
"Ok. Sudah, sakit tenggorokan ngomong terus." Rania mnyapu-nyapu lehernya yang kering karena bicara panjang lebar.
Flash on
Sarapan sudah siap, Rania menyiapkan untuk Erkan dan dirinya sendiri.
"Ayo dong, di makan. Ini masakan pertamaku, di sini. Dulu aku masak di rumah Maikel garamnya kebanyakan, di marain deh sama mertua." ujar
"Sudah. Jangan ingat-ingat lagi. Ada aku di sini," ujar Erkan.
"Hm, ayo." ajak Rania untuk makan seraya mengambil sendok untuknya dan Erkan.
Erkan menyendok sarapan dan menyuapi ke mulutnya sendiri.
"Uhuk... Uhuk..." Tiba-tiba Erkan tersendak di suapan pertamanya.
"Kenapa? Tidak enak, ya?" tanya Rania dengan raut wajah sedih.
Erkan meraih air yang di sodorkan Rania padanya. Setelah meneguk air di gelas itu sampai habis, Rania beralih mencoba makanannya sendiri.
Wajah Rania beruba masam, saat mencoba makanannya sendiri.
"Hmm! Asin!!" ujar Rania seraya menumpah air ke dalam gelas dan meminumnya.
Erkan pun tertawa lepas, melihat raut wajah Rania, yang beranjak dari kursi dengan cepat, meneguk air di gelasnya.
"Bi, kok Asin, ya? Aku pekein garamnya dikit, kok tadi." ujar Rania.
"Ya, Neng. Tadi bibi, tambain garam juga," jawab bi Sumi, menyesal.
__ADS_1
"Ya, Bibi...!" sesal Rania.
"Maaf, Neng!" ucap bi Sumi lagi.
"Sudah, nggak apa-apa. Kamu bisa masak lagi nanti atau besok." sela Erkan, agar Rania tak tetlalu merasa kecewa.
"Hm, tapi, kan."
"Nggak apa, nanti siang aku pulang, makan di mansion." ujar Erkan.
"Bener?" Erkan mengangguk menandakan iya, pertanyaan Rania. "Nanti aku masak lagi, deh. Buat makan siang," lanjut Rania.
"Aku mau berangkat. Kamu nggak nganterin aku? Sampai depan," tanya Erkan dengan lembut.
"Iya. Ayo, Mas." Rania meraih lengan Erkan lalu berjalan sampai ke depan mansion.
Rania mengantar Erkan hingga ke teras mansion, dan Erkan berpamitan seraya mencium kening Rania mesra, membuat hati sang istri berbunga-bunga.
Rania tersenyum senang, bertahun-tahun menikah dengan Maikel, tak sekali pun dia melakukan itu. Berbeda dengan Erkan sekarang, yang sangat perhatian padanya.
"Hati-hati, Mas." ujar Rania.
"Iya. Makasih sayang," Erkan pergi menaiki mobilnya seraya melambaikan tangan ke arah Rania dan mendapat balasan juga.
Kedua sejoli itu sedang berbunga-bunga dengan kisah cinta mereka, hingga kini Erkan pun tak peduli lagi, jika ada orang yang melihat kebersamaannya bersama Rania.
Rania kembali masuk ke dalam mansion, dengan wajah yang berseri-seri. Dia sungguh bahagia hidup bersama Erkan sekarang, dan kini dia sudah yakin jika dia telah jatuh cinta pada suaminya sendiri.
*
__ADS_1
*
Di tempat lain, Maikel sedang bersama Liandra. Dia mengajak Liandra bertemu untuk bicara, dengan sedikit memaksa dan mengancam Liandra, Maikel berhasil mengajaknya bertemu di sebuah cafe, tempat di mana mereka biasa bertemu.
"Katakan! Apa yang ingin kamu bicarakan?" ujar Liandra ketus.
"Lian, aku akan pergi ke Singapore, ku harap kau bisa ikut denganku ke sana." ucap Maikel.
"Untuk apa aku ke sana? Apa kamu sudah gila, mengajak aku ke singapore." ujar Liandra.
"Lian, kita mulai hidup baru di sana. Papa punya perusahaan yang baru di rintisnya di sana. Kita akan mengembangkan perusahaan itu, dan bisa hidup bahagia di sana." ucap Maikel dengan serius.
"Tidak! Aku tidak akan mau hidup miskin bersama kamu! Aku punya karir, tapi kamu bukan siapa-siapa lagi sekarang. Seandainya aku mengenal Erkan sebelum kamu, tak mungkin aku mau denganmu." ujar Liandra segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan Maikel srndiri dalam cafe itu.
Dada Maikel naik turun, saat mendengar ucapan Liandra, padanya. Kini dia tahu, jika selama ini, Liandra hanya memanfaatkannya.
Dia menyesal telah menyia-nyiakan Rania selama ini, hanya karena Rania yang tidak pandai berdandan dan mengurus dirinya, Maikel mengira jika Rania tak cantik hingga Erkan masuk ke kehidupan mereka dan mengubah segalanya.
Saat ini menyesal pun sudah tak ada gunanya. Maikel sangat frustasi hingga dia melempar gelas di depannya hingga berhamburan di lantai.
"Arrgg!!"
Praank
.
.
.
__ADS_1
.
By... By...