
Rania pun tersenyum, walau belum ada kepastian tapi ada sedikit harapan mewujudkan harapannya, yaitu mengubah kehidupan Erkan di mansion itu.
*
*
Sore hari Rania baru saja kembali ke mansion, sedangkan Erkan tengah menunggunya sejak beberapa jam lalu.
Mobil yang di tumpangi Rania masuk di gerbang utama, Erkan yang sedang duduk di teras menunggu kedatangan mereka pun segera berdiri untuk menyambut istri tercintanya.
Rania turun dari mobil dengan menggandeng tangan Gelora, dari pintu sebelah mobil Vanesha turun dengan mengembangkan senyum untuk Erkan.
"Ibu!" ucap Erkan segera melangkahkan kakinya ke arah tiga wanita kesayangannya itu.
"Iya, istri kamu nggak mau pulang kalau ibu nggak ikut." ucap Vanesha.
Erkan menatap Rania yang tersenyum saat ini.
"Pak, tolong bawah koper ibu ke dalam!" pinta Rania pada supir dan mendapat anggukan.
"Ibu, ikut tinggal di sini?" kejut Erkan. Vanesha mengangguk menandakan benar apa yang di katakannya.
"Istriku, memang ratunya mengambil hati!" ucap Erkan senyuman bangga seraya mengambil pipi Rania dan memberikan sun padanya.
"Huus... Malu!" ucap Rania dengan pipinya yang sudah memerah.
"Deddy... Deddy, tidak mencium Gelora juga." ucap anak perempuan itu dengan gaya mengambek.
"Owh, Princes deddy cemburu." Erkan meraih tubuh kecil dan mungil itu dalam gendongannya seraya memberi beberapa kali ciuman yang membuatnya merasa geli.
"Hahaha... Deddy, Deddy... Sudah!" pintanya.
Vanesha dan Rania tersrnyum melihat gambaran kebahagian yang di tunjukan Erkan pada mereka.
__ADS_1
Kini mereka berempat tengah duduk di ruang tamu mansion sambil mengobrol bersama dan Gelora yang sibuk bermain dengan mainannya.
"Kenapa Ibu, tak mau ikut saat aku ajak. Sekarang aku merasa anak tiri, karena tidak berhasil membujuk Ibu untuk tinggal di sini." ucap Erkan.
"Jangan kekanakan. Kamu itu sudah tua, putrimu saja sudah besar." ucap Vanesha.
"Oma, Deddy tidak tua!" ujar anak kecil itu saat mendengar perbincangan mereka.
"Oh, ya!" ucap Vanesha terkekeh saat Gelora memprotesnya mengatakan Erkan sudah tua.
"Gelora tidak suka lagi, jika Deddy sudah tua. Nanti Gelora akan mencari Deddy baru bersama Mommy jika Deddy sudah tua." lanjutnya.
Erkan membuka mulutnya lebar-lebar mendengar ucapan anak semata wayangnya, dia sungguh kesal saat ini, sedangkan Vanesha dan Rania tak mampu menahan tawa mereka yang melihatbraut wajah Erkan yang tidak suka dengan ucapan putrinya.
"Hahaha... Erkan kau lucu sekali!" ucap Vanesha dan di benarkan oleh Rania dengan tawa mereka yang tidak bisa di hentikan.
"Benar, Bu. Sangat lucu," tambah Rania.
"Apa kata ayahmu?" tanya Vanesha penasaran.
"Pria itu tidak bisa menang melawan para wanita. Apalagi ini ada tiga wanita! He..." Tawa Vanesha dan Rania kembali pecah mendengar ucapan Erkan dan Gelora sudah kembali bermain karena tak mengerti lagi pembicaraan mereka.
*
*
Pagi hari, saat ini para pelayan tengah berkeliaran di dalam rumah. Dengan pinta Rania semua pelayan di bebaskan masuk ke dalam rumah, walau Erkan belum pergi untuk bekerja.
"Bi Sumi, aku mau masak. Bantuin aku, mau belajar masak. kita buat sarapan dulu," minta Rania dengan sopan.
"Baik, Nyonya." jawab bi Sumi.
"Huus, jangan panggil Nyonya. Berasa kaya putri aja di panggil nyonya. Panggil Nia aja, Bi." ucap Rania.
__ADS_1
"Nggak enak, Neng." jawab bibi yang merasa sungkan.
"Ya udah. Itu panggil, Neng aja." ucap Rania lagi.
"Oke, Neng." jawab bi Sumi dengan mengacungkan dua jempolnya.
Rania tersenyum, saat ini dia akan merubah suasana mansion besar itu yang dia anggap seperti kuburan saat sepi.
Vanesha tengah mengantarkan Gelora ke sekolah, sekalian dia ingin menjemput Rani, pelayan pribadinya.
Erkan keluar dari kamar, yang telah bersiap-siap untuk ke kantor. Mataya menatap tajam saat melihat suasana mansionnya yang begitu ramai dengan para pelayan yang berlalu lalang di sana.
"Di mana Rania?" gumamnya.
Para pelayan yang melihat Erkan menuruni tangga segera menjauh, dan ada juga yang hanya diam di tempat seraya menundukan kepalanya.
Erkan melangkah menuju dapur, dia tahu di mana istrinya pagi ini.
"Hm," Erkan berdehem melihat Rania yang tengah berkutat di dapur.
"Bi, liatin sebentar ya." pinta Rania.
Rania tahu apa yang ada di pikiran Erkan saat ini. Dia segera menyapa Erkan yang berdiri di samping meja makan.
.
.
.
.
By... By...
__ADS_1