
“Kira - kira siapa?” tanya Yona sambil berdiri memutari api unggun bersama Intan, Sasha, Ilham dan yang lainnya.
“Mungkin anak - anak yang kembali ke sekolah seperti kita.” tebak Riki.
“Mungkin pembuat konten YouTube atau semacamnya, orang yang suka tempat - tempat berhantu.” tebak Mira penuh percaya diri.
“Bukan, Pasti Tea. Tea menyalakan api unggun karena merindukan kita semua.” kata Sasha penuh keyakinan sambil menatap api unggun.
“Bagaimana kamu bisa tahu Sha?” tanya Yona penasaran.
“Entahlah, tapi aku rasa memang begitu.” jawab Sasha ragu.
“Kalian datang!” kata Tea yang muncul dari kegelapan.
“Tea!” panggil Laxus terkejut yang membuat Tea langsung berjalan mendekati mereka semua dengan penuh senyuman.
“Aku senang.” kata Tea sambil tersenyum melihat semua teman - temannya silih bergantian.
“Tea apa kau baik - baik saja? Bagaimana kabarmu?” tanya Laxus cemas.
“Aku merindukan kalian, kalian semua.” jawab Tea sambil tersenyum dengan mata berkaca - kaca.
“Aku ingin mengunjungi kalian, tapi sebaiknya jangan.” tambah Tea yang masih sambil berkaca - kaca.
“Tidak apa - apa, ayo ikut dengan kami!” ajak Sasha sambil berjalan menghampiri Tea dengan mata berkaca - kaca.
“Masih ada yang harus kuselesaikan disini.” jawab Tea tegar.
“Apa itu?” tanya Sasha penasaran.
“Ada beberapa orang sepertiku, beberapa melarikan diri dari sekolah tapi masih ada juga yang disini dan mereka bisa membahayakan para manusia bersama para zombie yang masih ada.” jelas Tea.
“Kamu bukan zombie Tea, jangan bilang begitu.” kata Sasha sambil menahan tangis.
“Siswa SMA bukan anak kecil lagi tapi juga belum dewasa. Aku seperti itu, aku bukan manusia juga bukan zombie.” jawab Tea sambil menunduk menahan tangis.
“Tidak, ikutlah bersama kami. Tidak apa - apa jika hanya kita.” ajak Sasha sambil menggenggam tangan Tea dengan penuh kehangatan.
“Kita tetap menjadi teman meski kita tidak bersama, bukankah begitu? Apa aku salah?” tanya Tea sambil menahan tangis dan memegangi tangan Sasha penuh kelembutan.
__ADS_1
“Tidak, kamu benar dimanapun kita berada kita tetap berteman.” jawab Laxus sambil tersenyum.
“Baguslah.” kata Tea sambil tersenyum bahagia.
“Eh? Kalian semua datang kesini?” tanya Naga yang pura - pura terkejut melihat Sasha, Intan, Laxus, Ilham dan yang lainnya berdiri memutari api unggun di atap sekolah dan bertemu dengan Tea.
“Cih, pembohong!” kata Tea sambil tertunduk tersenyum tahu kebohongan Naga.
“Apa maksudnya dengan pembohong Tea?” tanya Sasha penasaran.
“Ah, bukan apa - apa Sha.” jawab Tea sambil tersenyum.
“Naga apa maksud Tea dengan pembohong?” tanya Sasha yang tidak puas dengan jawaban Tea.
“Ah, aku yang menyarankan Tea untuk menyalakan api unggun di atap sekolah setiap malam agar suatu saat jika kalian melihatnya kalian bisa mengunjungi Tea disini.” jawab Naga sambil tersenyum
“Hoo begitu.” kata Sasha sambil mengangguk paham.
“Tunggu, kamu yang menyarankan Tea untuk menyalakan api unggun? Kapan kamu bertemu dengan Tea?” tanya Sasha yang baru memahami jawaban Naga dengan utuh.
“Hmm setiap satu minggu satu kali.” jawab Naga sambil tersenyum.
“Sha, ini tidak seperti yang kamu pikirkan.” kata Tea canggung.
“Tidak sama sekali Sha.” jawab Tea yang keheranan melihat tingkah Sasha.
“Kalau Naga macam - macam bilang aja sama aku, nanti biar aku yang hajar Naga.” kata Sasha penuh percaya diri.
“Iya Sha.” jawab Tea sambil tersenyum.
“Ngomong - ngomong apa yang kamu lakukan sampai harus bertemu Tea satu minggu satu kali Naga?” tanya Sasha penasaran.
“Ah kebetulan sekali kamu bertanya tentang hal itu, mungkin sebaiknya kalian juga tahu informasi ini. Aku bertemu Tea satu minggu satu kali untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan Tea dan membandingkan hasil analisa laboratoriumnya dengan seorang siswi yang terlebih dahulu pihak militer selamatkan yang juga jadi alasan pembatalan evakuasi kalian saat di atap gedung sekolah waktu itu. Siswi yang berhasil diselamatkan tersebut sama seperti Gian dimana kita hanya bisa membunuhnya dengan cara menghancurkan otaknya dan kami memberi nama virus Z.O immortal, sedangkan hasil Tea kami memberikan nama virus Z.O immune dimana virus yang masuk ke dalam tubuh Tea membuat dia menjadi immune, tidak mengubahnya menjadi zombie dan meningkatkan kemampuan fisiknya termasuk memperkuat panca inderanya.” jawab Naga yang membuat semuanya mendengarkan penjelasan Naga dengan seksama.
“Perbedaan lainnya terletak pada gigitan mereka, virus Z.O immortal akan membuat manusia yang digigitnya menjadi zombie, sedangkan virus Z.O immune tidak akan membuat manusia yang digigitnya menjadi zombie.” tambah Naga yang membuat mereka semua senang mendengarnya kecuali Tea sendiri.
“Dengar Tea, kamu tidak akan membuat orang lain menjadi zombie itu artinya kamu bisa ikut bersama kami.” kata Sasha sambil tersenyum penuh antusias.
“Tidak itu membuatku jadi lebih mengerikan daripada Gian.” jawab Tea sambil tertunduk lesu mendengar hal tersebut.
__ADS_1
“Apa maksudmu Tea?” tanya Sasha terkejut keheranan.
“Jika orang seperti Gian menggigit manusia secara tidak langsung dia membunuhnya karena satu gigitannya bisa mengubah manusia menjadi zombie. Jika aku tidak bisa atau gagal mengontrol diriku manusia yang kugigit akan merasakan penderitaan karena dimakan secara hidup - hidup terlebih jika tidak ada yang menyelamatkannya.” jawab Tea ketakutan.
“Jangan bilang begitu Tea, aku percaya kamu tidak akan melakukan hal itu.” sanggah Sasha sambil meneteskan air mata.
“Itu benar jika dari sudut pandang korban itu lebih mengerikan, tapi dari sudut pandangku itu lebih baik karena seseorang tersebut masih bisa diselamatkan.” jawab Naga yang membuat Tea langsung melihat ke arahnya.
“Yang dikatakan Naga betul Tea.” tambah Sasha sambil meneteskan air mata.
“Apa kamu akan menyerah setelah apa yang telah kamu lalui selama dua bulan terakhir ini hanya karena kamu mengetahui hasil akhirnya?” tanya Naga tegas dan seketika Tea tertunduk teringat perkataan Reiju selama dia melatih Tea.
“Apa kamu tahu bahwa Naga percaha padamu dan mengandalkanmu?” tanya Reiju tiba - tiba saat mereka sedang duduk istirahat latihan seni bela diri.
“Apa maksudnya Reiju?” tanya balik Tea kebingungan.
“Naga memberimu pilihan untuk mengetahui apa yang terjadi dengan dirimu dibandingkan dengan langsung membunuhmu mengingat kamu pernah berusaha membunuh Sasha. Bahkan Naga sampai memintaku melatihku seni bela diri dan membantumu mengontrol hasrat dari virus Z.O yang sudah berevolusi di dalam tubuhmu. Itu semua karena dia percaya bahwa kamu dapat mengontrol dirimu sendiri dan mengandalkanmu sebagai salah satu teman terbaik yang Sasha miliki dan akan melindungi Sasha apapun yang terjadi.” Jawab Reiju yang membuat Tea tertegun.
“Naga bukan lelaki yang akan mengucapkan hal semacam ini ke orang lain, terlebih kepada wanita. Hanya satu wanita yang akan membuat Naga berbicara seperti ini yaitu Sasha, selebihnya dia hanya akan berbicara seperlunya tanpa mempertimbangkan lawan bicaranya mengerti atau tidak yang dia maksudkan. Entah kamu percaya atai tidak, Naga yang percaya padamu dan mengandalkanmu akan menganggapmu sebagai keluarganya sendiri. Dia akan datang membantumu ketika kamu dalam masalah, bahkan jika ada seseorang yang membunuhmu siapapun itu, dia akan memberikannya penderitaan yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya.” lanjut Reiju sambil tersenyum.
“Aku akan berhasil Naga!” kata Tea sambil menghapus air matanya.
“Aku akan bisa hidup berdampingan bersama teman - temanku lagi!” tambah Tea penuh tekad yang membuat Naga tersenyum tipis.
“Mereka kembali!” kata Tea sambil melihat ke arah kota yang gelap gulita dan membuat semua teman - temannya melihat ke arah yang sama dengan Tea.
“Dimana mereka muncul Tea?” tanya Naga menguji Tea.
“Satu kilometer di arah Timur Laut dengan jumlah 10 zombie.” jawab Tea sambil menatap Naga dengan senyuman bangga.
“Wah, kamu mengembangkan kemampuanmu hingga bisa mengetahui arah, jarak dan jumlahnya, luar biasa!” kata Naga kagum.
“Tetap saja aku masih belum bisa menyadari kehadiranmu.” jawab Tea sambil tersenyum tipis.
“Apakah kamu ingin bisa merasakan kehadiranku?” tanya Naga polos.
“Tidak! Itu jauh lebih mengerikan daripada mengetahui ada 10 zombie yang kembali diluar sana.” jawab Tea sambil menggelengkan kepala.
“Hoo iya Naga, tolong sampaikan salamku pada Reiju dan terima kasih untuk semuanya.” lanjut Tea sambil tersenyum bahagia.
__ADS_1
“Aku pamit dulu ya Sha.” pamit Tea kepada Sasha sambil menatap mata Sasha.
... Tea langsung meretsletingkan jaket yang dikenakan hingga menutupi lehernya, lalu berlari dan melompat dari atap gedung sekolah yang membuat semua teman - temannya ternganga terkejut melihat apa yang bisa dilakukan oleh Tea saat ini, kecuali Naga yang hanya tersenyum melihat kepergian Tea....