
Perlahan-lahan Erkan memempelkan bibir keduanya. Rania memejamkan mata merasakan kehangatan yang di berikan Erkan, namun sesuatu mengejutkan mereka yang sedang di landah asmara.
"Ekhem!!" Seseorang berdiri di depan pintu sedang menatap mereka.
Rania dan Erkan menatap ke arah suara yang berdehem.
"Huuff!! Lagi..." Erkan menghembuskan nafasnya kasar.
Ternyata pintu kamar hotel milik Rania belum tertutup.
"Mengapa kalian suka sekali mengumbar kemesraan?" Ujar Nathan yang berdiri di depan pintu.
Ternyata Nathan berada di hotel yang sama dengan mereka saat ini dan Erkan sangat tahu apa yang Nathan lakukan di sana.
"Om, Nathan. Pergilah selesaikan tugasmu." Usir Erkan lalu menutup pintunya, Nathan hanya bisa menggelengkan kepalanya di luar ruangan itu.
"Kau kebiasaan," ucap Rania kesal.
"Itu juga karena kamu yang selalu menggodaku!" Seru Erkan seraya naik ke atas tempat tidur.
"Apa? Sejak kapan aku menggodamu! Yang ada kau yang menggodaku, sampai aku bercerai dari Maikel." Kesal Rania.
"Sudah. Jangan sebut pria itu lagi. Kau milikku sekarang!" Seri Erkan seraya merangkul pinggang wanita itu.
"Enak saja! Aku belum menyetujuinya." Ucap Rania.
__ADS_1
"Aku akan memaksamu!" Seru Erkan, tetap dengan mendekap pinggang Rania.
"Dengan apa?"
"Dengan ini," dengan gerakan cepat kini tubuh Erkan sudah berada di atasnya.
"Kau, kau mau apa?" Rania kaget hingga susah untuk berucap.
"Aku mau ini!" Erkan menunjuk bibir wanita itu, lalu mendekatkan bibirnya.
Deca pan demi deca pan terdengar saling bersahutan di dalam kamar hotel itu, hingga keduanya larut dalam permainan masing-masing.
Saat ini bibir pria itu, telah turun di ke leher jenjang wanita di depannya dan sang wanita telah terbuai dengan dengan permainan pasangannya.
Rania tak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu saat bersama Maikel. Maikel akan bermain lansung ke intinya saja, tanpa mementingkan wanita yang bersamanya.
Rania berdesis, merasakan geli dan nik mat dengan perlakuan Erkan, perlahan-lahan jemari kekar itu telah masuk ke dalam kain atasan yang di miliki Rania, mere mat isi di dalamnya, hingga Rania mende sah.
Rania menutup kembali bibirnya saat suaranya keluar begitu saja. Dia sangat malu saat ini, karena tak bisa mrngendalikan bibirnya sendiri.
Pria yang berada di atas tubuh wanita itu kini telah terbuai dengan permainannya sendiri hingga tak bisa mengendalikan dirinya. Bertahun-tahun tubuhnya dingin tanpa ada kehangatan dari seorang wanita. Kini dia sangat menginginkannya.
Kain atasan wanita itu kini telah entah kemana, tertinggal penutup bukit kembarnya yang ada di sana. Erkan mengeluarkan salah salah satu bukit itu, lalu menye sapnya lembut. Satu tangannya pun tak tinggal diam, dia memainkan bukit satunya lagi.
"Erkan!!" Seru Rania dengan memejamkan matanya, merasakan nik mat di tubuhnya.
__ADS_1
"Ini masih ken yal!!" Seru Erkan.
"Jangan bicara! Aku malu." Ucap Rania dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Erkan tersenyum, wanita ini akan bertekuk lutut di bawah kunkungannya saat ini. Itu semua akan dia lakukan agar Rania tak bisa lagi lari darinya. Erkan sangat takut, kini status Rania adalah seorang Janda. Dan janda zaman sekarang adalah idola para pria.
Seperti sebuah motto yang katakan para pria-pria pengagum seorang janda, mereka berkata 'janda semakin di depan!' Erkan akan gila memikirnya.
Erkan melempar penutup bukit kembar itu ke sembarang arah. Erkan tak peduli lagi jika ada penolakan dari Rania, maka dia akan memaksa.
Erkan mere mat kedua bukit itu, lalu menye sapnya secara bergantian. Tak peduli jika saat ini Rania telah mende sah karena kegelian, dia terus melakukannya, lagi dan lagi.
"Ssstttt!! Jangan berhenti." Pinta Rania. Baru kali ini dia mendapatkan perlakuan seperti itu dan membuatnya seperti mela yang. Tubuhnya sudah seperti cacing kepanasan yang tak bisa diam, bergerak ke arah yang tak menentu hingga Erkan sangat susah untuk mengendalikan tubuh wanita itu.
"Kau tak bisa mengendalikan dirimu! Apa kau tak pernah mendapatkan sent uhan seperti ini?" Tanya Erkan, menghentikan sejenak permainannya.
Rania hanya dapat menggelengkan kepalanya untuk menjawab. Bibirnya tak kuasa lagi menjawab.
"Baiklah, kau akan mendapatkan pengalaman terin dah bersamaku!" Ucap Erkan dengan tersenyum.
.
.
.
__ADS_1
.
By... By...