
Linda tersenyum saat berada di belakang tubuh pria itu, dengan sangat lembut Linda memasukan tangannya dari balik leher pria itu dan mulai meraba-raba dada bidangnya, membuat Erkan berdesis merasakan darahnya mengalir di seluruh urat-urat tubuh.
"Ssstttt....."
Linda terus saja mengerayangi tubuh Erkan dengan tangan lembutnya. Erkan merasa terbuai karena sentuhan-sentuhan itu hingga dia menikmatinya.
Entah apa yang terjadi dengan tubuhnya, pikir pria itu. Tubuhnya mendamba kehangatan seorang wanita yang sekian tahun tak pernah dia rasakan lagi.
Dia menutup diri untuk para wanita-wanita yang selama ini menjadi godaan iman terbesar untuknya. Sebagai pria dewasa, sejatinya dia mendamba belaian belaian seorang wanita, namun saat matanya tertuju pada putri kecilnya itu. Dia tak bisa memperlakukan para wanita sebagai penghangat ranjangnya, tanpa adanya rasa dan status.
Linda mempermaikan tubuh pria itu hingga kehilangan akal sehatnya, membangkitkan gelora yang ada dalam diri pria matang di hadapannya.
Linda tak ingin menghilangkan kesempatan, mendapatkan pria idaman hatinya dalam beberapa tahun terakhir ini.
Dengan susah payah, Linda mencari seseorang untuk memdapatkan sesuatu yang dapat membangkitkan gairah Erkan dan kini pria itu sudah jatuh dalam perangkapnya, pikir Linda.
Erkan sudah hilang akal saat ini. Sentuhan-sentuhan yang di dapatnya tak bisa di tolak hanya dapat dia nikmati.
Lindah berpindah ke depan dan segera masuk dalam pangkuan pria itu, tangan Erkan kini sudah bergerilya meremat gundukan yang ada di depannya. Linda menyatuhkan bibirnya dan bibir Erkan, melu mat bibir pria itu, bahkan jemari Linda tak tinggal diam dia meraih titik kecil di dada bidang Erkan dan memelintirnya membuat raungan kecil di bibir Erkan.
Sedang asik-asiknya dengan pergumalan kini Linda sudah jatuh terduduk di lantai bawah, dekat sofa.
__ADS_1
"Aawk" pekik Linda saat merasakan benturan di pinggulnya yang mengenai meja.
Suara bel di pintu utama mansion, mengembalikan akal sehat Erkan dam dengan segera berlari menuju pintu utama mansion, berharap mendapat bantuan lain.
"Rania!!" Seru Erkan terkejut dengan wajah yang dilihatnya saat ini.
Rania tak kalah terkejutnya, melihat Erkan yang bertelanjang dada di depannya, memamer dada bidangnya yang begitu menggairahkan.
"Ada apa denganmu?" Tanya Rania penasaran.
"Rania!! Kau datang di waktu yang tidak tepat." Aduh Erkan menatap Rania dengan tatapan damba.
Rania menatap pria itu intens, mata sayu dengan tubuh yang sedikit bergetar. Fia wanita dewasa yang mengerti apa yang di butuhkan Erkan saat ini.
"Lari dari kandang macan, masuk ke kandang singa!' Batin Rania seakan ingin menangis.
Erkan menarik tubuh itu masuk ke dalam dekapannya. Dekapan yang sangat kuat hingga Rania sedikit susah untuk bernafas.
"Erkan!" Seru Rania yang merasa tubuhnya terhimpit.
Sedikit Erkan melonggarkan dekapannya, lalu mengsejajarkan kepalanya mereka.
__ADS_1
"Rania! Aku butuh bantuanmu, aku tersiksa." Keluh Erkan dengan suara seraknya.
Perlahan namun pasti, Erkan telah menyatuhkan bibir mereka. Erkan meraup bibir itu hingga tersapuh bersih, dari atas ke bawah hingga memasuki ruang yang di batasi oleh gigi putih rania.
Rania hanya dapat menerima tanpa bisa menolak. Tak tahu apa yang terjadi dengannya, Rania mengikuti segala permainan yang di mainkan Erkan yang akal sehatnya tahu jika yang mereka lakukan itu tidak bisa di benarkan. Lalu, apa bedanya dia dengan Maikel? Pikirnya.
Namun sentuhan yang Erkan berikan sangat berbeda dengan Maikel yang sangat kasar memperlakukannya.
Tanpa sadar pintu yang tadinya terbuka belum di tutup kembali sehingga siapa saja dapat melihat mereka.
Keduanya telah terbuai dengan permainan masing-masing, yang saling memberi kenikmatan pada lawan main mereka. Membangkitkan gejolak gairah yang ada dalam diri mereka, hingga seseorang menghentikan aktifitas keduanya.
"Heeiii!!!"
.
.
.
.
__ADS_1
Siapa yah?🤗