![[I]Logical (Dalam Masa Rework)](https://asset.asean.biz.id/-i-logical--dalam-masa-rework-.webp)
Aku benar-benar ada dalam keadaan yang sangat terdesak, manusia serigala itu terus maju secara perlahan.
Aku berdiri, kedua kakiku sudah tak bertenaga. Setelah berjalan, melompat dan berlari tanpa henti kakiku sudah hampir tak sanggup menahan tubuhku.
Meski tubuhku sempoyongan, aku tetap mencoba bergerak mundur. Sampai akhirnya tubuhku sudah tidak sanggup menjaga keseimbangannya, aku terjatuh dan tersandar ke tiang yang di atasnya terdapat sebuah alat untuk melakukan eksekusi.
Aku menengok ke atas, selain Breaking Whell, di atas itu juga ada sebuah figuran serigala.
Walaupun tidak tepat seratus persen, tapi bisa di pastikan kalau imajinasi yang menjadi dasar keberadaan serigala ini adalah cerita Peter Stump.
Manusia itu terus bergerak mendekat, aku mengalihkan pandanganku ke arah para tentara yang berjarak sekitar seratus meter dari tempatku.
Mereka sepertinya ketakutan melihat manusia serigala itu. Wajar saja, setelah seluruh serangan mereka lakukan tidak berdampak, mereka sudah kehabisan harapan.
"Tutup matamu dan telingamu!" ucap seseorang yang berlari ke arahku melewati tentara yang lain.
Aku segera menutup mataku, dan telingaku, meskipun aku menutup telingaku tetap saja rasanya aku merasakan tekanan hebat.
Ini adalah granat kejut yang sama dengan saat kami mencoba lari dari manusia serigala itu untuk pertama kalinya.
Orang yang melemparkan granat kejut itu ada di sebelahku, aku membuka mataku. Seperti yang kuduga, siapa lagi kalau itu bukan Olivia.
"Aku sudah kehabisan peluru, kalaupun kabur sepertinya kita akan terkejar dengan mudah," ucapnya.
Pisau yang diberikan Olivia juga sudah terlepas dari tanganku, kemungkinan terlempar saat aku terjatuh sebelumnya.
Manusia serigala itu melihat tajam ke Olivia, dia mengambil kayu yang ada di rumah rusak tepat di dekatnya, kayu itu cukup besar kemungkinan bekas tiang rumah.
Tapi manusia serigala itu tetap berdiam di tempat.
Apakah karena dia tidak bisa mendekat, mungkinkah dia tidak ingin ke sini karena dasar fantasi celah ini. Mungkin pada fantasi itu tempat ini adalah tempat eksekusinya, karena ia tak bisa mendekat jadi ia mengambil kayu itu untuk memukul.
Tapi rasanya ada yang aneh, jika memang begitu manusia serigala itu pasti menggunakannya sejak awal, lagipula kayu yang saat ini ia pegang tak sampai untuk menyerang ke sini.
Aku menatap Olivia, "Olivia coba letakan senjatamu."
"Hah?. Meskipun kecil aku yakin kita masih punya kesempatan." Olivia menjawab, tapi aku tetap memaksakannya, lagi pula aku tidak bilang kami menyerah. "Lakukan saja Olivia."
Dengan penuh kebingungan Olivia meletakan senjata miliknya, "Pistolmu juga."
Olivia menurunkan pistolnya seperti yang kukatakan. "Lucy, aku memang bilang aku kehabisan peluru, tapi setidaknya itu bisa untuk melakukan intimidasi."
Aku tak menanggapi apa yang di katakan Olivia, "Berdirilah dengan tegap seperti menantang makhluk itu."
"Hey kau bercanda kan?"
Meski dengan ragu Olivia melakukannya.
Manusia serigala itu menurunkan kayu yang di pegangnya, ia berdiri dengan tegap dan maju meskipun hanya sedikit.
Seperti yang kuduga, manusia serigala itu tidak bisa mendekat ke sini. Atau lebih tepatnya tidak berani.
Pada akhirnya kami dan manusia serigala itu hanya saling memandang, tidak ada yang mau mendekat. Sementara itu tentara lain masih ketakutan, mereka benar-benar sudah kehilangan kendali atas diri mereka. Di antara para tentara aku bisa melihat Professor Hopper mencoba membantu mereka.
Kami masih berhadapan dengan manusia serigala, tak ada yang melakukan gerakan apa pun. Manusia serigala itu mengalihkan pandangannya ke tentara, ia melihat kami sejenak.
"Olivia ini gawat, monster yang ada di depan kita ini akan menyerang mereka."
"Aku tahu maksudmu, tapi kita juga tidak bisa melakukan apa-apa."
"Lehernya, di bagian tengah lehernya coba tebas dengan pedang yang ada di sampingku."
"Peluru saja tidak mempan, bagaimana pisau yang di tinggalkan bisa memotongnya?"
"Apa kau punya ide yang lebih baik."
Di sela-sela percakapan terdengar gemuruh mesin yang keras, manusia serigala itu juga menengok ke arah suara itu. Aku melihat ada rombongan mobil besar dengan senjata di atasnya, mereka melaju dengan kecepatan yang sama. Manusia serigala itu merasa kalau mereka adalah ancaman, ia segera menghadap ke mobil-mobil itu.
Kendaraan tempur itu masuk melewati gerbang depan sepertiku, mereka masuk dengan satu barisan.
__ADS_1
"Lucy tiarap!"
Aku melakukanya seperti yang ia lakukan, kami tiarap dengan melindungi kepala. Meskipun tiarap aku tetap memperhatikan ke depan, kendaraan tempur paling depan mulai menembak. Kendaraan itu memberikan celah, dari sana kendaraan yang ukurannya sama segera menyusul dan berada di pinggirnya.
Tembakan itu dihentikan, lalu kedua kendaraan tempur itu menambah kecepatan. Manusia serigala itu mengaum ke arah kedua kendaraan tempur itu, manusia serigala itu mengambil ancang-ancang.
Kedua kendaraan tempur itu menabrak manusia serigala itu, sedangkan manusia serigala itu menahan keduanya dengan masing-masing tangannya. Dia berhasil menahannya meski pada awalnya si manusia serigala terdorong dari tempat awalnya.
"Sekuat apakah manusia serigala ini."
"Mungkin satu dorongan kejutan bisa membuatnya terdorong dan terjatuh."
Olivia mengambil radio komunikasinya, aku tak benar-benar bisa mendengar apa yang ia katakan.
Tapi aku yakin ia bilang untuk menambah kendaraan tempur. Sebuah pertanyaan muncul di kepalaku, "Bagaimana kendaraan lainnya menabrak?."
Olivia tak menjawabku, ia hanya diam. Kendaraan lainnya melaju, kendaraan itu menambah kecepatannya.
"Debruuk."
Sebuah suara benturan keras, benturan antara besi. Kendaraan tempur itu menabrak kendaraan lain yang ada di depannya, sebuah benturan yang cukup keras.
Karena kejutan dorongan itu manusia serigala itu kehilangan keseimbangannya, ia jatuh di depan kami. Manusia serigala itu berbalik menghadap kami, ia mencoba berdiri, tapi badannya seakan menolak. Ia seperti di paksa untuk tunduk, badannya tidak mau berdiri.
Tiba-tiba aku dan Olivia di kelilingi cahaya putih yang tinggi, cahaya itu mengelilingi sekitaran persimpangan ini. Dengan cahaya putih terang mengelilingi sekitar, hanya ada aku, Olivia dan Peter Stump versi celah ini.
Manusia serigala itu tak bisa bergerak, dari suaranya ia nampaknya benar-benar melawan. Manusia serigala itu tertahan sesuatu yang membuatnya terpaksa tunduk diam, wujud manusianya perlahan kembali. Dimulai dari bulunya perlahan menghilang, tubuhnya juga mengecil, dan perlahan wujud manusia normal terlihat.
Aku memfokuskan ke tubuhnya, tetap saja tidak ada garis-garis aneh itu selain di lehernya. Aku mencobanya ke Olivia, di seluruh tubuhnya terdapat garis-garis merah, jingga, dan kuning dengan beragam kecerahan.
Aku kembali memikirkan hal ini, jika memang benar maka berarti tempat ini adalah tempat eksekusinya.
Aku mengambil pedang yang tergeletak tak jauh dariku, aku memaksakan diriku berdiri, tapi itu benar-benar sulit.
"Lucy apa yang ingin kau lakukan dengan pedang itu?"
"Ini kesempatan kita, di bagian tengah lehernya, jika kau menyerangnya di sana seharunya itu adalah kelemahannya."
Olivia mengambilnya, ia mengarahkan pedang itu kepada manusia serigala yang sedang ada dalam wujud manusianya. Ia ragu-ragu untuk menyerang, aku tahu kalau ia bilang menjadi tentara harus siap untuk menemui hal mengerikan. Tapi tetap saja ia adalah manusia, pastinya tidak mudah untuk menyerang orang lain, apalagi jika orang itu dalam keadaan parah.
"Olivia lakukan!. Ia hanya salah satu hasil dari imajinsi, dia bukan manusia sungguhan."
"Tapi aku, tidak pernah mengakhiri nyawa seseorang dengan cara ini, lagian dia sudah tidak sanggup bertarung lagi."
Aku mencoba meyakinkan Olivia.
"Aaaaakkk...!"
Tiba-tiba manusia serigala itu bangkit, dia segera memukul Olivia. Olivia yang belum siap tak sempat menahan pukulan itu, setelah memukul Olivia manusia serigala itu segera mencekik leher Olivia.
Olivia menjatuhkan pedang yang ia pegang, Olivia menahan kedua tangan manusia serigala itu. Meskipun dalam wujud manusia tapi dia tetap kuat, Oliva mencoba melepaskan diri. Di sisi lain cahay putih terlihat beberapa tentara mencoba memaksa masuk, tapi mereka tak bisa menembus cahaya putih, seolah-olah cahaya itu memang digunakan sebagai penghalang.
Olivia mulai kelelahan, cekikan manusia serigala itu pasti sangat kuat.
Aku merangkak untuk mengambil pedang yang di jatuhkan Oliva, perlahan aku sampai di pedang itu.
Aku berhasil memegang pedang itu, tapi aku masih kesulitan untuk berdiri. Aku menggunakan pedang itu sebagai tumpuan, aku berusaha berdiri.
Manusia serigala itu mengalihkan pandangannya padaku, lalu kembali fokus untuk mengalahkan Olivia. Aku sudah di selamatkan Olivia berkali-kali, kali ini adalah giliranku untuk membalas kebaikannya.
Tubuh manusia serigala itu mulai di tumbuhi bulu, tubuhnya semakin besar.
Akhirnya aku bisa berdiri dengan kedua kakiku, aku mengangkat pedang yang kupegang.
Ini satu-satunya kesempatanku.
Jika aku gagal mengenai garis merah terang yang ada di lehernya, maka tidak ada harapan lagi.
Pedang ini lebih berat dari kelihatanya, dengan kondisiku saat ini ini terasa lebih berat.
__ADS_1
Meskipun kesulitan aku bisa mengangkat pedangku, mataku terfokus ke leher manusia serigala itu.
Satu serangan tepat di tengah leher itu.
Aku mengambil kesempatan selama manusia serigala itu fokus pada Olivia.
Aku mengambil nafas dalam, setelah siap aku segera mengayunkan pedang ini. Aku menebaskan pedang ini secara horizontal, tepat sebelum seranganku mengenainya manusia serigala itu melihatku.
Tebasan itu berhasil mengenai garis yang ada di lehernya, pedang ini dengan mudah menembusnya.
Manusia serigala itu melepaskan Olivia, kemudian ia berteriak dengan sangat kuat, seperti merasakan rasa sakit yang sangat hebat. Tubuhnya berubah jadi wujud manusia serigalanya.
"Apakah aku melakukan kesalahan?"
Aku sangat gugup, tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Manusia serigala itu masih berteriak kesakitan, lalu perlahan di tubuhnya muncul retakan, retakan itu menjalar ke seluruh tubuh. Dari retakan itu keluar cahaya biru yang terang, dan dalam sekejap tubuh manusia serigala itu berubah jadi debu.
Cahaya penghalang di sekitar menghilang. Aku menengok ke atas, debu dari serigala itu berputar-putar di atas. Perlahan turun dan berkumpul.
Debu-debu itu berkumpul dan seolah-olah membentuk sebuah gerbang berwarna putih agak ke abu-abuan. Gerbang itu seukuran manusia.
Seorang tentara segera turun dari kendaraan tempur yang ada di belakang, ia segera mengeluarkan sebuah alat, kemungkinan itu untuk mengecek gerbang yang ada di depan.
"Kofh, kofh."
Perhatianku segera tertuju pada Olivia yang batuk-batuk.
"Olivia kau tidak apa-apa."
Dia menatapku dengan senyum di wajahnya, "Kau menyelamatkan kami." ucapnya
Dari kendaraan tempur itu Mayor Sam mendekat, personil yang mengecek gerbang yang diciptakan oleh debu itu mendekatinya.
"Lapor, portal telah dihubungkan dengan markas utama."
"Laporan diterima, kembalilah ke pos mu, beritahukan yang lain kita akan melakukan persiapan pulang."
Mayor Sam mendekat kepadaku, "Lucy, terimakasih berkatmu aku masih bisa menyelamatkan orang-orangku meski aku kehilangan beberapa."
Aku mengangguk, sejujurnya aku sendiri tidak paham dengan situasinya.
"Olivia bagaimana kondisimu?" tanya Mayor Sam pada Olivia.
"Aku baik-baik saja,pak" jawab Olivia.
"Siapkan regumu, kita akan segera pulang."
Mayor Sam pun berbalik dan melakukan tugasnya, dia mengecek prajurit yang ada di pasukannya.
"Hey Lucy, apa yang terjadi padamu?. Kau baik-baik saja?" ucap Olivia dengan panik sambil menunjuk tubuhku.
Aku kebingungan, aku mencoba melihat kedua tanganku.
"Tubuhku jadi tembus pandang?"
"Lucy, katakan sesuatu!"
Pandanganku mulai kabur, aku rasa aku tak bisa lebih dari ini.
"Lucy, tolong sampaikan pesan ini pada keluarga Kopral William."
Aku menyerahkan catatan Kopral William yang selama ini ku kantongi. Olivia mengambilnya, aku tersenyum ke arahnya.
Seperti televisi yang dimatikan, semuanya tiba-tiba menjadi gelap. Aku tak bisa merasakan apa-apa.
"Sekarang aku ingat kenapa aku bisa masuk ke tempat ini."
Aku ingat sekali, beberapa hari sebelumnya aku melakukan searching mengenai manusia serigala di internet. Lalu suara dari orang yang paling kubenci, suara dari wanita yang ada saat aku terpengaruh oleh tanaman yang ada di dekat pohon hidup.
Wanita sialan itu, setelah mendengar apa yang di katakannya tiba-tiba saja aku ada di tempat itu. Saat aku sadar aku langsung saja di kejar oleh manusia serigala sebelumnya, aku berhasil kabur tapi kehabisan tenaga. Lalu setelah beberapa hal terjadi aku bertemu pasukan Olivia.
__ADS_1
Itu dia, semua ini karena wanita itu.
Ini semua karena perempuan bernama, Kelly Lucinda.