
Tiba-tiba bunyi ketukan di pintu kamar hotel milik Rania.
"Astaga... Apa yang dia lakukan pagi-pagi begini!" Seru Erkan dengan kesal.
"Nia, tutup tubuhmu dengan benar!" Seru Erkan.
Erkan bangkit dari tempat tidur, meraih handuk dan dilingkarkan di pinggangnya.
Klek
"Paman! Ada apa sih? Pagi-pagi, ganggu aja!" Seru Erkan saat membuka pintu karena ketukan yang tiada henti.
"Hai..." Sapa Nathan dengan tersenyum.
"Paman, apa tidak ada kerjaan lain selain menggangguku?" Tanya Erkan dengan kesal.
"Hehehe... Aku hanya ingin mengingatkan! Hari ini miting yang kau tunda waktu itu." Ucap Nathan dengan senyuman mengejek.
"Oh, shiit. Aku melupakannya." Umpat Erkan pada diri sendiri.
Braakk
Nathan sampai terperanjat saat Erkan membanting pintu kamar itu dengan sangat keras.
"Dasar!!!" Umpat Nathan dengan sangat kesal dan berlalu dari sana.
Sedsngkan di dalam kamar, Erkan sedang sibuk mencari pakaiannya, yang entah terkempar ke mana.
"Ada apa?" Tanya Rania dengan penasaran.
"Aku, ada miting hari ini!" Seru Erkan seraya memakai pakaiannya dengan cepat.
"Apa kau tak mandi dulu?"
"Di mandion saja! Aku akan kembali setelah setelah selesai."
__ADS_1
Erkan mengecup kening Rania lembut, "jangan ke mana-mana! Aku akan kembali secepatnya." Ucapnya dan segera berlalu dari sana.
Rania hanya dapat memandang punggung pria itu yang berakhir menghilang di balik pintu, tanpa bisa berkata-kata.
Kini dia telah menyerahkan segalanya untuk pria yang pergi dari kamar hotel itu. Dia tak bisa apa-apa lagi, selain mengikuti apa yang di perintahkan padanya.
Lagi pula Erkan sangat terlihat sangat menyayanginya, tak ada lagi alasan untuk meragukannya. Rania akan menunggu sampai Erkan kembali menjeputnya di hotel. Untuk sementara di hotel saja dulu, untuk mengistirahatkan tubuhnya karena pertempuran semalam.
*
*
Di tempat lain, Maikel sedang bertemu Liandra di di sebuah cafe.
"Aku sudah bercarai dengan Rania." Ujar Maikel.
"Itu baik. Aku lelah menunggu. Sekarang kita bisa bebas dengan hubungan kita tanpa harus bersembunyi dari publik. Apalagi aku seorang model." Ucap Lliandra tersenyum menang.
"Iya! Setelah semuanya selesai kita bisa menikah tanpa ada halangan." Ujar Maikel lagi.
Dia sangat bahagia, saat mengetahui Maikel telah bercerai dengan Rania dan akan menikah dengannya. Bisa dia bayangkan maka karirnya naik pesat bagai roket yang di lepas.
"Ya, kau benar!" Jawab Maikel dengan tidak bersemangat.
Liandra melihat raut wajah Maikel, yang terlihat sangat lesuh.
"Ada apa denganmu?" Tanya Liandra, menatap kekasihnya dengan intents.
"Aku! Tidak ada. Memangnya ada apa?" Maikel mengubah raut wajahnya saat Liandra akan curiga padanya.
"Kau terlihat tidak bahagia! Apa kau memikirkan wanita itu? Kau tidak rela bercarai dengannya?" Cecar Liandra.
"Apa maksudmu? Aku bahagia. Jika tidak aku tidak mungkin menceraikan Rania hanya untukmu."
"Lalu? Ada apa dengan wajahmu? Terlihat kudut sekali, sangat tidak bersemangat!" Seru Liandra yang menaruh perasaan tidak enak.
__ADS_1
"Tidak ada. Akhir-akhir ini bayak pekerjaan di kantor. Mungkin kelelahan saja." Ucap Maikel meyakinkan.
"Jaga kondisimu! Aku tak mau jika terjadi sesuatu padamu." Ucap Liandra.
Akan menjadi masalah yang besar jika Maikel jatuh sakit di waktu dekat ini. Liandra ingin mempercapat pernikahan mereka, agar karirnya pun akan cepat melesat. Setelah itu terserah apa yang akan terjadi padanya, dia tak peduli lagi. Pikir Liandra.
"Trima kasih!!" Ujar Maikel yang menganggap ucapan Liandra sebagai bentuk perhatian.
"Ya!! Aku tidak bisa berlama-lama, karena setelah ini ada pemotretan. Aku pergi dulu!" Pamit Liandra.
"Ya, baiklah. Apa nanti malam aku bisa ke apartementmu?" Tanya Maikel dengan wajah memohon dan memegang telapak tangan wanita yang akan pergi.
"Tidak bisa! Malam nanti aku ada acara dengan rekan-rekanku. Aku tak pulang untuk malam ini," jawab Liandra seraya berlalu dari tempat itu.
Maikel menjadi frustasi, bagaimana caranya fia memberi tahu Liandra apa yang terjadi dengannya dan perusahaan yang akan di ambil alih oleh Rania.
Beberapa detik berlalu, Maikel terbayang akan ucapan papinya dan ucapan Liandra yang hampir sama persis.
"Dia hanya menginginkan harta dan ketanarannya saja."
"Dengan begitu karirku pun akan naik dalam sekejap. Bisa di bayangkan, seorang pemimpin perusahaan nomor 1 di negara ini menikah dengan seorang model ternama sepertiku. Kita akan menjadi sorotan nantinya."
"Apa benar seperti itu?" Gumam Maikel. Kini pikirannya terpecah antara perkataan Ayahnya dan Liandra.
Maikel tak bisa berpikir jernih saat ini. Dia menjadi pusing dengan pikiran-pikirannya sendiri dan memilih berlalu dari dalam cafe.
.
.
.
.
By... By...
__ADS_1