
Sekarang dia tak punya apa-apa lagi, bahkan Liandra telah meninggalkannya dan Rania kini telah menjadi istri orang.
*
Acara ijab kabul telah di laksanakan, kini akan ada acara resrpsi pernikahan. Rania kembali ke kamar ganti, untuk berganti gaun yang sudah di sediakan.
"Jangan lama-lama, ya. Acara resepsinya mau di mulai," ujar Vanesha pada MUA yang akan mempersiapkan Rania.
"Iya, Nyonya." jawab mereka.
Rania pun bersiap-siap dengan bantuan MUA, setelah selesai dia segera keluar, begitu pun Erkan yang telah siap dari kamarnya.
Erkan melangkah menuju di mana Rania menunggunya sekarang. Erkan memberikan tangannya untuk di gandeng oleh Rania, menuju pelaminan. Mereka terlihat sangat serasi dan berbahgia, begitu pun para tamu undangan kecuali Maikel dan keluarganya.
Erkan dan juga Rania berjalan beriringan menuju pelaminan, begitu indah dan megah yang di persiapkan oleh Vanesha.
Erkan dan Rania duduk di pelaminan, membuat semua para tamu memuji pasangan pengantin itu.
Maikel serta Mella yang mendengar ucapan-ucapan para tamu undangan sangat kesal dan iri sekali dengan Rania. Mereka tak suka, dengan Rania kini yang terlihat bahagia.
"Mi, ayo kita kembali," ajak Maikel.
"Ayo," ajak Mella juga. Dia sangat iri melihat Rania saat ini, menurutnya Rania telah merebut perusahaan mereka, walau dia tahu yang sebenarnya.
Luiz tidak datang di acara pernikahan Rania, karena dia harus ke singapore untuk melihat perusahaan barunya di sana.
Beberapa jam kemudian, acara resepsi pernikahan itu hampir selesai. Rania sudah merasa kram di kakinya karena berdiri sejak tadi, untuk menyalami para tamu undangan, ada juga yang memberikan doa mereka untuk kedua mempelai.
"Mas, aku capek." keluh Rania.
"Iya. Mana tamu masih banyak lagi. Aku panggil Ibu ya, biar kamu bisa istirahat," ujar Erkan.
__ADS_1
"Nggak apa, Mas?" tanya Rania.
"Nggak apa. Ibu ngerti kok, pasti." Erkan segera berjalan menuju Vanesha yang berada dengan tamu lainnya.
"Bu," sapa Erkan dari Belakang.
"Nah, ini mempelai prianya! Selamat, ya." satu-persatu tamu tamu yang bersama Vanesha memberikan selamat pada Erkan yang ada bersama mereka.
"Iya, sama-sama." jawab Erkan seraya mengkode Vanesha untuk ikut bersamanya.
"Ada apa?" tanya Vanesha setelah tak jauh dari tamu undangan tadi.
"Bu, Rania capek katanya. Pusing juga, boleh masuk sekarang?" tanya Erkan pada Vanesha.
"Ya, tamunya masih banyak. Trus siapa yang mau menyalami tamu-tamu di sini, dong." jawab Vanesha.
"itulah yang Erkan tanya sama Ibu!"
"Ya, sudah. Panggil Nathan ke mari!" pinta Vanesha.
"Ran, kamu kenapa?" tanya Vanesha.
"Ini, Bu. Kaki Rania terasa karam, mungkin lecet karena kelamaan berdiri." jawab Rania.
"Ya, sudah. Nanti kamu masuk aja, setelah Erkan dan om Nathan kesini. Biar ibu sama om Nathan yang menyalami tamu-tamu, sudah tidak begitu banyak." ujar Vanesha.
"Iya, Bu. Maaf ya, Bu." ucap Rania dengan wajah memelas.
"Nggak apa. Nah, tuh, mereka datang." Tunjuk Vanesha ke arah Erkan juga Nathan.
"Ada apa, Kak?" tanya Nathan.
__ADS_1
"Ini, Rania pusing. Mereka kakak suruh masuk, kita gantiin ddusuk sini, ya." minta Vanesha.
Nathan melirik Erkan sebentar, dan Erkan hanya tersenyum padanya.
"Iya, Kak!" jawab Nathan.
"Erkan, bawah istrimu masuk! Kasian, kakinya lecet, gara-gara tuh hiels," pinta Vanesha.
"Iya, Bu. Ayo," ajak Erkan sambil memberi tangannya pada Rania.
Nathan melihat Erkan dengan penuh kecurigaan, mungkin Erkan yang maksa, pikirnya.
Rania juga Erkan telah sampai di kamar Erkan. Kamar itu telah di hiasi ala-ala kamar pengantin baru oleh WO sewaan mereka.
"Mas, bantu bukain bajunya," pinta Rania yang sudah merasa sesak dengan gaun yang di pakainya.
"Ya, sebentar!" Erkan berjalan menuju Rania setelah membuka jasnya.
Erkan membuka resleting belakang gaun itu, terlihat punggung putih nan mulus milik Rania dan itu berhasil membuat adik kecilnya bangun dari dalam persembunyiannya.
"Nia, sekali saja ya," bujuk Erkan, yang dia tahu kalau Rania sedang tak bersemangat saat ini dan juga benar-benar lelah.
"Hm, Mas..."
Tok tok tok tok
.
.
.
__ADS_1
.
By... By...