
Nathan menelan salivanya berkali-kali, pemandangan di hadapannya sungguh menggoda. Membuat kepala atas, bawahnya terasa nyut-nyutan.
"Ck, aku harus pergi sekarang. Aku bisa gila jika berada di sini terus." Ujar Nathan seraya berdiri dari tempat duduknya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi.
Rania duduk di samping Erkan, "ada dengan pamanmu?" Tanya Rania dengan penasaran, menatap kepergian Nathan.
"Sudahlah! Kau tidak akan mengerti masalah pria." Jawab Erkan sambil mengelis lembut kepalanya.
Rania merasa tersentuh hatinya. Selama bertahun-tahun dengan Maikel, tak pernah sekali pun pria itu mengelusnya dengan penuh kelembutan.
"Sekarang katakan padaku. Ada apa hingga kau datang selarut ini?"
"Aku! Aku takut tinggal di rumah itu lagi. Maikel semakin kasar padaku." Jawab Rania pelan.
"Sudah ku katakan. Jangan kembali ke rumah itu. Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu seujung kuku pun!" Kesal Erkan.
"Sudahlah! Aku sudah di sini. Aku ingin menginap malam ini."
"Itu lebih baik. Kau bisa tinggal di sini sampai kapan pun." Ucap Erkan.
******
Pagi hari, Maikel tengah berada di ruang kerja ayahnya.
"Papi, aku ingin bicara!" Sapa Maikel, setelah masuk ke dalam ruangan Luiz.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Luiz santai saja.
"Pi, aku sudah mendaftarkan perceraianku dengan Rania!" Seru Maikel.
"Apa?" Luiz sangat shok mendengarnya.
"Iya, Pi. Kami tidak bisa hidup bersama lagi. Tidak ada kecocokan di antara kami, bahkan sudah beberapa minggu ini kami telah pisah kamar." Jelas Maikel.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Apa kau mengusirnya?"
"Pi, bahkan sekarang Rania sudah tak mau mela yaniku. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Mungkin dia sudah menemukan pria lain, yang lebih baik menurutnya." Ujar Maikel lagi.
"Tidak mungkin." Luiz sungguh tidak percaya dengan ucapan Maikel. "Jika kau tidak berbuat sesuatu, tidak mungkin Rania ingin pisah kamar." Lanjut Maikel.
"Apa Papi tidak percaya padaku? Sudahlah, Pi. Aku sudah membuat keputusan dan aku hanya memberitahukan Papi, tidak meminta pendapat." Maikel beranjak dari kursinya dan segera keluar dari ruangan Luiz dengan Kesal.
"Maikel, kau tidak sarapan?" Sapa Mella saat melihat Maikel akan berjalan keluar.
"Tidak. Aku tidak berselera!" Jawab Maikel dan segera berlalu.
Mella hanya menatap kepergian putranya, dengan hati yang tak menentu. Dia tahu, putranya sedang berkonflik dengan suaminya karena sedari dulu, mereka tidak pernah searah untuk hal apapun.
Sore harinya Rania kembali pulang ke rumah Maikel. Dia tak mungkin terus tinggal di mansion Erkan saat statusnya masih istri orang.
"Rania" Panggil Mella dengan ketus.
Rania menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
"Dari mana saja kamu? Pagi tadi, kau tidak terlihat keluar dari rumah dan sekarang kau pulang di sore hari!" Mella mendekat ke arah Rania dengan penuh curiga.
"Aku keluar pagi-pagi sekali. Mami dan yang lainnya belum bangun saat itu, Mi!" Jelas Rania, bohong.
Sedikit berbohong tak apa, agar masalah tidak semakin besar. Tapi Mella masih tidak percaya padanya.
"Jangan bohong kamu! Satpam tidak melihatmu keluar pagi-pagi. Mami bertanya padanya dan dia bilang tidak melihatmu." Ujar Mella dengan nada marah.
"Satpam juga masih tidur, Mi! Sudah Mi, aku capek, mau istirahat." Seru Rania lagi lalu menjutkan langkahnya.
"Rania! Mami, belum selesai!" Pekik Mella dengan penuh emosi.
Rania tak memperdulikan tetiakan Mella, dia menganggapnya angin lalu dan terus berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
"Dasar kurang a jar!" Maki Mella.
*
*
Makan malam pun tiba. Maikel meminta pelayan untuk mengajak Rania untuk turun makan malam bersama.
Tak seperti biasanya, Maikel tak pernah peduli pada Rania. Tapi malam ink dia mengajak Rania untuk makan malam bersama, pasti ada maksud tertentu.
Rania turun mengikuti ajakan pelayan padanya. Seluruh keluarga makan malam dengan tenang hingga selesai makan malam dan Maikel mengajak seluruh keluarga untuk bicara termasuk Rania.
"Pi, Mi. Aku ingin bicara dengan kalian. Rania juga" Ucap Maikel.
Semua menatapnya. Baru kali ini Maikel ingin berbicara serius bahkan dengan seluruh keluarga.
"Baiklah! Kita bicara di depan." Pinta Luiz.
Mereka semua berjalan ke ruang keluarga, termasuk Rania. Mereka menjadi sangat penasaran dengan apa yang akan Maikel bicarakan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Luiz setelah sampai di keluarga.
Maikel mengeluarkan sebuah map yang sudah di siapkannya sedari tadi. Lalu menuerahkannya pada Rania.
Rania menyambut dengan rasa penasaran, namun dia tak langsung membukanya. Menunggu penjelasan dari Maikel.
"Aku sudah mengurus perceraianku, dan Rania tinggal menandatanganinya saja."
.
.
.
__ADS_1
.
By... By...