![[I]Logical (Dalam Masa Rework)](https://asset.asean.biz.id/-i-logical--dalam-masa-rework-.webp)
Part 4
Aku dan tentara itu mengikuti jejak itu, aku tak tahu namanya tapi dia terlihat cukup berpengalaman.
Kami sampai di area semak belukar, di sana kami menemukan senjata yang di letakan secara sembarangan.
Tentara itu membuka pengaman senjatanya, dia menyuruhku menunggu di sini. “Kalau aku tak segera kembali kau harus lari dan minta bantuan pada yang lain.” dia memberikanku sebuah pisau, “Gunakan ini jika dibutuhkan,” kemudian dia menghilang di balik semak-semak.
Perasaan buruk yang kurasakan terasa makin kuat, aku melihat sekitar tapi tak ada apa pun. Beberapa menit berlalu tak terjadi apa-apa, pasti terjadi sesuatu yang tidak beres.
Aku memutuskan untuk mengikuti orang tadi, setelah melewati semak-semak yang rimbun. Terdapat dua pasang jejak kaki, salah satunya terlihat lebih baru. Aku mengikuti jejak-jejak itu, kedua pasang jejak itu mengarah ke hutan yang lebat.
Mengikuti kedua pasang jejak itu aku makin masuk ke dalam hutan, melewati pepohonan aku masuk semakin dalam. Kamp bahkan tak terlihat dari sini. Dikelilingi pepohonan aku merasa sesuatu mengawasiku, aku tetap maju Mengikuti jejak akhirnya aku sampai di sebuah tempat lapang. Di tengah-tengah tempat lapang. Aku segera mengambil tempat bersembunyi dan mengamati dari tempat aku bersembunyi.
Di tengah tempat lapang itu ada seorang pria dengan seragam yang sama dengan anggota di kamp. Tentara yang bersamaku sebelumnya mendekati orang itu, dia mendekat secara perlahan. Saat orang yang ada di tengah gazebo itu berbalik si tentara terdiam, kakinya gemetaran, tangannya yang memegang senjata semakin lama semakin melemah hingga akhirnya ia menjatuhkan senjatanya.
Orang yang ada di gazebo mendekati si tentara. Mata orang itu merah, rambutnya acak-acakan dan dia mengeluarkan air liur.
Orang itu menjijikkan sekali, apa dia sedang terpengaruh sesuatu?
Dia mengeram lalu berlari dengan kencang ke arah si tentara yang diam tak melakukan apa pun. Setelah dekat orang itu mencekik leher tentara yang sebelumnya bersamaku.
Tampaknya tentara itu sadar lalu mencoba melepaskan diri, dia menekan ke bawah siku orang yang menyerangnya tapi itu tak berhasil. Si tentara hampir kehilangan kesadaran, pegangannya pada siku orang yang menyerangnya mulai melemah.
Tempat ini jauh dari kamp, tak akan ada bantuan yang akan segera datang. Aku tak bisa hanya kabur lalu meninggalkan tentara itu, bukannya aku tak tega meninggalkan tentara itu, ada kemungkinan orang yang sepertinya terpengaruh atau lebih tepatnya kerasukan sesuatu itu malah akan mengejarku.
Aku hanya memiliki sebilah pisau yang di tinggalkan tentara yang di cekik itu, aku bisa saja mengambil senjata yang di tinggalkan oleh orang yang kerasukan, tapi jika di tengah jalan sebelum aku berhasil menggapai senjata itu aku di serang makhluk aneh maka tak ada bedanya jika aku pergi dan meninggalkan tentara itu.
Mengingat makhluk yang ada di sini, pisau seperti ini tidak akan bisa menghancurkan mereka. Pisau ini adalah pisau yang dibuat khusus untuk keperluan militer, pisau ini memang tajam tapi seperti yang kubilang tidak akan bisa menghancurkan makhluk yang ada di sini. Pisau ini bukankah seharusnya bisa untuk mengoyak daging , tiba-tiba pikiran itu muncul di kepalaku.
Aku memandangi pisau yang kupegang, benda ini dari bentuknya terlihat sangat kuat dan kokoh. Aku mengangkatnya ke atas, cahaya bulan yang menembus dedaunan mengenai pisau itu memantulkan cahaya ke wajahku.
Aku membulatkan tekad, aku berlari secepat yang bisa kulakukan. Aku menyerang dari sisi kanan. Ketika orang itu sampai pada jangkauanku aku menusuk lengannya, orang itu kesakitan dan melepaskan cekikikannya lalu memukulku. Pisau yang kugunakan sebelumnya tersangkut di pergelangan tangan orang itu.
Pukulannya sangat kuat, aku langsung tersungkur karena pukulan itu. Orang itu mendekatiku, dia berdiri tepat di depanku. Tangannya bersiap memukul, dia mengangkat tangannya lalu melayangkan pukulan. Tepat sebelum pukulannya mengenaiku suara tembakan terdengar, si tentara menembak orang itu dengan senjatanya yang sebelumnya terjatuh.
Tembakan itu menembus dada orang itu, orang itu ambruk dalam beberapa detik. Si tentara mendekati tubuh orang itu, lalu memeriksanya. Dia mengecek nadi dan suara detakan jantung orang itu.
Ekspresinya suram, tanpa Berli bertanya aku tahu kondisi orang itu sudah tak bisa diselamatkan. Tiba-tiba dari luka yang ada di tubuh orang itu semacam cairan berwarna biru terang keluar. Cairan itu hidup dan mencoba keluar, cairan itu berusaha mendekatiku.
Cairan itu seperti parasit yang sedang mencari inang, di antara cairan hidup itu ada semacam batu berwarna biru gelap. Aku segera mencabut pisau yang tertanam di lengan orang yang sudah tak bernyawa itu, dan menusuk batu itu.
Begitu batu itu tertusuk cairan itu perlahan mulai berubah menjadi debu berwarna biru seperti ubur-ubur sebelumnya, tapi kali ini tidak ada angin debu itu tak menghilang jadi aku bisa melihat debu itu dengan lebih jelas.
Aku menyentuh debu itu dengan jari telunjukku, lalu menggosokkannya dengan ibu jariku. Rasanya tak berbeda dengan debu yang biasa. Tak ada yang istimewa dengan debu ini jadi aku tidak tertarik lagi, aku melihat ke kalung yang terdapat di mayat orang sebelumnya.
__ADS_1
Aku memerhatikan kalung itu, di kalung itu terdapat nama.
“Chris John,” ucap tentara sebelumnya secara tiba-tiba, “Dia adikku dia masuk kemiliteran beberapa tahun setelahku.”
“Oh ya perkenalkan aku kopral William John.”
“Aku Lucy,” ucapku memperkenalkan diri.
“Maaf membuatmu menyaksikan hal mengerikan ini,” ucap Kopral itu.
“Ah tidak apa-apa, maaf aku tak lari seperti yang kau katakan.”
“Setidaknya mau menyelamatkanku, meskipun malah berakhir seperti ini,” ucapnya dengan nada suram sambil memandangi tubuh tak bernyawa adiknya.
“Apa yang harus kita lakukan dengan jasadnya?” tanyaku.
“Sebenarnya aku tak tega, tapi kita harus meninggalkannya di sini,” ucap Kopral William sambil mengambil kalung yang ada di leher adiknya, “Kita harus segera pergi dari tempat ini.”
Saat kami ingin pergi dari tempat ini, tiba-tiba kawanan serigala berkepala dua mengepung kami. Keadaan sangat buruk kami sama sekali tak memiliki kesempatan, dari balik pepohonan muncul makhluk yang mirip seperti sosok seorang pria. Dia terus mendekat lalu berhenti di dekat kawanan serigala itu, orang itu menatap kami dengan tatapan tajam.
Aku memperhatikan orang itu, dari tubuhnya perlahan keluar bulu yang lebat. Bulu yang sama dengan bulu serigala, aku tidak berkhayal kopral William juga melihatnya.
Kopral William sepertinya tidak percaya dengan yang dilihatnya.
“Apa apaan itu,” ucap Kopral William.
Kopral William menembak salah satu serigala dan berhasil mengenai kedua kepalanya, dia menarikku dan kami segera lari.
Kami berlari tapi beberapa serigala mengejar, kecepatan kami kalah jika dibandingkan dengan kecepatan serigala itu. Saat berlari aku teringat satu hal, aku memukul gelang pelacak yang ada di tangan kananku.
Gelang itu menyetrumku, aku hampir saja kehilangan keseimbangan saat gelang itu menyetrum.
Tapi tangan Kopral William terus menarikku, aku berlari secepat yang bisa kulakukan. Kami hampir keluar dari hutan, semak-semak tadi sudah mulai terlihat. Saat aku merasa kami punya harapan hal burik terjadi, pria yang tubuhnya memiliki bulu seperti serigala tadi sudah ada di depan kami.
Tubuh orang itu hampir sepenuhnya seperti serigala, hanya saja dia berdiri dengan kedua kakinya, seperti manusia serigala yang biasanya di gambarkan dalam cerita.
Kami tak bisa lanjut berlari di belakang kami sudah ada kawanan serigala berkepala dua, tentara itu mengangkat senjatanya mengarah pada manusia serigala itu.
“Ambil kesempatan lalu larilah secepatnya,” tanpa mengatakan apa pun lagi Kopral William menembak manusia serigala itu, “Larilah!”.
Aku berlari seperti yang dikatakannya, suara tembakan terus terdengar. Aku melihat ke belakang ada dua ekor serigala yang mengejar. Aku berhasil keluar hutan tapi kedua serigala itu masih mengejarku, salah satunya menerjangku dan berhasil membuatku terjatuh.
Serigala itu ada di samping tubuhku, mencoba menggigit leherku. Aku segera berbalik lalu menahan kepala kanannya dengan tangan kananku. Kepala kirinya mencoba menggigit tapi untungnya aku sempat menusuknya dengan pisau yang ada di tangan kiriku.
Sayangnya tidak ada yang bisa kulakukan dengan serigala satunya, dia berusaha menggigitku. Tapi sebelum itu terjadi seseorang menembak kepala serigala yang mencoba menggigit leherku dengan pistol dan menusuk kepala satunya dengan pisau. Serigala yang kepalanya di tahan olehku mencoba kabur, tapi kepala satunya tertahan oleh tangan kiriku, pisau yang kutusukkan tidak mau terlepas, tembakan dari pistol mengenai kepala serigala itu dan membuat serigala itu menemui ajalnya.
__ADS_1
Badanku terasa berat dan sulit gerakan, “Lucy, kau baik-baik saja?” itu adalah suara yang tak asing, aku melihat ke arah suara itu, itu adalah Olivia.
“Kopral William masih ada di hutan,” ucapku.
“Aaaaaa!”, itu adalah suara dari Kopral William, ia sepertinya terkena serangan yang menyakitkan.
Oliva memerintahkan anak buahnya “Kalian segera cek ke sana, jika tidak memungkinkan segera mundur!”.
Tak begitu lama terdengar suara tembakan beruntun, Olivia memapahku, dari hutan orang-orang yang sebelumnya keluar membawa Kopral William yang terluka parah.
Oliva segera memerintahkan mundur, kami mundur sesegera mungkin ke kamp. Serigala-serigala itu tidak mengejar, termasuk manusia serigala itu pun tidak mengejar.
Sesampainya di kamp kepalaku mulai terasa berat, aku tak bisa lagi bertahan. Mataku mulai sulit terbuka, penglihatanku mulai kabur. Olivia membawaku ke tenda medis, pendarahanku karena gigitan serigala segera di obati, tangan kananku terluka cukup parah, tapi karena sengatan listrik dari gelang tadi membuat tangan kananku mati rasa sehingga tak merasakan apa-apa. Kalau dipikirkan kembali aku beruntung bisa menggunakan tangan kananku untuk menahan serigala padahal aku bahkan tak merasakan apa pun.
Naluri manusia untuk bertahan hidup memang sangat kuat, bahkan orang yang sebenarnya tak peduli pada hidupnya sepertiku naluri untuk bertahan hidup benar-benar muncul saat ada dalam bahaya.
Konon katanya orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan tenggelam di laut juga merasakan hal yang sama. Dalam banyak kasus orang yang mengakhiri hidupnya dengan tenggelam ditemukan bahwa tangannya berusaha memegang apa pun yang bisa digapai. Meskipun tangannya di ikat ia akan berusaha memegang apa pun. Bahkan dalam kasus bunuh diri ganda kedua pasangan memegang rambut masing-masing dengan sekuatnya, saat tubuh mereka ditemukan masing-masing masih memegang erat rambut pasangannya.
Bagaimanapun juga keinginan manusia bertahan hidup merupakan salah satu perasaan terkuat yang ada. Aku berbaring, aku berusaha mengosongkan kepalaku, aku tak ingin memikirkan apa pun untuk saat ini. Tanpa sadar aku mulai kehilangan kesadaran.
Aku membuka mataku, tanpa sadar ini sudah pagi. “Sudah berapa kali aku tertidur tanpa sadar seperti ini.” Aku mencoba untuk duduk, beberapa bagian tubuhku masih terasa sakit. Meskipun agak kesusahan akhirnya aku berhasil duduk. Tangan kananku di perban, rasa sakitnya baru terasa, luka di tangan kananku tak begitu dalam, tapi aku tak bisa menggunakannya leluasa.
“Oh kau sudah bangun,” aku menoleh di sana ada Olivia berdiri di depan jalan masuk tenda. Dia mendekat dan berdiri di depanku, “Lucy, apa yang sebenarnya kau pikirkan, keluar malam-malam seperti itu!”. Dari ekspresinya Olivia terlihat marah. “Kau tahu tempat ini sangat berbahaya tapi kau masih nekat untuk pergi keluar,” ucapnya dengan nada tinggi, Olivia benar-benar marah.
“Aku benar-benar minta maaf soal itu, aku tak akan pergi sembarangan lagi.”
“Memang seharusnya begitu!” Ia terus membentukku.
Aku hanya terdiam tak bisa berkata apa-apa lagi, ini memang kesalahanku karena pergi begitu saja, meskipun aku bersama seorang tentara tetap saja tempat ini sangat berbahaya jadi aku seharunya tak pergi sembarangan seperti itu.
“Tapi aku senang masih bisa melihatmu dalam keadaan hidup,” dari suaranya Olivia sudah mulai tenang.
“Terima kasih, tapi Olivia kau tak perlu semarah itu.”
“Lucy, jujur saja sebelumnya aku tak pernah bicara dengan leluasa selain dengan orang lain selain Mayor Sam.”
Hah apa maksudnya, cara bicaranya benar-benar berubah, ucapku dalam hati.
“Meskipun kita baru bertemu tapi aku merasa saat ini kau sudah cukup dekat denganku, Lucy ini mungkin permintaan aneh tapi maukah kau menjadi teman pertamaku?” ucap Olivia lalu mengulurkan tangannya.
Meskipun dia bilang begitu tapi aku benar-benar tidak tahu dengan yang namanya teman. “Olivia sejujurnya aku tak tahu apa-apa tentang teman, dan juga aku merasa kalau teman itu menyusahkan jadi...."
“Oh begitu” ucap Olivia dengan kecewa.
“Aku belum selesai bicara, seperti yang kukatakan aku rasa teman itu menyusahkan, tapi kalau itu kau aku rasa itu akan berbeda”.
__ADS_1
“Kau serius, jadi sekarang kita adalah teman” ucapnya.
Aku melihat wajahnya, ia tampak berseri-seri.