12 Detik!

12 Detik!
Gimnasium


__ADS_3

“Apa kau memilliki rencana?” tanya Naga sambil melihat ke arah Ilham.


“Kita bisa ke lapangan tenis lewat belakang auditorium dan melewati ruang bahasa inggir, lalu mendaki gunung maka kita bisa ke perbatasan kota tempat zona karantina berada.” jawab Ilham sambil menunjukan arah gunung yang dia maksud.


“Ide yang bagus mari beri tahu yang lain!” ajak Naga sambil menatap Ilham.


“Semuanya, mari berkumpul sebentar!” pinta Ilham dan semua teman - temannya langsung berkumpul di dekat pintu masuk menuju atap.


“Ada apa Ham?” tanya Riki penasaran.


“Kalian dengarkan yang disampaikan Naga tadi, kita harus berjalan sendiri ke area karantina untuk membuktikan bahwa kita bukan zombie karena tidak akan ada lagi yang datang menyelamatkan kita. Aku berpikir untuk melewati bukit di belakang sekolah, tidak jauh disana ada perbatasan maka kita bisa lewat sana untuk masuk ke area karantina.” usul Ilham antusias.


“Bagaimana jika disana tidak ada area karantina, itu terlalu beresiko.” kata Yona yang ketakutan tertunduk lesu.


“Semua akses masuk dan keluar kota pasti akan dijaga oleh tentara dan pihak berwenang jadi pasti ada, benarkan Naga?” jawab Ilham sambil mengkonfirmasi.


“Iya, pasti ada.” jawab Naga singkat sambil memperhatikan Sasha.


“Ayo pergi, jika terjadi sesuatu aku akan berteriak kencang dan memancing para zombie ke arah lain. Biar aku saja yang mati, jadi percayalah padaku dan mari kita pergi.” kata Ilham meyakinkan semua teman - temannya.


“Kau tidak perlu memikirkan hal itu, biar aku yang mengurus hal itu. Semakin banyak orang yang selamat, maka semakin sedikit zombie yang harus dimusnahkan.” jawab Naga dingin yang membuat Sasha khawatir.


“Kamu jangan berkata begitu Naga, kita semua harus hidup!” pinta Sasha sambil berkaca - kaca dalam kedinginan.


“Gak perlu khawatir Sha, aku punya rencana dan aku pasti baik - baik saja.” jawab Naga sambil menatap mata Sasha.


“Sepertinya karena hujan semua bau tercampur menjadi satu, suara hujan juga sangat berisik. Indra para zombie pasti menumpul.” Kata Tea mendukung usulan Ilham.


“Jika Tea yang berbicara seperti itu seharusnya dapat dipercaya, terlebih Tea sangat kuat.” kata Riki setuju.


“Saat ini dia kembali sama seperti kalian.” kata Naga sambil melihat ke arah Tea.


“Kenapa?” tanya Yona penasaran.


“Bisa dibilang hujan membuatnya lemah.” jawab Naga yang mengalihkan pandangannya ke arah Yona.


“Untuk berjaga - jaga kita harus saling berpegangan agar bisa saling melindungi dan tidak ada yang tertinggal.” usul Ilham.


... Laxus langsung mengulurkan tangannya kepada Tea, Naga kepada Sasha, Juju kepada Yona, Riki kepada Gari, dan Ilham kepada Intan. “Tetap dibelakangku!” pinta Ilham kepada Intan, namun Intan berusaha melepaskan pegangan Ilham....

__ADS_1


“Kita harus selamat, masalah tadi kita pikirkan nanti saja.” kata Ilham meyakinkan Intan sambil menatapnya dalam.


... Mereka semua mulai turun ke lantai bawah secara perlahan dan penuh kehati -hatian. Setelah tiba diluar gedung sekolah mereka berjalan merapat ke dinding sekolah secara perlahan. Ketika mereka mulai berlari menuju auditorium, para zombie mulai menyadari keberadaan mereka dan mulai mengejar mereka tanpa arah akibat derasnya hujan dan suara petir. Ditengah pelarian mereka tiba - tiba Yona terjatuh....


“Yona!” teriak Juju yang langsung menghantam zombie yang hendak menyerang Yona ketika terjatuh.


“Ayo Yona!” pinta Juju sambil membantu Yona berdiri.


... Ketika ada zombie yang hendak menyerang mereka tiba - tiba ada anak panah yang membunuh para zombie tersebut satu persatu....


“Kak Dara!” panggil Juju kepada kakaknya yang baru tiba bersama teman - temannya sambil memegang dan mengarahkan busur untuk berjaga - jaga.


“Juju!” balas Dara menyapa adiknya.


“Kenapa kakak ada disini?” tanya Juju terkejut.


“Ayo cepat pergi!” pinta Dara sambil mendorong adiknya bersama temannya.


... Juju, Yona bersama ketiga temannya kak Dara berjalan terlebih dahulu dan kak Dara menjaga bagian belakangnya agar tidak disergap oleh para zombie. Ketika mereka semua berhasil berkumpul dan masuk ke gimnasium sekolah tiba - tiab Tea berhenti dan menatap ruang gimnasium yang gelap gulita dengan penuh ketakutan....


“Ada apa Tea?” tanya Gari yang menyadari ketakutan Tea.


“Lari!” pinta Tea yang masih mengatur napasnya agar segera normal kembali.


... Seketika para zombie mulai berlari ke arah mereka, “tinggalkan aku!” teriak salah satu teman kak Dara yang sejak tadi didorong menggunakan troli barang....


“Kubilang tinggalkan aku! Kau bisa mati!” lanjutnya sambil berteriak.


... Dara yang mengetahui ruang penyimpanan peralatan olahraga langsung membukanya dan meminta semuanya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. “Kesini, cepat!” teriak Dara....


... Naga menghalau para zombie yang berdatangan sampai semuanya masuk ke dalam ruang penyimpanan alat olahraga. Dua orang temannya kak Dara mengorbankan dirinya sendiri untuk memberikan waktu agar mereka semua bisa selamat....


“Tidak!” teriak Mira yang melihat 2 orang temannya sedang mengorbankan diri, namun di tahan dan di tarik oleh Dara untuk masuk ke ruang penyimpanan.


“Tutup pintunya Ju!” pinta Dara sambil menarik Mira yang berontak dan menangis melihat temannya mengorbankan diri.


... Setelah menutup pintunya mereka semua langsung terduduk dan memposisilkan diri untuk beristirahat. Malam yang dingin begitu cepat berlalu dan mereka kembali terbangun ketika mata hari mulai tinggi. Tea memandangi ventilasi yang ada di ruang penyimapanan alat tersebut....


“Ada apa Tea?” tanya Gari penasaran.

__ADS_1


“Baunya semakin kuat.” jawab Tea yang tetap fokus menatap ventilasi dan seketika Riki langsung mengendus aroma tubuhnya sendiri.


“Aku tidak mencium bau apapun.” kata Riki setelah mengendus bau tubuhnya sendiri.


“Kurasa mereka menuju kesini, baunya sangat kuat.” kata Tea yang langsung kembali duduk.


“Kita terjebak disini, kita tak bisa keluar.” kata Gari sambil merenung.


“Jangan bicara seperti itu!” pinta Yona lirih.


“Itu fakta, tak ada jalan keluar.” jawab Gari yang mulai putus asa.


“Kakak, kamu tidak tersingkir di babak penyisihan kan?” tanya Juju yang terkejut karena kakaknya berada di sekolah selama ini.


“Tidak, aku lolos.” jawab Dara berbohong.


“Bukankah kakak ada pertandingan? Kenapa kakak kembali ke sekolah?” tanya Juju yang masih penasaran.


“Kamu adiknya Dara?” tanya Mira sambil melihat ke arah Juju.


“Ya, memangnya kenapa?” tanya Juju ramah.


“Dia langsung masuk tim nasional karena dapat skor sempurna, aku melihatnya.” jawab Mira membantu Dara berbohong.


“Sungguh?” tanya Juju sambil tersenyum bangga.


“Ya, itu benar.” jawab Dara sambil tersenyum menutupi kebohongannya.


“Kau sungguh masuk tim nasional? Apakah ayah dan ibu sudah tahu?” tanya Juju penuh semangat sambil tersenyum bangga.


“Mana mungkin mereka tahu? Lihatlah keadaan sekarang, dia langsung turun dari bus dan berlari kesini untuk mencarimu” jawab Mira membantu Dara.


“Jadi kamu harus bersikap baik kepada kakakmu!” tambah Mira.


“Dia siapa kak? Kenapa dia selalu berbicara untuk kakak?” tanya Juju sedikit berbisik.


“Dia temanku.” jawab Dara sambil tersenyum melihat Mira, begitupun sebaliknya.


... Tiba - tiba Riki berdiri di depan Juju, Dara dan Mira sambil melihat ke arah Dara yang sedang duduk. “Aku menyukaimu!” kata Riki berterus terang kepada Dara....

__ADS_1


“Apa? Dasar gila!” protes Juju kesal.


“Aku selalu melihatmu berlatih panahan disekolah dan aku selalu hadir di setiap pertandinganmu untuk bersorak untukmu. Aku yang berteriak ‘Dewi Memanah, Dara’, aku sudah menyukaimua sejak lama. Sekarang, aku ingin jadi pria sejati bukan penggemar untukmu. Lagipula aku akan mati, jadi lebih baik kuutarakan saja.” jelas Riki yang malu - malu dan membuat teman - temannya terkejut.


__ADS_2