
Praank
*
*
Tiga bulan setelah pernikahan, saat ini Erkan dan Rania berada di sebuah klinik.
"Selamat. Tuan dan Nyonya Dimatra, kalian akan segera menjadi orang tua." ucap seorang dokter wanita di hadapan mereka.
Rania terkejut dengan ucapan dokter itu, matanya berkaca-kaca. Dia sungguh tak menyangka akan memiliki seorang bayi. Sekian lama dia menginginkan hal itu dan sekarang keinginannya terkabul, sungguh kebahagian yang tiada duanya.
"Istri saya hamil dokter?" tanya Erkan dan dokter itu pun mengangguk membenarkan pertanyaannya.
Erkan menatap Rania yang saat ini airmatanya sudah jatuh.
"Kamu akan jadi mommy," ujar Erkan bahagia. Dia menarik Rania masuk ke dalam pelukannya. Rasa haru wanita itu membuatnya tak bisa berkata-kata.
*
*
Erkan dan Rania kembali ke mansion membagi kebahagian mereka di dalam mansion. Sekarang mansion itu tanpak ramai, tak seperti dulu yang hanya mereka yang terlihat di mansion itu, bahkan saat ini bi Sumi dan bi Rani berkumpul bersama mereka berbagi kabar bahagia itu.
"Slamat, ya, Sayang. Mansion ini akan ramai dengan anak-anak nanti." ujar Vanesha seraya memeluk Rania.
"Iya, Bu. Nia nggak nyangka akan mendapat anugrah secepat ini." jawabnya.
"Ini, bi Sumi bawahkan jus, buat Neng." ujar bi Sumi seraya menyodorkan gelas yang berisi jus pada Rania.
Sekarang Erkan sadar, melihat kebersamaan keluarga kecilnya. Kini mansion itu ramai, penuh dengan tawa riang keluarganya. Rania dan Vanesha yang saling bercanda dengan bi Sumi dan bi Rani, sedangkan Gelora yang bermain bersama pelayan lain tertawa riang dan renyah. Belum pernah dia melihat Gelora sebahagia saat ini, memiliki teman untuk bermain.
"Mommy...," Gelora berlari masuk ke dalam pangkuan Rania.
"Eh, eh! Sayang, sini," panggil Erkan seraya mengambil anak itu ke pangkuannya.
"Deddy... Aku mau sama Mommy," rengek Gelora.
"Iya, boleh sama Mommy, tapi nggak bisa ngendong." ucap Erkan.
"Kenapa?" tanyanya.
"Di sini," tunjuk Erkan di perut Rania. "Ada adiknya Gelora," lanjutnya.
Gelora memandang perut rata Rania lekat.
__ADS_1
"Di sini? Adik Gelora? Mana?" tanya Gelora.
"Hehe.., ada di dalam sayang. Masih kecil," jelas Erkan dan Gelora mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
"Gelora akan punya adik?" tanya anak itu lagi.
"Ya," jawab Erkan.
"Yeeehh!" Gelora berseru, dia bahagia karena akan mendapat teman untuknya bermain.
*
*
Bulan ketujuh kehamilan Rania. Saat ini mereka sedang mengadahkan acara 7 bulanan. Para tamu undangan berbondong-bondong memberikan selamat pada mereka termasuk juga keluarga Maikel, Luiz bersama istrinya.
"Selamat untuk kalian," ucap Luiz menyalami Erkan.
"Trima kasih," ucapnya singkat. Sebenarnya Erkan tidak mau mengundang mereka, namun karena Rania mengatakan jika Maikel berada di singapore, akhirnya Erkan setuju untuk mengundang orang tuanya saja.
"Semoga selalu berbahagia," ucap Luiz tulus.
"Trima kasih, Om," balas Rania. Dia sengaja tidak memanggil Luiz dengan sebutan papi karena ingin menjaga perasaan Erkan, dia tahu Erkan tidak akan suka.
Luiz melangkah dan Mella menggantikan tempat Luiz.
"Rania, selamat." ucap Mella dengan perasaan malu. Dulu dia sering menuduhnya mandul dan sekarang dia menyadari atas kesalahannya.
"Maafkan, saya Rania." ucap Mella dengan menitikan air mata penyesalan.
"Tidak apa. Saya sudah memaafkan Tante. Dan saya harap Tante juga Maikel dapat berubah," ujar Rania yang langsung menembus relung hati Mella.
"Trima kasih." Mella berlalu dari sana dengan segala penyesalannya.
Selesai dengan menyalami orang-orang Rania dan Erkan di sebuah sofa yang dekat dengan mereka.
Erkan menggenggam jemari Rania lembut.
"Trima kasih karena telah mengubah hidupku menjadi lebih berwarna," ujar Erkan lalu mencium punggung tangan Rania.
"Dan terima kasih, telah memberiku banyak kebahagian dalam hidupku." jawab Rania seraya tersenyum.
Kini Erkan tak peduli dengan tatapan orang-orang. Dia mengecup kening Rania lembut lalu turun ke mata pipi dan...
Bibir Erkan terhalang sebuah telapak tangan kecil saat ingin mengecup bibir wanitanya.
__ADS_1
"Eh, jangan sosor dulu. Masih ada tamu." Ledek Vanesaha dan Gelora hanya cekikikan melihat Erkan yang tersenyum malu, saat tertangkap basah ingin mencium Rania.
Gelora masuk di antara duduk Rania dan Erkan kemudian mengajak mereka berfoto.
"Deddy, Mommy, Oma, kita foto dulu." ujar Gelora dan mereka bertiga mengangguk, mengiyahkan permintaan anak kecil itu.
"Om Foto-Foto, sini!" panggil Gelora pada fotografer di sana.
Tiga orang dewasa itu saling pandang dan tertawa lebar saat mendengar panggilan Gelora pada sang fotografer.
"Iya, Nona kecil." jawab pria yang memegang kamera di tangannya.
"Om Foto-foto, fotoin kita, ya." ucap Gelora dengan gembira dan mereka semua tersenyum.
"Ok." jawab sang fotografer.
Mereka berempat mengatur gaya untuk berfoto, Rania dan Erkan di sofa depan dengan Gelora di tengah mereka dan Vanesha di samping Erkan, duduk di lengan kursi sambil merangkul bahu Erkan. Mereka berempat mengangkat jari membentuk huruf V dan Fotografer segera melakukan tugasnya.
"Siap! 1... 2... 3"
"Ciisss!" ucap mereka serempak dengan senyuman.
*
*
*
*
...End/Tamat...
*
*
Halo, readers...
Maaf, ya, author nggak pandai untuk merangkai kata-kata. Author hanya mau bilang, Trima kasih untuk dukungan kalian sama author. Dukungan kalian sangat berarti, menambah semangatku dalam memulai tulisan dan mohon maaf jika ada salah-salah kata dari author untuk kalian semua.
Sekian dan Trima kasih...🖐
...----------------...
Jangan lupa Mampir di karya author yang lainnya😙
__ADS_1