
Klek
Hampir saja Nathan jatuh di lantai kamar tamu itu saat Erkan membuka pintu.
"Eeh..."
Dengan sigap Erkan menangkap Nathan yang akan terjatuh di lantai. Reflek tangan Nathan menyentuh sesuatu yang menonjol di bawah perut Erkan.
Erkan melotot kepada Nathan hingga dia pun mundur untuk menjauhi Nathan yang tengah menyentuh barang berharganya, Namun lagi-lagi Nathan tak menarik handuk yang terlingkar di pinggang Erkan hingga terlihatlah tubuh polos dari sang pria duda yang berada di hadapan Nathan😆
"Paman!!" Seru Erkan dengan berteriak.
"Haa!!" Rania terperanjat sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan (mata Rania!! Bukan mulut yang di tutup🤦♀️)
Sadar dengan Rania yang menatapnya tanpa berkedip, Erkan segera mengambil kembali handuk dari tangan pamannya dan menutup kembali senjatanya yang menonjol karena sentuhan sang duda tua di hadapannya.
Rania menjadi salah tingkah saat Erkan melihatnya yang melototi sesuatu di bawah perut Erkan. Rudal yang sudah siap tempur, membuat Rania hampir mengeluarkan liurnya saat membayangkan rudal itu menyerang dirinya.
Rania segera memalingkan wajahnya yang sudah bak kepiting rebus, menahan malu karena melihat rudal milik Erkan.
Sedangkan Nathan sudah berlari kembali ke ruang tamu, di saat Erkan meneriakinya.
"Besar juga miliknya! Pantas saja suara Rania sampai di sini." Gumam Nathan. "Ish, tangan dan mataku, ternoda oleh burung perkutut Erkan. Hmm, bukan perkutut tapi merak." Lanjutnya bergumam sendiri.
Erkan melewati ruang tamu dan melihat Nathan di sana, menjadi sangat kesal karena kelakuan pamannya yang seperti kekanak-kanakan. Menguping di depan pintu, sungguh tidak bisa di pikirkan Erkan lagi.
******
__ADS_1
Di tempat Maikel, saat ini dia sedang memperban luka di pusakanya. Sungguh keterlaluan Rania, pikirnya. Dia memintah haknya, namun pusakanya di gigit oleh wanita itu.
"Bgaimana jika Liandra meminta jatah? Dia akan berpikir jika aku sudah tidak mempunyai gairah lagi." Gumam Maikel.
Maikel tak mempedulikan lagi, dia tak bisa lagi, hidup dengan wanita itu. Pusakanya hampir hilang oleh karena Rania. Jangan sampai pusakanya tidak bisa berfungsi lagi, Liandra yang hiperseks akan mencari pria lain jika tahu miliknya hampir saja mati di buat Rania.
"Aku akan segera menceraikan Rania! Aku harus menikahi Liandra sebelum dia bosan ." Gumam Maikel.
Maikel segera menelvon pengacaranya, untuk mengurus perceraiannya dengan Rania. Kini dia tidak bisa lagi mengambil resiko, Liandra tak segan-segan meninggalkannya.
******
Erkan kini sedang duduk bersama pamannya di ruang tamu.
"Ada urusan apa Paman ke sini?" Tanya Erkan.
"Memangnya apa yang ku lakukan?"
"Aku sudah beberapa hari ini berpuasa! Setelah ini aku harus ke club." Jawab Nathan dengan malas.
Antara Nathan dan Erkan memang saling terbuka, mereka selalu berbagi cerita. Entah baik dan buruk tak ada yang menutupi di antara mereka.
"Lalu, urusan penting apa yang membuat paman harusdatang selarut ini?" Tanya Erkan lagi. Pamannya tidak mungkin datang tanpa alasan. Beberapa tahun ini Nathan hanya berapa kali datang ke mansion, itu pun dengan alasan yang kuat membuat dia muncul di mansion besar itu.
"Iya, aku sampai lupa dengan maksudku datang ke sini. Ibumu sakit! Dia ingin bertemu cucunya." Ucap Nathan.
Erkan terdiam, 5 tahun terakhir ini dia dan ibunya tak pernah ada kontak sedikit pun, walau hanya bertukar kabar. Dan saat ini ibunya sakit, apa yang harus dia lakukan.
__ADS_1
"Pergilah! Bawah Gelora bersamamu. Ibu sudah tak marah lagi, dia ingin sekali bertemu Gelora. Kau putra satu-satunya. Dan dalam hal ini kau juga salah, sebagai anak seharusnya kau membujuknya dan meminta maaf. Tapi kau sama keras kepalanya seperti ayahmu." Lanjut Nathan, menasehati keponakannya.
"Hm, nanti aku akan pergi ke sana!" Jawab Erkan pelan.
Dari dalam kamar, ternyata Rania sedamg menguping pembicaraan antara Nathan dan Erkan dan kini dia tahu jika Erkan masih memiliki keluarga, yaitu ibunya.
"Aku akan merubah cara hidupmu!" Batin Rania.
Ternyata di balik sisi Erkan, ada hal pedih yang di pendamnya.
Rania keluar dari dalam kamar, dan menuju di mana Erkan dan Nathan berada saat ini.
"Apa aku mengganggu?" Sapa Rania.
Nathan menatap Rania dari ujung kaki hingga ujung rambut. Kaus kebesaran yang hanya sebatas paha dan rambut yang terurai basah.
Nathan menelan salivanya berkali-kali, pemandangan di hadapannya sungguh menggoda. Membuat kepala atas, bawahnya terasa nyut-nyutan.
"Ck, aku harus pergi sekarang. Aku bisa gila jika berada di sini terus." Ujar Nathan seraya berdiri dari tempat duduknya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi.
.
.
.
.
__ADS_1
By... By...