
Maikel memaksa Rania membuka mulut agar pusakanya dapat masuk, namun Rania mengunci bibirnya rapat-rapat.
"Hmp... Hmp..." Pekik Rania tertahan karena bibirnya yang terkunci
"Ayo Rania... Buka mulutmu!" Pinta Maikel, dengan hasrat yang menggebu-gebu.
Rasanya Rania ingin memuntahkan seluru isi perutnya dengan semua tingkah Maikel yang menurutnya sungguh keterlaluan.
Dengan terpaksa karena sudah tidak tahan lagi, Rania membuka mulutnya dan setelah itu...
"Aaakkkhh" pekik Maikel.
Gigitan seekor ikan piranha telah memakan pusakanya, pikir Maikel😂
Maikel berteriak sangat kencang saat Wanita di depannya dengan berani menancapkan giginya di pusaka milik Maikel dengan sangat kuat, hingga Maikel bergerak mundur dan Rania bebas dari sekapannya.
Dengan langkah seribu dan tergesa-gesa Rania kembali keluar menuju ke kamarnya, dan seperti yang lalu dia pun bertemu dengan Velo di perjalanan.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau suka sekali berlari dari kamar kakak?" Ucap Velo yang Rania telah menjauh darinya.
"Apa terjadi lagi?" Batin Velo, dia bergerak laju menuju kamar kakaknya dan segera membuka pintu tanpa mengetuknya dahulu.
Klek
"Velo..." teriak Maikel terkejut karena saat ini dia belum memakai sehelai benang pun di tubuhnya.
Praak
Velonia menutup kembali pintunya kasar, setelah itu menyapu dadanya dengan nafas yang ngos-ngosan. Seperti habis di kejar orang.
"Ya ampun!! Mataku ternodai." Umpat Velonia.
Dia tak memperdulikan Maikel lagi, Velonia terus berjalan meninggalkan kamar kakaknya.
Sedangkan di kamar Rania kini dia berada di dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Hueek, Hueek..." Rania mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Kejadian tadi sungguh membuat perutnya terasa di aduk-aduk. Rania sangat jijik mengingat pusaka Maikel ingin di masukan ke dalam mulutnya.
"Hiis... Hueek..." Rania bergidik membayangkan saat membayangkan saat Liandra yang telah melakukan itu dan kini akan Maikel ingin mempraktekan kepadanya.
"Aakkhh" Pekik Rania merasa frustasi.
******
Di mansion Dimatra, saat ini Erkan baru saja selesai mandi dengan hanya mengenakan handuk sebatas pinggang.
Selesai berpakaian, Erkan turun dari kamarnya menuju ruang tv yang tengah berada Gelora dan pengasuhnya, Linda.
"Deddy..." Seru Gelora yang melihat Erkan berjalan ke arahnya.
"Hallo sayang! Bagaimana harimu?" Erkan mengangkat Gelora ke dalam gendongannya kemudian duduk bersama.
"Baik Deddy!! Deddy tidak mengajak Mommy?" Tanya Gelora.
Linda segera berdiri dan berlalu ke arah dapur, kemudian kembali dengan secangkir kopi di tangannya. Walaupun Erkan sangat jarang menyentuh kopi atau teh buatannya, Linda selalu mengambil kesempatan untuk mencari perhatian dari Erkan.
"Tuan, kopinya!" Seru Linda meletakan cangkir kopi di depan Erkan.
"Deddy, kalau besar nanti Gelora mau jadi seperti itu!" Seru Gelora yang sedang menonton film kartun, Frozen dan menunjuk toko utama wanita dalam film kartun itu.
"Tentu saja! Kau adalah princes, dan selalu akan seperti itu." Jawab Erkan.
Linda menatap ayah dan putrinya itu. Dia membayangkan mereka adalah sebuah keluarga kecil yang bahagia.
Setelah selesai menonton film, Erkan meminta Gelora untuk segera tidur.
"Ini sudah malam! Sebaiknya kau tidur." Pinta Erkan dan mendapatkan anggukan kepala dari putrinya.
"Tante Linda, aku mau tidur sekarang!" Ujar Gelora menghempaskan bayang-bayang di pikiran Linda.
__ADS_1
Dengan kesal Linda mengantarkan Gelora untuk tidur.
Linda kembali setelah beberapa saat menidurkan Gelora.
"Tuan, kopinya akan dingin. Sebaiknya di minum sekarang!" Pinta Linda.
Erkan melirik sebentar wanita yang sudah berani memerintahnya, namun sesaat kemudian dia berpikir jika mungkin dia sangat keterlaluan karena tidak menghargai.
Erkan mengangkat cangkir kopi di depannya dan menyesapnya sedikit.
"Gelora sudah tidur! Sebaiknya kau juga kembali ke tempatmu." Ujar Erkan yang terasa seperti menyindir untuk Linda.
Kembali ke tempatnya, Erkan seperti menunjukan di mana tempat wanita itu.
Linda hanya dapat menundukan kepalanya kemudian berlalu dari tempat itu.
Cangkir yang berisi kopi itu hampir tandas di sesap oleh Erkan.
Dalam duduknya yang menghadap tv yang masih menyalah, tubuh Erkan serasa bergetar namun sangat panas juga.
Linda yang ternyata berdiri tak jauh dari Erkan, tersenyum lebar melihat pemandangan di depannya saat ini. Erkan telah membuka baju atasannya sambil mengibas-ngibaskan tangannya, karena rasa gerah yang menderah tubuhnya.
Dengan hati yang berbunga-bunga. Linda mendekati Erkandari arah belakang.
Linda tersenyum saat berada di belakang tubuh pria itu, dengan sangat lembut Linda memasukan tangannya dari balik leher pria itu dan mulai meraba-raba dada bidangnya, membuat Erkan berdesis merasakan darahnya mengalir di seluruh urat-urat tubuh.
"Ssstttt....."
.
.
.
.
__ADS_1
By... By...