
Maikel tak bisa berpikir jernih saat ini. Dia menjadi pusing dengan pikiran-pikirannya sendiri dan memilih berlalu dari dalam cafe.
*
*
Kini Erkan telah kembali ke hotel untuk menjeput Rania untuk tinggal di mansionnya, namun Rania menolak keras permintaan Erkan.
"Ayolah Nia! Kau tinggal di mansion saja! Kenapa harua mencari tempat tinggal yang lain sementara aku mempunyai mansion yang besar bahkan cukup untuk menampung 100 orang sekali pun." Bujuk Erkan.
"Nggak bisa gitu! Aku akan tinggal di sana setelah menikah denganmu. Sementara aku akan cari apartement saja." Ucap Rania.
"Kenapa?"
"Orang-orang akan menggunjingku saat tinggal dengan seorang pria saat baru sehari bercerai dengan suamiku." Jelas Rania.
"Perse**n dengan orang-orang itu. Aku tak peduli dengan mereka." Ucap Erkan yang tidak menerima alasan Rania.
"Mengertilah. Kamu mungkin tidak akan peduli, tapi aku, telingaku dan juga telingamu pasti akan peduli jika itu terjadi." Ucap Rania seraya membereskan barang-barangnya.
"Jika kau tidak kamu tidak mau mengantarku. Aku akan pergi sendiri. Kamu kembalilah ke kantor atau kemansionmu itu." Gertak Rania dengan sedikit emosi.
"Maaf!" Ucap Erkan seraya mendekap Rania dari belakang. "Aku hanya tidak bisa jauh darimu. Bagaimana jika kita ke KUA sekarang dan mengurus pernikahan nikah." Usul Erkan di tolak mentah-mentah.
"Tidak secepat itu juga. Ada masanya setelah bercerai itu baru bisa menikah untuk wanita." Jelas Rania.
"Hm," Erkan berdehem malas mendengarkan segala ulasan Rania yang tidak bisa membuatnya menang sedikit saja.
"Kau akan pulang sekarang?" Tanya Rania.
"Tidak!" Seru Erkan cepat.
"Lalu?"
"Aku akan ikut denganmu. Ke mana pun kau membawahku." Ucap Erkan.
"Yang seharusnya berkata seperti itu, aku bukan kamu!" Seru Rania.
"Iya, tapi kamu nggak mau ikut denganku!" Jawab Erkan masih dengan mendekap tibih Rania.
"Ada waktunya, aku berkata seperti itu!" Seru Rania.
"Oh, Tuhan Waktu. Kenapa kau lama sekali berputar!" Aduh Erkan seraya melepaskan dekapannya.
"Hihihi!" Rania hanya cekikikan melihat Erkan yang menurutnyanlucu karena mengaduh dengan waktu.
"Selesai! Kita pergi sekarang?" Ajak Rania.
"Tentu, tapi jangan lupakan masa indah kita di sini tadi malam. Setelah menikah aku akan memesan kamaar ini sebagai bulan madu." Ucap Erkan dengan tersenyum.
"Terserah kau saja!" Seru Rania.
Keduanya kini keluar dari kamar hotel menuju ke mobil setelah singgah di resepsionis untuk cek out.
__ADS_1
"Kita ke mana sekarang?" Tanya Erkan setelah mereka memasuki mobil.
"Cari apartement dulu!" Jawab Rania dengan memalingkan wajahnya ke arah Erkan dan tersenyum.
Erkan mengganggukan kepalanya tanda setuju dan mulai menjalankan mobilnya.
Dua puluh menit perjalanan, Erkan menghentikan mobilnya di sebuah apartement mewah di kota itu.
Rania turun dari mobil dan menatap gedung tinggi di depannya sebelum menutup pintu mobil. Erkan pun menyusul Rania turun dari mobil dan berjalan di sampingnya.
"Apa ini tidak terlalu bagus?" Tanya Rania.
"Kenapa? Kau pantas mendapatkannya! Jika hanya mau yang biasa saja lebih baik tinggal di kontrakan saja." Ucap Erkan yang mengira Rania tidak suka tinggal di kontrakan.
"Ayo!" Ajak Rania.
Erkan tersenyum dan menggandeng tangan Rania untuk masuk. Rania kekuh pada kakinya yang berdiri saat ini, tak bergerak dari tempatnya saat Erkan akan membimbingnya masuk.
Erkan kembali menatap Rania bingung karena tak bergerak dari tempatnya.
"Ayo, cari kontrakan saja!" Seru Rania.
"Ck, ku kira kau tak suka tinggal di kontrakan!" Seru Erkan.
"Kenapa tidak suka? Aku mau, selagi aku nyaman!" Jawab Rania.
"Nggak! Di sini saja! Aku yang tidak nyaman jika tinggal di kontrakan." Erkan kembali mengajak Rania untuk berjalan.
"Hei! Bukan kau yang akan tinggal, tapi aku!" Seru Rania.
"Tapi, ini terlalu mewah!" Seru Rania dalam langkah yang tidak dia sukai.
"Aku yang akan membayarnya! Bukan kau. Jadi jangan menolak. Atau kita kembali ke hotel saja. Supaya aku bisa menghabisimu di sana." Ujar Erkan.
"Kejam sekali..." Keluh Rania, yang dia tahu apa arti dari kata-kata Erkan.
Erkan hanya tersenyum karena wanita itu kini telah mengikuti langkahnya.
Erkan dan Rania selesai dengan apartement dan saat ini mereka tengah berada di apartement yang di sewa Erkan untuk Rania.
"Ini mewah sekali!" Ujar Rania.
"Ya. Memang harus seperti itu. Aku tak mau kau kekurangan sesuatu apapun. Makannya kau harus tinggal di sini." Ucap Erkan.
Rania hanya mengiyakan tak membantah laki-laki itu. Tak ada gunanya membantah Erkan, karena dia akan selalu berbuat apa yang dia mau.
"Apa kau ingat, hari ini ada janji ketemu Gelora." Ucap Erkan.
"Oh, ya! Aku melupakannya. Setelah ini kita pergi menemuinya." Ajak Rania yang masih membereskan kopernya.
"ok!" Jawab Erkan dengan membentuk huruf O di jemarinya menunjukan pada Rania.
*
__ADS_1
*
Kini Erkan dan Rania tengah berjalan menuju mansion dan tak berapa lama pun mereka sampai di sana.
Erkan memarkirkan mobilnya di halaman mansion dan keduanya pun masuk ke dalam untuk menemui Gelora.
"Mommy!!" Seru Gelora saat melihat Rania dari atas tangga.
Gelora segera berlari menuju Rania dari atas tangga.
"Awas, sayang!" Rania berlari menyambut anak yang berlari ke arahnya. "Kenapa berlari? Nanti jatuh!" Lanjut Rania yang tengah mendekap anak itu.
"Mommy! Gelora kangen." Ucapnya.
"Iya! Lain kali jangan seperti itu. Mommy... Gemetar melihatnya." Rania menurunkan badannya, mengsejajarkan dirinya dan Gelora lalu memberi pelukan padanya.
"Iya, Mommy! Jangan sedih. Aku janji, tidak seperti itu lagi." Jawab Gelora.
Rania mengecup kening anak itu lalu mengajaknya bersama menuju Erkan. Erkan bahagia melihat interaksi keduanya. Dia tepat memilih Rania, dia sangat menyayangi putrinya.
"Ayo! Gelora siap-siap. Kita akan pergi ke suatu tempat." Pinta Erkan.
"Kita mau ke mana, Deddy?" Tanya Gelora.
"Siap-siaplah! Kau akan tau nanti." Jawab Erkan.
"Aku akan membantunya!" Seru Rania pada Erkan dan mendapat anggukan setuju.
Rania mengantar Gelora ke kamarnya untuk bersiap-siap. Gelora, masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan Rania menyiapkan pakaian untuk di kenakan Gelora.
Di luar ruangan, Erkan menunggu keduanya dengan duduk di sofa. Pikirannya melayang, seperti memikirkan sesuatu sampai lamunannya di buyarkan oleh kedua wanita kesayangannya itu.
"Deddy!!" Seru Gelora dengan merangkulkan tangannya di leher Erkan.
"Waw... Cantik sekali princes deddy!" Puji Erkan.
"Iya, Mommy yang mendadani Gelora. Dari baju sampai mengikat rambut rambut, mommy yang buat. Gelora bahagia punya mommy." Rania yang mendengarnya pun ikut bahagia hingga air matanya lolos di pipi putihnya.
Dengan segera, Rania menghapus cairan bening itu lalu duduk bersama Erkan.
"Tentu saja sayang! Deddy juga bahagia." Ucapnya.
"Kita mau ke mana?" Tanya Rania.
"Pergi menemui ibuku!" Jawab Erkan.
Deg... Deg... Deg... Deg...
.
.
.
__ADS_1
.
Likenya mana nih? Author nungguin... Kok dikit ya...😣