12 Detik!

12 Detik!
Atap Gedung Sekolah


__ADS_3

... Setelah malam tiba Naga, Sasha dan yang lainnya duduk melingkar mengitari api unggu yang mereka buat. Laxus meminta Riki untuk bernyanyi sebagai hiburan bagi mereka semua dan teman - temannya yang lain juga ikut bernyanyi kecuali Tea dan Naga. Nyanyian bersama mereka membuat suasana malam menjai lebih hangat dan lebih ceria....


“Tea apakah kau pernah berpikir membutuhkan teman?” tanya Intan penasaran kepada Tea yang berada di sampingnya.


“Aku tidak tahu.” jawab Tea singkat sambil menatap api unggun.


“Kau selalu memasang tembok membatasi diri dengan kami, kau selalu memakai penyuara telinga dan kau hanya berbicara kepada Sasha saja. Apakah kamu begitu karena kamu membenci kami?” lanjut Intan sambil menatap Tea.


“Aku tidak pernah membeci kalian, aku hanya merasa tidak punya teman.” jawab Tea lirih sambil menatap Intan.


“Sejujurnya aku tidak begitu menyukaimu, kupikir kamu gak mau ngobrol sama kami karena kami lebih rendah daripada kamu.” celetuk Yona sambil melihat ke arah Tea.


“Sejujurnya aku terkadang berharap kamu menghilang dari sekolah ini.” celetuk Gari yang malu - malu.


“Bukankah kalian peringkat dua teratas di sekolah?” tanya Sasha sambil melihat ke arah Gari.


“Itu sebabnya aku membenci Tea karena aku selalu menjadi peringkat dua. Tapi sekarang itu bukan masalah lagi, aku rasa aku bisa berada di peringkat dua karena Tea.” jawab Gari penuh tekad yang membuat Tea tersenyum tipis.


“Aish, peringkat dua juga bagus. Aku bahkan tidak bisa masuk peringkat 20 besar di kelas.” bela Riki yang langsung tos kepalan tangan dengan Laxus sambil tersenyum.


“Hei Gari berbeda denganmu!” komentar Yona jengkel.


“Aku berkata demikian tanpa maksud apapun!” bela Riki yang tetap tenang.


“Reaksimu selalu berlebihan ketika aku berkata sesuatu. Apakah kau menyukaiku?” tanya Riki penuh percaya diri.


“Kau mau mati?” tanya Yona kesal sambil memukul bahu Riki yang membuat semuanya tertawa ringan.


“Aku mengatakan ini karena aku tak ingin melukaimu.” kata Riki sambil mengusap pundaknya yang dipukul Yona.


“Aku menyukai orang lain, jadi jangan menyukaiku.” tambah Riki dengan penuh percaya diri.


“Aku tak menyukaimu! Aku bahkan tidak tertarik padamu” jawab Yona kesal sambil memukul - mukul bahu Riki.


“Riki memangnya kau menyukai siapa?” tanya Gari penasaran.


“Dia benar - benar gila!” celetuk Juju yang membuat Laxus yang berada diantara Juju dan Riki tersenyum geli.


“Kakaknya!” tambah Laxus sambil menunjuk Juju dan Riki tersenyum sendiri.

__ADS_1


“Kak Dara dari klub memanah?” tanya Sasha yang terkejut yang dijawab anggukan oleh Laxus, sedangkan Riki masih tersenyum sendiri.


“Kau benar - benar gila!” lanjut Juju.


“Aku menggila saat jatuh cinta.” bela Riki sambil tersenyum dan membuat semua orang tersenyum.


“Hentikan! Jika kita bisa selamat aku akan memberi tahu kakakku!” ancam Juju sambil tersenyum jahil.


“Kamu akan memberitahu kakakmu?” tanya Riki mengkonfirmasi.


“Ya untuk memanah dan membunuhmu!” canda Juju sambil tertawa jahil.


“Adik ipar, kau tidak boleh begitu!” canda Riki sambil menarik dan memeluk Juju.


“Hoo iya, bagaimana dengan kalian Naga dan Sasha?” tanya Riki penasaran setelah melepaskan Juju yang membuat Naga dan Sasha saling bertukar pandangan.


“Aku sama Naga berasal dari panti asuhan yang sama.” jawab Sasha yang membuat semua teman - temannya terkejut.


“Aku beruntung mendapat orang tua angkat yang sangat menyayangiku. Aku tidak pernah bermaksud menyembunyikan statusku sebagai anak angkat, hanya saja orang tua angkatku melarang aku untuk berkata bahwa aku anak angkat karena katanya bagi mereka aku adalah anak kandung mereka. Selama ini tidak pernah ada yang bertanya sehingga akupun menghormati keinginan kedua orang tuaku.” jelas Sasha sambil tersenyum bahagia.


“Kalau kamu bagaimana Naga sampai bisa menjadi mata - mata?” tanya Gari penasaran.


“Kurang lebih setelah Sasha diadopsi ada seorang perwira tinggi angkatan darat mengadopsiku dan menawariku untuk berjalan di jalan ini, hingga akhirnya aku masuk program dan pelatihan remaja untuk menjadi pasukan khusus dan mata - mata. Setelah dua tahu mengenyam pendidikan dan pelatihan aku langsung mulai ditugaskan sebagai mata - mata.” jawab Naga.


“Kakaku sering dipuji pandai memanah sejak kecil. Jadi keluargaku hanya peduli apakah kakaku bisa masuk tim nasional atau tidak. Mereka tidak memperhatikan aku.” lanjut Juju yang giliran bercerita apa yang ingin dia ceritakan tanpa dipicu oleh siapapun.


“Aku memperhatikanmu adik ipar!” celetuk Riki.


“Jadi jangan bersedih karena ada aku!” tambah Riki yang membuat Juju mendorong muka Riki kebelakang untuk tertidur.


“Untungnya ada Riki!” jawab Juju sambil tertawa bahagia.


“Aku tidak tahu harus mengatakan apa, aku tak begitu yakin tapi saat ini aku merasa seperti mendapatkan teman.” kata Tea sambil menatap Intan dan tersenyum.


“Aku hanya ingin minum air.” kata Ilham malu - malu saat gilirannya untuk bercerita.


“Bukan hal yang seperti itu! Tapi katakan yang sejujurnya apa yang kamu rasakan Ham!” protes Yona.


“Katakan sejujurnya apakah kamu menyukai seseorang?” tanya Riki penasaran.

__ADS_1


“Ya.” jawab Ilham singkat.


“Sungguh? Kau menyukai seseorang?” tanya Intan yang penasaran sambil menatap Ilham dan membuat teman - temannya saling bertukar pandangan.


“Ya.” jawab Ilham sambil menatap Intan.


“Kenapa kau ragu - ragu? Memangnya siapa yang kau sukai Ilham?” lanjut Intan yang masih menatap Ilham.


“Bukan siapa - siapa.” jawab Ilham malu - malu.


“Memangnya siapa?” protes Intan yang penasaran.


“Apa aku mengenal orangnya?” lanjut Intan sambil tersenyum tipis.


“Kamu Intan, aku menyukamu.” jawab Ilham sambil menatap mata Intan dan membuat semua teman - temannya tersenyum senang.


“Hei ada apa sama kamu Ilham?” tanya Intan canggung.


“Tidak begitu, Ilham hanya bercanda. Kami sudah berteman dan tinggal bersama sejak kami TK (taman kanak - kanak). Jangan bercanda Ilham!” jelas Intan canggung namun teman - temannya yang lain masih tersenyum senang atas pengakuan Ilham.


“Aku tidak bercanda, aku menyukaimu setiap hari selama 12 tahun terakhir sejak kita berusia 6 tahun dan juga seterusnya.” jawab Ilham penuh keyakinan.


“Luar biasa.” celetuk Riki yang mendengar ucapan Ilham.


... Intan yang terkejut dan merasa canggung langsung berdiri berjalan ke pojok kanan depan gedung sekolah untuk menenangkan dirinya. “Ham!” panggil Laxus sambil memberi kode untuk menenangkan Intan....


“Intan!” panggil Ilham lemah lembut yang membuat Intan menatap ke arahnya.


“Maafkan aku, kamu gak perlu menyukaiku.” lanjut Ilham.


“Hentikan!” pinta Intan sambil berkaca - kaca.


“Tidak apa apa Intan, sekalipun sudah aku ungkapkan.” jawab Ilham.


“Apanya yang tidak apa - apa? Bagiku kamu adalah sahabatku Ilham.” balas Intan yang mulai meneteskan air mata.


“Apa kamu tidak pernah menyukaiku? Sekalipun tidak disengaja?” tanya Ilham lemah lembut yang penasaran.


“Bisakah kamu pergi? Aku ingin sendiri!” pinta Intan sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


“Kamu gak perlu menyukaiku Intan.” jawab Ilham sedih dan langsung pergi ke sisi lain gedung dari tempat Intan menyendiri.


... Intan langsung terduduk sambil menangis terkejut dan bingung apa yang harus dia lakukan ketika dia mengetahui bahwa selama ini sahabatnya menyukainya. Gian yang masih ingin membalaskan dendamnya kepada Ilham dan Laxus berusaha ke atap melalui jendela ruang kelas yang berada di lantai 5. Dia mulai memanjat menuju atap memanfaatkan pipa drainase gedung sekolah yang terpasang di salah satu dinding bagian luar gedung sekolah....


__ADS_2