![[I]Logical (Dalam Masa Rework)](https://asset.asean.biz.id/-i-logical--dalam-masa-rework-.webp)
Semua orang kebingungan kenapa aku bisa ada di balik terpal kanvas.
“Lucy kenapa kau bisa ada di sini, ” tanya Olivia.
“Yah, kau bilang aku bisa menggunakan salah satu mobil itu untuk istirahat, tapi sayangnya itu di kunci.”
“Seharunya kau bilang padaku bukannya tidur di sini.”
Profesor memberhentikan kendaraan tempur ini, ia menengok ke belakang lalu bertanya pada Olivia dan seorang tentara yang ada di sebelahku.
“Sekarang apa yang harus kita lakukan?”
“Kita sudah jauh dari markas, jika kita meninggalkan Lucy di sini itu berbahaya, jika kita melakukan putar balik kita mungkin saja terlambat untuk menyelamatkan Tim Leopon,” jawab Olivia.
“Kalau begitu kita bawa dia, bagaimana menurutmu Joseph?” Profesor bertanya pada tentara yang bersamaku.
“Ya jika menurut kalian itu terbaik” jawabnya”
Kami segera melaju ke tempat yang di tuju meskipun aku tidak tahu ke mana ini mengarah. Aku memutuskan untuk bertanya pada Olivia.
“Olivia, sebenarnya ke mana tujuan kita?”.
“Sekitar 7 KM dari markas adalah kontak terakhir dengan Tim Leopon....”
“Tim Leopon membawa satu panser anoa dan sebuah Humvee, tapi hanya orang-orang yang ada di Humvee berhasil kembali,” Profesor Hopper melanjutkan perkataan Olivia.
“Joseph aku rasa kau lebih cocok untuk menjelaskannya,” ucap profesor Hopper
Aku baru saja menyadarinya, tapi prajurit yang duduk di sebelahku adalah pengemudi Humvee waktu itu.
“Namaku adalah Joseph Lewis, panggil saja Joseph. Aku adalah prajurit satu di bawah pengawasan Letnan Michael Bay.”
“Aku Lucy,” ucapku memperkenalkan diri.
“Jadi seperti ini situasinya, beberapa jam lalu para Letnan dan Mayor membuat keputusan membagi tim menjadi 4, lalu berpencar menuju ke 4 arah mata angin. Kami tim Leopon ditugaskan menuju arah Timur, kami berhasil menemukan semacam pedesaan tapi kami di serang puluhan serigala dan parahnya ‘Werewolf’ juga ada di sana.”
“Koreksi, aku tidak tahu kalau ada rapat, lagi pula bukankah kalian membawa kendaraan tempur, tapi kalian masih kalah?” tanya Olivia.
“Ya, tapi saat kami menyerang entah kenapa tubuh serigala itu seperti tahan akan segala serangan, tembakan kami tidak bisa menyakitinya,” jelas Joseph.
“Bahkan kaliber 50 tidak bisa melukainya, sepertinya kita berjalan pada kematian,” ucap profesor sambil tertawa.
Setelah mendengarkan gurauan dari profesor tidak ada yang berbicara, siapa yang akan tertawa dengan hak itu.
__ADS_1
Tapi kematian ya, aku sudah pernah bilang aku sudah tidak peduli lagi dengan hidupku. Namun entah kenapa saat ini ketika mendengar kata itu aku merasa tidak nyaman. Semakin aku memikirkannya aku semakin tidak paham, “Mati” apakah aku tidak siap untuk itu.
Saat aku sedang melamun tidak terasa kami sudah dekat, aku bisa melihat kepulan asap dari sesuatu yang terbakar. Melihat hal itu Olivia dan tentara yang duduk di sebelahku segera bersiap dengan senjatanya, tentara itu menggunakan senjata yang dibawanya. Sedangkan Olivia mengenakan senjata besar yang ada di mobil ini
Setelah siap kendaraan kami maju secara perlahan, kami berjalan mendekati asap itu. Sambil memperhatikan sekitar kami maju, mengingat sekuat apa manusia serigala itu kami tak boleh melakukan kesalahan. Kami terus berjalan sampai asal asap itu terlihat, itu adalah sebuah mobil yang mempunyai lapis baja tebal.
“Letnan itu BTR-90.” Ucap profesor sambil melihat ke mobil baja yang terbalik.
“Apakah ada pergerakan?” tanya Olivia.
“Tidak ada pergerakan terdeteksi Letnan” jawab Joseph.
“Profesor bawa kita mendekat, siapa tahu ada korban selamat”
Profesor pun membawa kami mendekat sesuai perintah Olivia.
Kami sampai di dekat mobil yang di panggil BTR-90 itu, di sekitar mobil itu terdapat jejak serigala dan sebuah jejak serigala yang besar. Dapat dipastikan jejak besar itu adalah milik manusia serigala, di bagian badan BTR-90 itu terdapat bekas cakaran. Bekas cakaran dalam, cakaran itu hampir menembus mobil baja ini. Mengingat betapa tebalnya mobil ini, cakaran itu pasti sangat kuat. Jika tak menghindari serangan manusia serigala itu sepertinya badan manusia bisa terbelah.
Joseph mengecek isi BTR itu, dia masuk melalui pintu yang terbuka. Untungnya mobil ini tidak runtuh sehingga masih memungkinkan untuk memasuki mobil yang terbalik ini, Joseph masuk secara perlahan. Dia masuk sekitar setengah menit, dari luar kami mendengar suara seseorang muntah.
Oliva segera mengeceknya, aku memutuskan untuk ikut. Saat kami sampai di dalam akhirnya aku tahu apa yang membuat Joseph sampai mual.
Terdapat pemandangan yang mengerikan, ada dua mayat tergeletak dengan kondisi mengerikan. Tubuh mereka dipenuhi bekas gigitan, dan lebih mengerikan lagi isi perut salah satu mayat itu keluar.
Oliva menutup mataku, “Lucy jangan melihatnya, ini tidak pantas bagi anak-anak.”.
Kami akhirnya keluar, Oliva membantu Joseph keluar, tubuhnya gemetar, aku bisa melihat keringat mengucur darinya, aku yakin itu adalah keringat dingin.
Saat kami berada di luar Joseph muntah kembali, profesor memberikan air dan mencoba menenangkan Joseph.
“Sebagai seorang tentara hal seperti ini memang tidak bisa dihindari, aku tahu persis bagaimana perasaan Joseph, tapi aku terkejut kau masih tetap tenang Lucy,” ucap Olivia menyerahkan botol air padaku.
“Aku sendiri tidak tahu, aku juga bingung kenapa aku masih bisa tenang....”
“Sudah kubilang kalau kau itu unik, jarang sekali ada orang yang begitu,” Profesor menyela.
“Oh jadi ini maksud dari waktu itu, saat kau bilang aku mendapatkan teman yang unik” ucap Olivia seperti seseorang yang baru saja memahami sesuatu.
“Ya, kurang lebih begitulah, tapi sepertinya aku tidak salah, kau memang mendapatkan teman yang unik.”
Mereka memang membicarakanku, tapi aku bingung apa maksud mereka membicarakanku. Tapi karena kejadian tadi aku semakin bingung dengan diriku, jika aku memang tidak siap dengan kematian seharusnya tadi aku merasa ketakutan. Aku tidak takut dengan kematian, aku tidak punya tujuan untuk hidup. Tapi aku merasa tidak nyaman dengan “mati” apa yang sebenarnya menggangguku.
“Hey kalian, coba lihat ini!” Teriak Olivia meminta kami ke tempatnya. Aku mendekat dan di sana terdapat sebuah jejak. Ada jejak ban dan beberapa jejak kaki, jejak kaki itu menghilang saat mendekati jejak ban.
__ADS_1
Profesor dan Joseph yang sudah mulai tenang mendekat. “Sepertinya mereka yang selamat berhasil kabur dengan menaiki mobil yang lain. “Hanya ada 4 orang di Panser Anoa, aku yakin mereka pasti menaiki Panser Anoa.” Joseph menjelaskan.
Kami bersiap untuk mengikuti jejak kendaraan yang mereka sebut Panser Anoa, kami berjalan cukup cepat. Kami melaju mengikuti jejak itu, namun di tengah perjalanan kami mendapatkan kesialan.
Ada 3 serigala berkepala dua yang mengikuti, mereka berlari dengan cepat sehingga kendaraan kami bisa ikuti. Melihat itu profesor menambah kecepatan, sementara Oliva dan Joseph menembaki serigala itu. Mengenai target dengan kecepatan seperti ini memang sangat sulit, apalagi serigala-serigala itu harus di tembak di kedua kepalanya agar bisa di lumpuhkan. Tembakan beruntun dari Olivia dan Joseph tak sia-sia, dua dari serigala itu sudah berhasil di kalahkan. Saat keadaan mulai terkendali tiba-tiba ada lebih banyak.
Kami masih mengikuti jejak itu, jumlah serigala itu semakin lama semakin bertambah banyak. Kami tak memiliki pilihan lain selain bergabung dengan pasukan yang tersisa, itu pun jika mereka masih selamat.
Kami melewati daerah dengan bagian sisi kirinya terdapat jurang yang cukup curam, kami melaju cukup cepat. Untungnya profesor Hopper ahli dalam mengendarai kendaraan.
Kami berhasil lolos dari kejaran para serigala.
“Letnan di depan terdapat semacam desa,” ucap Joseph sambil mengeceknya dengan teropong.
Joseph memerhatikan desa itu, “Letnan, lihatlah di antara rumah di desa itu, ada semacam kendaraan besar.” Joseph menyerahkan teropongnya pada Olivia.
Olivia mengecek desa itu dengan teropong, dia mengkonfirmasi apa yang di katakan oleh Joseph.
Kami masih ada di daerah yang memiliki jurang, jalannya menipis tapi masih bisa di lewati dengan mudah. Kami membuat kendaraan ini sejauh mungkin dari jurang, jalannya menipis tapi masih cukup besar. Jarak kami dengan jurang sekitar 2 meter, jadi aku bisa mengatakan kalau kondisi saat ini tidak terlalu parah.
Kami terus bergerak mendekati desa yang di maksud, desa itu mulai terlihat jelas, dari desa itu ada di dekat sebuah hutan, jika dilihat dengan lebih jelas hutan itu adalah hutan yang sama yang ada di dasar jurang di pinggir kami.
Kendaraan yang di maksud oleh Joseph mulai terlihat jelas dengan mata telanjang, Joseph menggunakan teropongnya untuk melihat Panser Anoa Yang ada di antara rumah itu lalu melaporkannya.
“Aku menangkap adanya pergerakan di dekat kendaraan itu.”
Angin harapan mulai bertiup, begitulah yang ada di benakku.
Namun harapan tak akan selalu sesuai dengan kehendak, meski aku benci mengatakannya tapi aku rasa kali ini benar. Saat harapan mulai terlihat, hal buruk terjadi. Di depan kami sudah ada manusia serigala yang menghadang, ia menghadang kami.
Profesor segera menghentikan kendaraan ini, kami berhadapan dengan manusia serigala ini. Olivia memerintahkan Joseph untuk menyiapkan granat, Oliva mengisi ulang peluru senjata yang terpasang di kendaraan ini, ia bertukar tempat dengan Joseph untuk menggunakan senjata kendaraan ini.
Seakan-akan menerima tantangan kami, manusia serigala itu mengambil posisi dan mengangkat batu dengan ukuran cukup besar yang ada di sebelahnya menggunakan tangan kirinya.
Dengan aba-aba dari Olivia, Joseph melemparkan granat-granat yang telah ia siapkan. Manusia serigala itu melindungi wajahnya, granat itu meledak. Ledakan itu membuat Manusia serigala itu hampir kehilangan keseimbangan, granat itu meledak meskipun ada jeda waktu sebentar, karena Joseph tak bisa melemparkan semuanya sekaligus.
Begitu seluruh granat di pastikan meledak profesor langsung tancap gas, manusia serigala itu menurunkan tangan yang melindungi wajahnya. Ia mengangkat tangannya mencoba mengayunkannya. Tapi tepat sekali Joseph langsung melemparkan Flashbang ke wajah manusia serigala itu, manusia serigala itu terkejut dan melepaskan batu yang di pegangnya.
Karena terkejut manusia serigala itu mengayunkan tangannya secara sembarang, dan itu mengenai kendaraan kami yang mencoba melewatinya. Tangan manusia serigala itu mengenai bagian belakang kendaraan, membuatnya terguncang dengan kuat.
Karena guncangan itu aku kehilangan pegangan dan terjatuh, ke dalam jurang yang ada di sisi kami.
Aku terjatuh ke jurang, sekilas aku melihat Olivia berusaha menangkapku.
__ADS_1
Ternyata dia memang orang yang baik.
Walau hanya sekilas aku bisa mendengar suara kendaraan itu tancap gas, hal berikutnya yang kutahu hannyalah tubuhku semakin menuju semakin ke bagian yang lebih rendah. Aku mengambil posisi untuk melindungi kepala dan leherku.