'Kan Kurebut Istrimu

'Kan Kurebut Istrimu
Hasrat Maikel


__ADS_3

"Lalu apa Maikel tahu semua ini?"


"Tidak. Aku tahu semua ini setelah satu tahun menikah dengannya. Tanpa sengaja aku mememukan surat perjanjian dan surat kepemilikan saham itu di ruangan kerja papinya Maikel dan setelah aku bertanya semua itu benar adanya." Ucap Rania.


"Kita akan merebut saham itu setelah kau dan aku menikah!" Seru Erkan.


"Bagaimana caranya?" Tanya Erkan.


"Kau tenang saja! Kau tinggal duduk manis, dan aku yang akan bekerja!" Seru Erkan lagi.


Rania nampak memikirkan apa yang di ucapkan Erkan, namun dia belum bisa memutuskan sesuatu.


******


Maikel dan Liandra kini berada dalam ruangan yang tadi tinggalkan oleh Luiz.


"Liandra, ini terlalu cepat! Untuk Papi mengetahui hubungan kita." Ujar Maikel dengan mengusap wajahnya kasar.


"Tapi aku tidak terima Papimu menghinaku. Dia mengatakan yang tidak-tidak padaku, Maikel!" Seru Liandra.


"Aku tidak tahu apa yang akan di perbuat Papi setelah ini!" Ucap Maikel.


"Terserahlah. Aku pusing sekarang! Aku pulang saja." Ujar Liandra seraya berdiri dari kursinya.


"Tunggu, biar aku mengantarkanmu!" Tawar Maikel, namun di tolak oleh Liandra.


"Tidak! Aku sedang tidak mood sekarang. Aku akan pergi ke apartement temanku." Liandra beranjak dari ruangan itu, tertinggal Maikel dengan kekesalannya. Dia ingin menenangkan diri, dia pikir bersama Liandra akan bisa melupakan sejenak masalahnya, namun Liandra menolak dan ingin bersama orang lain.


******


Sore hari, Rania telah pulang ke rumah, dan tengah di sambut mertuanya dengan omelan.


"Ini, menantu yang tidak tahu diri. Tidak bisa menghasilkan anak, dan kerjanya hanya keluyuran." Ujar Mella dengan sinis.

__ADS_1


"Maaf, Mi. Tapi aku bekerja, bukannya keluyuran." Jawab Rania.


"Buat apa kamu kerja? Apa suamimu sudah tidak sanggup memberimu makan, hingga harus bekerja?"


"Aku makan dari hasil keluargaku!" Seru Rania.


"Kurang ajar, kamu." Bentak Mella.


"Itu kenyataannya!" Ucap Rania dan berlalu dari hadapan ibu mertuanya.


"Dasar, menantu tidak tahu di untung." Pekik Mella.


Rania menganggap angin lalu perkataan dari mertuanya dan meneruskan langkah menuju kamarnya.


Dalam perjalanan Rania melewati kamar Maikel yang berbeda beberapa ruangan dari kamarnya, tepat saat itu Maikel menarik lengan Rania masuk ke dalam kamarnya.


"Awk" pekik Rania saat meresa badannya tertarik.


Maikel mengunci pintu ruangan kamarnya bersama Rania di dalamnya.


Maikel yang hanya memakai boxer, tak memperdulikan perkataan Rania. Dia malah membuka pakaian satu-satunya yang menempel ke badannya dan membuang tepat di wajah Rania.


"Apa-apaan kamu, Maikel?" Pekik Rania yang merasa terhina dengan perlakuan Maikel padanya.


"Apa? Kamu istriku. Jadi sekarang layani aku." Pinta Maikel dengan gairah yang sudah di ubun-ubun.


Rania tak sudih memandang Maikel yang sudah tak berbusana sehelai benang pun. Apalagi kini Maikel sedang memainkan Pusakanya dengan mengocok-ngocok dengan tangannya sendiri.


"Jangan mendekat, Maikel! Atau aku akan benar-benar membuat milikmu itu mati rasa." Ucap Rania dengan mengacungkan jarinya.


"Kenapa? Apa kau tidak takut berdosa, karena tidak melayani suamimu!" Seru Maikel sambil terus mendekati Rania.


"Diam di sana, Maikel!" Seru Rania yang sudah ketakutan.

__ADS_1


"Cepatlah Rania, jangan membuatku memaksamu. Aku sudah tidak tahan lagi!" Ucap Maikel dengan sedikit ringisan karena permainannya sendiri.


"Dasar cabul!" Seru Rania yang kini yengah berjalan mundur, namun dengan cepat Maikel meraih tubuh itu dan mengangkatnya mendudukannya di atas kasur.


Rania terus meronta-ronta, namun dia sudah terkunci oleh Maikel yang sudah di penuhi oleh api gairah.


Perasaan hasrat yang sejak bersama Liandra tadi ingin dia lepaskan, namun Liandra hanya mengabaikannya. Kini dia ingin menuntaskannya bersama Rania.


Tidak ada salahnya, selama Rania masih menjadi istrinya. Semua sah-sah saja, dan sudah menjadi tugas istri untuk melayani suaminya, pikir Maikel.


Namun Rania sangat muak saat ini, hingga dia rasanya ingin muntah melihat penampilan Maikel saat ini.


Rania sudah terkunci, kedua tangannya sudah di tahan oleh Maikel dan kedua kaki Maikel menahan pergerakan kaki Rania dengan mengapitnya.


Maikel memaksa Rania membuka mulut agar pusakanya dapat masuk, namun Rania mengunci bibirnya rapat-rapat.


"Hmp... Hmp..." Pekik Rania tertahan karena bibirnya yang terkunci


"Ayo Rania... Buka mulutmu!" Pinta Maikel.


.


.


.


.


By... By...


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2