit kemudian Olivia masuk, dia menatapku dengan serius. Karena merasa aneh aku bertanya padanya.
“Apa?” tanyaku.
“Aku hampir lupa kalau kau itu seorang siswi.”
“Memangnya kau pikir aku ini apa?”
“Yah lupakan saja itu tidak penting,” dia meletakkan tangannya di dagunya, “Mungkin aku akan mencoba untuk ikut sekolah.”
Olivia memang tak bercerita kalau ia pernah bersekolah di sekolah.
Suara seperti orang yang berteriak kesakitan datang dari tenda medis, tenda itu hanya berjarak beberapa meter tanpa terhalang tenda lain. Olivia segera berlari ke tenda itu, aku mengikutinya. Begitu sampai kami dikejutkan oleh Kopral William yang mengamuk.
Bagian dadanya diperban, bergerak seperti itu seharusnya membuatnya merasakan sakit. Tapi dia mengamuk dan menggunakan seluruh tubuhnya, dari kondisi tubuhnya jika ia terus memaksakan menggerakkan tubuhnya ia akan mencelakai diri sendiri.
Kopral William yang mengamuk menyerang semua yang ada di sekitarnya, ia mendekat ke arah kami. Oliva maju perlahan, dia memasang kuda-kuda. Kopral William menyerangnya dengan tinjauan yang di maksudkan ke kepala.
Dengan sigap Olivia menghindar dengan cara menunduk. Kopral William menyerang lagi, kali ini dia ingin menendang Olivia. Kopral William menyerang Oliva dengan sekuat tenaga, tendangannya mengarah ke Oliva.
Oliva menangkap kaki Kopral William, ia menarik kaki Kopral William lalu menangkap tubuhnya. Aku tak bisa menjelaskannya dengan rinci tapi Olivia seperti mendorongnya dan karena teknik yang dilakukan Olivia Kopral William terjatuh.
Petugas Medis yang ada segera menyuntikkan obat bius. Kopral William memberontak tapi Olivia menahan tubuhnya, tak perlu waktu lama Kopral William mulai kehilangan kesadaran karena bius itu.
Beberapa waktu kemudian beberapa personil lainnya datang. Olivia memerintahkan mereka meletakkan Kopral William di velbed dan memborgol tangan serta kakinya.
“Waw, kau bisa menjatuhkan orang yang badannya lebih besar darimu.” Ucapku kagum.
“Hehehe, bagaimana aku hebat bukan?”
“Ya aku terkesan,” aku memang terkesan, tapi cara bicaranya dan ekspresi sombongnya membuatku sedikit kesal.
Tapi ini benar-benar aneh, apa yang membuat Kopral William tiba-tiba menjadi seperti itu?.
“Apa yang terjadi?” tanya Olivia pada si petugas medis.
“Aku tidak tahu, tiba-tiba dia mengeram seperti binatang buas lalu berteriak, Kemudian ia berdiri dan mengamuk,” jawab medis itu.
“Mengeram seperti binatang buas?”
“Ya, aku tidak tahu pastinya tapi ia mengeram seperti binatang .”
“Maksudmu seperti serigala?” tanyaku memastikan.
“Ya kurang lebih seperti itu.”
“Apakah di tubuhnya terdapat semacam gigitan atau terkena cakaran?” aku lanjut bertanya.
__ADS_1
“Ada semacam gigitan di bahu kirinya, dan bagian dadanya terkena cakaran,” jawab medis itu, “Aku ingin keluar, Letnan tolong awasi kopral William,” lalu petugas itu pun keluar.
Aku mencoba memproses informasi dan mengambil kesimpulan. “Apakah mungkin ini karena gigitan makhluk itu?”.
Olivia menatapku kebingungan, “Apa yang kau pikirkan soal ini?” tanyanya.
“Aku yakin kau sudah tahu kalau malam tadi monster berwujud manusia setengah serigala.”
“Ya aku mendengarnya dari laporan salah satu bawahanku, jadi maksudmu seperti di film-film Kopral William terinfeksi karena gigitan manusia serigala?”.
“Memang aneh tapi itulah satu-satunya yang terlintas di pikiranku”. Ini mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi memangnya bagian mana yang masuk akal dari semua ini.
Saat kami sedang memikirkan hal ini tiba-tiba Kopral William bangun dan mengamuk, tapi karena tangan dan kakinya di borgol ia tak bisa bangun. Ia mengeram dan berusaha melepaskan diri. Tak lama kemudian medis sebelumnya kembali.
“Apa kau tidak bisa membiusnya seperti sebelumnya?” tanyaku pada medis itu.
“Itu berisiko bisa menyebabkan kemungkinan kerusakan fatal pada tubuh,” jawab medis itu.
Aku teringat sesuatu, aku segera mengambil kalung nama yang ada di dekat obat-obatan.
“Apa yang kau lakukan Lucy?” tanya Olivia.
“Aku tidak yakin ini akan berhasil tapi aku ingin mencoba ini,” aku memperlihatkan kalung itu di depan mata Kopral William.
Dia menatap kalung itu, dan perlahan mulai tegang. Aku meletakkan kalung itu di tangannya, dia menggenggam erat kalung itu. Kopral William menatapku dan mulai berbicara.
“Aku senang kau selamat, maaf aku seharunya tidak mengizinkanmu mengikutiku.”
“Tidak itu bukan salahmu, aku yang memaksa ikut.
Sambil menahan sakit Kopral William memanggil medis itu, dia meminta medis itu mendekat dan berbisik. Setelah mendengarkan apa yang ingin Kopral William katakan medis itu berdiri, dia berjalan mendekat dan mengatakan kalau kami harus keluar.
Aku dan Olivia kebingungan, kami hanya menurut dan keluar dari sana. “Memangnya ada pada sampai kita harus keluar?”. Tapi Olivia tak menjawab, ia tak mengatakan apa-apa. Aku baru menyadarinya, tapi sejak Kopral William berbisik pada medis itu Olivia terlihat pucat.
Olivia benar-benar diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sekitar 30-40 menit medis itu keluar dan mengizinkan kami masuk. Sebelum aku masuk medis itu menghentikanku, “Tunggu, sebelumnya aku ingin bertanya apakah kau yakin untuk masuk?”.
Aku menatap medis itu dengan keheranan, “Ini adalah permintaan dari Kopral William, dia memintaku untuk memberikannya eutanasia, jadi kalau kau tak siap untuk melihat mayat sebaiknya kau tidak perlu masuk.” Aku menggelengkan kepala lalu masuk ke dalam, medis itu mengikuti dari belakang.
Dengan tubuh masih ter borgol Kopral William meregang nyawa, aku tidak tahu kata yang tepat untuk mengatakannya. Ia sadar kalau dibiarkan begitu saja rasa sakit itu akan bertambah parah, dan juga ada kemungkinan ia melukai orang lain.
“Orang baik mati untuk kebaikan,” begitulah caraku menggambarkan situasi saat ini.
Beberapa tentara datang setelah di panggil oleh Olivia melalui radio khusus. Mereka memasukkan tubuh Kopral William ke kantong mayat lalu membawanya pergi.
“Dibawa ke mana jenazah Kopral itu?” tanyaku.
“untuk sekarang akan diletakkan di salah satu kendaraan pengangkut personil yang ada,” jawab Olivia.
“Kendaraan pengangkut personil?”.
“Ya aku rasa mudahnya seperti kendaraan tempur, tapi lebih di tunjukkan untuk mengangkut personil.”
“Maksudmu kendaraan berlapis baja yang terkadang di tampilkan dalam parade militer?.”
Olivia menunjuk padaku dan berbicara dengan nada senang, “Ya itu dia!”.
__ADS_1
Suaranya seperti saat seorang guru yang melihat muridnya bisa menjawab soal yang diberikan dengan tepat.
Kami bermaksud untuk keluar tapi medis itu menahan kami. Dia mengambil sebuah catatan, lalu memberikannya padaku. Medis itu mengatakan bahwa catatan itu adalah permintaan dari Kopral William, catatan itu di tunjukkan kepadaku.
Hah, Apa maksudnya?. Apa dia meminta ganti rugi padaku?.
Medis yang memberikan catatan ini mendekat padaku. “Aku membantunya menuliskan ini, aku ingin kau membacanya.”
Aku membuka catatan itu, beginilah isi dari catatan itu.
“Aku ingin mengatakan ini padamu, aku selalu membuat kesalahan di hidupku. Aku juga gagal menyelamatkan orang-orang yang kusayangi, tapi setidaknya pada akhirnya aku berhasil membuatmu tetap bernafas. Satu hal, aku tahu ini egois tapi aku memiliki satu permintaan untukmu. Aku membuat buku harian dan sebuah surat untuk keluargaku, aku ingin agar kau memberikan kedua benda itu kepada anakku dan bilang padanya untuk mengatakan pada istri, dan ibuku, aku mungkin tidak berhasil menebus seluruh dosaku dan aku benar-benar minta maaf meninggalkan mereka. Anakku adalah salah satu murid di tempatmu bersekolah, tolong lakukan seperti yang tertulis di catatanku, sisanya serahkan saja pada anakku.”
Olivia mendekat dan bertanya, “Apa isi catatannya?”.
“Dia bilang kalau ia membuat buku harian dan surat kepada keluarganya, dia ingin aku mengantarkan itu kepada mereka dan menyampaikan permohonan maafnya.” Aku menyerahkan catatan itu pada Olivia.
“Aku tak menyangka dia akan memintamu melakukan hal itu, aku akan mengecek tas miliknya, aku segera kembali” Olivia segera pergi keluar.
Tak lama setelah Olivia pergi medis itu tiba-tiba bertanya “Aku tak menyangka kau bisa setenang itu setelah melihat jenazah.”
“Benarkah?” aku menjawab dengan pertanyaan.
“Ya begitulah, jika bersangkutan dengan hal seperti itu di dunia ini ada 2 macam jenis manusia.” Mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Dia membuka botol cola lalu meminumnya, “Yang pertama adalah orang yang akan langsung panik, dan yang kedua orang yang masih bisa tenang. Entah apa alasannya, contoh yang paling sering di jumpai adalah karena mereka terbiasa atau memang menyukai hal-hal ini”.
“Aku pertama kali mendengar hal itu,” ucapku.
“Kau adalah salah satu yang ada di golongan kedua, jadi apa alasanmu masih bisa tenang?”.
“Aku bukannya terbiasa ataupun menyukainya, hanya saja aku berpikir kalau itu hannyalah tubuh yang sudah tak bekerja, hanya tumpukan daging, kulit, dan tulang.”
Medis itu melihatku dengan tatapan aneh, seakan-akan tak menyangka akan jawaban itu.
“Bukannya aku melupakan apa yang mereka lakukan, hanya saja tubuh yang terbaring tak bernyawa hannyalah seperti mesin yang sudah rusak dan tak berguna.”
“Tubuh manusia bukan mesin, mesin masih punya kemungkinan bisa diperbaiki tapi tubuh manusia tak seperti itu. Yah bagaimanapun ternyata kau cukup unik.”
“Unik?” tanyaku kebingungan.
“Yah begitulah, perkenalan aku adalah Profesor Schaffer Hopper, aku biasanya tidak bekerja di lapangan.” dia mengulurkan tangannya.
“Aku Lucy” aku bersalaman dengannya, “Aku pikir kau adalah seorang medis,” lanjutku.
“Aku hanya membantu mereka, aku penasaran bagaimanakah kondisi di lapangan jadi aku sengaja ikut, tapi aku tak mengira akan separah ini.”
Di tengah pembicaraan kami Oliva masuk sambil membawa sebuah tas. Di sana tertulis nama Kopral William, di dalamnya terdapat surat dan buku harian dengan sampul bertuliskan Diary.
Profesor yang sebelumnya kupanggil dengan sebutan medis berjalan keluar.
Tapi sebelum keluar dia berhenti. “Kau mendapatkan teman yang langka Letnan” ucapnya lalu pergi begitu saja.
Olivia menatapku, aku hanya mengangkat bahuku.
__ADS_1