
“Kau bukan zombie!” kata Laxus tegas.
“Dia takan berubah menjadi zombie! Kalian tidak mempercayaiku?” kata Laxus meyakinkan teman - temannya yang lain.
“Aku melihat Gian digigiti oleh zombie, bahkan Indan dan Sasha juga melihatnya.” sangkal Ilham tegas.
“Itu saat kami berkelahi keluar dari kantin.” tambah Ilham.
“Kami juga berkelahi!” teriak Laxus kesal.
“Makanya aku tahu.” tambah Laxus yang menggenggam tangan Tea dan membawanya mendekati jendela ruang seni musik lalu membuka jendela tersebut.
“Lihat ini?” lanjut Laxus sambil memperlihatkan tangannya yang menggenggam tangan Tea.
“Jika Tea memang berubah, akan kulempar dia keluar jendela supaya dia tidak menyerang kalian, jadi jangan berkata apapun lagi.” bela Laxus dengan penuh tekad.
“Kamu gak perlu lakuin ini Laxus.” kata Tea lirih.
“Kamu juga jangan katakan apapun Tea.” pinta Laxus penuh harap.
... Ilham pun mulai berjalan mendekati Tea dengan posisi siap menyerang Tea menggunakan stand partitur. “Jangan mendekat!” pinta Ilham kesal....
“Aku sudah memperingatkan mu Ilham!” lanjut Laxus waspada.
“Terserah, aku sudah memperingatkan kamu terlebih dahulu.” kata Ilham yang tidak peduli dengan yang Laxus katakan.
“Kubilang hentikan Ilham sialan!” teriak Laxus yang langsung mencengkram kerah baju Ilham dengan keras dan dibalas oleh Ilham melakukan hal yang sama pada Laxus.
“Berhenti, kalian berdua!” teriak Tea melerai Laxus dan Ilham yang membuat keduanya langsung berhenti dan langsung melihat ke arah Tea.
“Jika aku mulai merasa aneh aku akan langsung bunuh diri. Laxus, dorong aku jika aku berubah!” pinta Tea dingin dan langsung duduk di tepi jendela yang terbuka.
... Sontak Laxus langsung berlari ke arah Tea dan langsung memegang Tea yang mulai meneteskan air mata....
__ADS_1
“Ilham ini sudah cukup lama.” bisik Intan perlahan.
“Tea seharusnya sudah berubah menjadi zombie.” tambah Intan lirih.
“Kita gak boleh lengah Tea.” jawab Ilham yang fokus memandangi Tea yang masih meneteskan air mata.
... Tea mulai merasakan sesuatu yang berbeda pada dirinya, dimulai dari tanganya dan mata sebelah kirinya. Tea mulai melihat Laxus yang berada disampingnya sebagai makanan untuk memuaskan rasa laparnya. Beberapa saat kemudian Laxus menatap ke arah Tea dan menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan Tea....
“Tea.” panggil Laxus lemah lembut.
... Tea langsung menarik leher Laxus berusaha menggigitnya, “Laxus!” teriak Ilham yang langsung berlari ke arah mereka dan mengayunkan stand partitur ke arah Tea namun dihalangi oleh Laxus....
“Minggir Laxus!” teriak Ilham siap siaga.
“Tidak!” jawab Laxus kesal yang langsung mendorong Ilham dan berniat memukulnya.
“Sudah kubilang berhenti!” kata Laxus marah sambil mengepalkan tangannya siap menghajar Ilham.
“Apa kau gila?” tanya Ilham kesal yang langsung menghajar Laxus.
“Berhenti Ilham!” teriak Sasha sambil menghadap Ilham yang mau menyerang Tea.
“Minggir Sasha!” teriak Ilham dan seketika Laxus yang terlepas dari pegangan Riki langsung memeluk Ilham mencegahnya menyerang Tea.
“Berhenti Ilham, apa kamu gak lihat Tea?” tanya Sasha lirih yang membuat Ilham dan Laxus fokus melihat keadaan Tea.
“Mulut Tea pasti berdarah kalau memang benar menggigit Laxus.” tambah Sasha meyakinkan Ilham sambil berkaca - kaca dan Tea terduduk lemas sambil menahan dirinya dari hasrat yang mempengaruhi dirinya sendiri.
“Apa kamu lihat Ilham? Apa Tea berdarah? Tidak bukan?” tanya Sasha sambil berkaca - kaca.
“Sasha benar Ilham, Laxus juga tidak ada luka sama sekali.” tambah Riki meyakinkan Ilham dan Naga mulai berjalan ke samping Sasha.
“Terlepas dari Sasha yang menyadarkanmu, aku akan bertanggung jawab atas Tea. Sejak Yona berkata bahwa Tea digigit hingga saat ini sudah lebih dari 12 detik dan jika dia digigit oleh seseorang bernama Gian saat hendak kesini maka itu sudah lebih lama lagi. Jangankan menjadi zombie menunnjukan tanda - tanda dia akan berubah saja tidak yang artinya ada sesuatu dalam tubuhnya yang mungkin bisa menjadi solusi dari permasalah ini. Atas dasar itu Tea menjadi aset yang harus dilindungi dan aku tidak akan mendapat masalah atau hukuman jika harus membunuh kalian semua demi melindungi aset ini.” jelas Naga dengan tatapan penuh nafsu membunuh yang membuat semua orang diruangan tersebut ketakutan.
__ADS_1
“Tea bagaimana jika kita membuat kontrak?” tanya Naga sambil menatap Tea dengan mata penuh nafsu membunuh.
“Jika kau menyerang salah satu dari mereka, maka akan aku pastikan tanganku yang akan membunuhmu!” tambah Naga sambil mengepalkan tangan di depan wajahnya sendiri.
“Ya, tolong Naga!” pinta Tea yang masih berusaha mengontrol dirinya sendiri.
“Jadi, siapapun dari kalian yang ingin mencoba menyerang aset dengan senang hati akan aku layani!” kata Naga dengan tatapan penuh nafsu membunuh yang membuat Ilham meletakan stand partitur yang dipegangnya.
“Lepaskan aku Laxus!” pinta Ilham lirih dan Laxus langsung melepaskan Ilham.
... Kondisi dalam ruangan seni musik mulai kembali tenang dan tentram sehingga tidak memicu para zombie kembali. Gari dan Juju langsung berjalan untuk duduk di antaran teman - temannya yang lain begitu pula dengan Ilham yang langsung duduk di samping Intan. Laxus langsung menghampiri Tea dan memastikan keadaan Tea baik - baik saja....
“Lain kali tolong jangan gunakan tubuhmu sebagai tameng untuk menghentikan seseorang yang berusaha menyerang.” bisik Naga sambil tersenyum dan membelai lembut kepala Sasha.
“Tidak peduli siapapun dia aku akan membunuhnya jika sampai dia melukai Sasha, mau sekecil apapun.” lanjut Naga yang langsung berjalan dan duduk di dekat jendela yang tertutup gorden menutupi pandangan para zombie.
... Sasha merasa takut mendengarnya sekaligus senang atas perhatian yang diberikan oleh Naga. Sasha langsung berjalan menyusul Naga dan duduk tepat disamping Naga sambil tersenyum melihat ke arah Naga....
“Hmmm ... Naga, ada sesuatu yang membuatku penasaran.” kata Juju memecah keheningan.
“Apa itu?” tanya Naga ramah.
“Sejauh yang aku ingat saat semua ini dimulai kamu sedang makan siang dikantin, dengan pengalamanmu dan kemampuanmu seharusnya kamu udah bisa pergi dari sekolah ini dan mungkin sudah berada di zona aman, tapi kenapa kamu masih berada disini? Apakah ada sesuatu disekolah ini yang bisa menjadi solusi dari permasalahan ini?” tanya Juju penasaran sambil terbata - bata.
“Aku tidak mungkin meninggalkan Sasha, ketika tahu Sasha sedang berada dalam kondisi seperti saat ini.” jawab Naga sambil tersenyum yang membuat Sasha langsung melihat ke arah Naga dan tersenyum bahagia.
... Juju, Gari, dan Riki langsung saling bertukar pandangan lalu tersenyum, “aku juga baru pertama kali melihat Sasha seperti saat ini ketika sedang bersamamu, Naga.” kata Riki berkomentar sambil tersenyum sumringah....
“Benarkan Intan?” tambah Riki mengkonfirmasi sambil melihat ke arah Intan.
“Aku sih udah tau bakal melihat sisi Sasha yang lain pas Sasha manggil Naga dengan sebutan Phi.” kata Intan sambil tersenyum bangga.
“Ah benar sesi curhat sesama wanita.” kata Riki yang membuat suasana ruangan seni musik kembali hangat dan ceria.
__ADS_1
... Tiba - tiba Gian tersadar dan langsung bangkit sambil tubuhnya secara otomatis mengembalikan susunan tulang yang bergeser ke posisi semula setelah dia terjatuh dari lantai 4 gedung sekolah....
“Sialan kau Laxus!” kata Gian marah yang langsung berlari masuk ke gedung sekolah mencari Laxus dan Ilham.