[I]Logical (Dalam Masa Rework)

[I]Logical (Dalam Masa Rework)
Gedung Centurion.3


__ADS_3

Kami menaiki lift, kami sampai di lantai sembilan. Setelah keluar dari lift, melewati beberapa kamar akhirnya kami sampai di tujuan. Olivia coba mengetuk pintu itu, tidak ada jawaban. Ia coba mengintip melalui lubang kunci.


“Apa yang kalian lakukan.” Tanya seorang wanita yang umurnya kisaran tiga puluh tahunan.


“Kami pihak kepolisian, kami ada urusan dengan penghuni kamar ini,” jawab Mayor Sam.


“Kalian tak terlihat seperti itu,” ucap wanita itu.


Saat ini Olivia dan Mayor Sam memang menggunakan pakaian santai, lagi pula seragam mereka bukanlah polisi. Di tambah lagi kedatangan kami berempat, dan juga Klara menggunakan pakaian pelayan, tentu saja akan memunculkan keanehan.


Mayor Sam mengambil sesuatu di balik jaketnya.


Apa dia berencana mengancam dengan senjata?.


Ia memperlihatkan sesuatu kepada wanita itu, itu adalah lencana yang dimiliki kepolisian pulau ini. Entah bagaimana ia bisa mendapatkannya, yang jelas itu memang asli.


“Kalau begitu kalian pasti ingin menyelidiki kasus kekerasan yang di alaminya lagi ya, Caroline yang malang,” ucap wanita itu dengan nada sedih. “Tunggu sebentar, aku akan menghubungi penjaga keamanan, kalian pasti tidak bisa masuk, aku pemilik apartemen ini.” Ia pun menghubungi seseorang dengan telepon genggam miliknya.


“Begitu rupanya, jadi dia adalah pemilik tempat ini. Tapi apa maksudnya dengan Caroline?. Jangan-jangan yang dibicarakan oleh dua orang yang ada dj kantin sebelumnya.”


Tak lama kemudian seorang pria dengan seragam penjaga keamanan datang, “Buka pintu itu,” perintah wanita sebelumnya. Ia segera membuka pintu itu. “Baiklah, aku tidak tahu apa lagi yang ingin kalian selidiki, tapi tolong jangan sampai membuat keributan yang bisa menggangu orang lain.” Lalu mereka pergi.


Olivia dan Mayor Sam segera masuk, aku hanya berdiam di luar.


“Kau tidak ikut?” tanya Klara.


“Tidak,” Jawabku.


“Katakan padaku, sebenarnya kau punya sesuatu yang berhubungan dengan ini tapi tak kau ceritakan.”


“Hah, apa maksudnya?” tanyaku keheranan.


“Kau pasti sudah paham, aku tak perlu menjelaskannya lebih lanjut.”


“Sepertinya aku memang bukan orang yang pandai dalam menyembunyikan sesuatu, sejujurnya memang ada sesuatu yang menggangguku. Aku merasa kalau sebenarnya makhluk yang ada di gedung kosong itu adalah dia yang menjadi makhluk itu.”


Klara melihatku dengan tatapan kebingungan, aku memang kurang pandai dalam mendeskripsikan sesuatu.


“Begini, sebenarnya dia bukannya mengendalikan makhluk itu, tapi dengan imajinasinya dia membayangkan akan adanya makhluk itu di atas gedung itu. Dan ternyata ia bisa berpindah ke makhluk itu, ia bisa melihat sekitarnya seperti sedia kala, karena itu dia tahu saat aku mengarahkan pistol ke tubuh aslinya.” Jelasku, semoga saja dia paham.


“Oke, aku terima penjelasan itu, meskipun tidak benar-benar kupahami.”


Tentu saja dia tak akan bisa memahaminya, aku tak menceritakan kemampuan aneh yang kudapat. Tapi mau bagaimana lagi, aku tak mempercayai mereka sepenuhnya. Dan itulah yang membuat semuanya jadi lebih rumit.


Seorang wanita mendekat, “Wah..., kau pelayan yang ada di rumah besar itu, Klara kalau tidak salah.” ucapnya menyapa Klara. Klara membalasnya, “Senang bertemu lagi dengan anda.”.


“Terimakasih sudah menolongku, aku tak tahu kalau yang menemukanku saat aku pingsan adalah orang lain.” Cara bicaranya ia mengucapkan terimakasih dengan tulus.


“Tidak, yang menemukanmu bukan aku tapi dia.” Klara menunjukku.


“Oh benarkah,” ia menghadap ke arahku, “Maaf aku tidak bermaksud, tapi aku tak mengira kaulah yang menolongku,” ucapnya. “Oh ya, apa kau tahu kenapa aku tiba-tiba pingsan?.” Tanpa basa-basi orang itu bertanya dengan nada penasaran. Aku tak tahu harus menjawabnya bagaimana, mereka pasti sengaja tak memberitahukannya kepada orang ini.


“Aku sendiri juga tak tahu, aku hanya menemukanmu pingsan di gang kecil di dekat tempat bunuh diri yang sedang ramai di perbincangkan, aku tak ingin terkena masalah, jadi aku segera menghubungi majikannya Klara.”


“Begitu,” ucap mahasiswi itu, "Namaku adalah Mai," ucapnya.


“Lalu apa yang kalian lakukan di sini?” ia lanjut bertanya, seperti sebelumnya ia bertanya tanpa basa-basi.

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban, ia tanpa izin melihat ke kamar yang terbuka itu.


"Ya ampun orang ini, dia benar-benar memerlukan lebih banyak pengetahuan mengenai sopan santun," ucapku dalam hati.


Ia berteriak histeris, Klara segera masuk.


“Aaa, kau Caroline Demanic si penyanyi itu.” Mahasiswi itu histeris seperti penggemar berat.


Klara mencoba menghentikannya karena menggangu, “Hey, jangan berisik, kau mengganggu.” Klara menarik Mahasiswi itu. Tapi ia bersikeras untuk di sini.


Aku mendekat, wanita yang bernama Caroline, ‘tersangka’ yang kita curigai. Ia berbaring di tempat tidurnya. Matanya di tutup dengan perban. Dilihat dari kulitnya mungkin dia masih ada pada umur dua puluh lima tahun.


Dari wajah orang itu ia sepertinya ia merasa terganggu dengan kelakuan Mai. Hal yang wajar jika dilihat dari sudut pandang orang yang terkenal, pasti tidak nyaman saat ada orang yang bertingkah seperti ini.


Aku mendekat dengan suara sesenyap mungkin. Dia langsung dengan sigap mengalihkan pandangan padaku.


“Bukankah dia tak bisa melihat?” ucapku dalam hati.


Dia segera mengubah pandangannya, Ia menghadap ke segala arah. Kemungkinan untuk menutupi refleks menatapku tak terlalu mencurigakan.


Dia melakukannya tak terlalu natural, aku bisa simpulkan ia melihat ke arahku karena tahu. Padahal aku tak mengeluarkan suara sama sekali, meskipun kita ambil pertimbangan dia mendengar langkah kakiku. Memangnya setajam apa telinga orang ini, padahal di sebelahnya ada orang yang sangatlah berisik.


Jika memang dia adalah seorang penyanyi mungkin dia memiliki telinga yang bagus, tapi apakah bisa sangat sensitif seperti itu?. Aku bukan orang yang ada di dunia musik, aku juga tak memiliki telinga yang tajam, jadi aku tak bisa menyimpulkan.


Aku berusaha untuk bertindak seperti tak curiga. Tapi itu benar-benar sulit, aku juga bisa melihatnya di wajah orang itu. Meskipun beberapa bagian di tutupi dengan perban, tapi aku bisa memastikan saat ini ekspresinya sedang masam.


Berbeda dengan saat sebelum ia tahu akan keberadaanku. Saat dia tak sadar ada aku ia seperti merasa terganggu, tapi saat ini ia tiba-tiba saja seperti gugup, menjadi seperti suram.


Aku memalingkan wajahku dari mereka, aku menghadap ke meja yang ada di dinding. Sesuatu menarik perhatianku, di atas meja itu ada selembar kertas. Olivia dan Mayor Sam masih memberikan pertanyaan pada Caroline.


Aku mendekati meja itu, aku bisa melihat dengan jelas isi kertas itu. Di sebelah meja itu terdapat sebuah gitar.


Di bagian bawah ada bagian yang hanya setengah, jadi aku yakin itu pasti adalah lagu yang belum selesai, aku melihat judul dari lagu itu


"My Dream." (mimpiku). Secara tak sengaja aku mengucapkannya dengan cukup keras sehingga bisa terdengar.


"Apa yang kau lihat!" teriak Caroline.


Aku membalikkan badanku, ia mengarah kepadaku. Semua orang kebingungan dengan apa yang terjadi.


"Kau adalah orang yang menyelamatkan dia kemarin kan?" ia menunjuk ke arah mahasiswi itu, si 'Mai'.


Aku hanya diam saja tanpa bisa menjawab, suasana menjadi hening. Caroline melepaskan perban yang ada di matanya perlahan. Mai berjalan ke arah dapur, ia berjalan melewatiku, ia menghilang dalam dapur yang gelap.


Seluruh perban yang ada di matanya terlepas, aku bisa melihat matanya, sepertinya warnanya hitam keseluruhan. Caroline, orang itu dia tiba-tiba tertawa keras.


Mai keluar dari dapur, ia berlari. Aku bisa melihat Mai memegang sesuatu, benda itu tak terlalu panjang, tapi itu sepertinya merupakan baja yang berwarna putih.


Ia berlari ke arahku, aku melompat kebelakang.


"Shreet"


Aku bisa mendengar suara pisau itu, aku berhasil menghindarinya entah bagaimana.


Mai kembali melakukan serangan, gawat aku tak yakin bisa sekali lagi menghindarinya.


Olivia segera berdiri, ia menangkap tangan Mai lalu menghantamkan tangan Mai ke dinding. Pisau itu terlepas, tapi Mai masih berusaha melawan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" tanyaku dalam hati keheranan apa yang terjadi.


"Lucy, hati-hati, pisau itu!" teriak Klara.


Caroline berusaha meraih pisau itu, aku segera mengambil pisau itu dengan tanganku. Aku memegang pegangan pisau itu dengan kedua belah tangan. Caroline langsung menangkap kedua tanganku, karena aku memegang pisau. Aku melihat ke arahnya, terjadi kontak mata, mata Caroline benar-benar sepenuhnya berwarna hitam.


Setelah fokus melihat mata Caroline aku tahu apa yang terjad, di atasnya ada sesuatu yang melayang, itu adalah makhluk waktu itu.


Aku bisa melihat cahaya penghubung antara makhluk mengambang dan Mai, bukan hanya itu tapi juga dengan dirinya sendiri. Kemungkinan matanya itulah dimana gelombang dunia fantasi berasal.


"Biar kutebak, kau membayangkan kau punya tubuh yang bisa pergi kemanapun, dan ternyata itu benar-benar terjadi, bukankah begitu?"


"Namamu Lucy kan, jadi kau bisa melihatnya..., kau benar seluruh kesadaranku sekarang berada di makhluk ini. Makhluk indah yang terbang sesukanya," Caroline menjawab dengan senyum.


"Tapi kesadaran itu tetap bergantung pada tubuh aslimu, apa yang akan terjadi jika tubuhmu kehilangan kesadaran," ucapku. "Serang dia, buat dia kehilangan kesadaran!" teriakku.


Mayor Sam dan Klara segera bergerak, mereka mendekat. Namun tiba-tiba mereka berdua berhenti. Aku bisa melihat ada penghubung di Mayor Sam dan Klara. Cahayanya tak seterang yang menghubungkan antara makhluk itu dengan Mia, tapi itu cukup untuk menggangu fungsi tubuh.


"Usaha yang bagus tapi, di sinilah kalian akan berakhir," ucap Caroline dengan terengah-engah.


"Sepertinya membagi kekuatan itu tak semudah itu," ucapku untuk menggangu konsentrasinya.b


"Ya memang, karena itulah aku harus mengurangi jumlah lawan."


Ia melepaskan kedua tanganku, tapi ada yang aneh. Tanganku bergerak sendiri, ternyata kedua tanganku telah terkena kekuatan itu juga.


Tanganku memutar pisau ke arah diriku sendiri, aku mencoba mengendalikannya. Caroline memegang kedua tanganku, ia mendorong tanganku sehingga pisau itu semakin mudah mendekat.


"Lucy!" teriak Olivia, tapi ia tak bisa membantu karena ia harus menahan Mai. Mayor Sam dan Klara masih tak bisa berbuat apa-apa.


Cahaya atau yang kusebut 'penghubung' kekuatan Caroline adalah semacam cahaya, dan yang paling tidak terang hanyalah yang ada di tanganku.


Aku melihat cahaya itu, sama seperti Manusia serigala dan makhluk hidup lain ada semacam garis-garis aneh.


Ini adalah satu-satunya kemungkinan, jika aku bisa membuatnya kehilangan konsentrasi mungkin ia akan kesulitan mengendalikan tanganku.


Aku menendang kaki Caroline, ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Dan beruntung aku benar, cahaya yang merupakan penghubung di tanganku menjadi pudar.


Aku mengambil kesempatan itu, selagi tanganku bisa bergerak dengan bebas. Sebelumnya aku memegang pisau dengan kedua belah tangan, aku mengubah peganganku. Kini pisau itu ada di bagian tangan kiriku, aku segera memotong 'penghubung' itu, aku memotong mengikuti garis itu


Aku menyayat dengan dalam, sayatan itu menghasilkan retakan yang mengikuti garis-garis itu.


Retakan itu sampai ke bagian tangan makhluk mengambang, atau yang lebih tepatnya ke kesadarannya Caroline.


Caroline berteriak kesakitan, kekuatannya tak bisa di kendalikan olehnya lagi. Selagi Caroline kesakitan, aku segera menyerang makhluk mengambang itu. Aku menusukkan pisau yang kupegang tepat ke bagian jantung makhluk itu, bagian yang di penuhi dengan garis-garis yang warnanya merah terang.


Ini adalah satu-satunya kesempatan. Aku berhasil menusukkan pisau itu, setelah pisau itu menusuk ke dalam, muncul retakan mengikuti garis-garis yang berwarna merah.


"Aaaaa, hentikan!" Caroline berteriak sambil memegang tepat di bagian aku menusuknya.


Aku menggerakkan pisau itu ke kanan, dan retakan itu semakin bertambah. Retakan itu menjalar ke seluruh tubuh makhluk itu, Caroline berteriak dengan keras. Aku menggerakkan pisau itu, pisau itu sampai di ujung bagain kanan, pisau itu berhasil mebelah monster ini.


Tubuh makhluk itu hancur berkeping-keping, Seketika Caroline ambruk dan kehilangan kesadaran. Aku melihat sekitar. Olivia meletakkan Mai di sofa, Mayor Sam dan Klara juga sudah bisa bergerak, tapi mereka masih belum bisa menggerakkan tubuhnya dengan normal.


Mataku sudah terasa berat, tubuhku mulai goyah. "Gawat".


Brukkk.

__ADS_1


Aku bisa merasakan tubuhku menyentuh lantai, aku mulai kehilangan kesadaran, tapi setidaknya itu menandai bahwa hari ini sudah cukup.


__ADS_2