12 Detik!

12 Detik!
Ruang Penyiaran


__ADS_3

... Setelah toilet darurat selesai dibuat mereka siling bergantian memakai toilet untuk keperluan masing - masing. Hari mulai gelap dan tidak banyak cahaya lampu diluar yang berasal dari pertokoan dan perumahan....


“Tak ada orang diluar.” kata Tea memecah keheningan sambil melihat keluar gedung sekolah.


“Semua lampu pertokoan dan perumahan mati, mereka sudah berhasil menyelamatkan diri atau mati.” lanjut Tea dingin.


“Apa maksudmu?” tanya Yona cemas.


“Naga apakah benar besok helikopter evakuasi akan mengevakuasi kita?” tanya Tea mengkonfirmasi.


“Kenapa kau bertanya begitu?” tanya Gari terkejut.


“Pada saat kondisi seperti ini proses evakuasi akan mengikuti skala prioritas. Prioritas pertama adalah orang - orang yang memiliki pengalaman dan pengetahuan untuk meringankan dan menyelesaikan masalah ini. Prioritas kedua adalah orang - orang yang memiliki pengalaman dan pengetahun untuk membangun peradaban manusia kembali. Mengingat kita hanyalah siswa sma yang belum memiliki pengalaman dan pengetahuan hal itu maka kita bukan prioritas untuk di evakuasi.” jawab Tea tegas.


“Apa maksudmu kita tidak penting untuk dibantu evakuasi?” tanya Yona yang kesal mendengar penjelasan Tea.


“Kurasa Tea ingin kita memikirkan semua kemungkinan dan pilihan yang ada, bukan begitu Tea?” bela Laxus percaya diri.


“Bukan.” jawab Tea singkat.


“Bukan?” tanya Laxus mengkonfirmasi.


“Maksudku saat ini kita dalam keadaan tidak pasti, jadi kita harus mengetahui banyak hal untuk mempersiapkan diri dan membuat rencana.” jelas Tea.


“Apalagi yang harus kita tahu?” tanya Yona semakin kesal mendengar Tea.


“Maksudnya ...” bela Laxus.


“Kamu tidak mengerti apa yang Tea katakan Laxus.” potong Yona kesal.


“Benar.” jawab Laxus.


“Maksudmu kita perlu memahami situasi sebelum bertindak?” tanya Ilham mengkonfirmasi.


“Ya, kira - kira begitu.” jawab Tea cemas.

__ADS_1


“Aku juga setuju dengan Tea. Mengingat dalam kondisi saat ini hanya Naga yang berpengalaman maka kita perlu mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.” tambah Ilham lugas.


“Yang kamu katakan benar Tea, itulah alasan kenapa helikopter evakuasi paling cepat baru bisa mengevakuasi kita besok malam. Mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk dalam kondisi saat itu merupakan langkah yang bijak, tapi untuk malam ini sebaiknya kalian istirahat dulu. Besok pagi kita pikirkan bersama semua kemungkinan dan rencana yang perlu kita siapkan.” kata Naga yang membuat semuanya kembali tenang dan langsung mengambil posisi untuk istirahat.


... Setelah kondisi kembali tenang dan tentram, Naga memandangi lapangan SMA BKS yang dipenuhi zombie yang berjalan tanpa arah dibawah sinar bulan purnama. “Aku selalu menyukai ketika bulan purnama menyinari malam.” kata Sasha yang berada di samping Naga sambil tersenyum....


“Pada saat ini aku baru menyadari betapa indahnya lampu - lampu yang menyala dimalam hari ketika bulan purnama. Seperti bintang yang menghiasi langit seolah - olah sinarnya memancarkan kebahagiaan yang tidak mengenal penderitaan dan kesedihan.” lanjut Sasha sambil melihat bulan purnama.


“Tapi karena penderitaan dan kesedihan itulah kita bisa menjadi lebih kuat daripada diri kita yang dulu.” balas Naga yang masih menatap lapangan SMA BKS yang dipenuhi zombie.


“Penderitaan dan kesedihan selalu memberi kita pilihan, apakah kita akan tetap terpuruk sebagai pecundang atau bangkit dan berjuang menjadi pemenang.” lanjut Naga yang memalingkan pandangannya ke arah Sasha.


“Sepertinya sudah banyak hal yang sudah kamu lalui ya Naga?” tanya Sasha sambil melihat ke arah Naga.


“Bagaimana hidupmu setelah diadopsi Sha?” tanya Naga yang melihat ke arah langit.


“Aku sangat beruntung mendapatkan orang tua angkat yang begitu menyayangi aku. Setiap bersama mereka aku merasa tidak pernah ada penderitaan dan kesedihan yang bisa mengalahkan kebahagiaan yang aku dapatkan Ga. Kamu gimana?” tanya balik Sasha sambil tersenyum teringat keluarga angkatnya.


“Aku diadopsi kurang lebih 3 bulan setelah kamu dan aku diadopsi oleh salah satu perwira tinggi angkatan darat. Dia memberiku kesempatan untuk menjadi seperti saat ini. Kurang lebih 2 tahun aku menjalani pelatihan dan pendidikan, saat ini adalah tahun keduaku bertugas.” jawab Naga lugas.


“Ya betul aku juga baru pertama kali melihat Sasha tersenyum bahagia seperti itu.” bisik Riki setuju.


“Udah malam Sha, sebaiknya kamu istirahat!” pinta Naga lemah lembut.


“Iya Ga, kamu juga.” balas Sasha sambil tersenyum.


... Gari dan Juju tidur disebelah Riki dan menjadikan tangan Riki sebagai bantal masing - masing. Intan, Tea, dan Yona tidur dikursi dengan membungkukan badan ke meja yang berada di depannya. Ilham dan Laxus tidu terduduk dilantai sambil melonjorkan kakinya. Sedangkan Sasha tertidur disamping Naga sambil menyenderkan kepalanya ke pundak Naga....


...


... Pagi harinya Gian terbangun di kantin dengan tubuh yang penuh bekas luka gigitan para zombie. “Sialan!” bisik Gian dalam hati melihat tubuhnya yang penuh luka....


“Apa aku sudah mati?” tanya Gian kedirinya sendiri.


... Suara Gian membuat para zombie yang berada di kantin langsung bergerak menghampirinya dan Gian langsung meringkuk ketakutan. Namun ketika tiba di depan Gian tidak ada satupun zombie yang menyerang Gian. ...

__ADS_1


“Hei!” panggil Gian kepada para zombie yang membuat para zombie mendekati sumber suara namun tidak menyerang Gian.


“Kalian tak akan memakanku zombie brengsek?” teriak Gian mencoba kembali apa yang terjadi pada dirinya dan lagi para zombie hanya terpengaruh oleh suara Gian tanpa menyerang Gian.


... Gian kemudian berdiri dan menatap dirinya melalui Cermin, seketika dia mengingat dirinya yang diserang para zombie setelah dipukul oleh Ilham. “Ilham sialan!” kata Gian dengan wajah penuh dendam....


“Aku pasti akan membunuhmu, Ilham!” lanjut Gian penuh tekad balas dendam.


...


“Bagaimana tidurmu Tea?” tanya Laxus saat Tea tiba didekatnya untuk melihat keluar jendela.


“Apakah kamu pernah memikirkannya Laxus?” tanya Tea tiba - tiba.


“Memikirkan apa?” tanya balik Laxus sambil melihat ke arah Tea.


“Bagaimana jika semua orang berubah menjadi zombie dan hanya kita manusia yang tersisa?” tanya Tea polos.


“Itu tidak mungkin.” jawab Laxus penuh percaya diri.


“Bagaimana jika itu terjadi?” tanya Tea cemas.


“Itu artinya kita menjadi minoritas dan minoritas selalu punah.” lanjut Tea cemas.


“Aku yakin hal itu tidak mungkin terjadi,” jawab Laxus teguh penuh keseriusan.


“Bagaimana jika begitu? Apakah kamu bisa bertahan menghadapinya?” tanya Tea sambil menatap Laxus.


“Entahlah, tapi aku tidak ingin menjadi zombie. Mereka tidak bisa mengenali siapapun, nanti aku tidak bisa mengenalimu juga.” jawab Laxus sambil menatap Tea yang membuat Tea tersenyum bahagia.


“Aku punya satu permintaan jika aku tergigiti!” kata Tea penuh harap.


“Tidak, jangan sampai tergigit.” pinta Laxus khawatir.


“Mungkin saja ...” kata Tea sambil tersenyum.

__ADS_1


“Tidak, jangan sampai tergigit dan jangan memikirkannya juga.” potong Laxus khawatir.


__ADS_2