[I]Logical (Dalam Masa Rework)

[I]Logical (Dalam Masa Rework)
Zona 13.3


__ADS_3

Zona 13.3


Aku masih tak sepenuhnya percaya dengan cerita Olivia, dunia yang berjalan dengan fantasi dan khayalan manusia?. Itu benar-benar tak masuk akal, tapi aku tak bisa menyanggah hal itu, buktinya ada di depan mataku.


Tiba-tiba Olivia berbicara padaku, bicaranya semakin natural tak seperti sebelumnya.


“Menurutmu bukankah serigala-serigala tadi terlihat seperti cerberus?” tanyanya.


Dalam mitologi cerberus itu bukankah ada di alam bawah, tempatnya para roh?”.


“Yah siapa tahu kalau cerberus itu sedang memburu roh yang kabur” Olivia mengatakan itu sambil tersenyum.


“Kalau kau mencoba menakut-nakutiku dengan itu, aku hanya ingin bilang itu tidak akan bekerja”.


“Hey ayolah, setidaknya berpura-pura ketakutan saja”


Aku menggelengkan kepalaku, “Tak akan, lagi pula cerberus itu berkepala tiga bukannya dua”.


Olivia menggembungkan pipinya, seolah olah dia kesal. Aku terus menatapnya tanpa memalingkan muka, tiba-tiba Olivia tertawa.


Apa yang salah dengan orang ini?. Tertawa tidak jelas apa dia tidak waras.


“Tidak waras”, kata itu membuatku teringat dengan cerita hidupku sendiri. Jika melihat kehidupanku sendiri aku rasa akulah orang yang pantas di sebut tidak waras itu.


Aku tersentak karena Olivia tiba-tiba memukul punggungku. “Apa ada yang salah?” tanyanya.


“Tidak, memangnya kenapa?“ aku balas bertanya.


“Aku bicara padamu tapi kau tidak menjawabku, aku melambaikan tanganku tepat di depan wajahmu tapi kau tidak menyadarinya”.


“Benarkah, maaf sepertinya barusan aku melamun”.


“Kuberi tahu, di sini lebih baik kau tidak melamun seperti itu” ekspresi Olivia serius.


“Mencoba menakut-nakutiku lagi?”.


“Aku serius, saat ini kita ada di Zona 13 Mega, sebaiknya kau tidak lengah sedikit pun”.


“Zona 13 Mega?” itu pertama kalinya aku mendengarnya, Olivia tak mengatakannya sebelumnya.


“Apa aku belum memberitahumu?”


“...”


“Zona 13 Mega atau biasa disebut ZTM, adalah zona fantasi yang isinya lebih dari satu makhluk fantasi”.


“Hah?”


“kau melihatnya kan, ubur-ubur aneh sebelumnya dan serigala itu. Itu sudah menunjukkan kalau di sini lebih dari satu makhluk hasil imajinasi. Zona 13 di kategorikan berdasarkan jenis makhluk yang ada di dunia itu, jika melebihi satu maka disebut Zona 13 Mega, jika lebih dari 10 maka akan disebut Zona 13 Galaxy”.


“Kau tak memberitahuku sebelumnya”.


“Haha, maaf aku lupa”.


Pertanyaan muncul dalam hatiku “Orang ini, sebenarnya bagaimana dia bisa menjadi seorang Letnan?".


Beberapa saat kemudian perutku berbunyi, kalau dipikir-pikir aku memang belum makan sejak aku tiba-tiba ada di tempat ini. Atau bahkan beberapa hari sebelumnya.


Olivia tertawa mendengarnya, “Suaranya keras sekali, kapan terakhir kali kau mengisi perutmu?” ucapnya sambil tertawa.


“Mungkin sekitar 2 atau 3 hari” jawabku.


“Bercanda?” ucap Olivia seakan akan tidak percaya.


“Sejujurnya aku sendiri tidak yakin”.


Dia tiba-tiba memegang kedua bahuku sambil memberikan tekanan, cengkeramannya terasa sangat kuat. “Jawab dengan jujur, apa kau pernah merasa tiba-tiba lemas, apakah penglihatanmu terkadang tiba-tiba kabur?”


“Ehhh, itu”


“Jawab dengan jujur” Olivia mencengkeram bahuku dengan lebih kuat.


“Baiklah, jujur terkadang aku merasakannya”.

__ADS_1


“Ya ampun!” suara Olivia cukup keras, “Seharusnya kau lebih memerhatikan kesehatanmu, kau bisa saja sakit parah jika terus seperti itu”.


Kau mengatakan itu pada orang yang bahkan tidak masalah jika jantungnya tiba-tiba hancur atau berhenti mendadak?.


Olivia terus bicara tapi aku tak benar-benar mendengarkannya, dia terus bicara sampai akhirnya dia bertanya padaku, “Kau mendengarkannya kan?”. Dia bertanya secara mendadak, aku tak begitu mendengar yang dikatakannya sebelumnya jadi aku asal mengangguk saja.


“Kalau begitu katakan apa yang kukatakan sebelumnya!”.


“Eh, itu...”


“Kau tak mendengarkannya huh!”


Dia terus mengomeliku, seperti yang pernah kukatakan sebelumnya memiliki orang yang memedulikanmu rasanya menyebalkan. Tapi sudah lama tidak ada yang mengatakan hal itu padaku, jujur saja aku sedikit merasa "bahagia".


Apakah aku memang begitu?.


Olivia berdiri dan memintaku menunggu, dia keluar dari tenda sekitar 5 menit. Dia membawa dua buah kaleng berbentuk persegi dengan tulisan T1X. Dia masuk sambil membawa semacam kompor kecil, lalu duduk di depanku.


“Tadaa” ucap Olivia sambil duduk di depanku.


“Apa itu?” tanyaku.


“Bukankah kau bilang kau lapar?”.


“Aku tak pernah bilang begitu”.


“Sudahlah, anggap saja begitu”


Olivia memasang kompor kecil itu lalu menyalakan parafin, kemudian ia meletakkan kaleng tadi di atasnya. Aku penasaran apakah itu sebenarnya, aku pun bertanya padanya.


“Sebenarnya itu apa?”


“Tunggu saja sebentar lagi” Jawabnya.


Sekitar 3 atau 5 menit dia mengganti kaleng yang di letakkannya di atas kompor kecil itu dengan kaleng lainnya. Aku masih menunggu dan kebingungan dengan yang dilakukan olehnya, akhirnya dia mengangkat kaleng yang kedua. Setelah mematikan parafin yang dipakai sebelumnya Olivia memberiku sendok.


“Aku rasa kita tidak perlu garpu untuk ini” sambil menyodorkan kaleng yang sebelumnya padaku.


Olivia membuka tutup kaleng itu, aku mengikuti yang dilakukan olehnya. Dalam kaleng itu terdapat semacam nasi dengan warna yang bisa dibilang aneh, aku keheranan dengan hal itu.


“Ah tidak itu bukan masalah” aku masih penasaran jadi aku bertanya, “Hanya saja Olivia, sebenarnya ini apa?”.


“Ini namanya ransum” jawabnya.


“Hah?”.


“Ya mudahnya ini adalah makanan instan khusus yang proteinnya telah di perhitungkan”.


Olivia menyuruhku untuk memakannya, aku mencobanya satu sendok. “Bagaimana menurutmu?” tanya Olivia.


“Yah rasanya tak terlalu buruk”.


“Ini adalah makanan yang biasanya di gunakan pada saat latihan atau saat ada misi lapangan seperti ini”.


Kalau dipikir lagi bagaimanapun Olivia adalah seorang tentara wanita, memikirkan hal itu secara aku tak sengaja aku menanyakan soal umurnya, “Olivia sebenarnya berapa umurmu?”.


“kenapa tiba-tiba sekali?” dari nada bicaranya bisa dipastikan kalau dia merasa aneh dengan pertanyaanku yang mendadak.


“Yah aku hanya penasaran, maksudku dari wajahmu kau tampak masih muda tapi kau memiliki pangkat letnan”.


Olivia diam sebentar, mungkin dia memikirkan apakah harus memberitahuku.


“Yah ini bukanlah cerita yang menarik kalau kau mau tahu akan aku ceritakan, tapi sebelumnya berapa umurmu?”


“Umurku baru memasuki 18 tahun 3 hari yang lalu”


“Serius?, aku 18 tahun 4 hari yang lalu”, dia berbicara dengan nada agak sombong, “Hehehe, aku lebih tua darimu satu hari”.


“Itu bukan hal yang penting”.


“Maaf, aku tidak bermaksud mengalihkan pembicaraan”.


“Ah tidak, kalau kau memang tak ingin menceritakannya tak perlu memaksakannya”.

__ADS_1


Kalau dipikir-pikir lagi aku tidak sopan tiba-tiba menanyakan hal pribadi, apalagi kita baru saja bertemu.


“Kedua orang tuaku adalah anggota militer, aku di ajari oleh mereka sejak kecil. Tapi karena terjadi sesuatu mereka akhirnya berakhir di pemakaman, tahun demi tahun berlalu akhirnya aku menjadi anggota militer yang identitasnya dirahasiakan kecuali di kompi khusus ini”, meskipun dia tidak menceritakan semuanya lebih tepatnya dia tidak menceritakan banyak hal, tapi dia tetap keberatan menceritakannya, itu terdengar dari cara bicaranya.


“Lucy kalau sudah selesai tolong bersihkan ini”, setelah mengatakan itu dia berjalan ke velbed yang ada di sebelah velbed tempat aku terbangun.


“Maaf jika aku menyinggung atau mengatakan hal yang mengganggumu” aku merasa bersalah setelah melihat Olivia seperti itu. Tapi Olivia hanya diam tak menggubrisnya.


Selesai makan aku membersihkan kaleng-kaleng kosong seperti yang dikatakan oleh Olivia, setelah itu aku duduk di velbed yang tepat berada di sebelah Olivia, dia sudah tertidur pulas. Aku hanya duduk melamun selama beberapa saat.


Aku melihat tangan kananku, ditangan kananku ada gelang putih yang terpasang dan tak ada cara membukanya, gelang ini melingkar di tanganku dan ukurannya sangat pas. Tidak bisa di longgarkan, aku melihat bagian bawah ada semacam sambungan untuk gelang ini. Aku mencoba menariknya dengan paksa, tapi tiba-tiba aku merasa tersetrum arus listrik yang menyetrumku berasal dari gelang itu. Tiba-tiba Gelang pintar milik Olivia berbunyi, karena suara dari gelang pintar itu Olivia terbangun.


Dia terbangun dan segera memegang tangan kiriku, dia menariknya dengan kuat.


“Lucy!” Oliva berteriak sambil memegang tanganku.


“Apa!?”.


“Apa yang kau lakukan?”.


“Aku hanya mencari tahu apa fungsi dari gelang ini”.


“Memangnya aku tak mengatakan agar tak mengutak-atik itu?” ucapnya.


“Kau bahkan tak memberitahuku apa ini”.


“Eh, benarkah?”.


Olivia melepaskan tangan kiriku.


Aku memegangi tangan kananku yang mati rasa, untungnya sengatan listrik tadi tak begitu kuat. “Jadi Olivia, sebenarnya ini benda apa?”.


“Itu adalah sebuah gelang pelacak, untuk melepasnya kau memerlukan alat khusus atau benda itu akan menyengatmu seperti sebelumnya”.


“Alat pelacak?”.


“Ya, alat pelacak, kau bilang matamu tiba-tiba berubah warna, dan kami mendeteksi adanya semacam sinyal aneh yang keluar dari dirimu. Hal yang sama dengan makhluk dari DFW, sinyal itu tak berpengaruh apa-apa hanya saja bisa dilacak dengan alat khusus” jelas Olivia.


“Yah aku paham intinya” ucapku, “Tapi tangan kananku benar-benar mati rasa”.


“Yah kalau itu aku tidak bisa membantu”.


“Olivia kau serius?”


“Biasanya itu akan baik-baik saja setelah beberapa saat, jangan memberikan tekanan yang tidak natural pada gelang itu”.


“Hey tunggu dulu, kau bilang sinyal aneh juga keluar dariku?”.


“Ya begitulah, sesuatu yang seperti elektromagnetik atau apalah, kalau begitu aku lanjut tidur dulu” Olivia tertidur hanya dalam beberapa menit.


Aku merasa kalau Olivia terkadang menjadi tak bertanggung jawab. Dan itu membuatku mengingat seseorang, satu-satunya orang yang berarti dihidupku.


Ini sudah beberapa jam sejak gelang ini menyetrumku, tangan kananku sudah kembali normal tapi aku tetap tak bisa tidur. Salah satu alasannya adalah karena aku tidur cukup lama pada siang hari, dan sejujurnya aku merasa ada sesuatu yang buruk.


Aku memutuskan keluar dari tenda dan berkeliling, di sekitar kamp ada beberapa personil yang berpatroli. Aku berkeliling tempat itu, mereka sepertinya tidak masalah asalkan tidak terlalu jauh dari kamp.


Aku melihat ke tanah, ada semacam jejak kaki mengarah ke area semak belukar. Itu jejak yang sama dengan yang ditinggalkan oleh sepatu anggota lain hanya saja memiliki ukuran yang berbeda.


Salah satu anggota yang berpatroli menghampiriku.


“Ada apa?” tanya orang itu.


Aku menunjuk jejak kaki yang kutemukan, “Aku tak tahu apa ini penting, tapi aku menemukan jejak menuju ke area semak-semak di sana”.


“Mungkin hanya buang air”.


“Mungkin”.


“Aku akan menunggu di sini beberapa menit, mungkin orang itu akan kembali”.


Aku juga ikut menunggu, hampir 15 menit berlalu tapi tak ada tanda-tanda orang yang meninggalkan jejak ini kembali.


Beberapa waktu berlalu, tapi masih saja tak ada tanda-tanda orang itu kembali. “Aku akan memeriksanya” ucap orang itu lalu memeriksa senjatanya.

__ADS_1


“Aku ikut” ucapku, orang itu berpikir sebentar, lalu mengangguk. “Jika terjadi sesuatu larilah sekuat-kuatnya, jangan sekalipun melihat ke belakang”.


__ADS_2