![[I]Logical (Dalam Masa Rework)](https://asset.asean.biz.id/-i-logical--dalam-masa-rework-.webp)
Part 4
“Lama tak bertemu Lucy....”
Mendengar suara itu aku membuka mata, aku menyadari aku ada di sebuah lorong. Lorong ini cukup tak asing, aku kebingungan bagaimana aku bisa di sini. Yang terakhir kuingat adalah aku terjatuh ke dalam jurang.
Aku mencoba menelusuri tempat ini, aku berjalan beberapa langkah dan tempat ini memang tidak asing. Aku berjalan lurus melewati beberapa pintu. Aku berhenti di depan pintu yang terdapat pertanda jalan menuju bagian bawah tanah, aku memutuskan menghindari tempat itu.
Aku masih berjalan sampai pada akhirnya aku menemukan pintu menuju keluar, aku membuka pintunya. Kesan pertamaku saat membuka pintu. Tidak salah lagi, tempat ini memang tempat sialan itu.
Pohon besar yang ada di tengah lapangan, sebuah ayunan terpasang di cabang pohon besar itu. Lorong, desain, dan jumlah pintu yang berjarak sekitar 3 meter tiap pintunya. Juya tempat resepsionis, ruang tamu. Dan kamar-kamar yang terlihat nyaman, yang aku yakin dibuat untuk pekerja di tempat ini..
Tempat ini sangat familier denganku, dan ini adalah tempat yang benar-benar tak ingin kudatangi.
Aku menampar kedua pipiku.
“Fokuslah! Tempat ini tak nyata, aku sedang berhalusinasi.”
Aku mencoba menenangkan diriku, jika aku sampai kehilangan kendali di sini aku yakin aku tidak akan selamat. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan, aku mulai merasa tenang. Mungkin aku tak seperti orang yang panik, tapi jauh lebih mirip seperti aku merasa sangat ketakutan.
Tempat ini. Tidak tempat yang saat ini ku halusinasikan, bagiku adalah siksaan yang sangat perih, sampai-sampai membutaku merasakan sakit bukan hanya di fisik tapi juga pada mentalku.
Saat aku merasa tenang dan sanggup untuk bergerak lagi tiba-tiba angin yang kencang berembus. Angin yang kencang membuatku terpaksa menutup mataku karena debunya, rambutku tertiup angin. Begitu angin itu berhenti bertiup aku membuka mataku, aku langsung terbelalak dengan yang kulihat.
Seorang wanita dengan rambut hitam panjang yang menutupi punggungnya, menggunakan baju berwarna biru gelap khas perawat tempat ini. Dia menghadap ke pohon lalu berpaling secara perlahan. Ia menggunakan kacamata, dari balik kacamatanya aku dapat melihat kengerian dari tatapannya.
Tanpa membuang waktu aku segera berlari, aku yakin sekali siapa itu. Aku berlari masuk ke dalam, aku berbelok menuju lorong di tempat aku pertama kali sadar.
Namun wanita mengerikan itu ada di ujung lorong itu, aku segera berputar. Dan dia juga ada di depan pintu sebelumnya. Aku kembali berlari menjauhi wanita itu, aku mencoba melewati lorong yang lain. Dan mimpi buruk macam apakah ini, wanita itu selalu muncul di depanku, ke mana pun aku pergi.
Aku berlari ke segala arah, namun itu tak membantu. Saat aku sadar tak bisa pergi ke mana pun, aku berakhir di pintu masuk menuju bagian bawah tanah. Dengan terpaksa aku masuk ke sana.
“Tempat mengerikan ini,” gumamku.
Di kiri dan kanan pada bagian bawah tanah ini terdapat kamar yang sangat tertutup.
Aku melihat sekitar, semua ruangan di sini tertutup sangat rapat. Aku melihat pintu yang ada di ujung, pandanganku terpaku pada pintu itu. Ruangan lain di buat benar-benar tertutup, tapi yang satu ini jauh lebih tertutup, ruangan ini benar-benar terisolasi dari luar.
Aku benar-benar terfokus pada pintu tersebut, pintu Itu terbuat dari besi yang sangat tebal.
Aku berjalan mendekat.
Krttttt...!
__ADS_1
Suara pintu besi tebal itu bergerak
.
Pintu itu terbuka secara mendadak, hal itu membuatku tertegun. Setelah pintu itu terbuka secara penuh, yang kulihat adalah wanita itu, wanita yang mengejarku.
Aku mencoba lari tapi badanku kaku tak bisa bergerak, aku bahkan tak bisa mengalihkan pandanganku. Ternyata tubuhku di ikat oleh sesuatu yang hitam, mirip dengan bayangan. Bayangan yang tercipta tanpa ada objek dan bisa bergerak, bayangan itu bahkan bisa muncul ke permukaan mengikat tangan, kaki, bahkan kepalaku.
Tubuhku di tarik oleh bayangan-bayangan itu, benda-benda aneh yang mirip bayangan itu seperti benda padat, bayangan itu benar-benar menyentuh tubuhku. “Selamat datang kembali....” Suara itu berasal dari perempuan sialan itu.
Ruangan itu gelap, benar-benar gelap. Berbeda dengan sebelumnya, meskipun ruangan itu tertutup tapi masih ada pencahayaan dari lampu. Sedangkan tempat ini benar-benar tertutup, tak ada pencahayaan yang baik, dan cahaya dari luar juga hanya masuk melewati celah yang benar-benar kecil di pintu ruangan ini.
Seperti yang kukatakan tempat ini benar-benar tertutup, tempat ini juga tak bisa dimasuki banyak orang karena sirkulasi udara yang buruk. Jika untuk waktu yang lama saluran udara di tempat ini hanya bisa menahan dua orang, lebih dari itu orang yang ada di ruangan ini akan mati perlahan karena kekurangan pasokan oksigen. Begitulah seingatku mengenai detail ruangan mengerikan ini.
Aku melihat sekitar, mataku mulai menyesuaikan dengan keadaan sekitar, namun tetap saja sulit untuk melihat sesuatu. Meskipun tidak terlihat dengan jelas, aku tahu kalau wanita itu ada tepat di depanku.
Srek...
Suara seseorang menyalakan korek api kayu.
Nyala korek api itu mendekat padaku, karena cahaya dari korek api itu aku bisa melihat wajah wanita itu di balik kegelapan. Ia makin mendekat, wajahnya makin jelas.
“Tidak!... Menjauhlah!” teriakku. Wanita itu tertawa mengetahui aku ketakutan, ia makin mendekat.
Wanita itu berbicara, aku berusaha tak mendengarnya. Namun sekeras-kerasnya aku mencoba aku tetap bisa mendengar suaranya. Suara wanita itu dingin, kejam, mengerikan. Aku tak tahu bagaimana mengatakannya tapi bagiku seperti itulah rasanya. Aku ingin menutup telingaku tapi kedua tanganku di tahan oleh bayang-bayang aneh itu.
“... Aku tidak pernah bilang kau diizinkan bicara Lucy....” Hanya mendengar itu tubuhku merinding, rasanya aku bisa saja kehilangan kesadaran. “... Anak nakal harus di hukum. Lucy kecilku, aku harus menghukummu.”
Aku merasa ketakutan, aku benar-benar kacau. Aku bisa melihat di wajah wanita itu, kengerian terpancar dari wanita itu. Aku tahu ia akan melakukan sesuatu kepadaku, aku menutup mataku.
Tak lama kemudian aku merasakan sebuah pukulan di bagian perut.
“Lucy! Hey sadarlah!”
Suara ini, tidak mungkin apakah ini halusinasi?.
Aku membuka mataku perlahan.
Pendengaranku tak membohongiku, itu adalah suara Olivia, ia ada di depanku.
“... Olivia bagaimana ka-,” saat aku ingin bicara aku terhenti karena rasa sakit di bagian perutku. Aku memegang perutku, aku sudah bisa menggerakkan tanganku, bayang-bayang aneh itu juga sudah hilang.
Olivia mendekat dengan panik.
__ADS_1
“Apa kau memukulku?” tanyaku.
Olivia membuang wajahnya, ia melihat sekitar. Aku yakin ia tidak tahu apa yang harus ia katakan, memukul orang lain secara tiba-tiba memang hal yang tidak pantas.
“Sebelumnya aku ingin bilang maaf, aku terpaksa melakukannya karena kau hanya diam dalam keadaan menunduk, dan kau tidak merespons saat aku bicara padamu, aku kebingungan jadi aku secara spontan memukul perutmu.” Olivia menjelaskan dengan nada seperti orang yang menyesal, aku yakin ia benar-benar ingin minta maaf jika didengar dari nada bicaranya.
Aku berdiri sambil memegangi perutku dengan tangan kananku, “Yah apa pun itu aku berterima kasih, kau menyelamatkanku lagi.” Ucapku.
“Hey Lucy, kau bukan orang yang menyukai rasa sakit kan?”
“Ha?”
"Aku tak ingin mengatakannya, maksudku kau bukan seorang masokhis kam?".
Bukannya aku tidak tahu apa itu, hanya saja itu benar-benar aneh.
“Tentu saja tidak, maksudku tadi aku terkena semacam halusinasi yang sangat parah.”
Olivia mengangguk menandakan kalau ia paham maksudku. Tapi kalau kupikirkan kembali apa yang tadi itu memang halusinasi, tapi aku benar-benar bisa merasakan apa yang terjadi di tempat itu.
Aku melihat sekitar, aku menyadari kalau aku berada cukup jauh dari tepian jurang. Meskipun waktu jatuh aku mungkin saja terguling tapi tidak mungkin sejauh ini. Aku menemukan ada jejak kaki di belakangku, itu adalah bekas seseorang berlari.
Aku berdiri untuk memeriksa jejak itu, “Apa ini jejakku?” tanyaku. Olivia menjawabnya dengan mengangguk.
Didekat jejakku ada jejak kaki lain. Itu adalah jejak sepatu militer, sudah bisa dipastikan kalau itu adalah jejak Olivia.
Aku mengecek jejak di sekitar, tidak ada jejak selain kami berdua.
"...Hey Olivia, apakah efek halusinasi dari tempat ini bisa sangat nyata?"
"Menurut hasil penelitian dari laporan orang yang pernah terkena efek halusinasi, ya memang."
Aku coba memikirkannya dengan seksama, kalau memang benar-benar bisa senyata itu, aku rasa tak perlu ragu lagi kalau itu hanyalah halusinasi.
"Memangnya kenapa?" tanya Olivia.
"Tidak lupakan saja," Olivia menatapku dengan curiga.
"Apa?"
"Sudahlah lupakan saja, kita harus segera pergi dan berkumpul dengan yang lain di desa yang ada di depan."
Olivia segera berjalan sambil senjatanya dalam keadaan siap, aku mengikuti Olivia dari belakang.
__ADS_1