
Tok tok tok tok
"Ah! Siapa sih?" gerutu Erkan yang baru akan memulai.
"Buka dulu, Mas. Pintunya. Siapa tahu penting," ujar Rania.
"Hm," dengan kesal Erkan membuka pintu.
Klek
"Mommy!" Seru Gelora menerobos masuk di kamar itu.
"Gelora... Ada apa sayang? Bukannya kamu sudah tidur, kok bangun lagi?" tanya Rania.
"Om Nathan bilang, malam ini Gelora harus tidur sama Mommy, karena Mommy sudah jadi Mommy yang sesungguhnya untuk Gelora. Jadi Gelora mau tidur sama Mommy, di sini." jelas Gelora.
Rania menatap Erkan yang saat ini sangat geram pada Nathan pastinya.
"Om Nathaan!!" pekik batin Erkan dengan mengepalkan tangannya.
"Mas, Gelora tidur sini ya?" ujar Rania.
Erkan hanya bisa pasrah, iya tak bisa mengecewakan anak itu saat ini. Masih ada banyak malam-malam selanjutnya.
Erkan menganggukan kepalanya, setelah ini dia harus menuntaskan hasratnya sendiri. Erkan berjalan menuju kamar mandi, tanpa bicara sesuatu dan Rania tau apa yang ada di pikiran Erkan saat ini.
*
*
Beberapa hari berlalu, Rania sangat ingin menjadi istri dan ibu yang baik bagi keluarganya, namun kesibukan di perusahaan membuat dia merasa tidak bisa mengurus keluarga barunya.
Rania telah membuat sarapan pagi untuknya, Erkan juga Gelora.
"Mas, apa tidak ada orang yang bisa di percaya untuk memegang perusahaan?" tanya Rania di sela-sela sarapan mereka.
__ADS_1
"Kenapa memangnya?" tanya Erkan balik.
"Aku ingin mengurus rumah saja. Bukannya aku tidak mau mengurusnya, tapi... aku ingin fokus pada keluarga saja. Sekali-kali bila di perlukan aku akan datang ke kantor, asalkan tidak setiap hari," ujar Rania.
"Hm, baiklah, jika itu maumu. Kau bisa mengangkat Soni untuk itu. Soni sudah lama bekerja untukku, dan dia orang jujur dan bertanggung jawab." usul Erkan di terima oleh Rania. Setelah ini dia akan fokus untuk keluarga.
"Baiklah. tolong bicarakan dengan Soni, dia tidak bisa menolakmu." ucap Rania.
"Ok. Apa kau akan ke kantor?" tanya Erkan lagi.
"Tidak. Aku ingin menemui ibu, aku akan mengajaknya tinggal di mansion ini." ujar Rania.
Erkan terdiam sesaat lalu menjawab.
"Apa ibu akan mau? Aku sudah membujuknya, dan dia tidak mendengarkanku," ujar Erkan.
"Pasti akan mau, kenapa tidak? Aku yang akan mengajaknya," ucap Rania santai.
*
*
"Ayo, sayang." Rania turun dari mobil dengan menggandeng tangan Gelora.
"Hai, kalian! Kenapa tidak memberi tahu, jika mau ke sini?" ucap Vanesha yang berada di teras sambil membaca majalah.
"Tidak, Bu. Kejutan!" ucap Rania seraya mencium pipi Vanesha.
"Halo, cucu Oma. Sini-sini sama Oma, Oma kangen." Vanesha mengangkat wanita kecil itu ke pangkuannya lalu mengecup pipinya dengan penuh rasa rindu.
Vanesha mengajak Rania juga Gelora masuk ke dalam rumah, mereka mengobrol juga bermain bersama Gelora dengan menggelar kasur bulu di lantai.
"Oma-Oma, ini matanya ilang..." ujar Gelora menunjuk sebuah boneka yang chip matanya hilang satu.
"Oh, ya... Sudah-sudah, ambil yang lain. Nanti kita ganti, ya." ucap Vanesha.
__ADS_1
Gelora kembali ke box yang berisi semua mainan untuk anak perempuan.
"Ibu, ikut Rania, ya..."
"ke mana?" tanya Vanesha bingung dengan menantunya yang tiba-tiba mengajaknya entah ke mana.
"Ke mansion," jawab Rania.
"Ngapain di mansion? Emang ada kerjaan apa? Kamu mau buat sesuatu?" cecar Vanesha pada Rania dengan segala pertanyaannya.
"Tinggal di mansion, Bu. Bersama kami," ujar Rania dengan menggenggam tangan Vanesha, memohon.
"Rania..., ibu sudah pernah bilang pada Erkan dan kamu juga mendengarnya, kan."
"Iya, Bu. Tapi, sekarang aku ingin menjadi Ibu rumah tangga yang baik. Aku ingin mengurus keluargaku, termasuk Ibu juga. aku sudah menyerahkan tanggung jawab perusahaan pada mas Erkan, dan Soni yang akan mengurusnya. Aku ingin Ibu membimbingku, agar tidak gagal yang kedua kalinya." jelas Rania.
Vanesha terdiam, mendengar penjelasan Rania. Dia seperti berpikir dengan tawaran Rania.
"Ayolah, Bu. Mas Erkan dan juga Gelora, pasti bahagia jika Ibu ikut tinggal di mansion bersama kita," lanjut Rania.
"Iya, Oma!" sambung Gelora yang mendengar percakapan mereka.
Vanesha tersenyum memandang Gelora juga Rania bergantian.
"Nanti, Ibu pikirkan dulu," ucap Vanesha seraya tersenyum ke arah Rania.
Rania pun tersenyum, walau belum ada kepastian tapi ada sedikit harapan mewujudkan harapannya, yaitu mengubah kehidupan Erkan di mansion itu.
.
.
.
.
__ADS_1
By... By...