[I]Logical (Dalam Masa Rework)

[I]Logical (Dalam Masa Rework)
Lagu terakhir.2


__ADS_3

Kami berlari ke ruangan yang digunakan untuk menahan Caroline, di sana ada beberapa petugas yang tak sadarkan diri. Di pintu itu kunci ruangan masih tergantung.


"Bukankah seharusnya di sini ada tiga orang penjaga?" Klara melihat sekitar.


Seorang petugas mendekat, "Profesor, kami sudah menemukan petugas ketiga, ia tak sadarkan diri di dekat gerbang diri di dalam mobilnya."


Alice menggigit ibu jarinya, kemungkinan itu adalah caranya menyalurkan stres.


"Bawa orang sebanyak yang kau bisa, kita akan segera mencarinya di kota, kami akan pergi lebih dulu." Klara memerintahkan kepada orang itu. "Ayo!" ucapnya.


Kami mengikuti Klara, Klara mengeluarkan kunci mobil. Itu adalah mobil yang waktu itu di gunakan waktu aku menelponnya.


Kami segera memasuki mobil, Klara menyalakan mobilnya. Aku dan Alice sudah masuk, Alice duduk di sebelah kursi sopir jadi aku duduk di belakang, tapi Klara belum juga jalan. "Klara apa yang kau lakukan, kita harus berangkat secepat!" ucap Alice dengan panik.


"Nona jangan lupakan sabuk pengaman, keselamatan nomor satu," ucap Klara.


Setelah kami memakai sabuk pengaman Klara menjalankan mobilnya, kami keluar dari gerbang markas organisasi ini. Tempat ini benar-benar luas.


Kami keluar dari tempat itu, kami bergerak dalam kecepatan yang normal. Setelah kurang lebih seratus meter dari gerbang Klara menambah kecepatan, bukan hanya sekedar lebih cepat, tapi benar-benar cepat seperti sedang mengebut.


"Jadi ini alasanmu meminta agar menggunakan sabuk pengaman," ucap Alice sambil berpegangan dengan erat.


Di bangku Sopir Klara tertawa, ia menikmati sensasi ini. Sekarang aku jadi penasaran dengan seperti apakah sikap Klara yang sebenarnya saat tidak ada orang lain sama sekali.


Hanya dalam waktu kisaran 10-13 menit kami sampai di depan gerbang kota. Di pinggir jalan ada sebuah mobil yang terparkir tanpa pengemudi di pinggir jalan, Klara menghentikan mobilnya.


Kami turun untuk melihat-lihat. Ya sebenarnya bukan kami tapi hanya aku dan Klara, Alice ada di pinggir jalan sedang memuntahkan yang ada di lambungnya.


"Hoee..."


Yah aku tahu, sebenarnya aku pun agak mual. Mengesampingkan hal itu kami mengecek mobil ini. Kuncinya masih terpasang.


Ade sopirnya sudah di bawa ke rumah sakit?" tanyaku.


"Kemungkinannya begitu," jawab Klara. "Nona Alice kau tahu siapa nama orang ini?"


Alice menggeleng lalu muntah lagi, "Kurasa lebih baik kita serahkan petugas yang tadi, aku yakin ia pasti tahu informasinya, lebih baik sekarang kita fokus mencari Caroline," ucapku.


Klara mengangguk, "Kalau begitu ayo kita coba cari di apartemennya dulu." Setelah mengatakan itu Klara segera masuk ke mobil, Alice mengikuti meskipun dia sepertinya enggan.


Kami semua akhirnya ada di dalam mobil, "Klara, tolong lebih pelan," ucap Alice lalu memasang sabuk pengamannya.


"Oke."


Kali ini Alice duduk di kursi belakang bersamaku, sebelumnya ia duduk di kursi depan.


Mesin menyala, dan mobil berjalan pelan. Mobil berjalan pelan untuk awalnya, kami memasuki daerah kota dan mobil melaju dengan cepat, meski tak secepat sebelumnya tapi ini tetap saja cepat. Tapi itu bukan yang paling parah, Alice berpegangan padaku, tidak lebih tepatnya ia melilitkan tangannya di leherku untuk berpegangan hal membuatku tercekik.


Kami sampai di tempat tujuan, kami ada di depan apartemen. Aku keluar dari mobil, leherku terasa sakit, sementara itu Alice...

__ADS_1


"Hoeee..."


kurasa aku tak perlu menjelaskan lebih lanjut.


Kami segera menuju ke kamarnya Caroline, sebelumnya kami sudah minta untuk di hubungkan dengan pemilik apartemen tapi dia sedang pergi keluar. Dan penjaga keamanan yang waktu itu juga belum kembali setelah mengantarkan seseorang.


Resepsionis bilang akan menghubungi kami saat pemilik apartemen tiba, tapi kami menolak dan memutuskan untuk pergi ke kamar Caroline.


"Pintunya sepertinya di kunci," ucapku.


Klara menundukkan kepalanya, ia coba mengintip dari celah bagian bawah pintu.


"Ada seseorang di dalam," ucap Klara, "Ia sepertinya dalam keadaan tak sadarkan diri, itu adalah penjaga keamanan kemarin." Dark suaranya Klara sepertinya agak tak yakin dengan apa ia lihat.


"Orang itu terkapar bersimbah.. darah?"


"Kau bercanda," ucap Alice.


"Kita harus segera masuk, tapi bagaimana?" tanya Klara.


Seorang laki-laki lewat, ia membawa beberapa buah dokumen yang di apit oleh penjepit kertas. Aku menghentikannya untuk meminjam penjepit kertas miliknya,


orang itu bertanya untuk apa.


"Ini keadaan darurat, jika terjadi hal yang tak di inginkan kau tidak akan terlibat."


Orang itu ragu, tapi akhirnya ia mau, "Ini, tapi aku tidak akan terlibat apa pun juka ini menjadi sebuah masalah."


Aku memasukkan penjepit kertas itu ke lubang kunci, aku mengaturnya sedemikian rupa. Membuat bengkokkan agar pas dengan lubang kunci.


"Ini bukan film, aku tak yakin kau bisa melakukannya Lucy," ucap Alice.


"Klek," suara kunci pintu terbuka.


Alice nampak tak percaya, "Hah, bagaimana kau bisa..."


"Kesampingkan dulu tentang itu, cepat buka pintunya," ucap Klara.


Aku membuka pintu ini, aku membukanya perlahan. Aku masuk bersama dengan Klara. Klara sudah melihatnya sekilas, tapi aku tetap tidak percaya, seorang pria terbaring tak bernyawa dengan bersimbah darah. Di tangan kanannya ia memegang sebuah pisau, orang itu menusuk dirinya sendiri, itu masih tertancap di sana.


Tidak kami sudah tahu siapa pelakunya. Kalau begitu orang yang masuk adalah Caroline. Hal itu makin di kuatkan dengan gitar dan kertas yang berisi lagu setengah jadi itu hilang.


Alice dan orang tadi ikut masuk, orang itu nampak terkejut. "Aku akan menelepon polisi," ia dengan tergesa-gesa mengeluarkan ponsel dan menelpon. Ia melihat mayat orang ini, sepertinya ia tidak tahan lalu keluar dari ruangan. Dari dalam aku bisa mendengar orang itu.


".........di sini ada mayat, di tubuhnya tertancap pisau, sepertinya ia bunuh diri..... Alamatnya ada di ......"


Di samping mayat itu ada sebuah handphone, aku segera mengambil handphone itu, aku membuka kuncinya dengan sidik jari orang ini. Saat aku membukanya aku ada di salah satu obrolan, aku mengingat kontak yang berbalas pesan. Aku mengenyampingkan hal itu untuk saat ini. Aku segera mengubah pengaturan sandinya, setelah itu aku menyembunyikan di kantongku.


Polisi akan tiba tak begitu lama lagi, aku segera membisiki Klara.

__ADS_1


"Hey Klara kita harus segera pergi, jika kita terlalu lama di sini mungkin kita akan benar-benar kehilangan Caroline."


"Memangnya tidak apa-apa, kita bisa saja di curigai, apalagi kau juga masih menggunakan seragam mereka akan melacakmu ke sekolah," ucap Klara berbisik.


"Bukankah kedudukan militer di pulau ini lebih tinggi dari polisi, kalau terjadi sesuatu kita bisa minta bantuan pada Olivia atau Mayor Sam."


Klara memikirkannya sebentar lalu mengangguk, "Lihat lift itu, itu sedang menuju ke sini, ketika itu terbuka kita akan segera pergi," ucap Klara.


Aku sebenarnya agak merasa tidak enak, padahal aku sudah bilang kalau orang ini tidak akan terlibat. Tapi itu keputusannya sendiri untuk memanggil polisi, dan kami saat ini sedang buru-buru.


Teng.


Lift itu sampai dan seorang wanita keluar.


Klara memberikan aba-aba, aku segera berlari. Klara menarik Alice, kami segera masuk ke dalam lift. Klara memencet tombol lift ke lantai terbawah. Orang tadi berusaha menghentikan, tapi ia gagal karena pintu liftnya sudah tertutup sepenuhnya.


Kami sampai di lantai bawah, kami berjalan ke pintu. Dua orang polisi berlari tergesa-gesa masuk, untungnya kami tak menarik perhatian mereka. Padahal kalau di pikir-pikir kami mengenakan pakaian yang cukup mencolok.


Lupakan saja, terkadang kau memang akan mendapatkan keberuntungan yang tidak terduga. Kurasa kedua orang itu masih pemula.


Kami masuk lagi ke mobil.


"Tempat parkir ini cukup menghemat waktu, kita tak perlu lagi berputar ke tempat parkir bawah tanah."


"Hey kalian berdua, apa maksudnya tiba-tiba berlari seperti itu, dan kau menarik kerah bajuku," ucap Alice. Aku lupa kami tidak memberitahunya, masalahnya kalau aku ingin membisiki Alice aku harus menunduk itu akan menimbulkan kecurangan dari orang sebelumnya.


"Tidak ada yang penting nona, hanya saja kita harus mencari Caroline," Klara menyalakan mobilnya. "Jadi mau kemana kita?"


Aku membuka ponsel yang tadi, aku sudah merubah pengaturan keamanannya. Aku membuka aplikasi obrolan milik orang ini, aku membuka kontak yang baru-baru ini berbalas pesan.


Saat ponsel ini aktif obrolan inilah yang langsung ditampilkan.


Aku membuka pesan itu, di dalamnya ada sesuatu yang tak boleh di lewatkan.


......"Hey Tom kau di mana, ini soal Caroline ada yang ingin aku beritahu." ......


..."Aku saat ini sedang di persembunyian, aku akan mengirimkan lokasiku."...


Di sana ada tanda lokasi yang sedang di bagikan, aku memperlihatkannya ke Klara.


Klara melihatnya, ia menyambungkan lokasi itu dengan map online yang ada di fitur mobil ini.


Alice segera mengencangkan sabuk pengaman dan berpegangan padaku.


Kematian pria tadi sudah bisa dipastikan adalah ulah dari Caroline, jadi kami menyimpulkan.


Caroline yang menggunakan telepon pintar itu, kami menganggapnya begitu karena ini adalah kamarnya Caroline, sangat aneh ada orang yang menghabisi nyawanya di tempat orang lain.


Klara segera tancap gas, mobil ini bergerak dengan cepat.

__ADS_1


Kami menuju lokasi yang ada, karena jika Caroline pergi ke sana ini sebuah kesempatan untuk meringkusnya.


__ADS_2