
Rania hanya dapat menggelengkan kepalanya untuk menjawab. Bibirnya tak kuasa lagi menjawab.
"Baiklah, kau akan mendapatkan pengalaman terindah bersamaku!" Ucap Erkan dengan tersenyum.
Erkan kembali mencumbu Rania, dia akan membuat wanita itu tak bisa berkutik dengan perlakuannya.
Penutup inti pun kini entah kemana. Erkan telah bermain di bawah sana dan Rania tak henti-hentinya mende sah.
Sudah tak tahan lagi, Erkan segera membuka busananya sendiri hingga habis tak tersisa.
"Rania!! Aku tak tahan lagi." Ucap Etkan dengan suara tertahan.
"Hm!" Hanya itu jawaban dari wanita yang kini bersamanya.
"Apa itu Rania?" Tanya Erkan dengan menekuk kepalanya di bahu Rania.
"Jangan banyak tanya. Lakukanlah!" Kesal Rania yang sebenarnya sudah menginginkannya sedari tadi.
"Aku tak mengerti, jawaban dengan deheman itu. Makannya aku bertanya!" Seru Erkan lagi.
"Menyingkirlah." Kesal Rania.
"Tidak, tidak. Aku tidak akan bertanya lagi." Jawab Erkan cepat. "Aku akan gila jika tidak menuntaskannya." Lanjutnya.
Dan segera menyiapkan senjatanya untuk memasuki sarung kenyal yang membawah kenik matan.
"Aakh, Rania. Ini sakit!" Ucap Erkan yang merasa senjatanya terhimpit.
Sedangkan Rania hanya bisa menggigit bibir bawahnya agar tak mengeluarkan suara, sebelum merasakan bagian intinya terasa penuh oleh senjata Erkan.
__ADS_1
"Rania, apa yang kau lakukan? Jangan menjepitnya." Ujar Erkan.
"K-kau bisa diam. Aku tidak menjepit!" Rania sangat kesal saat ini. Pasalnya laki-laki itu mulutnya tak bisa diam, selalu mengoceh seperti emak-emak yang sedang menawarkan sayuran di pasar.
Erkan tak pernah merasakan yang seperti ini. Sewaktu dulu melakukannya dengan istri pertamanya, Erkan tak merasa senjatanya di jepit dengan sangat kuat seperti sekarang, hingga dia terdiam larut dalam pikirannya sendiri.
"Kenapa kau diam?" Ujar Rania saat merasa Erkan hanya diam tak bergerak.
"Haa! Maaf. Aku sangat bahagia." Ujar Erkan dan segera menggerakan pinggulnya.
Jam terus berjalan mengitari putarannya, tapi sudah 1 jam berlalu. Mereka tak juga menyelesaikan pekerjaan yang penuh keringat itu.
Rania sudah tak berdaya saat ini, badannya sudah terasa lemas tak bertenaga. Namun tidak dengan Erkan, dia masih kuat dan berstamina.
"Emp... Cepatlah sedikit. Aku tak bertenaga lagi." Ujar Rania pelan.
"Sabar! Aku akan menyelesaikan ini, sebentar lagi." Jawab Erkan dengan nafas yang tersengal-sengal.
Erkan turun dari tubuh Rania, dengan nafas yang belum teratur seraya mengecup kening Rania.
"Huuf..." Erkan membuang nafasnya panjang. "Sungguh permainan yang panjang dan melelahkan."
Rania tak menjawab lagi, dan hanya memasukan dirinya dalam pelukan pria yang membuatnya penuh keringat.
Erkan menarik selimut dan menutupi tubuh mereka. permainan yang melelahkan membuat matanya sangat berat, sedangkan Rania sudah terlelap tanpa menunggu Erkan lebih dulu. Erkan pun menyusul Rania masuk ke alam mimpinya.
*
*
__ADS_1
Pagi menjelang dan dua orang yang berada dalam selimut itu enggan untuk beranjak dari dalam selimut.
"Ini semua karena kau!" Seru Rania.
"Tapi kau menikmatinya sayang!" Jawab Erkan yang terus saja menggoda Rania.
"Kau membuat badanku remuk." Aduh Rania.
"Tenanglah sayang! Nanti kau akan terbiasa." Ucap Erkan.
"Haa! Nanti. Berarti adalagi." Kejut Rania.
"Tentu sayang!" Seru Erkan.
"Tidak. Aku bisa kurus nanti." Ujar Rania.
"Tidak apa. Yang penting kau tetap milikku!" Ujar Erkan lagi.
Tok tok tok tok
Tiba-tiba bunyi ketukan di pintu kamar hotel milik Rania.
"Astaga... Apa yang dia lakukan pagi-pagi begini!" Seru Erkan dengan kesal.
.
.
.
__ADS_1
.
By... By...