[I]Logical (Dalam Masa Rework)

[I]Logical (Dalam Masa Rework)
Gedung Centurion.2


__ADS_3

Jam 11:53 aku ada di kantin sekolah, ini hari Senin jadi aku sudah harus mulai sekolah.


Malam tadi aku tidur di rumah Alice, ia mengijinkanku untuk tinggal di sana. Aku tak berencana bergantung padanya, tapi mencari pekerjaan sampingan yang cukup untuk membiayai kebutuhanku tidak semudah itu. Belum lagi karena aturan pekerjaan yang tak memperbolehkan murid yang masih aktif untuk bekerja terlalu banyak.


Aku memesan makanan untuk makan siang.


Hah...


Aku bilang tak ingin bergantung pada Alice, tapi aku bahkan membeli makanan menggunakan uang miliknya.


Pikiranku tak tenang, aku terus terpikir dengan mahasiswi waktu itu, lebih tepatnya aku selalu terpikirkan oleh gedung tak terpakai itu. Jika memang ada orang yang mengendalikan makhluk yang waktu itu kulihat di Gedung Centurion, maka sama saja orang itu telah melakukan pembunuhan. jumlah korban sebanyak belasan orang, dia sudah tak bisa di maafkan.


Ada dua orang laki-laki yang mendekat.


“Permisi, boleh kami duduk di sini?”


“Silahkan.” Aku mengijinkan mereka karena kantin memang sedang penuh, dan juga aku tak punya hak untuk melarang mereka.


Mereka makan sambil mengobrol, aku tak begitu mendengarkan perkataan mereka, tapi ada beberapa yang masuk ke kepalaku.


“Hey, apa kau tahu kabar terbaru soal Caroline?.”


“Siapa itu,” ucap teman orang itu.


“Penyanyi yang mengalami kasus kekerasan oleh pacarnya.”


“Oh yang itu, Caroline Demanic kalau tidak salah.”


“Ya itu dia, katanya dia sampai buta karena kejadian itu.”


...


Mereka terus lanjut bicara, tapi aku sudah benar-benar tak mendengarkan mereka. Aku sudah selesai makan tapi mereka masih bicara.


Aku langsung saja kelaur. Tapi kepalaku masih saja di buat bingung oleh siapakah sebenarnya ‘pengendali’ yang mengendalikan makhluk itu.


Setelah kupikirkan lagi sepertinya mengendalikan makhluk itu...


Bagaimana jika bukannya mengendalikan makhluk itu, ialah yang sebenarnya menjadi makhluk itu. Dan cahaya yang waktu itu adalah cahaya yang menghubungkan dengan wujud aslinya, tapi bagaimanapun juga fakta dan data yang ada masih meragukan.


“Ya ampun, hal ini membuatku merasa sedang berada di novel misteri yang di buat penulis amatir.”


Aku terus berjalan untuk kembali ke kelas. Di tengah jalan tiba-tiba aku terkait sesuatu, hal itu membuatku terjatuh.


“Hahahaha,” tiga gadis tertawa sambil berjalan melewatiku.


Mereka di kenal sebagai trio putri, mereka sering sekali berbuat jahil, dan merundung murid yang lain. Bahkan gara-gara mereka seorang siswi yang tidak tahan terpaksa keluar.


Yang ada di tengah adalah anak kepala sekolah, lalu dua lainnya adalah anak orang yang memberikan banyak donasi dan bisa dibilang sebagai orang yang di hormati di sekolah ini. Mereka berpaling melihatku. “Ingat ini, urusan kita belum selesai,” ucapnya lalu pergi.


“Hah, apa maksudnya?”


Tanpa menghiraukan mereka aku mengikuti pelajaran hingga waktunya pulang.


Aku pulang dengan menaiki kereta di stasiun terdekat, ya meskipun aku bilangnya pulang sebenarnya aku hanya mengungsi ke tempatnya Alice. Di tampung oleh orang yang lebih muda rasanya benar-benar tidak nyaman, jangankan yang lebih muda bahkan tinggal di rumah orang lain rasanya agak. Apalagi aku baru bertemu dengan Alice kemarin.

__ADS_1


Aku sampai di depan gerbang rumah Alice, di depan ada sebuah mobil, itu adalah mobil Mayor Sam waktu itu.


Aku masuk lewat pintu depan, di ruang tamu sudah ada Mayor Sam, Olivia, Alice dan Klara.


“Lucy, kami sudah menunggumu,” ucap Mayor Sam.


Aku mendekati mereka, di atas meja sudah ada beberapa dokumen.


“Kami butuh konfirmasi darimu, kami mengumpulkan beberapa data penghuni yang kemungkinan kau lihat waktu itu.”


“Aku tak bisa melihat dengan jelas dia ada di lantai berapa, karena cahaya matahari waktu itu menyilaukan mataku.” Aku mengambil dokumen-dokumen itu.


Dengan mengikuti informasiku mereka mengumpulkan data, dan ada 2 dokumen yang dikumpulkan mereka.


“Kami juga sudah menanyai gadis itu, dia bilang tunangannya ada di salah satu kamar yang ada di lantai itu, tapi dia ada di ujung sebelah kiri, jadi kami tak menaruh curiga, dan waktu itu dia memang tidak di tempat.”


“Lalu untuk apa mahasiswi waktu itu datang ke sana?,” tanyaku.


“Seperti yang kubilang, mereka sudah bertunangan, dan si laki-laki sedang bekerja di luar kota karena itu ia ingin meminta bantuan untuk memberi makan peliharaannya.” Olivia mendekat dan mengatakan itu.


Aku mengecek dokumen yang di berikan, identitasnya tidak lengkap. Bahkan tidak ada namanya, ya mungkin mereka hanya meminta polisi untuk menanyakan mengenai hal ini, tapi karena tidak ada alasan yang pasti pemilik apartemen tidak bisa mengatakannya.


“Apa kau bisa memastikan siapa orang yang muncul waktu itu?” tanya Olivia.


“Aku hanya tahu kalau ia adalah wanita.”


“ Kalau begitu dia adalah tersangka utama,” ucap Olivia menunjuk catatan mengenai data penghuni kamar itu, “Tapi dari datanya dia buta, kau bilang dia langsung berlindung dan menghilangkan makhluk itu saat kau mengarahkan pistol?.”


“Ya memang.”


“Selain semua korbannya adalah wanita memangnya ada kesamaan yang lain?” tanya Alice lagi.


“Mereka semua mempunyai pasangan,” ucap Olivia bergurau, aku bisa mendengar tawa kecilnya.


“Tapi dari CCTV memang para korban beberapa kali terlihat masuk ke bioskop bersama seorang pria” ucap Mayor Sam.


Meski ini masih cacat, tapi itu bisa masuk akal.


“Kalau kalian terlalu banyak berpikir tanpa bertindak tidak akan ada hasilnya, ini bukanlah cerita detektif, kalian tidak mencari penjahat. tapi kalian mencari anomali yang tak dikenal,” ucap Klara menuangkan teh untuk Alice. “lagi pula kalian bahkan tak mempunyai data mengenai nama penghuninya, bagaimana kalian bisa memastikan pelakunya adalah orang itu," tambah Klara.


Ya Klara benar, tidak akan ada hasil jika kami hanya ada di sini. Lagi pula dari awal data yang kami miliki memang terbilang tidak mencukupi. Dari awal memang lebih baik kami langsung kesana, bukannya menghabiskan waktu di sini.


“Kurasa memang seharusnya kita segera ke sana,” ucap Olivia.


Mayor Sam mengangguk, ia segera mengambil kunci mobilnya.


Ini mungkin agak terlambat, tapi aku teringat sesuatu.


“Aku ingin bertanya, si mahasiswi itu kemana?” Aku bertanya sambil melihat sekitar.


“Kami hanya bilang kalau dia di temukan pingsan, jadi dia bilang dia ingin pergi ke kamar tunangannya,” ucap Klara.


Semua melihat ke sekitar, “Bagaimana jika tersangka beraksi mengendalikan makhluk itu dan membuatnya ingin bunuh diri lagi?” ucapku.


“Ya masuk akal," ucapku.

__ADS_1


“Kalau begitu apa yang kalian tunggu, ayo segara ke sana!,” teriak Alice.


Olivia segera menarik tanganku, ia mengambil kunci yang ada di tangan Mayor Sam. Kami segera masuk mobil, tanpa basa-basi Olivia menjalankan mobilnya. Kami bergerak cukup cepat, dalam beberapa menit kami sampai.


Jarak gedung tak terpakai itu dengan rumah Alice memang tidak terlalu jauh.


Olivia masuk ke gedung tak terpakai dengan tergesa-gesa, ia bahkan menyeberang tanpa melihat sekitar. Apa dia yakin kalau 'mahasiswi’ yang kami cari ada di sana.


Aku diam di seberang jalan, menunggu di dekat mobil. Tak begitu lama Olivia keluar, dia menyeberang dan segera ke sampingku.


“Dia tidak ada di sana, sia-sia aku berlari masuk,” ucapnya sambil terengah-engah.


“Memangnya ada yang bilang kalau dia pasti terkena pengaruh dan ingin menghabisi nyawanya lagi?”


“Ya tidak ada sih.” Olivia berjalan ke mesin minuman terdekat, ia membeli sebotol minuman lalu meminumnya.


“Hey, kau tidak lupa kalau kau meninggalkan Mayor Sam kan?.”


Olivia teringat akan hal itu, Olivia tersedak.


Tak begitu lama sebuah motor menepi, Mayor Sam datang bersama dengan Klara yang masih menggunakan baju pelayan.


“Olivia kau!!!” Dari wajahnya aku bisa tahu kalau Mayor Sam marah, ia memarahi Olivia.


Aku berusaha tak memedulikan hal itu. Aku melihat ke lantai 9.


"Tersangka yang kami cari ada di kamar nomor 82.”


“Cahaya matahari memang cukup mengganggu jika melihatnya dari sini,” ucap Klara.


“Ya karena itu hampir ada di ujung aku jadi tidak bisa memastikannya.”


“Kurasa itu hanya karena kau kurang cerdas,” ucap Klara dengan nada datar.


“Meskipun kau mengucapkannya dengan nada datar tapi rasanya kena kehati.”


Klara melihat tajam ke arahku, “Seharusnya kau mencoba mengurangi cahaya yang mengenai matamu menggunakan sesuatu, tapi kenapa tidak kau lakukan?”


“Saat itu aku sedang panik, aku tak tahu apa yang sebaiknya kulakukan,” Jawabku.


"Kalau begitu bagaimana kau tahu jika makhluk itu di hubungkan cahaya ke si pengendali, bahkan tim ahli yang pernah di turunkan gagal menemukan jejak makhluk itu padahal tingkatan energinya besar?."


"Aku sendiri bingung, tapi aku benar-benar melihatnya."


Klara diam, kami mengalihkan pandangan ke Olivia dan Mayor Sam. Mereka sepertinya telah selesai, mereka bejalan mendekati kami.


“Jadi bagaimana kalian sudah siap?” tanya Klara.


Mereka mengangguk.


“Nona Alice menyuruhku untuk membantu, jadi tolong perintahnya Mayor,” ucap Klara lagi.


“Baiklah, ingat jangan membuat orang itu merasa tidak nyaman, kita harus menemuinya dan menanyakan beberapa informasi.”


Kami pun masuk ke dalam di pimpin Mayor Sam.

__ADS_1


__ADS_2