![[I]Logical (Dalam Masa Rework)](https://asset.asean.biz.id/-i-logical--dalam-masa-rework-.webp)
Sekilas sepertinya orang mencoba masuk ke dalam Gedung Centurion, aku segera mengejarnya. Tak salah lagi, memang ada orang yang memasuki Gedung.
Dari perawakannya dia lebih tua dariku, kemungkinan dia murid dari universitas. Aku segera mengejarnya, tapi orang itu bergerak semakin cepat.
Menaiki anak tangga yang ada aku sampai di lantai saat Olivia menarikku sebelumnya. Dari sini aku bisa melihat orang itu menaiki tangga kelantai berikutnya, tanpa basa-basi aku terus mengejarnya.
Aku sampai di lantai selanjutnya, hanya selangkah dari anak tangga terakhir tubuhku terasa aneh.
Rasanya seluruh gedung ini berbuah menjadi dingin, dingin yang menusuk sampai ketulang. Aku mencoba melangkah lebih jauh, tapi tubuhku menolak, seluruh badanku kaku.
Perasaan ini, sama dengan saat berhadapan dengan manusia serigala waktu itu.
Aku mengambil nafas dalam-dalam, aku menenangkan diriku.
"Ini hanyalah usaha untuk melakukan intimidasi, aku sudah pernah mengalami hal ini."
Setelah meyakinkan diri aku segera lanjut, tidak seperti sebelumnya badanku sudah tak kaku. Aku berlari sekuat tenaga untuk menaiki anak-anak tangga yang ada.
Aku sampai di bagian tertinggi gedung, di sana aku bisa melihat orang itu dengan jelas. Dia adalah seorang wanita dengan umur kisaran, dua puluh tahunan.
Dia terus berjalan ke ujung atap gedung, dia seperti tidak punya kesadaran. Aku menatap orang itu, sama seperti saat itu. Muncul garis-garis aneh, tapi ada yang aneh. Di bagian belakang wanita itu, ada garis-garis yang nampaknya tak menyentuh lantai.
Aku mencoba memastikannya, aku memfokuskan perhatianku, secara perlahan mulai nampak sesosok wanita dengan pakaian putih dan rambut yang sangat panjang. Sama dengan manusia serigala, terdapat garis-garis yang berbeda warna, tapi garis-garis itu seakan memiliki satu sumber, yaitu di daerah jantung makhluk itu.
Kengerian terasa lagi di tubuhku, rasa mengerikan yang sampai ke tulang. Sosok yang mengambang itu menyadariku, ia menoleh ke arahku.
Mahasiswi itu terhenti, tubuhnya tak bergerak.
"Apakah makhluk ini yang mengendalikan mahasiswi itu, apakah dia penyebab semua kasus bunuh diri."
Aku secara tak sengaja melihat semacam "penghubung".
Aku tak tahu bagaimana cara menyebutnya, tapi itu semacam cahaya tipis yang mengarah ke gedung seberang.
Aku mengeluarkan pistol tadi, aku mengarahkannya ke jantung monster itu.
Aku tak benar-benar tahu cara menembak, aku khawatir jika aku meleset akan mengenai mahasiswi yang ada dibelakangnya. Belum lagi ini ada di kawasan yang cukup ramai, dan saat ini belum malam, suara tembakan ini akan terlalu mencolok.
Makhluk itu melihatku dengan ragu juga, "Apakah karena senjata ini."
Manusia serigala waktu itu tak mempan di lukai kecuali di bagian leher dan hanya bisa mengikuti garis yang ada di lehernya.
Tapi makhluk ini memiliki kelemahan yang lebih banyak dari manusia serigala, karena itu ia agak takut dengan senjata api.
Pandanganku kembali terfokus ke cahaya yang mirip dengan penghubung itu, cahayanya agak samar tapi bisa terlihat. Aku mengikuti cahaya itu, dan itu menuju gedung di seberang.
Di sebuah jendela di arah cahaya itu menuju, samar-samar terlihat sosok wanita. Aku mencoba melihatnya dengan lebih nampak, aku hampir lupa dengan sosok mengerikan yang ada di sebelahku.
Aku segera mengarahkan senjataku ke sana. Dalam sekejap tirai jendela itu turun, dan orang itu segera merapat ke dinding.
Kecurigaanku makin bertambah karena sosok wanita mengambang di sebelahku perlahan menghilang.
Cahaya yang sepertinya menghubungkan makhluk ini dengan orang tadi menghilang, makhluk itu seakan-akan kehilangan tubuhnya dan benar-benar menghilang. Bukan dalam maksud kiasan tapi ia benar-benar menghilang tanpa jejak.
Apakah orang yang tadi itu adalah orang yang mengendalikan monster tadi, dan karena ketakutan dia secara tak sengaja melepaskan hubungan dengan makhluk itu dan akhirnya makhluk itu menghilang."
Dubrak
Tubuh orang tadi terjatuh, maka kemungkinan kalau ia dikendalikan memang tepat. Sekarang misterinya adalah siapa orang yang mengendalikan monster itu, aku hanya melihatnya sekilas. Di apartemen seberang ada sesosok wanita yang memerhatikan ke sini.
Siapa pun dia aku harus menolong orang ini dulu. Dia terlentang tak sadarkan diri, aku coba memeriksa keadaannya. Syukurlah dia hanya pingsan.
Aku mengecek isi kantong celananya, aku mengambil telepon pintar miliknya.
Seharusnya aku menelpon pihak rumah sakit, atau keluarga orang ini, tapi karena kali ini kejadiannya berhubungan dengan makhluk yang tak bisa dijelaskan dengan logis itu, aku memutuskan untuk menelpon Alice.
Aku menelpon nomor yang ada di kartu nama yang ia berikan.
__ADS_1
Tet... tet...
"Hallo." ucap orang yang ada di telepon.
"Apakah ini dengan Alice Cooper?" tanyaku, memang terdengar cukup aneh tapi ya....
"Ya ini kediaman keluarga Cooper," jawab orang yang ada di telepon.
"Aku ingin bicara dengan Alice."
"Apakah kau sudah membuat janji, nona sering sibuk...."
"Siapa itu?" Suaranya agak samar, tapi masih bisa kudengar.
"Halo?"
Kali ini suaranya berbeda, dan jika tidak salah ingat ini adalah suaranya Alice.
"Apa ini Alice, aku Lucy."
"Oh, ada apa kau meneleponku?"
Aku pun menjelaskan apa yang terjadi, ia memintaku untuk menunggu.
Sekitar 10 menit sebuah mobil datang, dari sana keluar dua orang laki-laki. Mereka segera naik, sesampainya di atas mereka menanyai kondisi saat ini.
Aku yakin mereka adalah suruhan Alice, selain Organisasi seharunya tidak ada yang tahu.
Ponsel tadi berbunyi, aku mengangkat telepon yang masuk.
"Lucy, kalau sudah ada dua orang yang menjemput segera minta untuk mengantarkan kalian ke sini."
Aku mengatakan hal itu pada mereka, mereka segera mengangkat mahasiswi itu ke mobil, dan mengantar kami. Aku tak tahu dimana alamatnya, kartu nama itu hanya menyantumkan nama dan perusahaan.
Mungkin perusahaan milik almarhum ayahnya.
Mobil ini berhenti di depan rumah itu, di depan gerbang sudah siap beberapa orang dengan baju pelayan.
Mereka langsung membukakan gerbang, kedua orang itu langsung diminta masuk membawa mahasiswi tadi, mereka membawa orang itu masuk.
Dari balik pintu yang dibuka terlihat seorang gadis muda yang lebih kecil dariku.
"Masuklah!" ia melambaikan tangannya.
"Ikuti saya, nona Alice ada di dalam." Suara pelayan wanita itu sama dengan orang yang ada di telepon sebelumnya.
Aku mengikuti pelayan itu, aku mengikutinya dari belakang. Rasanya dia orangnya dingin sekali, dia benar-benar seperti tak mempunyai ekspresi.
Aku sampai di ruang tamu, di sana sudah ada Alice, di tengah meja sudah di sediakan berbagai macam kue dan makanan manis.
"Silahkan duduk," ucap pelayan itu sambil menuangkan teh, setelah itu pelayan itu pergi.
"Bukankah kau sudah diminta untuk tidak terlibat dengan hal semacam ini lagi, Mayor juga memberikan senjata itu untuk membela diri bukannya menyerang makhluk itu." Suara Alice sepertinya tegas, meskipun masih terbilang anak-anak tapi aku bisa tahu dari suaranya dia sedang serius.
Karena mereka partner kurasa tidak aneh jika dia tahu kalau Mayor Sam memberikanku pistol.
"Ya... maaf, hehe."
"Padahal kau lebih tua dariku, tapi entah kenapa rasanya saat ini posisi kita terbalik," Alice meminum tehnya, "Tapi kau menyelamatkan orang itu, kau tidak bisa disalahkan."
"Aku sudah mengatakan ceritanya padamu, tapi aku tidak mengatakan satu hal tadi."
"Apa itu?" Tanya Alice dengan heran.
"Sepertinya makhluk yang menyebabkan terjadinya bunuh diri dikendalikan seseorang."
"Hah, kau bercanda!" Dari suaranya dia terkejut, "Mereka memang tercipta karena imajinasi mengerikan dari manusia, tapi manusia yang bisa mengendalikan mereka."
__ADS_1
"Ya aku juga awalnya tidak yakin, tapi saat aku mengarahkan pistol ke orang yang mencurigakan ia langsung sembunyi dan makhluk itu hilang."
"Heh tunggu, kau mengarahkan pistol ke orang lain?"
"Kesampingkan dulu hal itu."
"Jangan coba mengelak."
"Aku juga tak bermaksud untuk menembak."
Percakapan berlanjut, dan semuanya jadi tambah runyam.
"Tak ada yang bisa kulakukan dengan itu, aku akan melaporkan hal ini pada organisasi, tapu aku belum bisa memastikan apakah itu benar, kemungkinan seseorang bisa melakukan hal itu."
Aku hanya mengangguk.
"Kurasa ada kemungkinan mereka akan menyelidikinya, kau tahu di lantai berapa orang itu orang itu tinggal."
"Entahlah, tapi sepertinya berbeda sekitar 5 meter dari atap Gedung Centurion."
"Kebanyakan tinggi apartemen biasanya 4 atau. 5 meter, kalau begitu hanya berbeda satu lantai, kau ini aku ragu bagaimana caranya kau bisa masuk sekolahmu saat ini."
"Karena tidak ada yang ingin ku katakan lagi aku pamit dulu." Aku berdiri, "Oh iya, tas milikku tertinggal di tempat tadi...."
"Memangnya kau sudah menemukan tempat tinggal," Alice menyela.
"Hah?"
"Aku sudah membaca surat dari sekolah padamu, mereka tidak akan mengeluarkanmu dari asrama kecuali kau memang sering membuat masalah, faktanya mereka masih mempertahankan kau sebagai murid itu masih bagus."
Alice memakan kue lalu lanjut bicara, "Oh ya sebenarnya tas itu ada di sini." "Klara tolong bawakan tas tadi!" ucap Alice.
"Hey tunggu dulu, kau membaca surat itu, itu pelanggaran privasi."
Alice tak menanggapi hal itu, dia fokus memakan kue yang ada di meja.
Aku berdiri bersiap untuk keluar.
"Tinggal saja di sini sampai kau bisa menemukan pekerjaan dan hidup dengan itu."
Aku menoleh kepadanya, "Hah apa?"
"Aku bilang aku ingin mencari data lebih banyak data tentang perubahan yang ada di tubuhmu aku rasa dengan kau tinggal di sini itu akan membuatku lebih terbantu."
Dari belakang datang pelayan wanita yang sebelumnya, "Nona Alice memang tidak bisa mengatakan sesuatu yang berhubungan degan sosial dengan baik, kurasa maksud nona adalah dia sebenarnya kesepian."
"Aku tak bilang begitu," ucap Alice lalu memalingkan wajahnya.
"Jika kau tidak keberatan baiklah, aku benar-benar berterimakasih." Kami baru bertemu hari ini, tapi dengan mempertimbangkan kondisiku saat ini, aku tak akan menolaknya.
"Saya senang dengan keputusan anda, kalau begitu silahkan ikuti saya."
Pelayan wanita itu, Klara mengantarkanku ke kamar yang di maksud, ia juga membawakan tas milikku. Tak banyak barang yang ada di dalam tas itu.
Aku sampai di sebuah kamar, kamarnya terbilang cukup luas.
"Ini sebenarnya adalah kamar tamu, tapi tak pernah ada yang benar-benar memakai kamar ini." Jelas Klara.
"Saya letakkan barang anda di sini, anda benar-benar sangat di terima di sini."
"Terimakasih," ucapku.
"Saya juga berterimakasih, karena kejadian yang menimpanya nona jadi jarang bicara dengan orang lain, melihat anda bisa dekat dengannya membuatku senang. Kalau begitu saya keluar, silahkan gunakan semau anda"
Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku senang dengan hal ini.
Tapi aku tak boleh lupa, celah dunia ini dengan dunia imajinasi itu ada di mana-mana. Dan juga fakta terjadi sesuatu dengan tubuhku, aku tak boleh melengahkan penjagaanku, sejujurnya aku masih tak sepenuhnya percaya dengan organisasi ini.
__ADS_1