'Kan Kurebut Istrimu

'Kan Kurebut Istrimu
Tidak lihat


__ADS_3

Rania tahu apa yang ada di pikiran Erkan saat ini. Dia segera menyapa Erkan yang berdiri di samping meja makan.


"Apa ini Rania?" tanya Erkan dengan wajah yang menunjukan ketidak sukaan.


"Mas, duduk. Kita sarapan, ya," ajak Rania.


"Tidak. Aku malas," jawab Erkan.


"Eh, eh, bentar aja. Sarapannya udah mau siap. Aku yang masak, loh. Udah capek-capek, nggak di cicip lagi," rajuk Rania seraya duduk di kursi dengan menopang dagunya.


"Iya-iya. Aku tuh, sebenarnya malas banget, liat orang lalu lalang di mansion ini," ungkap Erkan.


"Kenapa emangnya?" tanya Rania.


"Nggak bisa mesraan sama kamu," jawab Erkan.


"Bisa kok." jawab Rania.


"Mana bisa?" ujar Erkan tidak percaya dengan ucapan Rania, karena Rania tidak suka tidak suka bermesraan dengannya saat di depan umum.


"Bisa!" Rania mengambil wajah suaminya dan dengan cepat dia me**mat bibirnya sebentar.


Erkan sampai melotot menghadapi kelakuan istrinya. Padahal di sana ada bi Sumi, tapi Rania sungguh tidak peduli dengannya.


"Bisa, kan?" ujar Rania tersenyum.


"Kamu! Ada Bi Sumi, di sini." Erkan melirik ke arah bi sumi yang sedang melanjutkan masakan Rania.


"Bi. Bibi liat nggak?" panggil Rania.

__ADS_1


"Enggak, Neng!" jawab bi Sumi.


Rania tersenyum. "Tidak ada yang akan melihat kita di sini," lanjut Rania.


"Hei, kamu. Siapa namamu?" tanya Rania pada seorang pelayan yang di panggilnya.


"Iya, Nya. Saya Dewi." jawab pelayan itu, seraya mendekat.


"Jangan panggil, Nya. Aku bukan enyak kamu. Panggil kayak bi Sumi." pinta Rania.


"Panggil, Neng!" lanjut Rania lagi.


"Kok, Neng?" tanya Erkan heran, geli dengan panggilan itu.


"Iya, sayang! Lebih di panggil Neng, dari pada di panggil, nya-nya, nggak enak dengernya. Emang aku enyaknya mereka." canda Rania.


"Eh, iya. Dewi, kamu tadi liat apa, saya sama Tuan?" tanya Rania kembali pada pelayan yang di panggilnya.


"Hm, bagus-bagus." jawab Rania.


Erkan melihat Dewi dan bi Sumi secara bergantian.


"Ada apa dengan mereka?" batin Erkan, sangat membingungkan pikirnya.


Rania tersenyum, dia berhasil membuat Erkan beradaptasi dengan keadaan, walaupun masih agak kaku. Erkan tidak tahu saja apa yang di wanti-wanti Rania pada pelayan-pelayan itu sebelum mereka di bebaskan masuk ke mansion.


Flashback


Jam lima pagi ini, Rania telah beranjak dari tidurnya. Menuju kamar mandi membersihkan badan, kemudian keluar dari kamarnya meninggalkan Erkan yang masih tertidur lelap.

__ADS_1


Rania berjalan menuju paviliun belakang. Rania mengumpulkan seluruh pelayan mansion yang jumlahnya sekitar lima belas orang, di luar bi Sumi.


"Ternyata ramean di sini dari pada di mansion," gumam Rania.


"Ada apa, Nyonya mengumpulkan kami?" tanya bi Sumi penasaran.


"Iya, saya mau bilang. Mulai hari ini, kalian bekerjalah sesuai yang saya perintahkan. Jadi, mulai sekarang kalian bebas masuk ke dalam mansion kapan saja, tidak perlu menunggu tuan pergi baru kalian bekerja, tapi bekerjalah mulai dari pagi sampai pekerjaan kalian selesai. Masalah tuan, nanti jadi urusan saya." ujar Rania panjang lebar.


Para pelayan tak berani berkata, mereka hanya saling pandang satu sama lainnya termasuk bi Sumi.


"Oh, ya Bi. Pagi ini buat sarapan, ya. Mulai sekarang kami akan sarapan di rumah, makan siang dan makan malam juga." lanjutnya pada bi Sumi.


"Baik, Nya." jawab bi Sumi.


"Eh, tunggu-tunggu. Ada satu lagi, ini penting untuk kalian supaya tuan tidak akan marah. Dengar baik-baik, ya..." para pelayan saling pandang menunggu ucapan Rania di lanjutkan. "Di saat di mansion, kalau saya dan tuan sedang berdekatan, kalian akan menjadi buta, apapun yang terjadi. Kalian mengerti?"


"Maksudnya, Nya." tanya bi Sumi.


"Maksud saya, saat saya dan tuan sedang bermesraan jangan di liatin, anggap aja nggak terjadi apa-apa. Bibi, ma. Gitu aja nggak ngerti," jelas Rania dan para pelayan hanya saling tersenyum mendengarnya.


"Dan, jangan menyapa tuan. Sakali pun tabrakan jangan di sapa, itu orang kalian tau. Kalau ngomong mahal, ntar di potong gaji kalian gara-gara nyuruh dia ngomong." lanjutnya dengan canda.


"Ok. Sudah, sakit tenggorokan ngomong terus." Rania mnyapu-nyapu lehernya yang kering karena bicara panjang lebar.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa likenya🖐


__ADS_2