
"Aku akan pergi sekarang! Dan akan ke kantor besok lusa. Ku harap Papi sudah menyelesaikannya saat aku pergi ke sana!" Seru Rania segera pergi dari tempat itu.
Maikel hanya bisa menatap kepergian Rania, tanpa bisa mencegahnya. Kini dia terlalu gegabah mengambil keputusan. Dia tidak tahu jika semua akan seperti ini.
******
Rania menaiki taksi, bermaksud menuju mansion Erkan. Namun dalam hatinya bimbang.
Apa pantas aku tinggal di mansion itu? Aku baru saja bercerai dengan Maikel dan menyandang status janda. Apa yang akan di pikir orang tentang diriku? Pikir Rania.
"Pak! Kita cari hotel terdekat, Pak." Ujar Rania pada supir taksi.
"Baik, Non!" Jawab Supir dan segera melajukan taksinya ke hotel terdekat seperti permintaan Rania.
Rania turun dari taksi dan memasuki hotel yang di rekomendasikan oleh supir taksi tadi.
Rania masuk dan segera memesan kamar untuknya sendiri. Setelah sampai di kamar, Rania segera merebahkan dirinya di kasur hotel itu.
"Aku istirahat sebentar, setelah itu hubungin Erkan." Gumam Rania dan segera memejamkan matanya.
Rania merasa terbebaskan kini. Sekian tahun hidup dalam pernikahan tanpa ada kebahagian untuknya, kini pernikahan itu berakhir. Baru kali ini Rania merasa dapat tidur dengan nyenyak dan nyaman hingga tak terasa waktu sudah sore hari.
*
*
Erkan tengah berada di rumah. Saat ini, dia sedang bermain bersama Gelora. Tiba-tiba handphonenya berbunyi.
"Halo, Mommy!" Sapa Erkan di ponselnya.
"Halo, kamu seng sibuk?" Tanya Rania di telvon.
"Aku. Aku sedang main dengan Gelora." Jawab Erkan.
"Itu Mommy? Gelora ingin bicara!" Seru anak itu.
Erkan memberikan ponselnya pada Gelora dengan menloospeaker volumenya.
"Halo, Mommy!" Sapa Gelora.
"Halo sayang!" Balas Rania dari seberang telvon.
"Mommy, Gelora kangen!!" Rengek anak itu.
__ADS_1
"Iya, Mommy juga!" Jawab Rania lagi.
"Mommy kapan datang?" Tanya Gelora.
"Iya, besok Mommy akan main dengan sama Gelora." Ujar Rania.
"Bener ya, Mommy!!" Seru Gelora memohon.
"Iya! Sekarang Mommy mau bicara sama Deddy dulu." Pinta Rania.
"Iya, Mommy. By... By..." Gelora mengembalikan ponselnya pada Erkan dan kembali bermain dengan bonekanya.
"Iya! Kamu mau ngomong apa?" Tanya Erkan.
"Aku ada di hotel sekarang!" Ucap Rania.
"Ngapain?" Kejut Erkan.
"Nanti aku cerita kalau kamu mau datang!" Ucap Rania lagi, membuat Erkan sungguh penasaran.
"Ok. Ok. Aku ke sana! Kirim alamatnya." Pinta Erkan dan segera bersiap-siap.
"Bi, Bibi." Panggil Erkan.
Kini kepala pelayan di mansion itu yang bertugas menjaga Gelora, karena Erkan telah memecat Linda dari pekerjaannya dan mengusirnya sejauh mungkin dari kehidupannya.
"Tolong jaga Gelora. Saya ada urusan di luar!" Ucap Erkan.
"Deddy mau kemana?" Tanya Gelora.
"Deddy ada urusan sebentar, kamu sama bibi ya!" Jawab Erkan segera beranjak dari duduknya di lantai yang beralaskan kasur bulu.
"Ayo, Non. Main sama bibi!" Ajak bi Sumi.
Gelora mengikuti bi Sumi dan Erkan segera pergi ke tempat Rania.
*
*
Tok tok tok tok
Rania membuka pintu saat ada yang mengetuk pintu kamarnya.
__ADS_1
"Cepat sekali!" Rania terkejut saat Erkan berada di depannya.
"Aku terbang ke sini, supaya cepat sampai!" Ucap Erkan asal.
"Edan!!" Rania berkata dengan logat orang jawa.
"Ya, aku mabur mrene amarga kowe!!" Jawab Erkan dengan bahasa jawa pula seraya menangkap pinggang wanita itu dan mendekapnya.
"Hahaha...." Keduanya tertawa bersama dengan candaan keduanya.
"Kamu bahagia sekali! Ada apa ini?" Tanya Erkan mengakhiri tawa mereka.
Rania menuntun Erkan duduk di atas ranjangnya bersama dengan dia pula.
"Aku sudah resmi bercerai dengan Maikel, hari ini!" Ucap Rania.
"Benarkah?" Erkan mendapatkan anggukan kepala, segera meraih tubuh Rania dan mendekapnya erat. "Lalu kenapa kau tidak ke mansion?"
"Tidak! Aku di sini dulu?"
"Kenapa?"
"Aku tidak mau ada berita yang tidak enak di dengar nanti. Sebaiknya aku mencari tempat tinggal untuk sementara."
"Terserah kau saja! Yang terpenting semuanya aman." Ucap Erkan tersenyum.
Rania menganggukan kepalanya tanda setuju.
"Apa kau mau menginap di sini?" Tanya Rania.
"Tentu. Walau kau tak menawarkannya, aku akan tetap tinggal di sini!" Ungkap Erkan seraya naik ke atas tempat tidurnya.
Rania segera mengikuti Erkan ke atas tempat tidur, masuk dalam pelukan Erkan.
Perlahan-lahan Erkan memempelkan bibir keduanya. Rania memejamkan mata merasakan kehangatan yang di berikan Erkan, namun sesuatu mengejutkan mereka yang sedang di landah asmara.
"Ekhem!!"
.
.
.
__ADS_1
.
By... By...