12 Detik!

12 Detik!
Cahaya Tea


__ADS_3

... Setelah Tea mau dibantu oleh Naga, Naga langsung menghubungi A Team dari project alpha yang terdiri dari Reiju, Todo Aoi, dan Tej untuk membantunya. Setelah mereka tiba di area karantina, Naga dan Reiju mulai mengambil sampel darah Tea dan melatih Tea seminggu satu kali....


“Apakah malam ini kita bisa makan bersama Sasha?” tanya Reiju penasaran yang hendak mengambil makan malam bersama Naga, Aoi, dan Tej sehabis melatih dan meneliti sampel darah Tea.


“Kita lihat nanti saja Reiju.” jawab Naga sambil mengambil makan malamnya diikuti Reiju, Aoi dan Tej.


“Sepertinya kita bisa makan malam bersama Sasha.” lanjut Naga ketika melihat kursi kosong di samping Sasha dan teman - temannya.


“Permisi, apakah kursinya kosong?” tanya Naga yang membuat Sasha, Ilham, Intan dan siswa SMA BKS yang bersamanya sejak dari sekolah terkejut.


“Ahh Naga, tentu Naga.” jawab Ilham sambil tersenyum dan Naga langsung duduk di samping Sasha.


“Kamu pasti Sasha ya?” tanya Aoi yang duduk diseberang Sasha.


“Iya, aku Sasha.” jawab Sasha sambil tersenyum ramah.


“Ternyata Sasha benar - benar cantik, pantas saja Naga tidak mau berpaling dari Sasha.” kata Aoi memuji Sasha yang membuat wajah Sasha memerah malu.


“Aoi, berhenti membuat orang lain tidak nyaman!” tegur Tej yang duduk disamping Naga.


“Ah maafkan perkataanku Sasha, aku Todo Aoi, panggil saja Aoi.” kata Aoi memperkenalkan diri dengan penuh semangat.


“Aku Reiju Sha.” kata Reiju memperkenalkan diri yang duduk disamping Aoi sambil tersenyum ramah.


“Kamu bisa memanggilku Tej.” tambah Tej yang memperkenalkan diri.


“Mereka semua keluargaku Sha.” lanjut Naga sambil menatap Sasha.


“Hoo begitu, senang bertemu kalian aku Sasha.” jawab Sasha sambil tersenyum ramah.


“Naga nampaknya kamu sibuk sekali ya?” tanya Riki penasaran.


“Ya begitulah, karena itu aku membawa timku untuk membantuku.” jawab Naga ramah sambil melihat ke arah Riki.


“Timmu?” tanya Riki kebingungan.


“Ya, mereka adalah timku.” jawab Naga sambil melihat ke arah Reiju, Aoi dan Tej secara bergantian.


“Ah timmu adalah keluargamu, jadi mereka berprofesi sepertimu ya.” kata Riki yang segan sambil melihat Reiju, Aoi dan Tej.

__ADS_1


... Naga, Reiju, Aoi, dan Tej makan malam bersama Sasha, Intan, Ilham dan teman - temannya yang lain. Mereka mengobrol hangat setelah makanan masing - masing telah habis hingga cukup larut malam dan kembali ke ruangan mereka masing - masing....


...


... Dua bulan telah berlalu Reiju, Aoi, dan Tej sudah selesai membantu Naga tentang Tea dan mereka langsung pulang kembali meninggalkan Naga di area karantina. Dimalam harinya Intan dan Ilham yang merindukan keluarga mereka yang tidak berhasil menyelamatkan diri ke zona karantina memutuskan untuk memanjat dinding pembatan area karantina untuk mendaki bukit di luar area karantina. Mereka berjalan berdua diterangi senter yang mereka bawa untuk melepaskan rindu kepada keluarga mereka dengan melihat area perkotaan tempat mereka tinggal dulu....


“Ilham lihat itu!” pinta Intan sambil menunjuk sebuah cahaya di atap bekas gedung sekolah mereka sambil menghapus air matanya.


“Itu atap gedung sekolah kita kan?” tanya Ilham mengkonfirmasi.


“Ya itu atap gedung bekas sekolah kita.” jata Intan mantap.


“Apakah ada seseorang yang selamat berlindung disana?” tanya Ilham sambil memikirkan beberapa kemungkinan yang lain.


“Tidak, aku yakin itu Tea.” jawab Intan penuh percaya diri.


...


... Keesokan paginya Intan mengajak Ilham untuk bertemu Sasha dan Laxus. “Apa kamu yakin itu Tea Tan?” tanya Ilham ragu....


“Ya aku yakin itu pasti Tea, karena kita berjanji akan menyalakan api ungguk setelah kita berhasil selamat.” jawab Intan penuh keyakinan.


“Ah itu Sasha dan Laxus!” lanjut Intan sambil menunjuk Sasha dan Laxus.


“Tentu, ada apa Tan?” tanya Laxus yang bangkit dari duduknya dan mulai berjalan - jalan bersama Intan, Ilham dan Sasha.


“Kami mendaki bukit kemarin malam dan kami melihat api unggun di atap bekas gedung sekolah. Kurasa ada yang menyalakan api unggun di atap gedung sekolah.” kata Intan yang membuat Laxus dan Sasha terkejut dan langsung menghentikan langkah mereka semua.


“Atap? Kamu benar - benar melihatnya?” tanya Laxus memastikan.


“Kami mungkin salah liat, tapi aku yakin melihatnya. Tea bilang kita harus membuat api unggun jika bertemu lagi. Aku akan kesana malam ini untuk memastikannya.” jawab Sasha penuh percaya diri.


“Aku ikut.” kata Sasha antusias.


“Aku juga.” tambah Laxus yang penuh harap.


“Ini cukup berbahaya, jadi sebaiknya kita jangan memberitahu yang lain!” pinta Ilham.


“Terutama Naga Sha, karena kita akan keluar dari area karantina tanpa izin.” tambah Intan penuh harap.

__ADS_1


“Iya aku mengerti.” jawab Sasha mantap.


... Malam harinya ketika Ilham dan Intan berjalan menuju tempat untuk memanjat dinding pembatas area karantina, mereka dikejutkan karena semua teman - temannya yang selamat bersama mereka ada disana....


“Sudah kubilang jangan beritahu yang lain Laxus, Sasha.” kata Intan terkejut yang membuat teman - temannya langsung melihat ke arah Intan, sedangkan Ilham hanya bisa menghela napas.


“Hei sudah kubilang jangan beritahu yang lain.” kata Laxus menegur Riki.


“Kak Dara sudah kubilang ini rahasia.” kata Riki menegur Dara.


“Dia bilang akan memberitahu Naga jika dia tidak diajak.” kata Dara sambil melihat ke arah Mira yang asik merokok.


“Katanya tidak ada jalur khusus untuk korban serangan zombie.” jawab Mira yang langsung mematikan rokoknya.


“Apa hubungannya dengan ini? Kita akan masuk penjara jika ketahuan.” kata Riki yang keheranan atas jawaban Mira.


“Lebih baik masuk penjara daripada tidak bisa masuk kuliah.” jawab Mira penuh percaya diri.


“Kita harus melewati tembok ini Tan?” tanya Sasha mengkonfirmasi.


“Kalian semua sungguh akan ikut? Semuanya?” tanya balik Intan memastikan.


“Aku sudah berjanji pada Tea untuk menemaninya di tengah api unggun.” jawab Sasha sambil tersenyum.


“Aku juga berhutang budi padanya dan kami semua juga terluka saat dia memutuskan untuk pergi.” tambah Dara mantap.


“Sendirian tidak membuat rasa sakitnya berkurang dan aku mengerti apa itu kesendirian dan kesepian.” lanjut Sasha lemah lembut.


“Ayo kita pergi!” ajak Dara yang meminta Riki untuk memanjat terlebih dahulu.


“Apa kamu yakin Yona?” tanya Intan memastikan.


“Aku juga ingin pergi.” jawab Yona mantap.


... Setelah berhasil memanjat dinding area karantina, Intan dan Ilham yang memimpin perjalan mereka menuju bukit. “Aku melihat cahaya!” kata Dara saat sudah tiba di atas bukit....


“Kakak bisa melihatnya? Disebelah mana?” tanya Yona yang berdiri disamping Dara.


“Itu sebelah sana.” jawab Dara sambil menunjuk cahaya dari api unggun.

__ADS_1


“Kurasa itu benar atap gedung sekolah kita.” kata Yona terkejut melihat cahaya api unggun dari kejauhan.


... Mereka mulai berjalan menuruni bukit, melewati proyek pembangunan, lapangan tenis dan menaiki tangga menuju atap gedung sekolah mereka yang sudah berantakan akibat ledakan pembersihan para zombie. Mereka melewati semua area yang penuh perjuangan dan kenangan pahit dengan penuh ketegaran....


__ADS_2