
Wajah Maikel pias, saat melihat siapa yang muncul dari balik pintu ruangannya.
"Kau..." Pekik Luiz dengan emosi yang membuncah saat melihat Liandra.
"T-tuan Luiz," Liandra tak menyangka jika Luiz berada di perusahaan itu saat ini, sebelumnya Maikel berkata jika papinya berada di singapore untuk menjalan perusahaan barunya di sana.
"Untuk apa kau di sini?" Ketus Maikel.
"Maaf, aku hanya ingin bertemu Maikel!" Seru Liandra.
"Apa kalian masih berhubungan, Maikel?" Tanya Luiz dengan nada marah.
"Pi, itu tidak seperti yang papi pikirkan! Liandra di sini, karna aku ingin mengajaknya bekerja sama!" Bohong Maikel.
"Kerja sama apa uang akan kau jalankan dengan wanita ini? Kau ingin membual padaku! Tidak bisa, Maikel. Tidak bisa. Luiz tak dapat di bohongi. Dia tahu apa yang ada di pikiran Maikel.
"Pi, Liandra akan mempromosikan barang kita Pi." Ujar Maikel.
"Baiklah! Berikan konsep rencananya!" Seru Luiz pada Maikel.
"Kon-konsep. Konsepnya... Belum di buat, Pi!" Maikel kelabakan saat papinya dengan cepat meminta berkas konsep rencana mereka.
"Haa! Kalian pikir aku tidak tahu, apa yang kalian rencanakan sejak dulu. Maikel, kau akan menyesal telah menyia-nyiakan Rania hanya untuk wanita ini." Luiz berkata seakan merendakan Liandra yang saat ini yengah berdiri berhadapan dengannya.
"Tuan, Luiz. Kenapa kau begitu tidak suka padaku? Kami saling mencintai, dan lagi pula putramu tidak bahagia bersama Rania." Liandra sudah tidak tahan lagi, dia sangat tidak suka ditunjuk-tunjuk merendahkan dirinya.
"Apa Cinta!! Yang ada pada kalian itu bukan cinta, tapi nafsu. Nafsu yang tidak berdasar." Ucap Luiz.
__ADS_1
"Pi! Apa yang Papi katakan? Kenapa Papi sangat tidak suka pada Liandra." Ucap Maikel.
"Kau mau tahu? Karena jallang ini pernah mengoda papimu sendiri, sebelum bersamamu." Ungkap Luiz.
"Dia hanya menginginkan harta dan ketanarannya saja. Bukan seorang pria, sebagai pendamping." Lanjut Luiz.
Maikel sungguh tak percaya apa yang di katakan Luiz padanya. Maikel berpikir jika Luiz hanya mengarang cerita supaya hubungannya dan Liandra berakhir.
"Papi, jangan mengadah-adah. Itu tidak mungkin. Jika Papi berpikir itu akan menghancurkan kepercayaanku pada Liandra, Papi salah. Aku tidak percaya sedikit pun. Aku tidak percaya." Maikel sedikit mengeraskan suaranya karena emosi tanpa di ketahuinya di balik wajah Liandra menyunggingkan senyuman liciknya.
"Baiklah! Jika kau tidak percaya pada papi. Kau akan lihat sendiri nanti." Ucap Luiz dan berlalu keluar dari ruangan itu dengan emosi.
******
Sementara Erkan sudah menceritakan tentangnya dan Rania pada Nathan. Nathan tak bisa berkata apa-apa lagi setelah mengetahui bahwa Rania masih menjadi istri orang.
Erkan berjanji akan membicarakannya lagi dengan Rania.
Rania harus segera membuat keputusan pada hubungannya dan Maikel setelah itu mereka bisa menjalani hubungan yang sehat.
Kini Erkan telah kembali ke kantor, dan mengajak Rania mengobrol berdua di ruangannya.
"Bagaimana Rania? Apa kau sudah siap menceraikan Maikel?" Tanya Erkan saat mereka beddua duduk di sofa.
"Aku sudah siap sejak lama! Karena pernikahan yang kami jalani sungguh tidak mengenakan. Tidak ada sedikit kesamaan antara kami, yang ada hanya bertolak belakang." Jelas Rania dengan menghembuskan nafasnya malas.
"Lalu, apa lagi yang kau tunggu?" Tanya Erkan.
__ADS_1
"Bukan itu saja! Dalam perjodohan kami, sudah ada kesepakatan. Dan saham diperusahaan Palak, 65% adalah milik ayahku." Jelas Rania.
"Apa? Itu berarti kau adalah pemilik perusahaan itu! Kenapa kau hanya diam saja?" Erkan sangat terkejut dengan pengakuan Rania.
"Dalam perjanjian perjodohan itu, jika salah satu dari kami menggugat cerai maka hak atas saham yang ada akan hilang." Ucap Rania lagi.
"Baiklah. Aku akan membantumu nanti!" Ujar Erkan.
"Apa maksudmu, nanti?" Tanya Rania seperti ada niat lain yang di rencanakan Erkan.
"Nanti setelah kita menikah!" Serunya.
"Apa! Bagaimana bisa? Jika aku menggugat cerai Maikel, maka aku tidak akan dapat apa-apa. Makannya aku menunggu sampai Maikel yang menggugat cerai diriku." Jelas Rania.
"Lalu apa Maikel tahu semua ini?"
"Tidak. Aku tahu semua ini setelah satu tahun menikah dengannya. Tanpa sengaja aku mememukan surat perjanjian dan surat kepemilikan saham itu di ruangan kerja papinya Maikel dan setelah aku bertanya semua itu benar adanya." Ucap Rania.
"Kita akan merebut saham itu setelah kau dan aku menikah!" Seru Erkan.
.
.
.
.
__ADS_1
By... By...