
Maikel saat ini berada dalam mobilnya, mengendarainya dengan kecepatan yang sangat tinggi, entah ke mana saat ini dia akan pergi melepaskan segala kekesalannya. Dia terus saja mengendarai mobilnya, tanpa tentu arah, hingga dia teringat akan Liandra. Saat ini dia membutuhkan seseorang untuk berbagi, namun apakah Liandra akan menjadi orang yang tepat untuknya? Mungkin iya, mungkin juga tidak.
Maikel memutar balik mobilnya menuju arah apartement Liandra, berharap Liandra berada di sana.
Tepat saat berada di lobby apartement Maikel pun melihat Liandra yang baru saja ingin keluar.
"Liandra!!" Seru Maikel dari dalam mobil.
Liandra memalingkan wajahnya dan melihat Maikel yang berada dalam mobil, segera melangkah menuju Maikel yang berada di mobil.
"Aku baru saja ingin menemuimu," ujar Liandra saat telah masuk ke mobil.
"Iya, aku juga ingin menemuimu." jawab Maikel.
"Ada apa? Kenapa wajahmu muram sekali?"
"Ada masalah sedikit. Kita ke cafe?" tanya Maikel seraya menyalahkan mesin mobilnya.
"Terserah kau saja."
Maikel menjalankan mobilnya menuju cafe yang biasa di datangi mereka berdua.
"Kau mau pesan apa?" tanya Maikel yang kini tengah duduk di dalam cafe bersama Liandra.
"Seperti biasa saja."
Maikel memesankan minuman untuk mereka berdua sedangkan saat ini Liandra sangat khawatir dengan Maikel yang terlihat sedang muram karena masalahnya.
"Katakan masalahmu!" pinta Liandra.
"Ada masalah di kantor," ucap Maikel lirih.
__ADS_1
Maikel tahu jika Liandra tidak suka akan mendengar kejadian yang terjadi padanya, namun dia harus memberitahukannya karena jika Liandra mengetahuinya sendiri pasti tidak akan baik.
"Katakanlah. Siapa tahu aku bisa membantumu," ucap Liandra yang sudah penasaran dengan apa yang terjadi pada perusahaanya.
"Perusahaan... di ambil alih olrh Rania," ucapnya lirih.
"Apa?" pekik Liandra hingga beberapa pengunjung cafe pun memandangnya.
Liandra sangat terkejut dengan perkataan Maikel, bagaimana bisa Rania mengambil alih perusahaan milik keluarga Maikel, setahunya.
"Rania mempunyai saham 65 % di sana, dan dia mengambil alih kepemimpinanku di perusahaan," lanjut Maikel.
"Tunggu-tunggu, aku tidak mengerti sama sekali. Kau bisa menjelaskannya, Maikel." Liandra sungguh tak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini.
"Ya, seperti itulah, kebenarannya. Ayah Rania menanamkan modalnya sebesar 65 % di perusahaan karena menikah denganku, dan aku baru tahu setelah Rania menandatangani surat perceraian itu." jelas Maikel.
"Berarti kamu, Rania sekarang yang memimpin perusahaan itu. Kenapa tidak di kembalikan saja uangnya?" usul Liandra.
"Jadi sekarang kau bukan siapa-siapa lagi?" tanya Liandra geram.
"Liandra, 15 % dari saham perusahaan adalah milik papi dan papi juga mempunyai perusahaan yang baru di rilisnya di singapore, kita bisa pindah ke sana untuk memulai kehidupan." ucap Maikel ingin menenangkan Liandra yang saat ini terlihat emosi.
"Apa? Kau pikir aku mau! Tidak Maikel, tidak!" ketu Liandra. "Lebih baik hubungan kita sampai di sini saja. Jangan pernah hubungi aku atau mencoba menemui aku, ingat itu."
Liandra berlalu dari dalam cafe dengan emosi yang berada di ubun-ubunnya. Sia-sia hubungannya dengan Maikel, jika saat ini dia tetap berhubungan dengannya maka karirnya pun tidak akan bisa apa-apa.
*
*
Di perusahaan Palakcorps, Rania duduk di kursi yang mana biasa di duduki Maikel dulu. Saat ini dia perasaannya tidak menentu, perkataan Maikel mampu menggoyakan kepercayaan dirinya.
__ADS_1
Bisakah dia memimpin perusahaan yang begitu besar, yang hanya memiliki pengalaman sekertaris yang baru seumur jagung itu.
Erkan pun yang melihat Bella dengan segala kebingungannya dengan segala apa yang ada di hadapannya saat ini.
"Ada apa?" tanya Erkan saat mendekati Bella.
"Aku bingung... apa yang harus ku lakukan?" ucap Bella dengan tatapan memohon.
Erkan tersenyum menatap Rania, "Tenang saja, aku akan membantumu dan kau tidak perlu pusing dengan semua ini. Aku akan memindakan Soni ke mari untuk membantumu di sini,"
Ucapan Erkan di sambut dengan pelukan hangat dari Rania, dia sungguh beruntung mempunyai Erkan yang sangat tulus padanya.
Erkan pun membalas pelukan bahagia Rania, dan mengangap kini wanita itu tak bisa lagi melepaskannya.
*
*
Beberapa bulan berlalu, saat ini Rania sudah banyak belajar dari Erkan untuk mengurus perusahaannya dan dengan bantuan Soni perusahaan yang kini di pimpin olehnya berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan.
"Nia, will you marry me,"
.
.
.
.
By... By...
__ADS_1