[I]Logical (Dalam Masa Rework)

[I]Logical (Dalam Masa Rework)
Lagu terakhir.4


__ADS_3

Aku mengejar Caroline yang berlari ke dalam hutan yang lebih lebat. Tidak begitu jauh dari bangunan sebelumnya ada sebuah tanda, “Area dilarang berburu”.


Itu menjelaskan kenapa di sini jauh lebih lebat, beberapa hewan langka memang di datangkan dan di masukan ke hutan ini.


Mereka juga menjadi salah satu penyebab pembukaan lahan di tunda.


Kami masuk lebih jauh ke dalam hutan, tumbuhan di sini jauh lebih lebat. Pohon-pohon yang tinggi di kiri dan kanan.


Hutan ini sangat sulit untuk di lalui, di tambah lagi hujan turun dengan tiba-tiba. Hujan ini membuat tanah menjadi lembek dan licin. Tak cukup sampai di sana ada ancaman dari binatang buas, dan juga Caroline saat ini memegang pisau. Jika ia memutuskan berbalik dan menyerangku aku akan ada dalam masalah besar.


Tapi aku jadi terpikirkan sesuatu, jika ia memang berusaha melukai kami maka saat Klara jatuh tadi dia bisa saja langsung menyerangnya.


Ini bukanlah saat yang tepat memikirkan hal ini, lebih baik aku fokus agar tak kehilangan jejaknya.


Melakukan kejar-kejaran di tempat seperti ini benar-benar menyusahkan, aku berharap Klara bisa segera menyusul. Itupun jika ia bisa datang tanpa petunjuk.


Pepohonan mulai berkurang, semak-semak tak lagi setinggi sebelumnya.


Tidak jauh di depan ,setelah pepohonan yang lebat ini. Sebuah tebing tinggi nan curam.


Gawat, aku harus melakukan sesuatu.


Seandainya aku bisa berlari lebih cepat. Jika ia menjatuhkan dirinya ke tebing dan tewas, maka tujuan utama kami untuk menangkapnya gagal.


Caroline sampai di tepi tebing, aku gagal untuk mendahului dan menghentikannya.  


Aku sudah kehilangan harapan, Caroline akan segera melompat.


“Berhenti di sana!” teriak Caroline meletakkan pisau di lehernya.


Aku langsung berhenti berlari.


"Kalau tidak salah mereka memanggilmu Lucy benar?" ucap Caroline.


Aku mengangguk.


"Kau tahu, sejujurnya aku kagum padamu."


"Apa maksudmu?."


"Selama aku memiliki kekuatan ini kau adalah satu-satunya yang bisa menghancurkannya."


"Itu kabar yang bagus, jika kau meletakkan pisau itu dan ikut denganku aku yakin akan ada orang lain juga."

__ADS_1


"Bukan hanya itu, aku juga mengagumi bagaimana kau masih bisa bertahan dengan masa lalu seperti itu," ucap Caroline.


"Hah...."


"Kau pasti penasaran, tapi aku bisa tahu separah apa pengalaman buruk yang di alami seseorang dengan kekuatanku," Caroline menghela nafas.


"Hah..., justru karena kekuatan ini juga akhirnya aku berakhir menyedihkan seperti ini," ucap Caroline.


"Kekuatan seperti apa memangnya itu?" tanyaku.


"Aku bisa membuat kesadaran ku tak terikat dengan tubuhku, aku bisa mengendalikan orang lain dengan membuat kesadaran ku terhubung dengan orang yang masih hidup."


"Lalu, apa maksudnya dengan bisa mengetahui pengalaman kelamku?" aku bertanya, hal itu benar-benar membuatku penasaran.


"Aku tidak benar-benar bermaksud bisa melihat memori seseorang, aku bisa melihat hal buruk yang terjadi pada seseorang dari aura yang menyelimutinya. Semakin pekat aura itu semakin kelam kejadian yang menimpanya, sebenarnya jika orang itu bisa menyelesaikan masalah yang di alaminya aura itu akan menghilang dengan sendirinya. Tapi punyamu seakan-akan tidak bisa pergi darimu."


"Jadi sejauh ini aku paham kalau kekuatan itu datang karena kau membayangkan punya kekuatan untuk mengendalikan orang lain benar?" tanyaku masih penasaran dengan kekuatan Caroline.


"Ya mudahnya begitu, tapi kekuatanku terbatas dan hanya bisa mengendalikan seseorang secara satu orang. Tapi ini bisa mengganggu pergerakan dan mengacaukan pikiran beberapa orang sekaligus, tapi kedua hal itu hanya bisa dilakukan pada jumlah yang terbatas. Kemampuanku itu di alirkan melalui semacam penghubung dan menyalurkan kekuatanku, tapi kekuatan ini memiliki jumlah yang terbatas."


"Satu pernyataan lagi, kenapa kau membunuh penjaga itu. Kematiannya sangat tak wajar jika dikatakan sebagai bunuh diri biasa."


"Karena dia terlibat pada penyeranganku, orang itu juga yang mematikan kamera pengawas. Bukan hanya itu, ia jugalah yang memberikan kunci sehingga orang itu bisa masuk ke kamarku dengan mudah. Selain dia tidak ada yang mempunyai kunci itu, bahkan pemilik apartemen tidak mempunyainya."


Caroline melemparkan sesuatu padaku, aku segera menangkap benda itu. Benda yang ia lemparkan jauh lebih kecil dari pisau, jadi aku yakin untuk menangkap benda itu.


Aku berhasil menangkapnya, ternyata benda ini adalah flashdisk yang sebelumnya.


"Kekuatan ini membuatku benar-benar di penuhi dengan dendam, aku bahkan membuat orang lain bunuh diri hanya karena aku iri."


"Jadi belasan kematian itu hanya karena rasa iri?," ucapku dengan jengkel.


"Sebenarnya tidak semua, ada satu. Ia sering masuk ke bioskop dengan berbagai laki-laki. Awalnya aku kira ia hanya memainkan perasaan mereka, tetapi pada akhirnya aku sadar kalau ia di sewa oleh para laki-laki itu "


"Kau tahu namanya?"


"Aku lupa, tapi ia adalah anak seorang tentara, karena itulah aku bisa mengingatnya," jawab Caroline.


"Ia adalah anak dari seorang tentara berpangkat kopral yang bernama William John, bukankah begitu?"


"Ya, aku membuatnya menjatuhkan diri agar ia tak lagi mengalami kehidupan yang pedih, tapi bagaimanapun juga itu namanya tetap saja membunuh apa aku salah?"


"Apa kau menyesal melakukan hal itu?" aku bertanya pada Caroline sambil mencoba mendekat secara perlahan.

__ADS_1


"Stop! berhenti di sana!" teriak Caroline.


Sial, padahal kupikir ia sedang lengah.


"Aku tahu kau mencoba membuatku lengah dengan permainan kata-kata untuk mempengaruhi psikologis ku. Tapi sejujurnya ya aku menyesal." Air mata turun dari matanya.


"Kalau kau memang menyesal kau harus memperbaikinya, aku yakin kau bisa membalas kesalahanmu dengan suatu cara," ucapku mencoba meyakinkan Caroline.


Untuk sejenak ia tak merespon apapun, ia menjauhkan pisau itu dari lehernya.


Ia menunjuk tanganku, aku tahu yang ia maksud adalah flashdisk ini. "Aku sebenarnya sudah menyelesaikannya, tapi karena tragedi yang menimpaku aku tak sanggup lagi untuk memikirkan lagu itu." Suara Caroline terdengar lemah seakan-akan tak sanggup mengatakan hal itu.


"Tapi setelah melihatmu, bagaimana kau berhasil menyelamatkan orang yang seharusnya pada saat itu akan menemui ajalnya. Aku jadi tertarik melihatnya, apalagi setelah melihat auramu yang sangat gelap itu. Jadi aku memutuskan menyelesaikan lagu itu, dan aku ingin kau mendengarnya."


"Aku tak begitu paham apa yang kau bicarakan, aku bukanlah seorang artis yang menginginkan hadiah dari seorang fans," ucapku sambil mencoba bercanda untuk sedikit meredam situasi yang berbahaya ini.


Caroline diam, dia tak berkata apa-apa, aku tak berani mendekat karena resikonya sangat tinggi. Caroline menundukkan wajahnya ke tanah.


Situasi ini terjadi selama beberapa menit, keringat dinginku bercucuran.


"Kau adalah orang yang hebat, aku harap aku sekuat dirimu," ucap Caroline dengan suara yang lemah tapi masih bisa kudengar. Ia mengangkat wajahnya, tapi tatapannya kosong.


"Kau mungkin benar aku bisa membalas perbuatan buruk ku dengan melakukan sesuatu," lalu ia terdiam hening. "Tapi kurasa aku bukan orang yang sekuat itu, dan aku tak merasa kalau orang sepertiku punya hak untuk melakukan hal seperti itu." ucap Caroline dengan suara yang sangat pelan.


Ia tiba-tiba saja tersenyum, "Terimakasih untuk usahamu, tapi keputusanku tak akan ku ubah."


"Jlebbb"


Caroline menusukkan pisau itu ke perutnya, ia tersenyum kepadaku.


Aku segera berlari menuju Caroline, tapi aku tak sempat.


Ia segera terjun bebeas ke tebing yang tinggi ini, tebingnya sangat curam.


Aku bisa melihatnya, sambil tubuhnya mulai jatuh kebawah di tarik gravitasi ia tersenyum.


Setelah beberapa saat aku tak bisa lagi melihat Caroline, aku segera memalingkan wajah dari tebing itu.


Orang itu, aku tak tahu apakah alasan dia tersenyum. Kalau aku bilang aku tak punya spekulasi maka aku bohong, kurasa sebenarnya ia sedang melarikan diri.


Alasan kenapa seseorang menjadi penggemar adalah karena ia tidak bisa melakukan apa yang idolanya lakukan. Tapi menjadikanku sebagai idola, aku rasa ia bukannya menganggapku sebagai orang yang ia kagumi.


Lebih tepatnya ia sedang melarikan diri.

__ADS_1


__ADS_2