
...Laxus yang baru tiba dilantai 4 berhasil di sergap oleh zombie yang mengejarnya sejak di depan ruang penyiaran. Laxus sempat melawan dan membanting sang zombie, namun zombie tersebut berhasil membuat Laxus terpojok dan berusaha menggigitnya. Ketika Laxus berusaha mati - matian menahan leher sang zombie dengan kedua tangannya, tiba - tiba Gian datang dan langsung menusukan pisau ke kepala sang zombie hingga mati dan darahnya mengenai wajah Laxus....
“Dasar bodoh, kau membiarkan makhluk menjijikan ini memojokanmu?” tanya Gian sambil memandang remeh Laxus.
“Terima kasih.” kata Laxus sambil mengatur napasnya kembali.
“Baiklah, aku sudah menyelamatkanmu, sekarang dimana Ilham?” tanya Gian dingin.
“Ilham? Kenapa kau bertanya tentangnya?” tanya Laxus balik penasaran.
“Aku mau membunuhnya.” jawab Gian dingin.
“Apa maksudmu?” tanya Laxus keheranan.
“Aku akan membunuhnya.” jawab Gian dingin dengan penuh dendam.
“Kau terluka, apa kau tidak apa - apa?” tanya Laxus yang mengerti maksud Gian setelah melihat pisau yang masih dia pegang.
“Aku baik - baik saja, sekarang dimana Ilham?” tanya Gian kesal.
“Hentikan!” pinta Laxus tenang.
“Kau selalu saja begitu sejak dulu.” kata Gian yang semakin kesal.
“Benar, dulu kau selalu menyuruhku, tapi tak apa karena kamu lebih hebat dalam berkelahi dari pada aku. Namun, sekarang hal itu tidak bisa lagi!” lanjut Gian marah yang langsung menebaskan pisaunya.
...Laxus menghindari tebasan pertama Gian dengan mudah, lalu menghindari usaha Gian untuk menusuk Laxus dan menendang tangan kanan Gian yang memegang pisau hingga pisaunya terlepas dari pegangan Gian. Gian langsung melempar Laxus ke dinding dan mulai menyerangnya, tapi Laxus dapat menghindari serangan Gian dan berhasil mendaratkan 2 pukulan balasan. Ketika Laxus berusaha mengunci lehernya untuk membuat Gian pingsan, tiba - tiba dengan kuat Gian berdiri dan membanting Laxus ke lantai....
“Takutkan?” tanya Gian setelah menendang perut Laxus yang sedang terbaring kesakitan.
“Hei, apa kamu gak takut?” tanya Gian kembali sambil mengangkat kepala Laxus dengan cara menggenggam rambutnya.
“Bajingan gila!” teriak Laxus yang berusaha melawan namun dengan cepat Gian mencekek Laxus dengan tangan kanannya.
“Kau sungguh lemah!” kata Gian sambil mencekik Laxus dengan kuat yang membuat Laxus kesulitan bernapas.
...Tiba - tiba Tea datang menarik dan mengunci leher Gian, reflek Gian langsung menggigit tangan Tea yang membuat Tea menjerit kesakitan. Gian langsung melemparkan Tea hingga membentur dinding....
“Kau benar - benar ...” kata Gian sambil menjambak rambut Tea yang kesakitan.
“Berhenti!” teriak Laxus yang langsung bangkit, berlari dan mendorong Gian ke luar gedung sekolah dari lantai 4.
...Setelah memastikan keadaan Gian yang terjatuh dari lantai 4, dia langsung memeriksa keadaan Tea yang terduduk sambil menutup kedua telinganya ketakutan. Laxus juga langsung memeriksa tangan Tea yang tadi digigit oleh Gian....
“Ayo pergi!” ajak Laxus sambil membantu Tea berdiri.
__ADS_1
...Laxus memegangi Tea untuk kembali berlari menyusul teman - temannya yang lain....
...
“Cepat masuk ke ruangan!” teriak Naga yang masih sibuk membunuh para zombie yang berdatangan.
...Sasha, Intan, Yona, Ilham, Gari, Juju, dan Riki langsung masuk ruang seni musik yang berada di tengah antara tangga sisi kanan dan tangga bagian tengah. Naga membunuh para zombie sambil mundur perlahan kemudian berlari untuk masuk ke ruang seni musik....
“Laxus dan Tea mana?” tanya Sasha kepada yang lainnya.
...Sasha langsung berlari kedepan ruang seni musik dan melihat Naga yang sedang berlari dari sisi kiri gedung, sedangkan Laxus dan Tea berlari dari sisi kanan gedung....
“Cepat masuk!” teriak Laxus yang berlari sambil menggenggam tangan Tea.
...Sasha dan yang lainnya langsung masuk ke ruang seni musik kembali diikuti oleh Laxus, Tea, dan Naga yang langsung menutup pintu ruang seni musik setelah berada di dalam. Mereka juga langsung menutup seluruh gorden jendela agar zombie tidak mengetahui ada mereka di dalam. Setelah suasana lebih tenang mereka langsung terduduk dan mengatur napas masing - masing yang lelah sehabis berlari....
“Padahal tinggal sedikit lagi.” keluh Yona yang masih mengatur napasnya agar normal kembali.
“Diluar sudah banyak zombie, kita harus mencari cara lainnya.” usul Laxus yang mulai bernapas normal.
“Hei Tea, kamu digigit ya?” tanya Yona yang melihat bekas gigitan dipenuhi darah pada tangan kanan Tea sambil berjalan mundur perlahan.
“Itu luka bekas gigitankan?” tanya Yona mengkonfirmasi yang mulai cemas dan membuat semua orang di ruang seni musik melihat ke arah Tea.
“1001.” bisik Naga dalam hati.
“1002.” bisik Naga dalam hati.
“Cepat minggir Laxus!” pinta Ilham yang memegang sebuah stand partitur.
“Sudah kubilang, itu tidak seperti yang kalian pikirkan.” kata Laxus yang mulai meninggikan suaranya.
“1003” bisik Naga dalam hati.
“Bilang kesemuanya Tea, kalau kamu gak digigit zombie!” pinta Laxus sambil menatap mata Tea.
...Tea hanya terdiam melihat teman - temannya yang ketakutan kepadanya. “Kenapa kamu cuman diam Tea?” protes Laxus....
“1004.” bisik Naga dalam hati.
“Tea tidak digigit zombie, dia digigit oleh Gian.” bela Laxus sambil menatap semua teman - temannya.
“Siapa?” tanya Ilham yang terkejut.
“1005.” bisik Naga dalam hati.
__ADS_1
“Gian si tukang bully.” jawab Laxus sambil menatap Ilham yang terkejut.
“Gian?” tanya Ilham mengkonfirmasi.
“1006.” bisik Naga dalam hati.
“Ya!” jawab Laxus.
“Tea, apakah kamu benar - benar digigit oleh Gian?” tanya Ilham kembali mengkonfirmasi yang dijawab anggukan oleh Tea.
“1007.” bisik Naga dalam hati.
“Bicaralah dengan jelas Tea!” pinta Ilham.
“Aku melihatnya!” bela Laxus yang membuat suasana menjadi lebih tegang.
“1008.” bisik Naga dalam hati.
“Gian digigit oleh zombie saat dikantin.” kata Ilham yang semakin waspada.
“Omong kosong apa itu? Apa kau pikir aku bodoh?” tanya Laxus yang mulai emosi.
“1009.” bisik Naga dalam hati.
“Aku, Intan, dan Sasha melihatnya.” jawab Ilham sambil melihat ke arah Intan dan Sasha secara bergiliran.
“Jika seseorang digigit zombie maka dia akan berubah menjadi zombie.” lanjut Ilham.
“1010.” bisik Naga dalam hati.
“Kau salah!” bentak Laxus emosi yang membuat zombie di luar ruang seni musik kembali bereaksi agresif.
“Gian bukan zombie, dia bisa mengenaliku dan berbicara denganku. Kamu juga melihatnya kan Tea bahwa Gian bukan zombie.” jelas Laxus sambil menatap Tea yang membuat Tea terbangun dari duduknya.
“1011.” bisik Naga dalam hati.
“Kamu yakin Gian digigit oleh zombie?” tanya Tea mengkonfirmasi kepada Ilham.
“Ya.” jawab Ilham singkat sambil menatap Tea dengan penuh waspada.
“1012.” bisik Naga dalam hati.
“Berarti aku juga akan menjadi zombie.” kata Tea sedih.
“Ada apa dengan kamu Tea?” tanya Laxus kebingungan dengan sikap Tea.
__ADS_1
“Aku ... lupakan saja, aku akan pergi!” pinta Tea.
“Laxus, terima kasih.” kata Tea yang langsung berjalan hendak keluar ruang seni musik, namun Laxus menarik tangan Tea untuk mencegahnya keluar.