[I]Logical (Dalam Masa Rework)

[I]Logical (Dalam Masa Rework)
Aturan celah ini


__ADS_3

Aku mengikuti Olivia, kami berjalan menuju desa yang dimaksud.


"Hey Olivia, saat ini kita ada di dasar jurang, memangnya dengan berjalan kita bisa sampai ke desa itu?"


Olivia berbalik menatapku.


"Oh soal itu. Tadi kita menyusuri tebing, dan desa itu lebih rendah dari kita, sebenarnya hutan ini ada di ketinggian sama dengan desa itu"


Penjelasan macam apa itu, aku masih tak terlalu paham dengan situasinya. Aku mencoba memahami apa yang dikatakan Olivia.


"Ini," Olivia memperlihatkan sebuah pisau.


"Apa ini?"


"Sesuatu yang kudapatkan di mobil yang kita gunakan sebelumnya." Olivia meletakkannya di tanganku, "Ini adalah Ontario MK 3."


"...." Aku masih tak paham apa maksudnya.


"Ini adalah pisau yang dipakai angkatan laut Amerika Serikat, ini pisau yang sangat tajam, jadi pastikan jangan mengeluarkannya dari sarung kecuali memang genting."


"Aku bukan anak kecil, kau tidak perlu bilang begitu."


Olivia menatapku dengan tatapan tak yakin, "Ya terserahlah, aku hanya bilang." Setelah itu kami meneruskan perjalanan.


Kami berjalan cukup jauh, jika perhitunganku tidak salah kami sudah berjalan sekitar 1 jam. Kecepatan berjalan kami sekitar 3-5 kilometer per jam. Seluruh perjalanan kami berdua hanya diam saja, kami tak mengucapkan satu kata pun.


Kami memang tak berbicara tapi aku tak begitu memperdulikan hal itu. Hanya saja rasanya ada yang tidak beres, aku melihat sekitar. Dari balik pepohonan aku bisa melihat jalan yang kami lewati sebelumnya, jaraknya dari bagian atas ke bagian dasar sekitar tujuh sampai sepuluh meter.


Kalau dipikir lagi seharusnya aku menerima luka. Meskipun aku berhasil melakukan posisi terbaik untuk mencoba bertahan tatap saja aneh sekali, bahkan tak ada noda sedikitpun di bajuku.


Tiba-tiba aku merasakan perasaan menekan yang sangat kuat, rasanya di seluruh lingkungan sekitarku benar-benar membuatku tertekan, tidak lebih tepatnya seperti aku sedang merasakan teror.


"Oliva ada sesuatu yang aneh...." Oliva berbalik setelah aku mengatakan itu, rambut pirang kecoklatannya tertiup angin lalu menutupi wajahnya.


Angin kencang itu terhenti, perlahan wajahnya mulai terlihat. Tapi setelah wajahnya terlihat yang kulihat bukanlah Olivia, melainkan wajah yang rusak.


"...Jadi kau sudah menyadarinya ya."


Semua yang ada di sini, tiba-tiba menghilang, aku berdiri di sebuah ruang hampa. Aku kebingungan dan melihat sekitar, tidak apa-apa di sini kecuali aku dan makhluk aneh yang meniru Olivia.


Aku menatap makhluk aneh itu, perlahan tubuhnya mengering. Tubuhnya benar-benar mengering, lalu dia tertawa dengan keras.


"HAHAHAHA!!!"


Aku menutup telingaku, suara itu benar-benar sangat keras.


Setelah berteriak makhluk aneh itu berubah menjadi partikel-partikel kecil dan menghilang.

__ADS_1


Kegilaan macam apa ini, apa sebenarnya arti ini semua.


Aku mencoba memahami situasinya, aku terjebak di suatu tempat yang di kendalikan oleh salah satu makhluk aneh yang ada di dunia ini.


"Argh..."


Tiba-tiba aku merasakan sakit di seluruh tubuh, rasanya badanku menerima luka yang sangat besar. Aku melihat badanku, tanganku rasanya seperti terpisah secara perlahan.


Tak hanya tanganku, ternyata seluruh badanku juga. Rasa sakitnya benar-benar tak tertahankan.


Tak ada yang bisa kulakukan, pandanganku mulai kabur. Aku sudah menyerah, ya lagi pula dari awal aku tak masalah jika harus berakhir di sini.


Aku menutup mataku, kepalaku rasanya berputar. Tubuhku rasanya sudah mati rasa, tubuhku rasanya menghilang sedikit demi sedikit.


Brak...!


Badanku terhempas ke tanah, kesadaranku mulai pulih. Aku bisa merasakan seluruh badanku.


Aku menoleh ke atas, terdapat pohon yang hidup. Bagian batang pohon itu berbentuk seperti wajah yang marah. Di sekitar ada bunga berwarna merah mencolok.


Aku sudah sadar, tapi telinga rasanya berdengung. Aku menoleh ke kiri ada orang yang melemparkan sesuatu kepadaku, aku melihat benda itu.


Bentuknya tidak terlalu asing, aku merasa baru saja melihat benda itu. Terdengar suara tembakan, tembakan itu di arahkan pada pohon hidup itu.


Aku memperhatikan benda asing yang dilemparkan orang itu. Aku menyadari benda itu mirip dengan pisau sebelumnya, pisau yang muncul saat aku....


Tubuhku tertarik, aku segera berdiri untuk memotong apapun yang melilit kakiku. Itu semacam akar, ya tidak diragukan lagi itu adalah akar dari pohon hidup ini.


Aku menebas akar itu dengan pisau, aku menebasnya beberapa kali hingga akar itu putus.


Akar itu putus, aku segera mencoba bergerak mundur. Namun akar lainnya segera menangkap tangan kiriku, aku mencoba memotong akar itu tapi akar itu selalu bertambah tebal.


Berapa kali pun aku memutuskan bagian akar itu, akar lainnya menggantikannya. Suara tembakan tadi masih terdengar, tembakan itu di arahkan ke batang pohon itu.


Aku berkonsentrasi untuk memutuskan akar yang menangkap tanganku.


Hal yang aneh terjadi, aku melihat akar itu seperti memilik garis-garis yang berbeda warnanya. Ada garis yang berwarna merah, jingga dan kuning.


Tidak ada waktu untuk ini, aku segera menebas akar itu di sekitar garis-garis aneh tadi. Aku menebas di dekat garis yang berwarna merah, dan hal yang menakjubkan terjadi. Tiba-tiba saja dari tempatku menebaskan pisau keluar seperti retakan.


Aku segera menebas pada tempat yang sama sebelum akar itu beregenerasi, aku menebasnya sekuat mungkin. Pisau itu membelah dengan dalam, sama seperti sebelumnya. Terdapat retakan yang berasal dari tempatku menebas, namun kali ini efeknya bukan lagi retakan. Efeknya bukan hanya retakan, namun seperti bekas tebasan yang dalam.


Itu tidak hanya terjadi pada akar yang melilit tanganku, tapi efek sayatan itu sampai mendekati batang pohon itu. Hal yang tidak masuk akal baru saja terjadi, bagaimana sebuah sayatan bisa menjalar sejauh itu.


"Tidak ada waktu untuk memikirkan hal ini," ucapku dalam hati.


Aku segera berlari ke arah orang yang terus menembaki makhluk itu. Ia mengulurkan tangannya, aku memangnya kemudian ia menarikku untuk berlari sejauh mungkin.

__ADS_1


"Olivia?," ucapku dengan nada tanya setelah melihat orang yang menyelamatkanku ternyata adalah Olivia.


"Fokus saja untuk berlari sejauh mungkin!" ucapnya.


"Aku bisa berlari sendiri," Olivia segera melepaskan tanganku, aku berlari mengikuti Olivia.


Aku melihat kebelakang, akar itu mengejar. Kami terus berlari melewati bunga-bunga aneh yang berwarna merah. Kami terus berlari sampai bunga merah itu sudah tak terlihat lagi, aku menoleh kebelakang akar itu tidak lagi mengejar kami setelah berhasil melewati bunga-bunga itu.


Setelah dirasa aman kami akhirnya berhenti. Kaki gemetaran, aku hampir tak bisa lagi berdiri. Aku segera membaringkan tubuhku di tanah.


"Apa-apaan itu tadi?" tanyaku.


"Aku juga tidak tahu," jawab Olivia.


"Bagaimana kau bisa sampai di sini?," tanyaku sambil bernafas terengah-engah. "Tunggu biar kutebak 'Tadi kita menyusuri tebing, dan desa itu lebih rendah dari kita, sebenarnya hutan ini ada di ketinggian sama dengan desa itu' karena itu kau bisa mencapai tempat ini."


"Ya begitulah, bagaimana kau bisa tahu?" tanya Olivia heran.


"Pisau ini," aku menunjukkan pisau yang kupakai tadi, "Ini adalah Ontario MK 3 NAVY seal."


Olivia mengangguk, dari wajahnya aku bisa tahu kalau ia kebingungan kenapa aku bisa mengetahuinya.


"Kau tahu, sebelumnya aku merasakan halusinasi yang sangat nyata. Aku mengikutimu tapi ternyata kau adalah makhluk mengerikan, tapi yang ia katakan pas dengan pikiranmu."


"Kau tidak memakan bunga itu kan?."


Aku menggeleng. "Bunga merah yang ada di tempat tadi adalah salah satu bahan pembuatan narkotika. Aku pernah melihatnya saat ikut melakukan penangkapan bandar narkoba, aku tidak tahu bagaimana bunga itu bekerja. Jadi aku pikir kau memakannya dan berhalusinasi, karena itu aku bertanya." Olivia menjelaskan.


"Tidak tentu saja tidak, aku bahkan tak sadarkan diri sampai tubuhku terhempas ke tanah. Kalau memang aku berkhayal karena efek bunga itu berarti itu bekerja melalui penciuman, tapi itu bisa mengetahui isi dari pikiranmu, bisa berbicara dengan gayamu bukankah artinya bunga itu bisa mengekspos isi kepalamu."


Olivia memikirkannya sebentar, "Dunia ini memiliki aturannya sendiri, sesuatu yang bahkan peniliti kami belum bisa memastikannya. Kemungkinan kalau bunga itu sebenarnya juga makhluk dunia ini sangat besar."


Memang benar, bahkan tanpa meneliti lebih jauh dunia ini memang berjalan sesuai dengan aturannya sendiri. Tak peduli bagaimana logika kita bekerja, tempat ini adalah dunia yang tercipta karena fantasi manusia. Kemungkinan tidak terbatas, tanpa memenuhi hukum alam bisa terjadi dimana-mana.


"Kalau begitu bagaimana kau bisa percaya aku yang sekarang ini adalah aku yang asli?" tanya Olivia.


"Entahlah, aku percaya karena kau menyelamatkanmu."


"Meskipun aku membuatmu harus mencium tanah saat aku membebaskan tubuhmu dari ikatan pohon hidup itu?".


Jadi itu alasannya tubuhku tiba-tiba terhempas ke tanah, ya apa pun itu sudah tidak penting. Olivia tersenyum melihatku, "Kau mudah percaya pada orang yang membantumu rupanya."


"... Aku tidak tahu bagaimana caramu memandangku tapi aku ini orang yang tidak suka berhutang, apa lagi hutang budi."


Olivia mengangguk, "Ya aku paham dengan hal itu," Olivia yang dari tadi bersandar di pohon berdiri, "Kalau begitu bersiaplah kita akan berjalan menuju desa itu."


Nafasku sudah teratur, aku mencoba berdiri kakiku tidak lagi gemetaran. "Sepertinya aku siap untuk berjalan." Kami segera berangkat menuju desa itu.

__ADS_1


Meninggalkan rasa penasaran apa yang terjadi saat aku menebas akar pohon hidup itu, dan Oliva juga sepertinya tidak memperdulikan hal itu. Tak ada alasan aku mengungkitnya.


__ADS_2