'Kan Kurebut Istrimu

'Kan Kurebut Istrimu
Pengalihan perusahaan


__ADS_3

Erkan pun melirik ke arah Rania yang tengah berdiri tak jauh darinya.


"Siapa itu, Nak?" tanya Vanesha.


"Itu... Mommy Gelora!" ucap anak kecil itu dengan tersenyum.


"Mommy... Erkan?" Vanesha melirik Erkan, dengan maksud.


Vanesha mengenal siapa Mommy dari Gelora, dan saat ini cucunya menyebut Mommy pada orang lain.


"Itu..."


"Slamat siang, Nyonya." sapa Rania, menyelah perkataan Erkan. "Saya sekertaris tuan Erkan," lanjut Rania.


Vanesha melirika kembali ke arah Erkan, mengharapkan mendapat jawaban darinya. Vanesha tahu sejak awal bekerja Erkan tak mau memakai sekertaris, karena menurutnya kebanyakan sekertaris, apalagi wanita sangat merepot untuknya.


"Hm," Erkan berdiri mendekati Rania dan membawahnya ke hadapan ibunya. "Ini... Rania, Bu. Dia sekertaris, sekaligus calon istriku," lanjutnya.


"Calon istri?" tanya Vanesha memastikan.


"Iya, Bu!" jawab erkan dengan menganggukan kepalanya. "Nanti akan aku ceritakan pada, setelah Ibu sehat," lanjut Erkan.


"Bu, Ibu ke rumah sakit, ya," minta Erkan.


"Tidak perlu, Ibu tidak sakit parah." tolak Vanesha.


"Ayo, Bu. Nanti Rania temenin di rumah sakit," ucap Rania membuka suara.


Atas paksaan Erkan, Rania juga Gelora, cucu satu-satunya wanita itu, Vanesha mau di bawah ke rumah sakit.


*

__ADS_1


*


Hari ini Rania akan pergi ke perusahaan Palakcorps. Rania meminta bantuan Erkan untuk menemaninya ke perusahaan itu dan dengan senang hati Erkan menemaninya ke sana.


Rania, Erkan, Soni dan seorang pengacara di bawah Erkan untuk mendampingi Rania. Saat ke empat orang itu masuk ke dalam perusahaan Palakcorps, bisik-bisik para karyawan di dalamnya pun terdengar.


"Itu, istrinya CEO di sinikan?" bisik salah seorang karyawan wanita di sana pada temannya.


"Iya. Siapa pria yang datang bersamanya?" Begitulah, bisik-bisik orang di sana, dan masih banyak lagi yang tak bisa di dengar oleh Rania bersama orang-orang yang mendampinginya.


Ting


Pintu lift di lantai para petinggi perusahaan itu terbuka. Rania dan 3 orang pria itu berjalan menuju ruangan Maikel, yang di sana sudah berada Maikel dan Luiz.


"Slamat siang," sapa Erkan.


Wajah Maikel tanpak pias, melihat Rania tak datang sendirian. Padahal dia sudah berencana membujuk Rania, untuk tetap mempertahankan perusahaan itu, agar dirinya tak tersingkirkan.


Rania masuk dengan bersama yang lainnya, mereka duduk di sofa dan Luiz mempersiapkan berkas-berkasnya.


"Ini semua berkas-berkas yang kau perlukan Rania. Papi sudah mempersiapkan segalanya." ucap Luiz pasrah.


"Terima kasih, Pi." jawab Rania.


"Rania, apa kau yakin, bisa mengurus perusahaan ini?" Tanya Maikel dengan sombongnya.


"Bisa atau tidak, itu urusanku!" Jawab Rania, meirik sebentar ke arah Erkan seperti meminta pertolongan.


Jujur saja Rania masih agak takut, sebelumnya dia belum pernah memegang tanggung jawab sebesar ini. Mengurus perusahaan, tak pernah terbayangkan olehnya untuk menjadi pimpinan suatu perusahaan yang besar. Awalnya dia berpikir, jika pernikahannya bersama Maikel bisa di perbaiki, maka perusahaan itu akan tetap di pegang oleh Maikel.


"Mengurus perusahaan sebesar ini, tak seperti mengurus rumah, yang tak apa jika berantakan!" seru Maikel.

__ADS_1


"Maaf, Tuan Maikel, tapi sekarang perusahaan ini di bawah naunganku. Kami telah melakukan kontrak kerja sama, dan selanjutnya saya yang akan membimbingnya untuk mengurus perusahaan ini." ujar Erkan, membuat Maikel kalah telak, karena ingin menguras emosi Rania.


Wajah Maikel, terlihat sunghuh kesal. Setelah melakukan tanda tangan berkas-berkas pengalihan pimpinan kepada Rania, Maikel segera keluar dengan membanting pintu sangat keras.


Braak


"Rania.., Maafkan Maikel, juga papi yang tidak bisa membuat kamu bahagia dengan rumah tanggamu," ucap Luiz sambil menggenggam jemari Rania.


"Tidak apa, Pi. Sekarang Rania bahagia," jawab Rania dengan menunjukan senyumnya.


"Tolong, jaga Rania baik-baik!" Seru Luiz.


"Tenang saja, Tuan. Saya tidak akan menyia-nyiakan dia seperti Maikel." jawab Erkan seraya merangkul bahu Rania dan mendekatknnya.


"Rania, papi pamit," Rania mengangguk, tanpa bicara dan Luiz pun berlalu dari ruangan itu.


*


*


Maikel saat ini berada dalam mobilnya, mengendarainya dengan kecepatan yang sangat tinggi, entah ke mana saat ini dia akan pergi melepaskan segala kekesalannya. Dia terus saja mengendarai mobilnya, tanpa tentu arah, hingga...


.


.


.


.


Jangan lupa hadiahnya, buat author🤗

__ADS_1


__ADS_2