![[I]Logical (Dalam Masa Rework)](https://asset.asean.biz.id/-i-logical--dalam-masa-rework-.webp)
Kami pergi melewati daerah gedung-gedung, kami jalan terus ke daerah perbukitan. Kami sudah menaiki bukit, di ketinggian ini aku bisa melihat kota di belakang. Di arah jam 8 dari depan mobil, meskipun belum seluruhnya tapi bisa terlihat Facific Dream Institute.
Institusi pendidikan itu mencakup dari sekolah dasar, bahkan sampai universitas.Kami sampai di puncak bukit. Di pinggiran jalan terdapat pepohonan. Dari sini seluruh kota, dan sekolah bisa terlihat.
Pulau ini adalah, pulau yang muncul karena gempa besar 20 tahun lalu. Pulau ini ada di pertengahan Samudera Pasifik, dengan ukuran kurang lebih sekitar 1000 KM².
Pulau ini di awasi langsung oleh PBB, tidak ada negara yang benar-benar memiliki hak kepemilikan atas pulau ini. Karena hal itu banyak yang tertarik pindah ke pualu ini. Dan itulah penyebab rawannya terjadi tindak kriminal, karena saking banyaknya pendatang yang datang dan sulit melacak pelaku PBB memutuskan pulau ini untuk di perkuat penjagaannya. Mereka meminta setiap negara yang penduduknya menetap di pulau ini agar mengirimkan pasukan perdamaian mereka.
Itu bukanlah keputusan yang buruk, 4 tahun lalu kelompok mafia berhasil di tuntaskan hingga ke akarnya. Aku sebenarnya punya beberapa transaksi dengan kelompok mafia itu, meskipun aku saat itu masih terbilang muda tapi aku berhasil menjalin hubungan dengan mereka dan itulah kenapa aku tak ingin mereka memeriksa dokumen yang kupalsukan.
Kami sudah berjalan sekitar sepuluh menit, aku jadi semakin curiga karena kami sudah masuk ke daerah selatan pulau. Daerah yang mana tidak berpenghuni, bukan karena pulau ini kehabisan orang-orang yang tertarik. Tapi karena memang akses ke daerah selatan sangat di batasi. Sekitar 4 hektarnya di khususkan untuk militer, dan sisanya dibiarkan sebagai kawasan hutan lindung.
Mengingat seluruh negara yang punya kewajiban mengirimkan pasukannya ke sini, 4 hektar kawasan militer mungkin tidak terlalu aneh.
Tapi karena itulah terjadi keterbatasan lahan, hingga batas penduduk di perketat, hanya diperbolehkan maksimumnya 500.000 penduduk. Dan izin penduduknya di periksa dengan ketat, jika bukan karena bantuan para mafia mungkin aku sudah ketahuan. Tapi meskipun aku bilang bantuan sebenarnya aku harus mengeluarkan uang yang cukup banyak.
Aku mengeluarkan sekitar 1000 dolar lebih, andainya saat itu aku tak bermain dengan bukti aku tak yakin bisa mendapatkannya. Mengingat itu empat tahun lalu sulit sekali untuk bisa mendapatkannya. Jangankan saat itu, sekarangpun kalau dipikir aku hanya berhasil karena keberuntungan.
Setelah perjalanan kurang lebih 45 menit kami akhirnya sampai di perbatasan yang dijaga militer. Olivia dan Mayor Sam melakukan pengecekan, aku hanya diam di mobil.
Mereka kembali, dan gerbangnya di buka. Mobil ini kembali bergerak, bergerak masuk ke terowongan.
Saat dalam terowongan aku bertanya pada mereka.
"Untuk apa aku ikut kesini?"
Olivia tersenyum licik, "Kami penasaran dengan perubahan yang terjadi padamu, jika ilmuwan kami berhasil mendeteksi hal yang aneh, mungkin mereka akan menjadikanmu bahan uji coba."
"Kau bercanda kan?", Olivia tak menjawab, ia hanya tersenyum.
"Olivia, jangan bercanda seakan-akan ilmuwan yang ada di sini adalah orang yang tidak berperikemanusiaan."
"Hehehe, aku maaf."
Bukan berarti aku percaya yang dikatakan Olivia, hanya saja ada kemungkinannya dan itu akan mengerikan.
Kami masuk ke tempat parkir sebuah bangunan. Bangunan ini terbilang cukup lebar, dan gedung ini memiliki sepertinya memiliki dua lantai.
Kami turun, aku mengikuti Olivia dan Mayor Sam. Kami melewati jalan yang berkelok-kelok, aku memeriksa sekitar. Jika tiba-tiba situasi tidak baik untukku, aku akan segera keluar. Aku mengingat jalan, ruangan, dan jumlah penjaga.
semoga saja semulus itu.
__ADS_1
Kami terus berjalan sampai masuk ke suatu ruangan, Olivia membuka pintunya. Aku masuk mengikuti Olivia.
Saat aku masuk, di sana ada seorang pria yang kemungkinan memiliki umur yang tidak jauh berbeda dari Mayor Sam.
Mereka saling menyapa, Olivia mengenalkanku pada orang itu.
"Profesor Husein ini adalah Lucy, orang yang kami katakan sebelumnya."
Orang itu mendekat, ia mengambil tanganku. "Aku Professor Husein Nasution, senang bertemu denganmu."
Hal itu membuatku kaget, dan bingung bagaimana cara menanggapinya.
"Eh-ya," ucapku dengan canggung.
Orang ini memeriksa tubuhku, dari depan dan belakang. Ia melihat kemataku, ia memegang wajahku. Profesor itu melihatnya dengan lebih jelas. Aku merasa kalau ini sudah kelewatan.
"Ugh." Aku memukul perut orang itu, tak hanya sampai situ aku juga menendang ***********.
Ia terjatuh ke lantai dengan kesakitan.
Tiba-tiba seseorang berbicara dari belakang.
"Oh Alice kau sudah kembali," ucap Olivia.
Ia melambaikan tangan, "Aku senang kalian berdua bisa kembali dengan selamat," ia mengalihkan pandangannya padaku, "Sepertinya kalian membawa tambahan satu orang."
"Ya begitulah, tapi kali ini kami kehilangan dua orang, dan 4 orang terluka parah." Dari wajahnya Olivia bisa kupastikan ia merasa bersalah.
"Tak perlu bersikap seperti itu, semuanya sudah tahu kalau itulah resikonya."
Mereka masih berbincang-bincang, pandanganku tertuju pada sebuah kalender. Kalender itu menunjukkan ini adalah tanggal 12 Oktober 20XX.
Bagaimana bisa, terkahir kali aku melihat tanggal adalah tanggal 2 Oktober. Aku ingat sekali aku bersama pasukannya Olivia hanya sekitar dua hari, tapi ini sudah tanggal 12.
Aku benar-benar tak paham, akhirnya aku bertanya.
"Aku bangun pagi ini, dan aku sudah ada di rumah sakit, apa kalian tahu bagaimana aku bisa ada di sana."
"Orang yang di utus pihak sekolah untuk mencarimu menemukanmu pada tanggal 10, dia bilang pihak sekolah mengutusnya sejak tanggal 7 tapi ia tak bisa menemukanmu. Tapi ajaibnya saat ia mengecek kamarmu ia menemukanmu dengan penuh luka dan tak sadarkan diri," ucap Mayor Sam.
"Kami kembali pada tanggal 9, kami langsung mengecek kamar yang kau katakan, tapi kami tak bisa menemukanmu, dan kau di temukan pada tanggal sepuluh di tempat kami mencarimu." Olivia melanjutkan penjelasan Mayor Sam.
__ADS_1
"Kami mencarimu karena waktu itu kau menghilang secara perlahan, dan juga untuk menyampaikan pesan yang diberikan Kopral William padamu." Nada bicaranya berbeda, ia bicara dengan nada yang sedih.
"Ada apa dengan pesan dari Kopral William?."
Olivia menjawabnya dengan ragu, "Itu... sesuatu terjadi pada anaknya."
Aku melihatnya dengan kebingungan, "Alice bagaimana kalau kau coba periksa keadaan orang ini dulu, lagi pula sepertinya Letnan Kebingungan bagaimana cara mengatakannya." Ucap Profesor Husein berdiri sambil menahan rasa sakit.
Sepertinya tinjuanku tak terlalu terasa, tapi tendangan itu sepertinya terasa sakit.
Akhirnya aku mengikuti gadis yang bernama Alice itu, ia melakukan pemeriksaan kesehatan dan sebagainya. Sambil memeriksaku aku bertanya padanya.
"Kalau dari tinggimu sepertinya kau lebih muda dariku, kenapa kau bergabung di sini?"
"Ayahku adalah teman dari Profesor Husein, tapi ia meninggal karena serangan jantung, aku memutuskan untuk jadi murid Profesor Husein dan ikut membantu di tempat ini," ia mengecek detak jantungku, "Oh ya, meskipun aku lebih muda darimu tapi aku sudah di nyatakan lulus dari universitas terkemuka."
"Serius?" tanyaku tak percaya.
Alice menunjuk ke sebuah foto, foto itu adalah ia sedang melakukan upacara wisuda.
"Waw...." Aku kagum dengan gadis ini.
"Pemeriksaan fisik selesai, sepertinya yang tidak normal hanya di bagian matamu, apakah itu sakit?"
"Tidak jawabku."
"Untuk saat ini tak ada yang bisa kami lakukan dengan matamu."
Jawab yang sebenarnya sudah kuduga, tapi tetap saja aku agak kecewa. Aku berdiri dan mengenakan pakaianku, gadis itu mendekat.
"Aku Alice Cooper, senang bisa bertemu denganmu, maaf untuk kelakuan guruku, dia memang sangat terobsesi dengan dimensi itu."
"Alu Lucy, tapi pemerintah menuliskannya Lucy Lucinda meski aku tak menyukainya."
"Lucinda?", Alice mencoba mengingat sesuatu, "Tidak lupakan, hanya saja aku rasa aku pernah nama itu."
"Ya itu nama yang kadang kali muncul, mungkin kau pernah mendengarnya di suatu tempat."
Alice mengangguk, kami keluar dari ruang pemeriksaan.
Kami akan bertemu Olivia dan yang lainnya, saatnya mendengar alasan Olivia merasa kesulitan mengatakan apa yang terjadi pada pesan Kopral William, lebih tepatnya apa yang terjadi dengan anaknya.
__ADS_1