[I]Logical (Dalam Masa Rework)

[I]Logical (Dalam Masa Rework)
Lab


__ADS_3

Aku coba membuka mataku perlahan, aku ada di ruangan dengan atap putih. Aku melihat sekeliling, aku tak tahu aku ada di mana.


Aku merasakan sesuatu di tanganku, itu adalah infus. Di sebelah kiriku terdapat tiang untuk infus ini. Jadi aku ada di rumah sakit, tapi bagaimana aku bisa ada si sini.


Terdengar bunyi langkah kaki, seseorang membuka pintu. Dari seragamnya dipastikan kalau dia adalah perawat.


"Kau sudah sadar, aku akan segera panggilkan doktor." ucap perawat itu, lalu ia pergi.


Tak berselang lama dia kembali membawa seorang dokter, ia melakukan pemeriksaan.


"Apa kau merasa ada bagian yang sakit?"


"Tidak," jawabku.


"Tekanan darah normal, tidak ada kerusakan pada organ...." Aku tak begitu mendengarkan apa yang dokter itu katakan, "Kau bisa segera keluar, pastikan istirahat yang cukup." Lalu ia keluar.


Perawat itu mendekat, ia memberikan sebuah surat. Aku mengambil surat itu, "Apa ini tagihan perawatan?".


"Tidak, biaya perawatanmu telah dibayarkan manajemen sekolah, dan mereka memintaku memberikan ini kalau kau sudah sadar."


Setelah mengatakan itu perawat itu keluar.


Aku membaca surat yang diberikan oleh perawat itu, surat itu memiliki kop surat, dan tertulis dengan formal.


Aku membaca surat itu, dan inti dari suratnya adalah.


...*Atas tindakan untuk tidak menghadiri kelas, dan di temukan dengan tubuh terluka. Untuk menghindari penyebaran rumor buruk, dan untuk kenyamanan siswa lain.


Kami dengan terpaksa mencabut beberapa hak beasiswa mu, kami tidak lagi menjamin tempat tinggal*...


Surat itu masih memilik lanjutan, tapi intinya mereka hanya ingin menjaga nama baik sekolah, meskipun aku tidak terbukti melakukan hal ilegal tapi pasti tetap akan menjadi pergunjingan.


Pacific Dream Institue, adalah institusi pendidikan swasta. Dan sering menjadi buah bibir. Meskipun tidak banyak orang tahu tapi sekolah ini memiliki cukup banyak orang yang ingin menjatuhkannya dengan berbagai alasan, saking jarangnya ada yang tahu mungkin hanya tiga sampai lima orang yang tahu tentang persaingan ini.


Yah memang tak bisa sepenuhnya disebut persaingan, lebih tepatnya menyebarkan popularitas, karena itu bahkan terkadang setiap sekolah saling menyebarkan berita buruk.


Saat ini ada beberapa sekolah swasta besar yang terbesar di seluruh dunia, salah satunya adalah sekolahku. Aku bisa masuk karena mendapatkan beasiswa, tapi aku melanggar aturan sekolah dan beberapa fasilitas beasiswaku di cabut, tapi sepertinya kali mereka benar-benar sudah tak bisa mentolerir dan mencabut fasilitas asramaku.


Sebenarnya aku tak peduli dengan nama baik sekolah, persaingan atau apa pun. Tapi nampaknya hal itu memberikan efek yang besar.


"Huh..., setidaknya mereka masih mengijinkan sekolah di sini, meski aku harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hariku," yang mana sudah tidak di jamin saat pertama kali aku melakukan pelanggaran, aku secara tak sengaja menghancurkan mobil seseorang saat sedang menggunakan motor, lalu berkelahi hingga orang itu masuk rumah sakit. Setelah itu aku melakukan beberapa pelanggan berat lainnya, tapi setidaknya aku tidak terjerat ke kasus berat.


"Oh ya, aku juga harus mencari cara untuk mendapatkan tempat tinggal."

__ADS_1


Manusia memerlukan kebutuhan, pangan, papan dan sandang. Tapi untuk saat ini aku hanya bisa memenuhi bagian sandang, di surat itu dikatakan barang-barang milikku di titipkan di resepsionis.


Mungkin aku bisa melaporkan hal ini, tapi aku tidak ingin terlibat lebih jauh. Aku juga memalsukan beberapa dokumen agar bisa di anggap penduduk resmi. Jika mereka akan memeriksaku dan aku akan ketahuan maka semuanya akan percuma.


Aku mengambil barang milikku. Barang milikku hanya sebuah tas punggung, yang isinya merupakan pakaian. Setelah mengambilnya aku segera mengganti baju. Aku keluar dari rumahku siang itu, sekitar pukul sepuluh lewat seperempat.


Aku menggunakan pakaian sederhana, aku mengenakan kaos hitam yang polos, dan mengenakan jeans sebagai bawahan.


Aku berjalan ke halte bis terdekat. Setelah berjalan sekitar 8 menit akhirnya aku sampai, aku membeli minuman dingin di mesin penjual otomatis.


Aku mengeluarkan dompetku, isinya tidak memuaskan. Aku memasukan uang ke mesin itu, aku mengambil minumannya, ketika aku kembali berdiri aku merasakan seseorang memegang bahuku.


"Clink"


"Kau tahu ini suara kokang senjata api kan?"


Aku mengangguk, aku bisa merasakan moncong senjata api itu di punggungku.


"Siapa kau?" Tanyaku.


"Itu tidak penting, jangan banyak bertanya ikuti saja aku." Dari suaranya dia adalah seorang laki-laki.


Aku tidak punya banyak pilihan, tapi jika aku mengikutinya apa yang akan terjadi. Tiba-tiba seorang wanita yang membawa anaknya datang mendekat.


"T-tidak apa-apa," jawab orang yang mengarahkan senjatanya padaku.


Senjata yang ia gunakan tidak akan bisa terlihat karena tertutupi tubuhku. Wanita itu makin curiga, ia melihat ke wajahku.


"Begini jadi sebenarnya...." Laki-laki ini masih mencoba meyakinkan wanita yang mendekat kesini.


Fokusnya teralihkan untuk meyakinkan ibu ini. Aku mengambil kesempatan, aku mencoba menghantam wajah orang itu dengan kepalaku.


Tubuhnya lebih tinggi dariku, aku hanya bisa mengenai lehernya. Meskipun tak sepenuhnya sesuai rencana setidaknya aku bisa mengambil kesempatan, aku menarik tangannya yang memegang senjata. Aku melepas magazen pistol yang dipegangnya, aku juga mengeluarkan peluru yang sudah masuk ke senjata.


Hah, tidak ada?.


Aku segera berlari, sebelum orang itu dalam keadaan bersiaga sepenuhnya.


Wanita sebelumnya berteriak melihat laki-laki itu memegang pistol, tanpa menghiraukan wanita yang histeris itu laki-laki itu segera berlari mengejarku.


Aku berlari , memasuki gang-gang kecil. Orang itu masih mengejarku, ia memiliki stamina yang besar.


Aku terus berlari ke arah manapun yang bisa kulalui. Aku berbelok ke kiri di gang sempit yang ada di antara gedung. Aku menjatuhkan papan yang kulewati, orang itu nampaknya terhalang oleh papan itu.

__ADS_1


Aku keluar dari gang itu, aku ada di kawasan gedung perkantoran. Lalu terdengar suara dari kanan.


"Hey itu dia, kejar!"


Dua orang pria dengan jas hitam mengejarku, aku segera berlari. Aku berlari, sampai di sebuah gedung tak terpakai.


Aku segera masuk dan menaiki tangga untuk ke lantai dua. Dari atas aku bisa melihat ketiga orang itu berhenti, aku terus bergerak menuju kelantai tiga. Saat aku mencoba naik aku bisa mendengar langkah kaki mendekat dengan cepat, aku berusaha naik secepatnya.


Saat aku ada di pertengahan tangga seseorang menangkap tanganku.


"Lucy, jangan pergi ke atas, itu berbahaya."


Suara ini tidak asing, "Olivia?"


Dia tersenyum, "Aku tahu kalau kau bingung, tapi ayo segera pergi dari tempat ini."


Olivia segera membawaku ke bawah, ketiga orang tadi menatap Olivia dengan hormat.


Olivia memperkenalkan ketiga orang itu, "Mereka adalah anggota pelatihan untuk anggota penelurusan," Olivia mengalihkan pandangannya kearahku. "Menjadikanmu sebagai target praktek memang tidak salah, tapi aku yakin kau menyadari beberapa kesalahan mereka," ucap Olivia.


Hah, jadi tadi itu pelatihan, pelatihan macam apa yang membiarkan anak buahnya menggunakan senjata dengan peluru tajam. Tapi kalau ini Olivia mungkin bisa di maklumi kalau metodenya sangat tidak biasa.


"Mengesampingkan kau membuatku berlari dengan perut kosong, dan di ancam dengan pistol sungguhan, aku rasa oprasi lapangan mereka masih kurang terkoordinasi, dan orang yang mengancam dengan senjata tadi tidak menyiapkan senjatanya dengan baik dan juga masih bisa teralihkan fokusnya. Tapi aku bukan ahli dalam perihal ini," ucapku.


"Aku tahu maksudmu metodeku terlalu ekstrim, tapi kau tidak perlu menegaskan hal itu juga."


"..."


"Tapi itu pengamatan yang cukup bagus," Olivia mendekati para anggota pelatihan, "Oke baiklah itu dulu hari ini, kalian bisa pergi." Orang-orang itu pun pergi.


"Oke, ayo ikuti aku."


Aku pun mengikuti Olivia, kami sampai di pinggir jalan. Sebuah mobil berwarna hitam menepi, jendela mobil itu turun.


"Ayo naiklah."


Olivia membuka pintu mobil itu, ia memberikanku masuk.


Aku segera duduk, aku ingat sesuatu. Mutasi yang terjadi padaku.


Aku benar-benar gugup, aku tak tahu apa yang akan mereka lakukan padaku. Apakah mereka akan menjadikannku sebagai percobaan, kenapa aku semudah itu mengikutiku mereka.


Sepertinya aku memang sudah sangat mempercayai Olivia.

__ADS_1


__ADS_2