'Kan Kurebut Istrimu

'Kan Kurebut Istrimu
Terlalu gegabah


__ADS_3

Rania menyambut dengan rasa penasaran, namun dia tak langsung membukanya. Menunggu penjelasan dari Maikel.


"Aku sudah mengurus perceraianku, dan Rania tinggal menandatanganinya saja." Jelas Maikel.


"Apa yang kamu lakukan, Maikel?" Bentak Luiz seraya berdiri dari duduknya.


"Aku terima!!" Selah Rania dengan cepat.


"Rania! Berpikir dulu sebelum kau mengambil keputusan." Ucap Luiz.


"Maaf, Pi. Tapi ini yang terbaik untuk kami. Sebelumnya aku juga berpikir seperti itu!" Jelas Rania dengan mantap.


"Ya! Itu memang lebih baik. Untuk apa memelihara wan ita yang tak bisa memberikan kita keturunan." Sambung Mella, dengan sinisnya. Merasa bahagia dengan keputusan Maikel.


"Mi. Jaga bicaramu, Mi!" Seru Luiz.


"itu kebenarannya. Jangan menutupinya! Sudah lima tahun menikah, tapi tidak bisa hamil. Apa itu namanya kalau bukan mandul?" Bantah Mella.


"Mami!!" Bentak Luiz, menunjukan kemarahan.


"Itu benar, Pi! Setelah ini carikan Maikel wanita yang tidak mandul dan aku juga akan mencari pria yang ingin memliki anak denganku." Rania membenarkan ucapan Mella, namun dilanjutkan dengan menyindir Maikel.


Maikel menatap Rania tajam. Dia sangat mengerti dengan maksud dari Rania.


"Apa kau pikir, kau bisa memiliki anak dengan pria lain. Jangan mimpi! Sekali mandul tetap mandul." Ejek Mella.


Rania tak menjawab lagi. Dia segera mengambil pulpen yang terletak di atas meja dan membubuhi tintanya ke dalam kertas yang berada di tangannya.


Rania meletakan pulpen beserta surat cerai itu di atas meja dan Maikel yang melihat itu menyunggingkan bibirnya.


"Pi, aku ingin meminta hakku!" Seru Rania.

__ADS_1


"Apa yang kamu inginkan? Kau berharap harta gono-gini dari Maikel! Jangan berharap, kau tidak akan mendapatkan sepersen pun." Ketus Mella.


"Papi tahu, apa aku minta!" Seru Rania dengan tersenyum.


"Rania. Berpikirlah sebelum bicara. Kau tidak menghasilkan apapun saat berada di rumah ini." Ucap Maikel sinis.


"Tidak di sini! Tapi di perusahaan." Jawab Rania.


"Jangan berharap!!" Seru Maikel dengan mengejek.


Luiz jatuh terduduk di kursinya dengan lemas.


"Rania punya hak atas perusahaan!" Seru Luiz pelan.


"Apa maksud, Papi?" Tanya Mella, menatap Suaminya dengan penuh pertanyaan.


"Rania pemilik saham 65 % di Palakcorps." Ucap Luiz.


"Papi jangan bercanda, ini tidak lucu, Pi!!" Seru Maikel.


"Aku akan memimpin perusahaan setelah ini." Ucap Rania santai. Sebenarnya dia tidak tega dengan semua ini, tapi Maikel harus di pelajaran.


"Jangan macam-macam kamu, Rania." Bentak Maikel. "Aku yang memimpin perusahaan, kau tidak bisa menggantiku dengan seenaknya."


"Aku adalah pemilik saham terbesar di perusahaan itu. Jadi aku yang akan memimpin di perusahaan." Jelas Rania.


"Apa ini, Pi?" Tanya Mella lagi.


Luiz mengingat kejafian beberapa tahun lalu, di mana sebelum ayah Rania menghembuskan nafas terakhirnya.


Saat itu Luiz dan ayah Rania adalah sahabat dekat. Dan setelah menjodohkan Rania dan Maikel. Perusahaan yang saat itu masih di pimpin oleh Luiz mengalami pailit karena suatu tender yang di dapatnya tidak bisa di selesaikan maka dari itu Luiz di kenakan denda yang sangat besar.

__ADS_1


Ayah Rania menanamkan sahamnya di perusahaan Luiz, untuk membangunkan kembali perusahaannya saat itu.


"Ayah Rania menanamkan sahamnya di perusahaaan kita sebelum pernikahan Maikel dan Rania berlangsung, sebesar 65 %. Itu semua karena perusahaan kita saat itu sedang pailit." Jelas Luiz.


Mella meneteskan air matanya saat Luiz mengatakan hal itu dan Maikel pun shok dengan perkataan Luiz hingga tak bisa bicara lagi.


"Dan perjanjian pra nikah. Jika suatu hari Maikel dan Rania memutuskan bercerai. Jika Rania yang menggugat cerai lebih dulu, maka Rania tidak bisa mengambil sahamnya dari perusahaan. Tapi... Jika Maikel yang menggugat Rania, maka kita harus mengembalikan saham beserta bunga-bunganya pada Rania saat perceraian itu terjadi." Lanjut Luiz.


Rania menatap sinis Maikel dan ibu mertuanya, yang kini terdiam tanpa bisa berkata-kata lagi. Mereka tetlihat shok, dengan penjelasan Luiz. Maikel jatih terduduk di kursinya, kini dia bukan siapa-siapa lagi. Bahkan jika mengembalikan Saham Rania beserta bunga-bunganya saat ini, perusahaan yang di pimpimnya akan langsung bangkrut.


"Kenapa Papi tidak pernah mengatakannya? Apa kita ini bukan keluarga? Kenapa hanya dia yang tau?" Ucap Mella dengan terisak.


"Rania awalnya juga tidak tahu! Tanpa sengaja Rania menemukan surat perjanjian itu. Dan dia mengetahui segalanya." Jelas Luiz lagi.


"Kenapa tidak di bakar saja, surat itu?" Mella hanya dapat mengatakannya dalam hati. Saat ini kehidupan mereka bergantung pada Rania.


"Aku akan pergi sekarang! Dan akan ke kantor besok lusa. Ku harap Papi sudah menyelesaikannya saat aku pergi ke sana!" Seru Rania segera pergi dari tempat itu.


Maikel hanya bisa menatap kepergian Rania, tanpa bisa mencegahnya. Kini dia terlalu gegabah mengambil keputusan. Dia tidak tahu jika semua akan seperti ini.


.


.


.


.


By... By...


Mana nih dukungannya?

__ADS_1


Like, coment and giftnya😊


__ADS_2