12 Detik!

12 Detik!
Ruang Seni Musik


__ADS_3

“Laxus, kenapa kau selalu membelaku?” tanya Tea perlahan.


“Aku hanya mempercayaimu.” jawab Laxus sambil menatap mata Tea.


“Tadi saat aku berusaha menggigitmu rasanya seperti bermimpi, aku mencium aroma yang harus darimu.” kata Tea curhat.


“Aroma apa?” tanya Laxus yang masih menatap mata Tea.


“Entahlah, aku belum pernah mencium aroma seperti itu.” jawab Tea sambil melihat pemandangan di luar jendela ruang seni musik.


“Yang ada dikepalaku hanya keinginan untuk memakanmu, aku ingin menggigitmu. Aku terus berpikir untuk menggigit dan memakanmu, hanya itu yang aku pikirkan. Lalu aku mendengar suaramu saat memanggilku, suaramu menyadarkanku.” tambah Tea lirih.


“Syukurlah jika suaraku bisa membantumu.” jawab Laxus malu - malu.


“Kenapa bagus?” tanya Tea penasaran.


“Karena aku menyukaimu dan aku ingin selalu bisa melindungimu.” jawab Laxus yang membuat Tea terkejut.


“Aku tidak begitu pintar dan aku pernah bergaul bersama anak - anak pembuat onar saat masih kelas 10. Sedangkan kamu murid teladan, pintar, dan juga cantik jadi senang rasanya jika aku bisa melindungi seseorang yang aku sukai.” tambah Laxus malu - malu.


“Laxus!” panggil Tea sambil menatap pemandangan diluar gedung sekolah yang membuat Laxus melihat ke arah Tea.


“Aku juga menyukaimu!” lanjut Tea yang langsung menatap Laxus dalam - dalam.


“Aku senang mengetahuinya sebelum aku mati.” tambah Tea lirih yang membuat Laxus tersenyum bahagia dan langsung menggenggam tangan Tea.


... Tiba - tiba Tea berdiri dan melihat ke arah gorden yang menutupi seluruh jendela ruang seni musik dari lorong gedung sekolah yang membuat Sasha dan Intan melihat ke arah Tea....


“Ada apa?” tanya Laxus penasaran.


“Aku mendengar suara aneh.” jawab Tea yang langsung berjalan mendekati gorden dan diikuti oleh semua teman - temannya kecuali Naga yang fokus mengamati Tea.


“Aku mendengarnya!” lanjut Tea fokus.


“Kamu mendengar apa?” tanya Laxus dan Intan kompak yang penasaran.


“Ada yang sedang berlari.” jawab Tea sambil melihat ke arah Intan.


“Tolong berhenti Tea, kamu membuatku takut.” pinta Yona yang ketakutan.


“Apa kalian tidak mendengarnya?” tanya Tea kebingungan.

__ADS_1


“Apa yang sedang kamu bicarakan Tea?” tanya Yona yang masih ketakutan.


“Apa kamu takut?” tanya Tea dingin.


“Ada apa denganmu?” tanya Yona semakin ketakutan.


“Tidak ada apa apa, hanya saja napasmu paling keras.” jawab Tea dingin yang membuat Naga tersenyum mendengarnya.


... Tea mulai mendengar suara teman - teman disekitarnya begitu jelas hingga suara napas mereka masing - masing. Naga yang menyadari kemampuan Tea, terus mengamati Tea dengan seksama....


“Apa kamu tahu seberapa jauh jarak dari sini kepada sesuatu yang sedang berlari?” tanya Naga memecah keheningan.


“Aku tidak tahu, tapi suaranya semakin jelas terdengar.” jawab Tea penuh keyakinan.


“Ayo pergi dari sini, tempat ini aneh!” pinta Tea yang sedang beradaptasi dengan kemampuannya.


“Kita tidak bisa pergi dengan mudah diluar banyak zombie.” jawab Ilham.


“Bagaimana bisa musiknya tiba - tiba berhenti ketika kita sudah hampir sampai ditangga menuju atap gedung, sialan.” keluh Riki yang langsung duduk di dekat Ilham.


“Haa benar!” tiba - tiba Juju teringat sesuatu dan langsung berlari mencari sesuatu di dekat pintu masuk sebelah kiri.


“Kita bisa menggunakan ini.” lanjut Juju sambil menunjukan handycam yang dia temukan.


“Kita harus membuat barikade yang tinggi ditengah sini lalu memancing para zombie dengan musik yang ada di handycam dan ditambah dengan alat musik. Jadi ketika pintu dibuka mereka akan masuk mengikuti suara musik begitu lorong kosong kita bisa langsung naik ke atap.” jelas Intan sambil berjalan menunjukan lokasi yang tepat untuk membangun barikade.


“Yap betul Intan, aku sepemikiran dengan Intan.” kata Juju sambil tersenyum penuh semangat.


“Jadi kita harus menumpuk meja, kursi dan barang - barang lainnya yang ada di tengah sini, buka pintu dan lari lewat pintu samping kiri?” tanya Ilham mengkonfirmasi.


“Bukan disini sebaiknya lebih depan lagi.” jawab Intan sambil menunjuk ke arah yang lebih dekat dengan pintu sebelah kiri.


“Sisi belakang ini harus lebih luas karena jumlah zombie jauh lebih banyak daripada kita.” tambah Intan penuh percaya diri.


“Ayo kita coba strategi ini dan berimprovisasi agar kita bisa pergi ke atap gedung sekolah ini.” kata Ilham yang setuju dengan ide Intan.


“Kita juga bisa menggunakan tv yang ada di depan untuk membuat musiknya lebih kencang.” usul Gari sambil menunjuk ke arah tv yang berada di pojok kiri depan.


“Sasha, Yona tolong bantu aku menyambungkan handycam ke tvnya.” ajak Gari yang langsung mencari semua peralatan yang dia butuhkan dibantu oleh Yona dan Sasha.


... Naga, Ilham, dan yang lainnya langsung mulai menyusun meja, kursi dan barang - barang yang ada untuk membuat barikade yang cukup tinggi. Mereka juga memanfaatkan tali yang mereka temukan untuk mempererat barang - barang yang mereka susun agar lebih kokoh. Setelah barikade dibuat cukup tinggi, Gari langsung menarik kabel yang tersambung antara tv dan handycam ke belakang barikade untuk mulai memancing para zombie....

__ADS_1


“Kurasa ini sudah cukup.” kata Inta yang melihat seluruh barikade.


“Ya.” jawab Ilham setuju sambil melihat barikade yang sudah tersusun.


“Apa kalian tidak mau kemari?” tanya Riki yang mengintip dari balik barikade.


“Cepat kemarilah lewat celah disamping sana!” pinta Riki.


“Ayo!” ajak Laxus kepada yang lain yang belum berlindung di balik barikade.


... Laxus langsung mengambil kursi dan naik ke balik barikade, lalu membantu Tea, Intan, Sasha dan Ilham. “Kenapa kamu gak naik Naga?” tanya Sasha yang melihat Naga tidak naik ke balik barikade....


“Aku akan membukakan pintunya terlebih dahulu Sha.” jawab Naga.


“Ahhh betul juga.” kata Riki sambil menghela napas.


“Gak perlu khawatir Sha, aku pasti akan segera ke balik barikade setelah membuka pintunya.” kata Naga penuh percaya diri.


“Hati - hati ya Naga.” pinta Sasha cemas yang dijawab anggukan oleh Naga.


... Setelah membuka pintu dengan cepat Naga melompat ke balik barikade dan menutup celah bekas dia melompat. Musik yang mulai diputar membuat para zombie langsung berlarian masuk ke dalam ruang seni musik. Zombie yang masuk kedalam ruang seni musik semakin banyak dan semakin bising hingga mengalahkan suara musik yang berasal dari tv. Intan memeriksa keadaan lorong dari balik gorden yang menutup jendela ruang seni musik. Banyak zombie yang berlarian, namun banyak juga zombie yang belum menyadari suara musik yang diputar oleh mereka....


“Riki, teriaklah yang kencang!” pinta Intan.


“Dasar zombie sialan!” teriak Riki sekencang - kencangnya yang membuat zombie diseluruh gedung mendengar suara tersebut termasuk Gian.


“Riki sekali lagi!” pinta Intan sambil memeriksa lorong depan ruang seni musik.


“Dasar zombie sialan!” teriak Riki semakin kencang yang membuat semakin banyak zombie berlarian masuk ke dalam ruang seni musik.


... Intan mulai membunyikan alat musik yang tersedia untuk memancing para zombie lebih banyak lagi, sontak para siswi langsung mengikuti apa yang dilakukan Intan sehingga membuat suara yang dihasilkan semakin kencang dan membuat para zombie semakin banyak berdatangan. Sedangkan para siswa menahan dengan sekuat tenaga barikadi yang mulai goyah akibat didesak oleh banyak zombie. Selanjutnya Gari yang memeriksa keadaan di lorong depan ruang seni musik....


“Kita belum bisa keluar, bertahanlah!” pinta Gari cemas penuh harap.


... Pintu ruang seni musik yang terbuka sampai jebol akibat banyaknya zombie yang berlarian masuk ke dalam. Para siswi terus membunyikan alat musik sekencang - kencangnya dan para siswa terus menahan barikade yang semkain goyah, Para zombie yang jumlahnya semakin banyak sudah mulai terlihat muncul di atas barikade. Saking banyaknya zombie yang masuk, beberapa diantara mereka berhasil mendaki barikade yang membuat para siswi langsung memukulnya dengan alat musik yang mereka pegang masing - masing....


“Barikadenya mulai runtuh!” teriak Yona cemas sambil menahan barikade bersama teman - temannya yang lain.


“Sial!” kata Gari yang melihat kondisi teman - temannya dalam kesulitan, namun kondisi di lorong depan ruang seni musik juga masih ramai oleh para zombie yang berlarian.


“Berapa lama lagi? Kapan kita bisa pergi?” tanya Riki yang mulai kesulitan menahan desakan para zombie.

__ADS_1


“Sedikit lagi, bertahanlah!” teriak Gari penuh percaya diri sambil memeriksa keadaan lorong depan ruang seni musik secara berkala.


__ADS_2